Author name: Admin

Makassar, Pendidikan

Mendalami Islam Melalui Pendekatan Sains, Hasanuddin : Upaya Memahami Konteks Perubahan Social Societ

ruminews.id – Makassar, Advance Training atau Latihan Kader (LK III) tingkat nasional yang diadakan oleh Badan Koordinasi HMI Sulawesi Selatan berlokasi di Sultan Alauddin Hotel and Convention, Kota Makassar, Rabu (28/5/20125) dihadiri oleh Ketua Umum PB HMI periode 2004-2006, Hasanuddin sebagai narasumber. Membahas lebih dalam terkait “Penafsiran Al Quran dan Pendalaman Islam Melalui Pendekatan Fisika Kuantum”, Hasanuddin atau sapa Kak Acang menyampaikan relevansi fisika kuantum sebagai pendekatan dalam memahami islam. Hasanuddin menyampaikan perlu adanya diskursus kader HMI dalam melihat penafsiran Al Quran melalui pendekatan-pendekatan yang saintifik. “Kalau kita lihat hari ini, menggunakan pendekatan fisika klasik dalam mempelajari atau mendalami nilai-nilai islam sudah tidak relevan. Perlu pendekatan berbeda untuk mempelajari islam, seperti pendekatan fisika kuantum yang harus lebih di fokuskan lagi. Ini menjadi diskusi menarik bagi seluruh kader HMI dalam melihat lebih dalam ajaran atau nilai-nilai islam, terlebih islam merupakan landasan fundamental HMI.” ujar Hasanuddin saat menyampaikan materinya. Hasanuddin juga menyampaikan terkait keharusan kader HMI dalam rekonstruksi pemikiran dalam memandang islam yang relevan dengan perkembangan zaman. “Islam sebagai ajaran yang mampu bertahan hingga akhir zaman, haruslah relevan dengan perkembangan zaman. Perkembangan teknologi menjadi keniscayaan bagi ummat manusia dan kader HMI harus mampu beradaptasi dalam pemanfaatan teknologi, namun tidak boleh melenceng dari nilai-nilai islam.”tambahnya. Lebih lanjut, Hasanuddin juga menyampaikan pentingnya kader HMI khususnya terhadap jebolan Advance Training (LK 3) kali ini untuk membangun kembali khazanah berdiskusi terkait keislaman. “Budaya membaca dan diskusi yang diajarkan di HMI perlu kiranya dikembalikan dalam ruang-ruang keilmuan khususnya diskursus terkait keislaman. Harus ada lompatan pemikiran dari HMI melihat perkembangan zaman hari ini, tidak terus bicara revolusi industri dan teknologi 4.0 saja, namun sudah harus mampu bicara 5.0,6.0 dan seterusnya.” Tutupnya

Hukum, Pemerintahan, Politik

Diduga Melakukan Nepotisme di Lingkungan KPU, LKBHMI Minta Presiden Copot Sekjend KPU

ruminews.id-Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) HMI Cabang Jakarta Pusat – Utara melakukan Aksi Unjuk Rasa di Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada Senin, 26 Mei 2025 di Jakarta Pusat. Mereka menyoroti dugaan korupsi soal pengadaan sewa private jet oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2024 yang diduga melibatkan Ketua, Sekretaris Jenderal, dan Para Komisioner KPU RI, dan dugaan Nepotisme yang diduga dilakukan oleh Sekretaris Jendral KPU Bernard Dermawan Sutrisno. Raja Rambe selaku koordinator meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) dan para Penegak Hukum lainnya untuk meneriksa yang terlibat dalam dugaan korupsi soal pengadaan sewa private jet oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2024 . “Kami meminta kepada Komisi Pemberantasan Korupsi untuk segera memanggil dan memeriksa Saudara Bernad Dermawan Sutrisno terkait dugaan korupsi sewa Jet Pribadi yang diduga merugikan keuangan negara dan menggunakan wewenang untuk kepentingan Pribadi dan Kelompoknya” ujar Raja (26/5/2025). Diketahui, dugaan korupsi pengadaan sewa private jet oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2024 itu telah dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi RI. pengadaan tersebut memiliki kejanggalan pada nilai kontrak yang tak sesuai dengan pagu anggaran. Nilai kontrak penyewaan pesawat pribadi yang tak sesuai dengan pagu anggaran KPU tahun 2024. pagu yang dimiliki KPU saat itu hanya Rp 46 miliar, sementara nilai kontrak pengadaan private jet itu mencapai Rp 65 miliar pada Januari hingga Februari tahun lalu. Kemudian, mereka menyoroti dugaan Nepotisme yang dilakukan oleh Sekjend KPU RI Bernad Dermawan Sutrisno dengan memasukkan kerabat atau orang-orang terdekatnya menjadi pejabat di lingkungan KPU RI salah satunya Drs. Syakir yang diduga dilakukan tanpa mekanisme yang berlaku. Diketahui, Drs. Syakir ini pernah menjabat di Kasubag Verifikasi Desa Kementerian Desa yang pernah mempunyai masalah. Akan tetapi Sekjen KPU meminta agar Drs. Syakir dipindahkan ke KPU. Setelah Beberapa Tahun di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Drs. Syakir mendapat jabatan yang dinilai cukup melejit tanpa proses mekanisme yang berlaku. “Bahwa kami juga meminta kepada Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI untuk melakukan Inspeksi Khusus terkait dugaan Nepotisme yang diduga dilakukan oleh Sekjend KPU dengan mengangkat Drs. Syakir yang diduga mempunyai jabatan yang melejit, padahal yang bersangkutan dulunya adalah pejabat di Kementerian Desa yang diduga bermasalah” ujar Raja Rambe Selaku Koordinator. Kemudian, Massa Aksi juga meminta kepada DKPP RI untuk segera memberikan Sanksi kepada Sekjend KPU dan Drs. Syakir yang sekarang diduga merangkat jabatan sebagai Kepala Perbendaharaan dan Plt. Sekretaris KPU Jawa Barat. Terakhir, Raja Rambe selaku koordinator lapangan juga meminta kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mencopot Sekjend KPU. “Kami meminta kepada Presiden RI untuk mencopot saudara Bernad Dermawan Sutrisno selaku Sekretaris Jenderal KPU karena diduga terlibat Korupsi pengadaan sewa private jet oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Pemilu 2024 dan dugaan Nepotisme” ujarnya.

