Author name: Admin01

Opini

Rahasia Neurosains: Latihan Syukur Bisa Ubah Pola Otak dan Hidup Anda”

ruminews.id – Sejak kita dilahirkan, kita sudah dibekali kemampuan alami untuk belajar. Belajar bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan bagian dari kodrat manusia. Bahkan seorang bayi yang baru lahir pun langsung memulai proses belajar: ia menangis bukan hanya karena refleks, tetapi juga sebagai cara pertama untuk berkomunikasi dengan lingkungan; ia tersenyum untuk menarik perhatian dan membangun hubungan; ia berulang kali jatuh bangun saat belajar berjalan. Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia sejak awal adalah perjalanan belajar tanpa henti. Bukti ilmiah terbaru juga memperkuat pandangan ini. Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal eLife pada tahun 2024 menemukan bahwa bayi baru lahir sudah memiliki kemampuan statistical learning, yaitu belajar mengenali pola-pola secara otomatis dari lingkungan. Tidak hanya terbatas pada bahasa, tetapi juga berlaku lintas bidang, yang berarti otak bayi sudah siap sejak awal untuk menyerap informasi secara luas. Penelitian ini menggunakan metode neuro-perilaku, termasuk pencatatan aktivitas otak (EEG), sehingga kesimpulannya sangat kuat secara ilmiah. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan belajar memang melekat pada kodrat manusia. Selain itu, sebuah ulasan ilmiah di jurnal Trends in Neurosciences (2023) menjelaskan bahwa rasa ingin tahu (curiosity) adalah mekanisme saraf bawaan yang mendorong manusia untuk terus belajar. Artikel ini merangkum berbagai penelitian dengan pendekatan fMRI, rekaman aktivitas saraf, hingga model komputasi, dan menunjukkan bahwa dorongan ingin tahu mengaktifkan sistem saraf tertentu yang membuat kita terdorong menjelajah, mencari informasi, dan menemukan hal-hal baru. Dengan kata lain, bukan hanya kita bisa belajar, tetapi kita juga secara alami terdorong untuk belajar. Gabungan kedua temuan ini memperlihatkan gambaran yang selaras: manusia memang diciptakan untuk belajar sepanjang hidup. Sejak lahir kita sudah memiliki perangkat otak yang memungkinkan pembelajaran, dan rasa ingin tahu yang menuntun arah pembelajaran itu. Sejak lahir, manusia memang sudah memiliki potensi dasar untuk merasakan emosi, semacam “benih” yang tertanam dalam diri kita. Namun, arah pertumbuhan emosi itu – apakah berkembang menjadi sesuatu yang konstruktif seperti kasih sayang, empati, dan syukur, atau justru destruktif seperti kebencian, iri, dan amarah berlebihan – ditentukan melalui proses belajar sepanjang hidup. Artinya, walaupun fondasi biologis untuk merasakan emosi sudah ada sejak bayi, kualitas dan bentuk emosinya dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan kebiasaan yang terus-menerus kita jalani. Dengan kata lain, kodrat manusia adalah menjadi “makhluk pembelajar emosi”. Kita tidak dilahirkan langsung dengan kebencian yang matang atau kasih sayang yang mendalam. Yang ada hanyalah potensi dasar: seorang bayi bisa merasa tidak nyaman atau senang, tapi bagaimana rasa itu berkembang menjadi cinta yang hangat atau dendam yang pahit sangat bergantung pada pengalaman dan kesadaran yang kita tumbuhkan. Proses belajar inilah yang menjadikan emosi manusia kaya dan beragam Kehidupan pada dasarnya dapat dipahami sebagai sebuah medan ujian. Setiap orang yang kita temui, setiap peristiwa yang kita alami, bahkan hal-hal kecil yang hadir dalam keseharian, sesungguhnya membawa peluang bagi kita untuk merespons dengan cara yang membangun jiwa atau justru merusaknya. Ketika kita memilih respons konstruktif – misalnya memaafkan kesalahan orang lain, bersyukur atas apa yang ada, menolong sesama, atau belajar dari kesulitan – maka jiwa kita tumbuh semakin kuat dan matang. Sebaliknya, ketika seseorang jatuh pada