Author name: Fikri Haikal

Daerah, Makassar, Olahraga, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Munafri Apresiasi HIPMI Sulsel Sport Cup 2025, Dorong Penguatan Jejaring Pengusaha Muda

ruminews.id, MAKASSAR,— Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara resmi membuka kegiatan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sulawesi Selatan (Sulsel) Sport Cup 2025 di Lapangan Vaan Padel, Sabtu (25/10/2025). Kegiatan yang digagas Badan Pengurus Daerah (BPD) HIPMI Sulsel ini menjadi ajang silaturahmi dan sportivitas antar pengusaha muda sekaligus momentum memperingati Hari Sumpah Pemuda. Sebagai tanda dimulainya kegiatan, Wali Kota Munafri melakukan pukulan perdana padel. Usai pembukaan, ia langsung turun bertanding melawan Ketua BPD HIPMI Sulsel Andi Amar Ma’ruf Sulaiman serta dua mantan Ketua BPD HIPMI Sulsel, Andi Rahmat Manggabarani dan Ridwan Jabir. Turnamen padel ini berlangsung selama dua hari, 25–26 Oktober 2025, dengan total 44 pasangan atau 88 peserta dari berbagai tingkatan organisasi HIPMI. Selain padel, ajang sporitivitas ini juga memperlombakan cabang olahraga mini soccer, badminton, dan basket, yang diikuti 158 peserta dari anggota HIPMI BPD Sulsel, BPC se-Sulsel, Basnom, hingga HIPMI Perguruan Tinggi. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin mengapresiasi HIPMI Sulsel yang terus menunjukkan peran aktifnya dalam membangun semangat kebersamaan dan menggerakkan ekonomi melalui kegiatan positif. Ia menilai, kegiatan olahraga seperti Sport Cup tidak hanya mempererat hubungan antar pengusaha muda, tetapi juga berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi di Kota Makassar. “Di saat keadaan ekonomi yang kurang bagus di Kota Makassar, tentu kita berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi angin segar untuk memutar roda ekonomi agar lebih baik,” ujar Munafri. Munafri menegaskan bahwa Pemerintah Kota Makassar selalu siap mendukung setiap kegiatan HIPMI, baik di tingkat daerah maupun nasional, untuk digelar di Kota Makassar. Ia juga menyebut, pemerintah kota kini memiliki sejumlah fasilitas penunjang seperti Makassar Convention Hall berkapasitas 7.000 orang dan sejumlah infrastruktur olahraga yang terus berkembang. “Saya ingin menyampaikan kepada Ketua BPD bahwa kami di Makassar siap dengan segala macam kegiatan yang HIPMI buat. Banyak event nasional HIPMI yang bisa dibawa ke Makassar, dan kami siap men-support semaksimal mungkin,” ujarnya. Ia memaparkan bahwa hingga Desember mendatang, Makassar akan memiliki sekitar 40 lapangan padel baru yang menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga tersebut. Olehnya, Ia mengingatkan agar para pengusaha lapangan padel duduk bersama untuk menyepakati regulasi dan standar harga demi menjaga iklim investasi yang sehat. Menurutnya, jika persaingan harga tidak diatur dengan baik, para investor bisa kesulitan mengembalikan modal yang sudah ditanamkan. Ia mendorong agar para pemilik lapangan berkoordinasi dan menetapkan aturan bersama demi keberlanjutan industri olahraga padel di Kota Makassar. Terakhir, Munafri mengapresiasi terselenggaranya acara ini. Ia menyebut bahwa di tengah padatnya aktivitas dan kesibukan, kegiatan seperti ini menjadi ruang positif untuk menyalurkan hobi sekaligus memperkuat persaudaraan di antara para pengusaha muda. “Saya berharap semangat sportivitas yang dibangun dalam ajang ini menjadi cerminan kekompakan HIPMI Sulsel dalam berkontribusi untuk kemajuan ekonomi daerah,” tutupnya. Sejalan dengan Munafri, Ketua BPD HIPMI Sulsel Andi Amar Ma’ruf Sulaiman menjelaskan bahwa Sport Cup ini bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga wadah jejaring dan kolaborasi antar pelaku usaha muda. Ia menyebut, olahraga menjadi medium yang efektif mempertemukan pengusaha dari berbagai sektor dalam suasana santai dan produktif. Serta dapat mendorong perputaran ekonomi lokal di tengah situasi ekonomi yang sedang lesu. “Banyak yang bertanya kenapa HIPMI bikin lomba olahraga, sesekali kita isi dengan olahraga. Semua pebisnis, semua pekerja dan pebisnis pasti ada hobinya. Disitulah kita berhubung, di situlah kita berjejaring. Dan ini juga event-event sekaligus mendorong perputaran perekonomian di Sulawesi Selatan,” pungkasnya. Amar juga menyampaikan terimakasih atas dukungan Wali Kota Makassar yang hadir langsung membuka kegiatan, sebelum mengakhiri sambutan dengan candaan menantang Wali Kota untuk bertanding di lapangan yang disambut baik oleh Munafri. Kegiatan ini turut dihadiri oleh pembukaan dihadiri Ketua Anggota DPRD Sulsel Irfan Maluserang, Ketua Basnom HIPMI se-Sulsel, Ketua umum BPC HIPMI se-Sulsel Ketua, para mantan Ketua BPD HIPMI Sulsel serta para peserta.(*)