Opini

Omong Kosong Gaya Hidup Hijau di Bulan Ramadhan.

ruminews.id – Bulan Ramadhan tidak menolong bumi selamat dari terkaman hasrat konsumsi manusia. Bulan Ramadhan sejatinya merupakan waktu yang penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama periode ini, umat Muslim menjalani puasa, memperbanyak ibadah, dan berbuat baik kepada sesama. Namun, di tengah semangat spiritual dan sosial tersebut, terdapat fenomena yang menarik untuk ditelaah: kesadaran akan gaya hidup hijau di kalangan masyarakat kelas menengah perkotaan dan kelompok milenial-gen Z yang sering kali tidak sejalan dengan praktik nyata mereka. Sebagai generasi yang dianggap peka terhadap isu lingkungan, mereka sering kali berkontradiksi dalam perilaku konsumsinya, terutama di bulan Ramadhan. Di tengah efisiensi anggaran yang sedang dilakukan oleh pemerintah dan berdampak hingga ke daya beli masyarakat, Bulan Ramadhan tetap menjadi waktu di mana konsumsi baik itu pakaian, makanan dan minuman mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan terbaru dari Redseer Strategy Consultants, total belanja masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025 diperkirakan mencapai US$ 73 miliar atau setara Rp 1.188 triliun (Kontan.co.id, 2025) dan data yang selaras berdasarkan hasil survei Snapcart, sebanyak 44% responden Indonesia akan menghabiskan Rp1 juta hingga Rp3 juta untuk belanja Ramadan 2025 dengan perincian data bahwa proporsi responden yang akan membelanjakan uangnya sebanyak Rp3 juta hingga Rp5 juta untuk Ramadan 2025 sebesar 12% dan sementara itu, sebanyak 6% responden akan menghabiskan lebih dari Rp5 juta untuk belanja Ramadan di tahun ini (dataindonesia.id, 2025). Peningkatan aktivitas konsumsi dalam hal makanan dan minuman ini kemudian memiliki implifikasi negatif ke lingkungan. Setiap pembelanjaan produk makanan dan minuman akan memberikan sampah. Konsumsi makanan yang meningkat selama bulan Ramadhan berdampak pada meningkatkan timbunan sampah. Zerowaste.id (citarumharum.jabarprov.go.id, 2025) mirilis data bahwa produksi sampah naik sekitar 20% dan mampu menghasilkan 500 ton sampah di bulan ramadhan. Lebih parah lagi, di Bandung saja per satu harinya bisa mencapai 200 ton makanan yang terbuang. Sementara itu, dikutip dari detiknews.com (citarumharum.jabarprov.go.id, 2025) menjelaskan penghitungan data dari Paropong Waste Management, sebuah pusat daur ulang yang ada di Jawa Barat, yakni dari data yang mereka peroleh menunjukkan di Jakarta sendiri ada sekitar 200 ton sampah tambahan dalam sebulan Ramadhan. Dan berdasarkan data KLHK (kompasiana.com, 2024), sampah organik berupa sisa makanan mendominasi komposisi sampah tertinggi di Indonesia mencapai 41,2%, diikuti oleh sampah plastik 18,2%. Salah satu alasan kenapa sampah menjadi lebih banyak pada saat Bulan Ramadhan adalah konsumsi sampah plastik yang berlebihan. Selama Bulan Ramadhan, orang-orang banyak yang mencari rezekinya dengan berdagang bermacam hidangan takjil. Para konsumen, karena seharian sudah menahan haus dan lapar. Maka ketika jajan, mereka cenderung jajan terlalu banyak. Biasanya sampah-sampah plastik dihasilkan dari jajanan-jajanan khas ramadhan, seperti kolak, cendol, gorengan, dan lain lain. Gaya Hidup Hijau : Kesadaran dan Praktik Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan kesadaran akan isu-isu lingkungan di kalangan kelas menengah dan generasi muda. Ini terlihat dari banyaknya kampanye yang menggugah kesadaran akan bahaya plastik, praktik konsumsi berkelanjutan, dan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun, meskipun ada kesadaran ini, terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku. Ketidak berhubungan atau gap antara kesadaran dengan praktik keseharian ini yang kemudian penulis sebut sebagai split collective behavior (keretakan perilaku kolektif) yang berdampak pada kehidupan menjadi parsialis dan tersegmentasi. Bulan Ramadhan menjadi waktu di mana konsumsi makanan dan minuman meningkat pesat. Buka puasa sering kali diisi dengan sajian berlimpah, yang umumnya dikemas dalam plastik atau wadah sekali pakai. Ini bertentangan dengan semangat gaya hidup hijau yang mereka gaungkan. Data yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa produksi sampah plastik meningkat tajam selama bulan Ramadhan. Kelas menengah dan milenial-gen Z, yang seharusnya menjadi pelopor dalam praktik hijau, justru menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar. Mereka sering kali menggunakan kemasan makanan dari restoran atau tempat makan yang tidak ramah lingkungan. Titik temu dari ketidakberhubungan kesadaran dengan praktik kesaharian ini terletak pada pandangan psikoanalisis yang menempatkan konsumsi sebagai fenomena tak sadar (unconscious) sebagaimana yang disebutkan oleh Piliang (2011). Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z melakukan aktivitas konsumsi di bulan Ramadhan pada dasarnya berada pada kondisi ketidaksadaran, karena ada pada kondisi ketidaksadaran sehingga ideologi yang tidak ada ideologi yang mucul, ketidakadaan ideologi ini yang membuat praktik keseharian Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z menjadi absurd landasan geraknya. Ada tekanan sosial yang dirasakan oleh Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z untuk tampil bersama dengan teman-teman atau lingkungan sekitar pada momen Buka Bersama misalnya, yang sering kali berujung pada konsumsi berlebihan. Alih-alih bergerak kearah kesadaran yang lebih berkeseimbangan justru membuat cita-cita gaya hidup hijau menjadi hanya sebatas jargon, semu prestise, citra yang menggiring masyarakat ke arah hipnotis konsumerisme. Gaya hidup hijau yang hanya menjadi citra semu merupakan bentuk dari masih rendahnya tanggung jawab individu dan kolektif dari Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z. Masih rendahnya tanggung jawab individu dan kolektif tersebut tidak pelak akan memunculkan resikonya. Beck (2015) menuturkan pergeseran dalam masyarakat modern dari masyarakat industri menuju masyarakat yang lebih sadar akan risiko yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Dalam konteks ini, risiko bukan hanya dianggap sebagai fenomena yang dapat dihindari, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi individu, komunitas, dan lingkungan. Melonjaknya sampah plastik berdampak langsung pada lingkungan. Penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air. Selain itu, pembuangan sampah plastik yang sembarangan dapat menyebabkan masalah serius, seperti banjir akibat penyumbatan saluran air. Sampah plastik yang terbuang sembarangan menjadi sarang bagi berbagai jenis penyakit. Genangan air di sekitar sampah plastik dapat menarik vektor penyakit, seperti nyamuk, yang dapat mengakibatkan wabah demam berdarah atau malaria. Penumpukan plastik juga berpotensi mengeluarkan zat berbahaya yang dapat mencemari lingkungan dan mempengaruhi kesehatan manusia. Selain risiko lingkungan dan kesehatan, peningkatan sampah plastik juga menimbulkan masalah sosial dan ekonomi. Masyarakat yang tinggal di sekitar TPA sering kali mengalami dampak sosial yang serius, seperti penurunan kualitas hidup, stigma sosial, dan bahkan konflik akibat sengketa penggunaan lahan. Ekonomi lokal juga terpengaruh, mengingat biaya pengelolaan sampah meningkat seiring dengan volume sampah yang terus bertambah. Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momen refleksi dan perubahan positif, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam praktik sehari-hari, termasuk perilaku konsumsi yang ramah lingkungan. Bulan Ramadhan dicita-citakan menjadi ruang yang menghilangkan logika hasrat dan logika citra justru menjadi ruang percepatan proses kehancuran. Masyarakat kelas menengah dan milenial-gen Z memiliki