respons destruktif – seperti menyimpan dendam, merasa iri, tamak, atau berputus asa – maka jiwanya terhimpit dan semakin rapuh. Karena manusia memang diciptakan sebagai makhluk pembelajar, setiap situasi yang datang, baik manis maupun pahit, sebenarnya adalah pelajaran terbuka yang mengundang kita untuk naik tingkat kesadaran. Sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari banyak manusia justru lebih sering belajar dan membiasakan diri untuk merespons secara destruktif. Bukan karena sejak lahir kita sudah “ditakdirkan jahat”, melainkan karena pola hidup, lingkungan, dan pengalaman yang dialami seringkali menanamkan kebiasaan yang merusak jiwa. Ada orang yang terbiasa menyimpan dendam karena sejak kecil melihat kemarahan dipelihara di keluarganya; ada pula yang tumbuh dalam budaya persaingan tidak sehat sehingga mudah iri, tamak, atau merasa tidak pernah cukup. Lama-kelamaan, pola respons destruktif ini melekat sebagai kebiasaan, bahkan terasa wajar, padahal sebenarnya ia melemahkan hati dan menutup jalan pertumbuhan kesadaran. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar manusia adalah pedang bermata dua: ia bisa membawa kita ke arah yang lebih luhur, tetapi juga bisa menyeret kita ke jurang kehancuran. Itulah sebabnya, bahkan untuk bisa bersyukur pun kita perlu belajar dan berlatih. Rasa syukur memang berakar pada potensi dasar emosi positif yang sudah ada dalam diri kita sejak lahir, namun ia tidak serta-merta hadir dalam bentuk yang matang. Seorang bayi bisa merasa nyaman ketika dipeluk atau diberi makan, tetapi kemampuan untuk menyadari makna kenyamanan itu sebagai sesuatu yang patut disyukuri baru terbentuk melalui pengalaman dan pembiasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, syukur bukanlah sekadar ucapan “terima kasih”, melainkan sebuah sikap batin yang melihat nilai dan kebaikan dalam setiap keadaan, termasuk di balik kesulitan. Untuk sampai pada tahap itu, dibutuhkan latihan: mulai dari menyadari hal-hal kecil yang bisa diapresiasi, membiasakan diri mencatat atau merenungkan nikmat yang diterima, hingga melatih pikiran agar tidak hanya fokus pada kekurangan. Neurosains pun menunjukkan bahwa latihan syukur secara konsisten dapat membentuk jalur saraf baru di otak yang membuat kita lebih mudah merasakan emosi konstruktif. Artinya, syukur benar-benar bisa dipelajari, ditumbuhkan, dan dikuatkan. Jadi, bersyukur bukan sekadar bawaan, tetapi sebuah keterampilan jiwa yang perlu diasah agar semakin alami dan menjadi bagian dari diri kita. Rangkaian penelitian terkini menunjukkan bahwa bersyukur memang dapat dilatih, dan efeknya terbukti nyata meskipun dengan intensitas yang bervariasi. Studi internasional berskala besar, seperti meta-analisis yang melibatkan hampir 25.000 peserta dari 28 negara, menegaskan bahwa intervensi syukur konsisten memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis lintas budaya. Hasil ini diperkuat oleh berbagai penelitian eksperimental di jurnal bereputasi tinggi seperti BMC Women’s Health (2025), Current Psychology (2024), dan SAGE Journals (2023), yang menemukan bahwa praktik syukur – baik melalui jurnal, penulisan syukur, maupun pelatihan daring – mampu meningkatkan emosi konstruktif, mengurangi pikiran negatif yang berulang, memperkuat spiritualitas, hingga mendorong pertumbuhan pasca-trauma. Keseluruhan bukti ini menunjukkan bahwa syukur bukanlah sekadar perasaan spontan, melainkan keterampilan emosional yang bisa dilatih secara sadar. Dengan latihan rutin – menulis jurnal syukur, mengungkapkan rasa terima kasih, atau merenungkan hal-hal yang patut dihargai – manusia dapat memperkuat jalur saraf positif di otak, meningkatkan kesejahteraan mental, serta membentuk daya tahan emosional dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Opini

