Penulis: Erwin Lessy – Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi
Ketika Stadion Berubah Menjadi Medan Perang Simbolik
ruminews.id – New Jersey, 20 Juli 2026. Stadion MetLife gemuruh oleh 82.000 pasang mata yang menyaksikan sejarah. Ferran Torres mencetak gol pada menit ke-106 perpanjangan waktu, satu gol yang menggiring Spanyol meraih Piala Dunia kedua mereka setelah 16 tahun penantian. Skor 1-0 untuk La Furia Roja.
Tapi di luar lapangan, di ruang ganti, di koridor media, dan di jagat maya yang tak pernah tidur, pertandingan ini telah dimenangkan dan dikalahkan berkali-kali sebelum wasit meniup peluit panjang.
Ini bukan sekadar final Piala Dunia. Ini adalah perang proksi meski bukan berupa pasukan dan rudal, tapi dalam bentuk narasi, simbol, dan identitas. Dan kita semua, entah sadar atau tidak, adalah penonton sekaligus aktor di dalamnya.
Babak Pertama: Dua Negara, Dua Kutub yang Berseberangan
Argentina dan Spanyol berbagi bahasa, sejarah kolonial, dan jaringan ikatan sosial-ekonomi yang mengakar. Namun dalam peta geopolitik 2026, kedua negara ini berdiri di ujung yang berseberangan.
Di satu sudut, Spanyol di bawah Pedro Sánchez. Sosialis, vokal mengkritik kebijakan Israel di Gaza, memimpin pengakuan resmi Negara Palestina pada 2024, dan memberlakukan embargo senjata terhadap Israel. Sánchez bahkan memuji bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, yang mengibarkan bendera Palestina setelah kemenangan krusial sebagai sebuah simbol yang membuat Sánchez berkata, “Lamine hanya mengekspresikan solidaritas terhadap Palestina yang dirasakan oleh jutaan orang Spanyol.”
Di sudut lain, Argentina di bawah Javier Milei. Anarko-kapitalis yang mendeklarasikan dirinya sebagai “presiden paling Zionis di dunia”. Milei memperkuat hubungan dengan Israel, berencana memindahkan kedutaan ke Yerusalem, dan mendapatkan dukungan publik dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ironisnya, pertemuan yang semestinya terjadi pada Maret 2026 dalam ajang Finalissima batal karena perang Iran, sebuah konflik yang justru menjadi cermin dari perbedaan diplomatik kedua negara. Sepak bola, yang konon menyatukan, kali ini justru mempertemukan dua kutub politik yang saling bertolak belakang.
Babak Kedua: Media sebagai Mesin Narasi
Media internasional tidak sekadar melaporkan pertandingan, mereka juga membangun realitas di sekitarnya.
The Nation, majalah progresif AS, dengan tegas menyatakan bahwa fans dengan pandangan kiri seharusnya mendukung Spanyol sebagai negara yang melawan Trump dan mengkritik Israel, bukan Argentina yang justru merangkul keduanya. Sementara itu, Jerusalem Post melaporkan bagaimana podcaster Yahudi Jonah Platt memberikan peringkat tertinggi kepada Argentina sebagai tim yang “harus didukung orang Yahudi”, sementara menempatkan Spanyol di posisi paling bawah karena dianggap “meraih medali emas Eropa Barat dalam histeria anti-Israel”.
Di media sosial, narasi semakin ekstrem. “Kita mendapatkan Piala Dunia Israel versus Palestina,” tulis seorang kreator konten di X. Seorang pengguna lain menyebut, “Argentina adalah Israel-nya Amerika Selatan”. Mantan petarung MMA Khabib Nurmagomedov, pendukung vokal Palestina, mengunggah di Instagram, “Aku tahu siapa yang akan kudukung.”
Media-media di kawasan Amerika Latin justru menunjukkan solidaritas yang menarik. Meksiko, Kolombia, hingga Chile dikabarkan kompak berharap Argentina kalah dari Spanyol. Ini bukan sekadar rivalitas regional tapi sebuah pernyataan politik yang dibungkus dalam jersey sepak bola.
Namun di balik semua itu, ada sisi gelap yang tak bisa diabaikan. CEO CyberWell, lembaga nirlaba Israel yang memantau antisemitisme daring, memperingatkan bahwa panggung Piala Dunia dieksploitasi untuk menyebarkan teori konspirasi antisemit. Kritik terhadap Messi dan Argentina kerap “tidak secara eksplisit menyebut Yahudi” namun “mengandung teori konspirasi antisemit melalui referensi tidak langsung”. “Penargetan Lionel Messi, seruan terhadap Protocols of the Elders of Zion, dan klaim bahwa FIFA dikuasai Yahudi, semuanya bergantung pada gagasan yang sama bahwa orang Yahudi adalah manipulator rahasia dunia,” kata Cohen Montemayor.