Daerah, Makassar, Pemerintah Kota Makassar, Pemerintahan

Aliyah Mustika Ilham: Paskibraka Adalah Generasi Emas, Pemimpin Masa Depan Bangsa

ruminews.id, BALI — Suasana hangat dan haru menyelimuti jamuan makan malam bersama Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham, dan Paskibraka Kota Makassar 2025 di Jimbara, Bali. Kegiatan ini merupakan bagian dari studi wisata pada rangkaian Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Paskibraka 2025 di Bali, yang berlangsung sejak beberapa hari sebelumnya. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperkuat kedisiplinan dan wawasan kebangsaan, tetapi juga memperluas pengetahuan tentang budaya, kepemimpinan, dan nilai-nilai persatuan bangsa. Dalam suasana akrab dan penuh semangat, Aliyah Mustika Ilham menyampaikan pesan mendalam kepada para anggota Paskibraka, generasi muda pilihan yang menjadi kebanggaan Kota Makassar. “Adik-adik semua adalah generasi emas, kebanggaan kita semua. Jaga semangat, jaga disiplin, dan teruslah belajar. Saya percaya, dari kalian akan lahir pemimpin masa depan yang membawa nama baik Makassar, bukan hanya di tingkat daerah, tapi juga di panggung nasional bahkan internasional,” tutur Aliyah Mustika Ilham penuh haru. Momen penuh kehangatan itu berlangsung pada Jumat malam, 24 Oktober 2025, ketika Aliyah Mustika Ilham turut menyanyikan lagu “Kemesraan” ciptaan Franky Sahilatua. Lagu itu kemudian disambung dengan “Indonesia Jaya”, yang membangkitkan semangat kebangsaan seluruh peserta. Tanpa diduga, para anggota Paskibraka membalas dengan lagu “Terima Kasih Ibu”, menciptakan suasana haru dan penuh kebersamaan. Tawa, semangat, dan rasa bangga menyatu dalam satu momen yang begitu berkesan. Turut hadir mendampingi Wakil Wali Kota Makassar, Kepala Badan Kesbangpol Kota Makassar, Fathur Rahim, serta Asisten I Pemerintah Kota Makassar, Andi Muh. Yassir. Malam kebersamaan itu menjadi bukti bahwa semangat nasionalisme dan nilai-nilai kebangsaan dapat tumbuh melalui keakraban dan rasa kekeluargaan. Sebuah momen berharga yang meneguhkan keyakinan bahwa dari Paskibraka akan lahir generasi berkarakter, berintegritas, dan siap memimpin bangsa di masa depan.

Daerah, Makassar, Olahraga

KONI Bukan Panggung Politik: Saatnya Figur Berintegritas Memimpin Olahraga Sulsel

ruminews.id, Makassar – Menjelang suksesi Ketua KONI Provinsi Sulawesi Selatan, sejumlah nama mulai bermunculan. Wacana regenerasi kepemimpinan ini memang menarik perhatian publik, terlebih setelah prestasi Sulsel pada PON Aceh–Sumut 2024 merosot jauh dari target lima besar menjadi posisi ke-16 nasional catatan terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan Sulsel di ajang olahraga terbesar tanah air. Namun yang menarik, mayoritas nama yang kini beredar sebagai calon ketua justru berasal dari kalangan politikus dan pejabat publik. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah latar belakang politik dan jabatan otomatis menjamin pembinaan dan prestasi olahraga? Sebagai pelaku dan pembina olahraga, saya memandang bahwa dunia olahraga memiliki kultur tersendiri. Ia tumbuh dari semangat sportivitas, dedikasi, dan kedisiplinan. Memimpin olahraga tidak sama dengan mengelola proyek atau birokrasi; ia menuntut kepekaan, empati, serta pengalaman langsung dalam membina atlet dan organisasi cabang olahraga.   Kita tentu tidak menafikan kontribusi figur politik, namun sejarah telah membuktikan bahwa besarnya otoritas terhadap anggaran, termasuk dana hibah dari APBD yang menjadi sumber utama operasional KONI, belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan prestasi. Anggaran yang besar tanpa arah pembinaan yang jelas hanyalah formalitas tanpa nilai. Di sisi lain, kini mulai muncul figur-figur nonpejabat publik yang justru memiliki rekam jejak panjang dalam pembinaan cabang olahraga. Mereka bukan sekadar pengurus, tetapi pelaku langsung yang membawa atletnya menorehkan prestasi podium di berbagai single event, multi event, bahkan di level internasional. Lebih dari itu, figur-figur ini telah membuktikan komitmennya secara ikhlas dengan menghadirkan gelanggang olahraga dalam skala mini, di tengah minimnya komitmen pemerintah daerah menyediakan sarana olahraga bagi masyarakat. Sikap semacam ini bukan hanya simbol dedikasi, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap masa depan generasi atlet Sulawesi Selatan. Inilah figur-figur yang sepatutnya menjadi bahan pertimbangan serius bagi publik dan pemegang suara dalam pemilihan Ketua KONI Sulsel mendatang. Sebab ukuran kepemimpinan olahraga bukan terletak pada jabatan atau kekuasaan, melainkan pada integritas dan rekam jejak pengabdian yang telah nyata dikaryakan untuk prestasi daerah. Momentum suksesi ini seharusnya menjadi ajang refleksi dan koreksi kolektif. KONI tidak boleh terjebak dalam pusaran politik kekuasaan yang menjauhkan semangat sportivitas. Kepemimpinan olahraga harus kembali pada ruhnya: membina, menginspirasi, dan mencetak prestasi. Sulsel memiliki banyak potensi dan talenta luar biasa. Yang dibutuhkan bukan sekadar ketua dengan kekuasaan, melainkan pemimpin yang mampu menggerakkan semangat olahraga dari gelanggang hingga podium. Dan bagi saya, figur seperti itu adalah mereka yang telah berbuat nyata, bukan mereka yang baru ingin mencoba ketika panggung sudah disiapkan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Alumni Lintas Generasi Soroti Krisis Kepemimpinan dan Pudarnya Ruh Akademik di Unhas