Opini

Kabur Aja Dulu : Fenomena Brain Drain dan Dilema Talenta Indonesia

ruminews.id – Dalam beberapa minggu terakhir, tagar #KaburAjaDulu ramai diperbincangkan di media sosial. Ungkapan ini bukan sekadar kelakar anak muda, tetapi cerminan dari kenyataan pahit: semakin banyak orang berbakat yang memilih meninggalkan Indonesia demi peluang yang lebih baik di luar negeri. Fenomena ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan para pengambil kebijakan. Namun, alih-alih mencari solusi, sebagian elite justru menganggapnya sebagai hal Wajar atau bahkan menyalahkan mereka yang pergi. Ketika Negeri Tak Lagi Ramah bagi Talenta Fenomena migrasi tenaga kerja berkualitas tinggi atau brain drain bukanlah hal baru, tetapi akhir-akhir ini semakin nyata dirasakan. Banyak anak muda berprestasi, mulai dari profesional di bidang teknologi, akademisi, hingga tenaga medis, memilih untuk mencari penghidupan di luar negeri. Alasannya? Mereka merasa bahwa di Indonesia, keahlian dan integritas mereka tidak dihargai sebagaimana mestinya. Salah satu faktor utama adalah rendahnya kesejahteraan tenaga kerja profesional. Dibandingkan dengan negara lain, gaji tenaga ahli di Indonesia sering kali tidak sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang diemban. Belum lagi minimnya perlindungan tenaga kerja, ketidakpastian kontrak, dan fasilitas kerja yang jauh dari ideal. Namun, lebih dari sekadar ekonomi, faktor politik juga memainkan peran besar. Banyak individu berbakat merasa tidak memiliki tempat dalam sistem yang lebih mengutamakan koneksi dan loyalitas politik daripada kompetensi. Jabatan strategis, baik di pemerintahan maupun sektor industri, sering kali diberikan kepada mereka yang memiliki hubungan dengan elite, bukan kepada mereka yang benar-benar mampu menjalankan tugasnya. Mereka yang menolak bermain dalam budaya sogokan dan “cari muka” akhirnya tersisih.Di sisi lain, anak-anak muda dari kelompok marginal menghadapi tantangan ganda. Mereka tidak hanya harus berjuang melawan ketimpangan ekonomi, tetapi juga menghadapi sistem yang tidak memberikan kesempatan yang adil bagi mereka untuk berkembang. Ketika kesempatan terbuka lebih luas di luar negeri, pilihan untuk pergi menjadi semakin masuk akal. Siapa yang Dirugikan? Jika fenomena ini terus berlanjut, dampaknya tidak bisa dianggap remeh. Indonesia akan kehilangan generasi terbaik yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan. Beberapa konsekuensi yang akan muncul antara lain: • Stagnasi inovasi : Tanpa tenaga ahli, sektor teknologi dan ekonomi kreatif akan sulit berkembang. • Ketimpangan SDM : Kekurangan tenaga profesional di dalam negeri bisa berdampak pada kualitas layanan publik, terutama di bidang kesehatan dan pendidikan. • Daya saing melemah : Sementara negara lain semakin maju dengan memanfaatkan talenta global, Indonesia justru kehilangan sumber daya manusianya yang paling potensial. Apa yang Harus Dilakukan? Mengutuk mereka yang pergi bukanlah solusi. Sebaliknya, pemerintah dan pengambil kebijakan harus berhenti berpura-pura bahwa masalah ini tidak ada. Ada beberapa langkah yang perlu segera dilakukan: 1. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja profesional Standar gaji dan tunjangan harus diperbaiki agar lebih kompetitif, terutama di sektor-sektor strategis seperti teknologi, kesehatan, dan ekonomi kreatif. 2. Menegakkan meritokrasi secara nyata Rekrutmen dan promosi jabatan harus berbasis kompetensi, bukan kedekatan politik atau hubungan pribadi. 3. Menindak tegas praktik nepotisme dan korupsi Jika orang berbakat terus tersingkir hanya karena mereka tidak mau menyogok atau menjilat, maka tidak heran jika mereka memilih pergi. 4. Memberikan insentif bagi diaspora untuk kembali Program khusus seperti fasilitas riset, insentif pajak, atau kebijakan yang mendukung kepulangan tenaga ahli bisa menjadi langkah untuk menarik kembali talenta yang telah pergi. Kesimpulan : Harus Berani Berubah Fenomena #KaburAjaDulu bukan hanya soal anak muda yang ingin mencari pengalaman di luar negeri. Ini adalah refleksi dari sistem yang gagal memberikan tempat bagi orang-orang berbakat untuk berkembang. Jika Indonesia ingin maju, maka para pengambil kebijakan harus berhenti mencari kambing hitam dan mulai membangun alasan agar mereka yang pergi mau kembali. Jika tidak? Mungkin hanya tinggal menunggu waktu sebelum kita menyadari bahwa negeri ini telah kehilangan generasi terbaiknya dan itu bukan salah mereka, tapi salah kita yang membiarkan mereka pergi. Andi Januar Jaury Dharwis Pengamat Kebijakan Publik Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 2009-2014 2014-2019 2019-2024

Daerah, Pemerintahan

Makassar Bersiap Hadapi Ancaman Banjir Lebih Besar di Awal 2025

ruminews.id – Makassar, 3 Februari 2025 – Kota Makassar tengah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir yang diprediksi lebih besar pada awal tahun 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim hujan terjadi pada Januari hingga Februari, dengan curah hujan mencapai 300 hingga 500 mm. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir di wilayah tersebut. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, mengimbau masyarakat untuk waspada dan meningkatkan kesiapan guna mengurangi dampak bencana. “Potensi banjir tahun ini sangat besar. Ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita semua lebih waspada dan siap,” ujarnya. Pada Desember 2024, Makassar telah mengalami dua kali banjir signifikan, terutama di Blok 8 Perumnas Antang, Kelurahan Manggala, Kecamatan Manggala, dengan ketinggian air mencapai dua meter. Banjir tersebut menyebabkan 1.884 orang mengungsi di 28 titik pengungsian di empat kecamatan terdampak: Manggala, Biringkanaya, Panakkukang, dan Tamalanrea. BPBD Makassar, bersama TNI, Bhabinsa, dan mitra lainnya, telah meningkatkan koordinasi untuk menghadapi potensi bencana. Selain penanganan di lapangan, tim BPBD juga fokus pada pengumpulan data untuk mengantisipasi dampak banjir secara lebih efektif. Dinas Kesehatan turut berperan dengan memberikan dukungan berupa vitamin kepada personel di lapangan untuk memastikan stamina mereka tetap terjaga dalam menjalankan tugas. Masyarakat diimbau untuk proaktif dalam menghadapi ancaman banjir, antara lain dengan membersihkan saluran air, menyiapkan kebutuhan darurat, dan memantau informasi cuaca terkini. “Kesiapan bersama adalah kunci. Dengan langkah-langkah kecil, kita bisa mengurangi dampak dari bencana yang mungkin terjadi,” kata Hendra. Dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat dan kerjasama antara pemerintah serta masyarakat, diharapkan dampak banjir di Makassar pada awal tahun ini dapat diminimalisir