Babak Ketiga: Simbol di Atas Rumput Hijau
Di luar narasi geopolitik, ada simbol-simbol yang bergerak di atas lapangan.
Lionel Messi, kapten Argentina, selama karirnya menghindari pernyataan politik. Namun citranya telah dibajak oleh narasi yang lebih besar. Sebaliknya, Lamine Yamal yang berusia 18 tahun (dengan ayah Maroko) menjadi ikon perlawanan Palestina hanya dengan mengibarkan bendera. Javier Bardem, aktor Spanyol yang kerap terlihat di kamera selama turnamen, dengan lantang mengangkat bendera Palestina dan berkata, “Eksistensi adalah perlawanan.”
Di sisi lain, Diego Maradona, sang legenda Argentina yang telah tiada, justru dikenal sebagai pendukung vokal Palestina. Beliau pernah berkata kepada Mahmoud Abbas, “Hatiku adalah Palestina.”. Kontradiksi ini menunjukkan bahwa narasi politik tak pernah hitam-putih, bahkan dalam satu negara sekalipun.
Argentina sendiri adalah rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di Amerika Latin (sekitar 170.000 jiwa) namun juga memiliki hingga 3 juta warga keturunan Lebanon. Ironisnya, jajak pendapat menunjukkan 55% rakyat Argentina memiliki pandangan tidak baik terhadap Israel, sementara hanya 21% yang memandang positif. Kebijakan luar negeri Milei, dengan kata lain, tidak sepenuhnya mencerminkan sentimen publik.
Babak Akhir: Yang Tersisa Setelah Peluit Panjang
Spanyol menang 1-0. Secara statistik, mereka mendominasi penguasaan bola dan peluang. Media Eropa merayakan kemenangan dengan narasi bahwa “gaya bermain Spanyol mengungguli permainan nekat Argentina”. Media Argentina, seperti Olé, mengakui, “Argentina telah memberikan segalanya dan tersingkir dengan kepala tegak, namun Spanyol adalah juara dunia yang pantas.”
Namun narasi yang lebih dalam bertahan adalah Spanyol adalah tim yang “bermain dengan kepala”, Argentina adalah tim yang “bermain dengan hati”, sebuah dikotomi yang nyaman namun reduktif. New York Times bahkan menulis tajuk pedas, “Argentina mempermalukan diri mereka sendiri, dan final Piala Dunia, dengan kekanak-kanakan mereka yang tidak menarik”, merujuk pada insiden para pemain Argentina membelakangi podium kemenangan Spanyol.
Di ruang ganti, di media sosial, dan di ruang redaksi di seluruh dunia, pertandingan ini telah mengajarkan kita satu hal bahwa sepak bola tidak pernah sekadar sepak bola.
Antara Gol dan Geopolitik
Apa yang bisa kita petik dari semua ini?
Pertama, di era keterhubungan global, setiap peristiwa besar (termasuk olahraga) akan segera dibaca melalui kacamata politik. Piala Dunia bukanlah ruang hampa tapi kanvas tempat negara-negara melukiskan identitas dan aspirasi mereka.
Kedua, media tidak netral. Mereka memilih narasi, memperkuat simbol, dan membentuk opini publik. Di era media sosial, setiap pengguna bisa menjadi pembawa narasi dan itu berarti tanggung jawab yang lebih besar untuk memilah fakta dari propaganda.
Ketiga, dan yang paling penting adalah di balik semua simbol dan narasi itu, ada manusia. Ada Messi yang mungkin bermain di Piala Dunia terakhirnya. Ada Yamal yang baru berusia 18 tahun. Ada jutaan fans di Argentina dan Spanyol yang hanya ingin melihat tim kesayangan mereka menang, bukan karena politik, tapi karena cinta pada sepak bola.
Final Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai salah satu final paling politis dalam sejarah. Namun mungkin, di tengah hiruk-pikuk narasi dan simbol, yang paling berharga adalah kemampuan kita untuk tetap melihat keindahan permainan itu sendiri.
Karena pada akhirnya, bola tetap bundar. Dan di atas rumput hijau, yang berbicara tetaplah kaki para pemain, bukan para pemimpin dunia.
“Sepak bola adalah hal terpenting dari hal-hal yang tidak penting.” — Arrigo Sacchi