ruminews.id, MAKASSAR – Sejumlah tokoh lintas generasi alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) berkumpul dalam forum reflektif bertajuk Dialog Alumni Lintas Generasi: Unhas Kita – Dulu, Kini, dan Akan Datang, yang digelar Sabtu malam, 25 Oktober 2025, di Kopi Aspirasi, Jalan AP Pettarani No.5C, Makassar. Kegiatan yang diinisiasi oleh Lobelobe Forum (LOF) dan Solidaritas Alumni Peduli Unhas (SAPU), serta didukung oleh IKA Unhas Kota Makassar, ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni akademisi senior Abdul Madjid Sallatu, dosen FISIP Unhas Dr. Hasrullah, M.Si, dan sosiolog Unhas Dr. Rahmat Muhammad, M.Si. Sesi diskusi dipandu oleh Andi Sri Wulandani Thamrin, S.IP., M.Hum. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi alumni untuk berdiskusi secara jernih dan konstruktif mengenai perjalanan panjang Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan timur Indonesia. Tema “Dulu, Kini, dan Akan Datang” diangkat untuk meninjau kembali perjalanan historis Unhas, kondisi kekinian kampus, serta arah pengembangannya di masa depan. Kampus Seperti Tempat Kursus Salah satu pandangan paling tajam datang dari Ni’matullah, alumni Fakultas Ekonomi Unhas sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa. Ia menilai atmosfer akademik di Unhas kini kian memudar dan bergeser menjadi sekadar rutinitas administratif. “Unhas hari ini sudah seperti tempat kursus saja saya lihat. Tidak kelihatan nuansa dan tradisi akademik bergagasan di dalamnya, yang ada hanya orang yang mau mengejar ijazah,” tegas Ulla dalam forum tersebut. Menurutnya, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 39 ribu orang, organisasi kampus kini terlalu besar dan kehilangan kelincahan intelektual untuk melahirkan ide-ide besar. “Organisasi kampus kita sudah terlalu gemuk, makanya tidak bisa berbuat banyak selain rutinitas saja. Kita sulit berharap ada gagasan besar lahir dari konteks seperti saat ini,” ujarnya. Ulla juga menegaskan bahwa Unhas memiliki tanggung jawab besar terhadap kemajuan Provinsi Sulawesi Selatan. “Menurut saya, Unhas-lah yang paling bertanggung jawab untuk Sulsel. Gubernur kita alumni, Ketua DPRD Sulsel juga alumni. Bupati dan Wali Kota, anggota DPRD banyak alumni Unhas. Tapi mengapa kita tidak bisa memberi dampak yang lebih bagus?” ucapnya. Krisis Kepemimpinan Akademik Sementara itu, Abdul Madjid Sallatu, akademisi senior dan mantan Wakil Kepala Bappeda Sulsel, menyoroti hilangnya kepemimpinan akademik sejati di tubuh Unhas. “Yang tidak ada di Unhas saat ini adalah academic organizational leadership. Yang ada hanya personal leadership, sehingga tidak memberi dampak besar bagi masyarakat,” kata Madjid. Ia juga mengkritisi sistem perangkingan universitas dan beban administratif dosen yang dinilainya justru membunuh kreativitas serta mengerdilkan ruang akademik yang seharusnya menjadi jantung perguruan tinggi. “Perangkingan universitas adalah jebakan agar kampus terjun di dunia kompetisi, padahal saat ini yang dibutuhkan adalah sinergi dan kolaborasi. Kompetisi seharusnya tidak dikenal dalam tradisi akademik,” tegasnya. Budaya Literasi yang Memudar Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Dr. Hasrullah, M.Si, menyoroti lemahnya kemampuan literasi mahasiswa dan civitas akademika saat ini. “Memang banyak faktor penyebab pudarnya budaya membaca ataupun menulis, tapi kampus seharusnya mencari jalan keluar untuk ini. Kalau tidak, ini alarm bahaya bagi dunia akademik,” tegasnya. Ia mengenang masa kepemimpinan Prof. Ahmad Amiruddin, rektor ke-6 Unhas, yang kerap mengumpulkan dosen-dosen terbaik untuk berdiskusi berbagai topik — mulai dari isu kebangsaan hingga persoalan kemasyarakatan. “Dari forum-forum diskusi yang intens itulah banyak lahir ide dan gagasan, bahkan sebagian menjadi buku,” kenang Hasrullah. Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan Sementara itu, Dr. Rahmat Muhammad, yang pernah menjabat Wakil Dekan III FISIP Unhas, menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan akademik yang sehat dan terencana. “Dalam dunia akademik, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan secara rutin. Tugas tambahan seperti Ketua atau Sekretaris Departemen, Dekan, Wakil Dekan, Rektor, atau Wakil Rektor sebaiknya tidak diduduki terlalu lama,” ujarnya. Menurutnya, cukup satu periode agar lebih banyak dosen dapat memperoleh pengalaman dalam manajemen organisasi kampus. “Dari 2.500-an dosen di Unhas, semuanya seharusnya punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pengalaman memimpin. Potensi besar ini jangan disimpan di kampus saja,” tegas Rahmat. Ia juga menambahkan, Unhas yang begitu besar semestinya berani mendorong potensi terbaiknya ke level nasional. “Kalau memang berpotensi, kita harus dorong keluar kampus dan menjadi tokoh nasional, termasuk rektor,” ujarnya menutup pandangannya. Mengenang Kepemimpinan Emas Baik Abdul Madjid Sallatu, Ni’matullah, Dr. Hasrullah, maupun Dr. Rahmat Muhammad, sepakat bahwa kepemimpinan akademik terbaik dalam sejarah Unhas terjadi pada masa Prof. Ahmad Amiruddin. “Beliau bukan hanya pemimpin kampus, tapi pemimpin peradaban. Spirit kepemimpinannya belum ada yang menyamai hingga hari ini,” demikian simpulan reflektif yang mengemuka dalam forum yang berlangsung hingga pukul 23.00 WITA itu. Puluhan alumni dari berbagai fakultas dan angkatan hadir aktif dalam forum ini, menjadikannya ajang refleksi lintas generasi yang sarat gagasan dan semangat memperkuat kembali marwah, tradisi keilmuan, dan peran strategis Unhas dalam pembangunan bangsa. (*)