Opini

“Guru Dan Transformasi Murid : Kisah Rabi Bin Sulaiman Dan Kemerdekaan Berpikir”

ruminews.id – Imam Baihaqi dalam Kitab Manaqibnya menulis, bagaimana Imam Syafi’i mengajari Salah satu muridnya yang sangat lambat memahami pelajaran. Muridnya bernama Ar Rabi bin Sulaiman. Setelah menerangkan pelajaran, Imam Syafi’i bertanya, “apakah Ar Rabi sudah paham?”. Belum paham, jawab Rabi. Dengan kesabarannya, sang guru mengulang pelajarannya. Lalu di tanyakan kembali, “apakah sudah paham”. Belum, jawab Rabi. Imam Syafi’i menjelaskan berulang – ulang sampai 39 kali. Tetapi, muridnya tak juga paham. Merasa mengecewakan gurunya dan malu, Rabi pelan-pelan keluar dari majelis ilmu. Begitu Selesai memberi pelajaran Imam Syafi’i mencari Rabi. Melihat muridnya, imam Syafi’i mengatakan, “Rabi kemarilah, datanglah ke rumah saya”. Sebagai guru Imam Syafi’i sangat memahami perasaan muridnya, sehingga ia mengajarnya secara Privat dan di tanya kembali, “apakah sudah paham”. Ternyata Rabi bin sulaiman tak juga paham. Apakah Imam Syafi’i berputus asa?. Menghakimi sebagai murid yang bodoh?. Tidak. Justru Imam Syafi’ mengatakan, “wahai muridku, sampai di sinilah kemampuanku. Jika engkau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah, agar berkenan mengucurkan ilmuNya kepadamu, saya hanya menyampaikkannya. Allah-Lah yang memberikan ilmu. Andaikkan ilmu yang aku ajarkan ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya padamu”. Mengikuti nasihat gurunya, Rabi bermunajat kepada Allah dalam Kekhusyuannya. Ia juga membuktikan doa-doanya dengan terus belajar. Keikhlasaan, Kesholehan dan kesungguhan inilah amalan Rabi Bin Sulaiaman. Setelah itu Rabi bin sulaiman berkembang menjadi salah satu ulama besar dalam Mazhab syafi’i dan termasuk perawi hadist paling kredibel, terperceya salam periwatan Hadist. Berkenaan dengan itu saya teringat sengan A.S. Neil. Seorang pendidik yabg di kenal dengan pendekatannya yang berbeda dalam pendidikan. Ia adalah seorang pendiri Summerhil school di inggris, sebuah sekolah yang memberikan kebebasan terhadap murid – muridnya dalam menentukan kegiatan belajar mereka. “Ungkapan terkenalnya adalah “saya lebih senang melihat sekolah yang menghasilkan tukang sapu jalanan yang bahagia, ketimbang sarjana yang sakit jiwa”. Diantara pendekatannya ; Pertama, pendidikan bukan hanya akademik yang melulu mengejar gelar dan Prestasi. Lebih penting dari itu, bagaimana peserta didik dapat mengembangkan kebahagian, mental yang sehat dan rasa percaya diri. Kedua, setiap peserta didik memiliki minat dan bakat yang berbeda – beda. Sistem pendidikan seharusnya mendukung eksplorasi setiap peserta didik. Bukan memaksakan mereka dalam satu cetakan yang sama. Sektor Pendidikan kita, Menyerap 20% APBN itu tujuannya apa?. Kalau kita perhatikan di negara-negara Asia atau negara-negara yang maju. Mereka itu punya sistem seleksi yang sangat ketat siapa yang bisa Menjadi Guru. Di korea, misalnya, Yang menjadi Guru adalah mereka yang masuk kedalam rangking 5 Terbaik. Di singapura, mereka yang Masuk Rangking 3 terbaik. Di indonesia kita tidak pernah mendengar hal itu, bahkan Variabel kualitas tenaga Pendidik itu urusan kesekian. padahal Korelasi antara Kualitas Guru dan Murid itu equivalen. Selain itu, Mestinya Guru itu di berikan insentif habis-habisan. Sebab, kompetisi di mulai juga dengan insentif yang bermutu. Sedangkan, Kompetisi Hanya terjadi di dalam Parpol, bukan di insitusi keguruan. Ajaib memang. Maka, menjadi Wajar Jika Paradigma Pendidikan kita tidak punya arah. Musuh pertama dari gagalnya pendidikan kita adalah Feodalisme. Mental dan watak Feodal ini terhubung dengan sistem politik kita. Di dalam prinsip Feodalisme orang di larang menggeleng, kita hanya boleh manggut-manggut. Kirikulum pendidikan kita, pada dasarnya, membosankan. Tetapi, peserta didik tetap di paksakan untuk menerima kurikulum tersebut kedalam pikiran mereka. Padahal, peserta didiknya tidak suka. Seperti Robot, yang hanya ikut perintah. Jika demikian, pendidikan kita, diarahkan untuk anti dialektika. Padahal, dengan Jalan Pendidikanlah kita bisa saling menegur pikiran. Itulah sebabnya, guru tidak boleh menjadi Feodal, karena guru adalah teman berpikirnya murid. Sehingga tidak ada jarak Feodalisme antara Dosen atau Guru dan Mahasiswa atau Murid. “Harus di akui, Kita masih gugup, menerjemahkan apa vocal Point dari paradigma pendidikan kita. Karena jejak Feodalisme kita tidak pernah selesai, bahkan Tetap menjadi memory, Sampai sekarang.” Sebagai Bangsa Yang Mayoritas Muslim terbesar di dunia, kita di perkenalkan dengan Gagasan Pedagogi dan Andragogi ; Apakah kedua istilah itu merupakan Hadhorah barat?. “Syamsul Huda” menyebut kisah hikmah dalam QS. 31:12-19, dimana Luqman mendidik Anaknya dengan metode Pedagogi. Dilain sisi “Rosidi” memaparkan bahwa Nabi Muhammad SAW meng-edukasi sahabat-sahabat Beliau dengan tekhnik metafor, diskusi, reward dan Punishment, dimana yang demikian mengindikasikan gagasan yang diterapkan adalah Andragogi. Gagasan Pedagogi sebagaimana didalam Surah Luqman merupakan metode Khusus untuk membentuk syakhsiyyah Islamiyah – kepribadian islam yang diberikan kepada anak didik tingkat dasar sebagai materi pengenalan. Lebih jauh lagi, bisa kita Cek pada percakapan Nabi Ibrahim, yang di perintahkan Allah untuk menyembelih anaknya – Nabi Ismail, ” inni araofil manami ani adzh bahuka – saya bermimpi bahwa saya di suruh menyembilh kamu (Nabi Ismail)”. Lalu, kata Nabi Ibrahim, ” Fangdzur ma hadza Taro – menurut pendapat kamu apa, wahai Ismail?”. Artinya, tradisi dua arah – pedagogi. Sudah pernah di lakoni oleh para Nabi, bahwa murid – Harus Mustaqil bil fiqr – murid bisa berpikir sendiri dan hal itu terjadi jauh sebelum kampus, Forum Ilmiah dan pengajian yang menyuguhkan gagasan dua arah itu ada. Sedangkan gagasan Andragogi termaktub dalam QS. 18 : 60-82 yang merupakan tekhnik belajar orang dewasa, sebagaimana “Lailatul Fitriyah” dalam Rangkuman Tesis Andragogi Surah Al Kahfi menjelaskan bahwa point penting dalam Andragogi adalah belajar dari pengalaman, berfikir kritis (Metode Rasional), mandiri (Kepemimpinan), serta belajar, karena kebutuhan (Tholabul Ilmi). Di titik itulah, Subtansi pendidikan menurut Islam menjadikan manusia merdeka berpikir. Hal ini penting saya utarakan, karena status permanen Semua Nabi adlh Mengajar – “Robbana wa baats fihim rosulan min inna su alaihim ayathik – membacakan ayat-ayat Allah”. Bahkan Allah sendiri men-sifati diriNya dgn, “Ar-Rohmanu allamal qur’an – Allah Maha Penyanyang yang mengajarkan Al Qur’an”. Terakhir, Kalau Universitas – universitas tidak melaksanakan fungsinya sebagai medan pertempuran, distributor Sentimen, dan ide – ide revolusioner. Maka, alternative dengan sendirinya terbentuk. Pada awal abad modern di prancis misalnya. Akibat terbuangnya kaum marjinal dan non aristokrat di dunia pendidikan tinggi. Penny University : Universitas – Universitas dadakan mulai bermunculan di kedai – kedai Kopi di eropa barat. Sebuah reaksi anti bodi terhadap racun pembodohan. Akibatnya universitas – universitas dadakan tersebut menjadi cikal bakal dengan apa yang kita sebut “Salon” : Sebuah even – even pertemuan yang menghubungkan antara seniman, ilmuan dan intelektual publik, yang melahirkan bibit – bibit intelektual revolusi prancis lahir. Kritikal thingking