Uncategorized

Teologi Pembebasan dan Suara Umat Tertindas di Forum LK2 Tingkat Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di ruang pertemuan Hotel LaMacca, sore itu udara terasa teduh dan penuh makna. Cahaya lampu yang lembut berpadu dengan suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, ketika puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur menyimak dengan khusyuk kehadiran sosok yang dikenal luas di kalangan aktivis Islam progresif Rahmatullah Usman, kader HMI dan aktivis nasional yang dikenal pula sebagai NDPers. Dengan tenang, ia membuka materinya yang bertajuk “Teologi Pembebasan: Islam dan Umat Tertindas.” Suaranya tidak meninggi, tapi bergetar dengan kekuatan moral dan spiritual yang dalam. Setiap kalimat mengandung api perjuangan dan kelembutan iman yang menyatu. “Islam,” ucapnya perlahan, “tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh di tengah penindasan, dan sejak awal membawa pesan yang jelas membebaskan manusia dari segala bentuk kezaliman, baik ekonomi, politik, maupun batin.” Ruangan seketika hening. Para peserta seperti tersihir oleh kesungguhan kata-kata itu. Tak ada suara selain napas yang tertahan dan bunyi pena yang mencatat. Dalam forum itu, agama tak lagi dipandang sebagai sekadar keyakinan pribadi, tetapi sebagai gerak sosial, sebagai kekuatan moral yang menolak tunduk pada struktur penindasan. Rahmatullah berbicara tentang teologi pembebasan sebagai bentuk perlawanan yang berakar pada nilai-nilai Islam, nilai keadilan (‘adl), kesetaraan (musawah), dan kemanusiaan (insaniyah). Ia menyinggung bagaimana umat hari ini sering kali dijauhkan dari kesadaran kritis oleh sistem yang menindas dengan lembut: kapitalisme, oligarki, dan kekuasaan yang memperalat agama. “Ketika agama dijadikan alat legitimasi kekuasaan,” katanya menatap peserta satu per satu, “maka tugas kita sebagai kader HMI adalah mengembalikannya kepada ruh pembebasan. Islam bukan untuk menguatkan singgasana, tapi untuk menegakkan keadilan.” Peserta LK2 dari berbagai cabang tampak larut dalam perenungan. Di antara mereka, ada yang menunduk diam, ada pula yang mengangguk pelan seolah menyetujui setiap makna. Forum itu tak hanya menjadi ruang diskusi, tapi ruang pertemuan spiritual tempat iman dan intelektual bertaut dalam kesadaran kemanusiaan. Dalam sesi tanya jawab, pertanyaan mengalir tajam tapi santun. Rahmatullah menjawab dengan gaya seorang sahabat, bukan pengajar; ia menanggapi bukan untuk menggurui, melainkan untuk menghidupkan percakapan. Keakraban terpancar dari setiap senyum dan tepuk bahu, menandakan bahwa HMI bukan sekadar organisasi, tapi keluarga ideologis yang tumbuh bersama nilai-nilai pembebasan. “Kita harus belajar dari sejarah Nabi,” tuturnya menutup sesi. “Bahwa Islam hadir bukan di istana, tapi di jalanan bersama buruh, bersama fakir miskin, bersama mereka yang tertindas. Karena dari sanalah kebenaran sejati memantulkan cahaya.” Tepuk tangan panjang pun menggema, tidak riuh, tapi sarat rasa hormat. Para peserta berdiri, menyalami pemateri dengan senyum penuh kagum. Malam di Hotel LaMacca menjadi saksi lahirnya kesadaran baru: bahwa menjadi kader HMI berarti menjadi pembela kemanusiaan bukan dengan kemarahan, tapi dengan ilmu, iman, dan cinta terhadap sesama. Di sudut ruangan, kopi masih mengepul, tawa kecil menyelingi obrolan ringan. Tapi di balik semua itu, setiap kepala muda tahu, sesuatu telah tumbuh di dalam dirinya: kesadaran bahwa Islam sejati adalah pembebasan dan manusia beriman adalah manusia yang melawan ketidakadilan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global di Forum LK2 HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di bawah temaram lampu Hotel LaMacca, malam itu terasa hangat, bukan karena udara kota, melainkan karena semangat intelektual yang menyala di dada para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ruangan itu tertata rapi, penuh ketertiban dan keteduhan, tempat berlangsungnya Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Dari balik podium, hadir sosok yang dihormati Prof. Qashim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar sekaligus kader senior HMI, membawakan materi bertajuk “Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global.” Suasana forum begitu tenteram, seolah setiap kursi dan meja menyimpan rasa hormat. Para peserta duduk dengan sikap yang santun, pandangan mereka tertuju penuh perhatian kepada sang pemateri. Tak ada hiruk pikuk, hanya suara lembut Prof. Qashim yang menembus keheningan, menjahit benang-benang makna antara iman, perjuangan, dan perubahan sosial. “Islam,” ujarnya perlahan, “bukan hanya tentang ritual, tapi tentang gerak. Ia adalah daya yang menuntun manusia untuk mengubah realitas sosialnya untuk melawan ketidakadilan, menegakkan martabat, dan menolak hegemoni kapitalisme global yang mengerdilkan kemanusiaan.” Kata-kata itu mengalir seperti mata air di tanah kering. Para peserta menyimak dengan wajah yang khusyuk, sebagian mencatat, sebagian lain larut dalam renungan panjang. Dalam forum itu, Islam dibicarakan bukan sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai kekuatan peradaban yang hidup kekuatan yang memanggil umatnya untuk berpikir, bertindak, dan bertransformasi. Prof. Qashim memaparkan bagaimana kapitalisme global tak hanya menguasai ekonomi, tapi juga membentuk kesadaran manusia — menjadikan hidup sekadar transaksi, dan nilai-nilai spiritual kehilangan makna sosialnya. Namun, ia menegaskan bahwa gerakan Islam harus hadir bukan sebagai perlawanan emosional, melainkan sebagai transformasi yang sadar dan berakar pada ilmu serta akhlak. “Gerakan Islam yang sejati,” tuturnya, “adalah gerakan yang memahami realitas, menatap masa depan dengan ilmu, dan menapaki jalan perubahan dengan moralitas. Itulah jihad intelektual kita.” Suasana forum terasa akrab, di sela-sela keseriusan diskusi, tawa ringan sesekali pecah. Para peserta muda HMI bertanya dengan sopan, penuh rasa ingin tahu. Prof. Qashim menjawabnya dengan senyum, dengan sabar, dengan nada seorang guru yang tak hanya mengajar, tapi membimbing jiwa. “Kalianlah generasi yang akan menentukan arah Islam di masa depan,” katanya. “Jangan biarkan semangat kalian padam hanya karena dunia tampak dikuasai oleh sistem yang tak adil. Islam selalu punya jawaban selama kita mau berpikir dan berbuat dengan kesadaran.” Forum itu berakhir dengan tepuk tangan yang pelan tapi panjang. Ada rasa haru yang meneduh di dada para peserta. Mereka tahu, malam itu bukan sekadar kuliah, itu adalah pertemuan antara generasi dan gagasan, antara ilmu dan keimanan, antara masa lalu perjuangan dan masa depan perubahan. Di luar ruangan, angin Makassar berembus lembut. Beberapa peserta masih berkumpul, berdiskusi kecil, sementara Prof. Qashim menyapa mereka satu per satu dengan kehangatan seorang ayah yang bangga pada anak-anaknya. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi saksi bahwa HMI Makassar Timur bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang pembentukan jiwa. Di sanalah ilmu dan nilai bertemu, membentuk manusia yang sadar akan tugas sejarahnya: menjawab kapitalisme global dengan semangat Islam yang mencerahkan dan membebaskan.

Opini

Indonesia dan Ilusi Bonus Demografi

ruminews.id – Indonesia sedang mabuk dalam keyakinan bahwa bonus demografi adalah tiket menuju kemakmuran dan kemajuan. Di atas podium kerap kali para pejabat berbicara tentang peluang emas, generasi produktif, dan visi Indonesia Emas 2045 tepat 100 tahun indonoesia merdeka. Statistik dibentangkan seperti sebuah mantra keberhasilan lebih dari 64 persen penduduk kini berada pada usia produktif, antara 15 hingga 64 tahun. Badan Pusat Statistik memperkirakan kondisi ini akan berlangsung hingga sekitar tahun 2035 sebelum Indonesia menua. Dalam teori pembangunan, inilah fase paling menguntungkan dalam sejarah demografi bangsa sebab tingginya angka manusia yang produktif bisa menjadi langkah yang tepat dan bisa jadi langkah yang salah bila kita gagal di dalam melakukan treatment untuk sebuah bonus demografi tersebut. Tapi di balik keyakinan itu semua tersimpan ilusi besar apakah kita benar-benar sudah siap atau belum mengubah peluang itu menjadi sebuah kekuatan untuk berkemajuan. Tapi kalau kita lihat fakta objektif di lapangan masih ketimpangan nya akses pendidikan antara desa dan kota lamban nya penanganan bidang peningkatan SDM melalui pendidikan,kesehatan dan ekonomi bukan hanya itu angka putus sekolah kian melambung tinggi ,penyediaan lapangan pekerjaan yang kurang memadai bahkan sampai ke tahap PHK terjadi di mana-mana hal ini bisa kita katakan dan diindikasikan pemerintahan belum mengoptimalkan kemampuannya untuk melakukan political will untuk mengelola hal- hal yang menjadi penunjang sebuah bonus demografi tersebut yang hanya adalah ilusi semata . Menurut data BPS dalam analisis profil penduduk 2024 mencatat kelompok usia muda 15–34 tahun menyumbang lebih dari 31 persen populasi, sementara usia produktif madya 35–59 tahun sekitar 33 persen. Dengan total penduduk mencapai 281 juta jiwa, artinya lebih dari 180 juta orang Indonesia sedang berada di masa paling produktif dalam hidupnya. Rasio ketergantungan kini berada di titik terendah sekitar 44 persen artinya apa setiap 100 orang usia produktif hanya menanggung 44 orang nonproduktif. Angka-angka ini seharusnya menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi, tapi realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Pengangguran terbuka masih terbuka lebar bahkan bertahan di kisaran 5,3 persen per Agustus 2025, dan jutaan lulusan muda dan sarjana belum juga terserap pasar kerja. Namun di sisi lain, industri terus berteriak kekurangan tenaga terampil. Hanya 19 persen tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital memadai, menurut laporan Katadata 2024. Pemerintah begitu gemar menggaungkan bonus demografi sebagai simbol harapan. Kata “bonus” seolah menjadi jaminan otomatis bagi masa depan yang makmur. Namun kenyataan menunjukkan jurang yang menganga antara retorika dan realita kondisi kita yang ada di indonoesia. Sistem pendidikan masih terjebak pada pola lama menjejali kepala siswa dengan teori tanpa membekali mereka keterampilan hidup dan adaptasi teknologi. Lulusan perguruan tinggi berlimpah, tapi banyak yang kehilangan arah di pasar kerja yang menuntut kecepatan, inovasi, dan kecakapan digital. Ketimpangan kualitas sumber daya manusia juga tak bisa diabaikan. Pulau Jawa dan Sumatera, yang lebih dulu menikmati masa bonusnya, kini mendekati akhir. BPS mencatat beberapa provinsi seperti Sumatera Barat dan Jawa Tengah akan mengakhiri periode bonus demografinya dalam waktu kurang dari sepuluh tahun. Sementara wilayah timur seperti Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua baru memasukinya sayangnya tanpa kesiapan infrastruktur pendidikan dan ekonomi yang memadai. Generasi muda di kota belajar tentang kecerdasan buatan dan analisis data, tapi di banyak desa, anak-anak masih berjuang menemukan sinyal untuk belajar daring. Ini bukan sekadar ketimpangan wilayah, tapi potret ketidaksiapan struktural sebuah bangsa menghadapi masa depan. Bonus demografi seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat modernisasi. Negara-negara seperti Korea Selatan dan Jepang memanfaatkan masa bonusnya untuk membangun industri, memperkuat pendidikan, dan menumbuhkan inovasi teknologi. Kini mereka menua, tapi tetap sejahtera karena fondasi produktivitas sudah tertanam kuat. Indonesia, sebaliknya, berisiko menua sebelum kaya fenomena yang disebut “getting old before getting rich”. Pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran lima persen selama satu dekade terakhir, dan rata-rata lama sekolah warga masih di bawah sembilan tahun. Bonus yang dibanggakan itu bisa berubah menjadi beban sosial jika generasi muda tak punya daya saing. Kita perlu mengubah cara pandang. Bonus demografi bukan soal jumlah, melainkan kualitas. Pemerintah harus berani menempatkan manusia sebagai investasi utama pembangunan. Dengan melakukan intervensi dalam dunia Pendidikan yang mesti harus bertransformasi dari hafalan menuju keterampilan, dari rutinitas menuju kreativitas. Pelatihan vokasi harus diperluas, bukan hanya di kota besar tapi hingga pelosok desa. Industri perlu diberi insentif untuk membuka lapangan kerja inovatif yang memberi ruang bagi anak muda berintelektual. Selain itu, kebijakan keluarga berencana, kesehatan, dan perlindungan sosial perlu diperkuat agar tenaga produktif tumbuh sehat dan berdaya. Tanpa itu semua, angka produktif hanya menjadi statistik kosong dan omong kosong saja yang menipu diri sendiri. Dan ketika kita berbicara Bonus demografi adalah peluang langka yang datang sekali dalam sejarah suatu bangsa yang tidak bisa memanfaatkan nya maka bangsa tersebut akan jatuh ke lembah kenestapaan dan kesengsaraan dan Ia bisa menjadi pintu menuju kemajuan atau jalan sunyi menuju kekecewaan kolektif. Indonesia pada saat ini berada di persimpangan apakah akan menulis sejarah sebagai negara yang memanfaatkan bonusnya untuk melesat, atau sebagai bangsa yang kehilangan momentum karena terlena dengan ilusi angka. Satu dekade ke depan akan menjadi penentu. Jika kita gagal menyiapkan manusia di balik statistik, maka yang tersisa hanyalah generasi lelah muda dalam usia, tapi tua dalam dalam harapan maka dari itu pemerintah harus benar-benar memperhatikan dan membuat langkah-langkah strategis untuk benar benar mengupayakan dan mengwujudkan kesempatan langkah tersebut yaitu bonus demografi dengan mengahdirkan kerja-kerja nyata yang berpihak lagi pada pemuda.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Zulhajar Bicara Negara dan Manusia: LK2 HMI Makassar Timur Jadi Ruang Hangat Menyemai Kesadaran Sosial