Makassar, Pemerintahan

Pemkot Makassar Lanjutkan Rehabilitasi Balai Kota Dengan Anggaran Tambahan RP30 Miliar

ruminews.id – Pemerintah Kota Makassar berencana melanjutkan rehabilitasi Kantor Balai Kota pada tahap kedua tahun 2024, dengan penambahan anggaran sebesar Rp30 miliar. Fokus utama rehabilitasi ini adalah pengerjaan konstruksi Tower Balai Kota hingga lantai 11. Kepala Bidang Prasarana dan Bangunan Pemerintah Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar, Hajar Aswad, menyatakan bahwa pada tahap pertama yang dimulai April 2023 dengan anggaran Rp19,9 miliar, progres rehabilitasi telah mencapai 35% dan diharapkan rampung pada Desember 2023. Beberapa perubahan telah dilakukan, termasuk pemindahan ruangan Wali Kota ke lantai 2 Tower Balai Kota, ruangan Wakil Wali Kota ke lantai 4, dan ruangan Sekretaris Daerah ke lantai 2 Tower Balai Kota. Bangunan utama akan difungsikan sebagai bangunan heritage, sehingga beberapa bagian tidak akan diubah untuk menjaga nilai sejarahnya. “Dalam rehabilitasi ini banyak yang perlu diperhatikan karena bangunan tersebut merupakan bangunan bersejarah. Ada beberapa bagian yang tidak dimungkinkan untuk diganggu dan diubah seperti pada bangunan utama,” jelas Hajar Aswad. Dengan kelanjutan rehabilitasi ini, diharapkan Balai Kota Makassar dapat menjadi pusat pemerintahan yang lebih representatif sekaligus mempertahankan nilai historisnya. “Kami berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara modernisasi fasilitas dan pelestarian warisan budaya yang ada,” tambah Hajar Aswad.

Daerah, Ekonomi

A. Ikram Rifqi Ditunjuk Sebagai Ketua Karateker HIPMI Jeneponto

Ruminews.id, Makassar – Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Sulawesi Selatan resmi mengamanahkan A. Ikram Rifqi sebagai karateker Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jeneponto. Ia diberi mandat untuk melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda) guna memilih kepengurusan baru yang akan memimpin organisasi tersebut ke depan. Surat Keputusan (SK) penunjukan A. Ikram Rifqi diserahkan langsung oleh Ketua Umum BPD HIPMI Sulsel, Amar Ma’ruf Sulaiman, didampingi Sekretaris Umum Amirul Yamin Ramadhansyah dan Ketua Bidang OKK Yuspratman. Prosesi penyerahan SK berlangsung di Ruang VIP Tanah Merah Pettarani, Makassar, pada Jumat, 2 Februari 2025 pukul 16.00 WITA. Sebelumnya, keputusan ini telah ditetapkan dalam Rapat Badan Pengurus Harian Inti yang digelar di Sekretariat BPD HIPMI Sulsel, Gedung Aas Building, pada 13 Januari 2025. Ketua Umum BPD HIPMI Sulsel, Amar Ma’ruf Sulaiman, menegaskan bahwa penunjukan karateker ini bertujuan untuk memastikan jalannya organisasi di tingkat daerah tetap solid dan mampu melahirkan kepengurusan yang berkualitas. “Kami berharap karateker yang telah ditunjuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga Musda dapat berlangsung dengan lancar, demokratis, dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa HIPMI Jeneponto semakin maju,” ujar Amar. Dalam kesempatan tersebut, Demisioner Ketua Umum Badko HMI Sulselbar, A. Ikram Rifqi menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia berkomitmen untuk menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab serta bekerja sama dengan seluruh elemen organisasi untuk menyukseskan Musda. “Ini adalah tanggung jawab besar yang saya emban. Saya akan segera berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan proses Musda berjalan sesuai aturan dan dapat melahirkan kepemimpinan yang visioner bagi HIPMI Jeneponto,” kata Ikram Saat ditemui Tim Ruminews Lebih lanjut, Ikram menegaskan pentingnya kolaborasi di antara pengusaha muda dalam memperkuat peran HIPMI di daerah. Menurutnya, Musda bukan hanya sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk menyusun strategi yang lebih baik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal. “Saya mengajak seluruh anggota HIPMI Jeneponto untuk aktif berpartisipasi dalam proses ini. Mari bersama-sama kita jadikan Musda sebagai langkah awal menuju organisasi yang lebih progresif dan berdampak nyata bagi para pengusaha muda,” tutupnya.

Ekonomi, Pemerintahan

BRI Terbanyak : 71 Ribu Pelaku UMKM Telah Menerima Penghapusan Tagihan Kredit.

ruminews.id – Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan perkembangan terbaru terkait program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yaitu fasilitas penghapusan kredit macet bagi pelaku UMKM. Saat ini, pemerintah tengah merampungkan skema teknis untuk merealisasikan kebijakan tersebut. “Prosesnya sedang berjalan dan dituntaskan secara bertahap. Faktor teknis menjadi tantangan utama karena para debitur tersebar di berbagai daerah,” ujar Maman saat ditemui di Gedung Smesco, Jakarta, Jumat (31/1/2025). Ia menjelaskan bahwa salah satu kendala yang dihadapi pemerintah adalah pencocokan data debitur. Beberapa pelaku UMKM yang memiliki kredit macet telah berpindah domisili, sehingga perlu verifikasi lebih lanjut. “Ini bukan sekadar soal kebijakan, tetapi juga teknis dan operasional. Kami harus memastikan data yang valid agar pelaksanaan program ini tepat sasaran,” tambahnya. Maman juga menegaskan bahwa bank-bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menyatakan kesiapan mereka untuk mendukung program ini. Ia bahkan menyebut bahwa pendataan debitur yang berhak menerima fasilitas penghapusan kredit hampir rampung. “Prosesnya sudah berjalan. Saat ini, jumlah debitur yang kredit macetnya telah dihapus mencapai puluhan ribu,” ungkapnya. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa hingga saat ini sebanyak 71 ribu pelaku UMKM telah menerima fasilitas penghapusan tagihan kredit dari bank-bank BUMN. “Dari hasil pemantauan, bank yang paling banyak menghapus kredit macet UMKM adalah Bank BRI,” ujar Airlangga dalam acara BRI Microfinance Outlook 2025 di Tangerang, Banten, Kamis (30/1/2025). Dengan semakin matangnya skema teknis dan dukungan dari perbankan BUMN, diharapkan program ini dapat segera terealisasi secara luas untuk meringankan beban pelaku UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasiona

Opini

Manusia Diciptakan Untuk Sehat Secara Mental

ruminews.id – Manusia memang luar biasa karena otaknya dirancang untuk membantu kita bertahan hidup, merasa nyaman dalam hubungan sosial, dan menghadapi berbagai tantangan. Kita diciptakan dengan otak yang mampu beradaptasi, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain. Otak kita sebenarnya dirancang untuk mendukung kita agar tetap sehat secara mental dan mampu menghadapi tantangan hidup. Tapi, ada satu hal penting yang membuat perbedaan besar: kehendak bebas, yaitu kebebasan kita untuk memilih apa yang akan kita lakukan, karena merupakan kunci untuk mengaktualkan potensi ini. Otak manusia adalah alat adaptasi yang sangat luar biasa. Otak tidak hanya dirancang untuk membantu kita bertahan hidup secara fisik, tetapi juga untuk menavigasi dunia sosial. Ia bekerja secara terus-menerus untuk memprediksi, menyesuaikan diri, dan merespons tantangan yang kita hadapi, termasuk stres, kecemasan, depresi, dan hubungan sosial. Namun, melalui kehendak bebas, manusia seringkali memilih jalan yang tidak mendukung kesehatan mentalnya, sehingga mereka menjadi tidak adaptif. Otak kita tidak bekerja secara pasif, tetapi berperan aktif dalam menciptakan pengalaman kita dan menyesuaikan tubuh agar dapat bertahan hidup secara efektif. Otak memanfaatkan allostasis untuk menjaga keseimbangan tubuh. Misalnya, ketika seseorang menghadapi stres seperti tenggat waktu kerja, otak memprediksi kebutuhan tubuh (seperti energi tambahan), lalu menghasilkan hormon seperti kortisol untuk membantu kita fokus dan menyelesaikan tugas. Namun, kebanyakan orang memilih cara yang tidak sehat untuk menghadapi stres, seperti menghindari tanggung jawab, berlebihan dalam konsumsi makanan cepat saji, atau menggunakan media sosial untuk “melarikan diri”. Pilihan ini bisa memperburuk kondisi karena otak tidak belajar menghadapi stres secara adaptif. Seorang mahasiswa yang stres menghadapi ujian memilih untuk mengisolasi diri dan merasa bahwa dirinya tidak cukup pintar. Akhirnya, ia semakin tertekan dan tidak belajar dengan efektif. Padahal, mahasiswa yang sama bisa menyadari bahwa stres adalah bagian dari prediksi otak yang bisa dikelola. Ketika ini yang menjadi pilihannya, maka ia bisa memilih untuk meminta bantuan teman belajar atau mencari dukungan emosional, sehingga rasa stresnya berkurang dan ia lebih siap menghadapi ujian. Ketika merasa cemas, otak sebenarnya sedang mencoba melindungi kita dari bahaya yang mungkin terjadi. Kita cenderung merasa takut mencoba hal baru, seperti memulai bisnis kecil atau belajar keterampilan baru, karena otak memprediksi kita akan gagal dan merasa malu. Alih-alih tetap di zona nyaman dengan tidak memulai bisnis yang kita impikan atau menolak kursus karena takut gagal, sehingga membuat otak semakin yakin bahwa mencoba sesuatu yang baru adalah risiko yang berbahaya; bukankah kita bisa memulai dengan risiko kecil. Misalnya, mencoba menjual satu produk kepada teman atau bergabung dalam kelas gratis untuk keterampilan yang ingin kita pelajari. Saat kita mendapat pengalaman positif, seperti umpan balik baik dari pelanggan atau memahami keterampilan baru, otak akan menyadari bahwa mencoba hal baru bukan ancaman besar. Otak kita selalu ingin melindungi kita dengan memprediksi potensi bahaya berdasarkan pengalaman sebelumnya. Namun, kita bisa melatih otak untuk membuat prediksi yang lebih realistis dan positif dengan memberikan pengalaman baru secara perlahan. Dengan cara ini, kita menjadi lebih adaptif dalam menghadapi stres, kecemasan, dan tantangan sehari-hari. Otak kita sebenarnya dirancang untuk mencari kebahagiaan dengan bergerak, terhubung dengan orang lain, dan melakukan sesuatu yang bermakna. Hal-hal ini membantu otak memproduksi bahan kimia seperti serotonin, yang membuat kita merasa lebih baik. Alih-alih menarik diri dari teman, tidur sepanjang hari, atau tidak melakukan apa-apa, yang membuat otak sulit memproduksi serotonin, sehingga depresi semakin dalam; bukankah kita bisa memutuskan untuk bangun dan berjalan-jalan di taman, menelepon teman, atau mencoba aktivitas baru. Dengan begitu, otak kita mulai mendapatkan dorongan positif dan menciptakan pola baru yang lebih sehat. Meskipun otak kita dirancang untuk beradaptasi dan mendukung kesehatan mental, seringkali manusia membuat pilihan yang tidak membantu. Kebanyakan orang cenderung memilih untuk tidak menghadapi masalah pekerjaan dan malah menunda-nunda. Akibatnya, otak tidak belajar cara mengelola stres dengan baik. Banyak orang sering memilih hal yang memberikan kenyamanan instan daripada berolahraga atau menghadapi tantangan baru. Pilihan ini mungkin terasa baik sesaat, tapi buruk untuk jangka panjang. Selain itu, banyak orang tidak tahu bahwa otak mereka bisa berubah (neuroplastisitas). Akibatnya, mereka merasa “terjebak” dengan pola pikir atau kebiasaan lama. Setiap hari, kita selalu dihadapkan pada pilihan. Apakah kita mau menghadapi tantangan dengan cara yang positif, atau malah menghindar karena takut gagal? Apakah kita ingin membuka diri dan menjalin hubungan dengan orang lain, atau memilih untuk tetap menyendiri dan menjaga jarak? Apakah kita siap mencoba hal baru dan belajar dari pengalaman, atau tetap nyaman dengan kebiasaan lama meskipun itu tidak membantu kita berkembang? Pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari sangat berpengaruh, termasuk bagaimana kita mengelola stres, kecemasan, dan depresi. Pilihan-pilihan ini mungkin terlihat sederhana, tapi jika dilakukan terus-menerus, mereka bisa membentuk kebiasaan yang membantu kita lebih tangguh dalam menghadapi hidup. Otak kita adalah alat yang luar biasa yang dirancang untuk membuat kita bertahan hidup dan berkembang. Ia bisa memprediksi, belajar, dan berubah berdasarkan pengalaman kita. Namun, pilihan kita menentukan apakah kita menggunakan kemampuan otak ini untuk mendukung kesehatan mental kita atau tidak. Kehendak bebas adalah anugerah sekaligus tanggung jawab. Ketika digunakan dengan baik – dengan kesadaran diri, pola pikir yang positif, dan keberanian untuk berubah – kita dapat mencapai kesejahteraan mental dan emosional yang luar biasa. Sebaliknya, jika kehendak bebas diarahkan ke pilihan yang salah, potensi ini bisa tersia-sia, dan dampaknya adalah ketidakbahagiaan atau bahkan gangguan mental. Ketika kita memilih untuk tidak memanfaatkan kemampuan adaptif otak, kita berisiko jatuh dalam pola pikir dan perilaku yang tidak sehat. Dengan memilih untuk belajar, beradaptasi, dan merespons secara lebih sehat, kita bisa menggunakan potensi otak kita untuk meningkatkan kesehatan mental dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Pada akhirnya, otak memberi kita potensi, tetapi pilihan ada di tangan kita. @pakarpemberdayaandiri #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Scroll to Top