ruminews.id, Makassar — Siang di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun bersahaja. Di ruang pertemuan yang diterangi cahaya lembut, puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk rapi, membentuk lingkaran diskusi yang hangat. Wajah-wajah muda itu menatap penuh antusias ketika Zulhajar, S.Ip., M.A., anggota DPRD Kota Makassar sekaligus senior HMI Cabang Makassar Timur, melangkah ke depan membawakan materi bertajuk “Negara dan Manusia: Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.” Sejak awal, forum itu tak sekadar tampak ilmiah, tetapi sarat suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Tak ada sekat antara pemateri dan peserta; yang ada hanya dialog setara antara generasi yang berpikir, merasa, dan berjuang. Dengan nada suara yang tenang namun tegas, Zulhajar membuka materinya tentang hubungan mendasar antara manusia dan negara sebuah relasi yang sering kali rumit, namun selalu relevan. “Negara seharusnya tidak hanya mengatur,” ujarnya lirih namun dalam, “tetapi juga memastikan manusia hidup dengan martabat memiliki hak ekonomi yang adil, hak sosial yang setara, dan hak budaya yang dijaga keberagamannya.” Para peserta menyimak dengan khidmat. Sesekali, mereka mengangguk, mencatat, dan berdiskusi kecil di antara jeda kalimat. Dalam forum itu, negara tak lagi dipandang sebatas institusi kekuasaan, melainkan sebagai ruang bersama tempat manusia tumbuh, bermimpi, dan menegakkan keadilan. Zulhajar mengajak peserta untuk menafsirkan kembali makna kehadiran negara. Ia menyinggung tentang hak-hak ekonomi rakyat kecil, tentang kesenjangan sosial yang terus melebar, serta pentingnya menjaga budaya sebagai napas kehidupan bangsa. “Hak-hak sosial bukanlah hadiah dari negara,” katanya dengan mantap, “melainkan hak kodrati manusia yang harus dijamin oleh setiap sistem yang mengaku beradab.” Nada bicara Zulhajar sesekali melembut, terutama saat ia menyelipkan kenangan masa mudanya di HMI masa ketika idealisme dan semangat perubahan menjadi satu-satunya bekal perjuangan. “Di sinilah dulu saya belajar berpikir kritis, tapi juga belajar menghargai manusia,” ucapnya disambut senyum para peserta. Forum itu pun terasa hidup, bukan karena perdebatan, melainkan karena percakapan yang tumbuh dari hati. Di tengah keseriusan tema, tawa ringan sesekali pecah, mencairkan suasana tanpa kehilangan makna. Keakraban intelektual terasa nyata seperti keluarga besar yang tengah belajar memahami dunia bersama. Saat sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta mengangkat tangan dengan semangat. Pertanyaan mereka mengalir tajam tentang ketimpangan ekonomi, hak buruh, dan posisi negara dalam melindungi rakyat dari hegemoni pasar. Zulhajar menanggapinya satu per satu, tidak sebagai pejabat, tapi sebagai abang HMI yang ingin berbagi pengalaman hidup dan pemikiran. “Kita boleh kritis kepada negara,” katanya menutup sesi, “tapi jangan lupa kita juga bagian dari negara itu. Tugas kita adalah memperbaikinya, bukan menjauhinya.” Tepuk tangan panjang mengiringi akhir sesi. Beberapa peserta masih berdiskusi kecil, sementara pemateri dengan hangat menyapa mereka satu per satu. Di ruangan itu, tampak jelas: HMI bukan hanya melahirkan pemikir, tetapi juga manusia yang peduli pada sesamanya. Siang di Hotel LaMacca berakhir dengan kesan mendalam. Dalam keheningan yang ramah, para peserta membawa pulang bukan hanya catatan, tapi kesadaran baru bahwa negara, manusia, dan kemanusiaan sejatinya tumbuh dari akar yang sama: cinta pada keadilan, dan tanggung jawab pada sesama.

Uncategorized

Menafsir Manusia dan Kebudayaan: Andi Rahmat Munawar Gugat Kesadaran Sejarah di Forum LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam di Hotel LaMacca berjalan dengan kelembutan intelektual yang jarang dijumpai. Lampu-lampu ruangan berpendar hangat, menciptakan suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban di antara para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Di hadapan mereka, tampil sosok yang tenang namun berwibawa, Andi Rahmat Munawar, S.Sos., M.Si., membawakan materi bertajuk “Manusia dalam Tafsir Kebudayaan Lokal.” Dari awal pembicaraannya, Andi Rahmat tak sekadar memaparkan teori. Ia menuturkan sejarah seperti kisah hidup yang mesti dihadapi dengan kejujuran. Dengan suara yang teduh, ia mengingatkan: “Kita harus jujur pada sejarah. Indonesia bukanlah kelanjutan dari Majapahit, tapi hasil penyatuan kultur atau lebih tepatnya, Hindia Belanda jilid dua. Artinya, wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda itulah yang kemudian disatukan menjadi Indonesia hari ini.” Kalimat itu mengalir pelan, tapi mengguncang kesadaran. Para peserta LK2 terdiam sejenak, menatap pemateri dengan pandangan penuh renung. Di ruang itu, sejarah terasa hadir  bukan sebagai pelajaran beku, tapi sebagai cermin yang memantulkan wajah bangsa dengan segala luka dan harapannya. Andi Rahmat melanjutkan bahwa manusia dalam tafsir kebudayaan lokal bukan sekadar makhluk sosial yang hidup dalam ruang, melainkan bagian dari jaringan nilai, simbol, dan bahasa yang membentuk identitasnya. Ia menjelaskan bahwa memahami manusia Indonesia berarti memahami pluralitas budaya yang hidup, dari sabang hingga merauke, dari nilai lokal hingga semangat kolektif yang menyatukan. “Kebudayaan lokal,” katanya, “adalah cara manusia menegosiasikan dirinya dengan sejarah dan ruang hidupnya. Dari situ lahir rasa, lahir bahasa, lahir nilai-nilai yang membuat kita mengerti siapa diri kita.” Suasana forum begitu damai. Peserta dari berbagai cabang HMI tampak larut dalam suasana dialog yang akrab. Ada yang sibuk menulis catatan, ada pula yang mengangguk pelan setiap kali pemateri mengaitkan tafsir kebudayaan dengan identitas manusia Indonesia yang kompleks dan majemuk. Dalam suasana yang tertib dan saling menghargai, diskusi berkembang menjadi refleksi. Tak ada perdebatan yang panas, hanya pertukaran gagasan yang jernih. Seolah-olah malam di Hotel LaMacca menjelma menjadi ruang kontemplatif tempat akal dan nurani bertemu. Ketika sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta menyampaikan pandangan tentang bagaimana budaya lokal kini bergulat dengan modernitas. Andi Rahmat menanggapinya dengan bijak, menegaskan bahwa modernitas tidak semestinya menghapus kearifan lokal, tetapi justru menghidupkannya kembali dalam konteks baru. “Kita tidak sedang menolak masa kini,” ujarnya lembut, “kita hanya ingin memastikan bahwa akar kita tidak tercabut dari tanah yang menumbuhkan.” Tepuk tangan panjang mengakhiri sesi. Suara tepukan itu terdengar bukan sekadar bentuk apresiasi, tapi seperti tanda sepakat bahwa kejujuran pada sejarah dan penghormatan pada kebudayaan adalah dua hal yang harus kembali menjadi fondasi kesadaran bangsa. Di malam itu, di bawah cahaya hangat lampu Hotel LaMacca, HMI Makassar Timur tidak hanya berdiskusi tentang kebudayaan; mereka sedang memupuk kembali makna menjadi manusia Indonesia  manusia yang jujur pada sejarahnya, bangga pada budayanya, dan sadar pada tanggung jawabnya di masa depan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Politik sebagai Ruang Pengasuhan Kekuasaan: Prof. Armin Gurat Kesadaran Kritis Kader HMI di LK2 Nasional Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Sore Hingga Malam di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun hangat. Udara ruangan bercampur aroma kopi yang mengepul pelan, menjadi saksi bagi para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai daerah yang duduk berjejer rapi, menyimak dengan penuh perhatian. Di tengah suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, tersaji satu sesi yang paling ditunggu: pemaparan Prof. Armin dengan tema “Politik sebagai Arena Kontestasi Kekuasaan.” Dengan suara yang tenang namun penuh daya, Prof. Armin membuka materinya dengan perenungan tajam: “Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ruang tempat kepemimpinan diasuh, diuji, dan dimaknai.” Ucapan itu bergema lembut, namun menghunjam dalam ke benak setiap peserta. Dalam pandangan sang profesor, politik seharusnya diasuh oleh kepemimpinan profektif, kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan, menuntun arah perubahan, dan membangun tatanan sosial dengan visi kemanusiaan yang luas. “Politik yang sehat,” lanjutnya, “adalah politik yang memberi ruang bagi nalar, bukan sekadar nafsu kuasa. Sebab tanpa politik, kita tak akan pernah punya alat untuk memperbaiki demokrasi.” Para peserta menunduk sesaat, mencatat kalimat-kalimat yang terasa seperti wejangan panjang dari seorang guru bangsa. Di ruang yang terang tapi lembut itu, politik tidak lagi terdengar kotor atau menakutkan; ia tampil sebagai jalan pengabdian, jalan untuk memperbaiki sistem, menata keadilan, dan menghidupkan kembali cita luhur bernegara. Prof. Armin kemudian memperkaya wacana dengan menyinggung dua konsep besar dalam filsafat politik: libertarian dan komunitarian. “Kaum libertarian,” ujarnya, “melihat kebebasan individu sebagai hak tertinggi bahwa manusia bebas menentukan hidupnya sejauh tidak mengganggu kebebasan orang lain.” Sementara itu, komunitarian justru memandang manusia sebagai bagian dari komunitas, bahwa kebebasan tidak berarti apa-apa tanpa tanggung jawab sosial dan nilai kebersamaan. “Di antara dua kutub itulah,” sambungnya, “politik harus menemukan keseimbangannya, bagaimana kebebasan pribadi tidak meniadakan kepentingan publik, dan bagaimana solidaritas sosial tidak mematikan hak individu.” Suasana forum terasa hidup, namun damai. Peserta LK2 tampak khusyuk menyimak, sesekali tersenyum atau mengangguk, seolah memahami bahwa yang dibicarakan bukan sekadar teori, melainkan cermin dari realitas bangsa yang tengah mereka hidupi. Tidak ada kegaduhan, tidak ada ketegangan; hanya dialog yang jujur dan intelektual yang hangat, dibalut rasa saling menghargai. Ketika sesi tanya jawab dibuka, tangan-tangan terangkat dengan sopan. Pertanyaan mengalir, dan Prof. Armin menjawab dengan sabar kadang diselingi tawa ringan yang memecah keheningan. Di tengah forum yang damai itu, politik tampak begitu manusiawi; ia menjadi bahasa tentang bagaimana manusia mengatur hidup bersama dengan akal sehat dan hati nurani. Menjelang akhir, Prof. Armin menutup dengan kalimat yang disambut tepuk tangan panjang: “Politik adalah seni memanusiakan kekuasaan. Dan demokrasi hanya akan hidup jika kita memiliki pemimpin yang mau belajar, bukan sekadar berkuasa.” Malam di Hotel LaMacca pun menorehkan kesan mendalam. Dalam forum yang tertib, tenteram, dan akrab, para kader muda HMI seolah mendapatkan napas baru: bahwa politik, sejatinya, bukan medan kotor, melainkan ladang pengabdian tempat idealisme diuji, dan keadilan diperjuangkan dengan nurani yang jernih.

Scroll to Top