Mengenal Khalid Basalamah yang Mengaku “Posisi Kami Ini Korban”

Setelah Gus Yaqut yang seperti “ditelanjangi” KPK, sekarang giliran Khalid Basalamah. Wajahnya semakin ramai menghiasi media. Penyebabnya, sama. Kuota haji. Mari kita kenalan dengan ustaz kharismatik ini sambil seruput kopi tanpa gula, wak! Di negeri yang selalu ramai drama, tiba-tiba muncul episode baru, Ustaz Khalid Zeed Abdullah Basalamah. Lahir di Makassar pada 1 Mei 1975, keturunan Arab Hadramaut, sarjana Universitas Islam Madinah, magister Universitas Muslim Indonesia, doktor Universiti Tun Abdul Razak Malaysia. Lengkap sudah, dari akademis, ulama, pengusaha, dan kini cameo di panggung KPK. Ia dikenal sebagai pendakwah Salafi dengan ceramah yang mengupas kitab Bulughul Marām sampai Minhājul Muslim. Ia juga pengusaha, Ajwad Resto Condet yang menghidangkan nasi kebuli syahdu, Ajwad Souvenir, Ajwad Gold, kayu gaharu, penerbitan buku Islam, dan tentu saja travel haji-umrah bernama Uhud Tour. Sungguh portofolio yang bisa membuat kapitalisme syariah tampak elegan. Tapi semua elegan itu mendadak kocar-kacir ketika ia dipanggil KPK terkait dugaan jual beli kuota haji 2023–2024. Dari pengakuannya sendiri, ada uang USD 4.500 per jamaah untuk 118 jamaah plus USD 37.000. Kalau dikalikan kurs, kira-kira Rp8,7 miliar. Angka fantastis, cukup untuk membangun laboratorium kampus atau membeli nasi Padang se-Pontianak setahun penuh. Saat menyerahkan uang ke KPK, Khalid membuat pernyataan yang filosofis sekaligus dramatis, “Posisi kami ini korban.” Kalimat ini seketika jadi bahan diskusi publik. Korban apa? Korban sistem haji yang carut-marut? Korban birokrasi yang gelap? Atau korban kapitalisme ibadah? Bila Marx masih hidup, mungkin ia akan menulis jilid baru, Das Kapital: Edisi Kuota Haji. Namun, hukum tetaplah hukum. KPK menegaskan, pengembalian uang bukan berarti perkara selesai. Uang akan ditelusuri asal-usulnya. Kalau terbukti bagian dari jual beli kuota, status saksi bisa naik kelas jadi tersangka. Di sinilah filsafat korupsi menemukan absurditasnya. Dosa finansial tidak bisa dihapus dengan sedekah dadakan. Drama Khalid makin menarik karena hidupnya memang penuh babak epik. Ibunya wafat ketika ia berusia empat tahun, ayahnya mendirikan pesantren Addaraen di Makassar, lalu ia tumbuh jadi ustaz besar dengan empat anak. Pernah viral gara-gara menyebut wayang haram, bahkan pengajiannya sempat dibubarkan Banser. Kini, babak terbaru, uang jamaah haji masuk ke brankas KPK. Bila ditarik ke filsafat yang lebih tinggi, apa artinya ibadah bila jalannya ditempuh dengan uang yang “nyasar”? Korupsi kuota haji bukan sekadar maling uang negara, tapi maling makna. Bayangkan, wak! Rukun Islam kelima dijadikan komoditas, pahala bisa dipatok harga, doa dijual dengan invoice dolar. Sungguh satire ilahiah. Namun, di balik semua itu, publik tetap penasaran, apakah Khalid benar-benar “korban”, atau justru pemain utama dalam drama panjang kuota haji? Apakah ia akan keluar sebagai ulama yang salah langkah tapi insaf, atau jadi tokoh baru di daftar panjang “ustaz plus kasus”? KPK tentu tak mau buru-buru. Mereka seperti dalang yang sabar menunggu wayang berkelahi dulu sebelum menancapkan klimaks. Sementara rakyat hanya bisa menonton sambil mengelus dada, “Ya Allah, ternyata menuju Tanah Suci tidak cukup dengan visa dan manasik, tapi juga perlu tiket bebas dari KPK.” Maka, kisah Khalid Basalamah ini bukan hanya tentang uang, tapi tentang absurditas spiritualitas yang tergelincir di tikungan rupiah. Entah nanti ia akan tercatat sebagai “korban” atau “tersangka”, yang jelas, drama ini sudah masuk kitab besar satir Indonesia, Manasik Korupsi di Era Reformasi. Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Ekonomi, Nasional, Pemerintahan

Dari Sekjen ISMEI, Kini Didapuk Jadi Sekjen Kementerian ESDM Prof. Ahmad Erani Yustika

ruminews.id – Jakarta, 16 September 2025, – Perombakan pejabat tinggi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membawa kejutan besar. Presiden Prabowo Subianto telah menandatangani Surat Keputusan Presiden yang menetapkan sejumlah nama baru, termasuk untuk posisi strategis Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM. Yang mengejutkan, jabatan Sekjen yang biasanya diisi pejabat karier internal Kementerian ESDM, kini dipercayakan kepada sosok dari luar kementerian: Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika. Prof. Erani bukan hanya seorang akademisi, melainkan juga aktivis dari Sekjen ISMEI (Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia) pada masa mudanya, dan saat ini menjadi Dewan Pakar Ikatan Alumni ISMEI (IKA ISMEI). Rekam jejak panjangnya dalam dunia gerakan mahasiswa, akademisi, hingga birokrasi membuat kehadirannya diyakini bisa membawa warna baru bagi kebijakan energi nasional. Guru Besar Ilmu Ekonomi Kelembagaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya ini memiliki pengalaman luas, antara lain: Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kemendes PDTT (2015–2017) Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan, Kemendes PDTT (2017–2018) Staf Khusus Presiden Joko Widodo bidang Ekonomi (2017–2018) Selain itu, saat ini ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional yang dibentuk Presiden Prabowo. Adapun SK Presiden tertanggal 10 September 2025 itu juga menetapkan dua perombakan lain, yaitu: Jisman P. Hutajulu digantikan sebagai Dirjen Ketenagalistrikan dan dipindah menjadi Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM. Irjen Pol. Yudhiawan ditetapkan sebagai Inspektur Jenderal Kementerian ESDM, menggantikan Letjen TNI (Purn.) Bambang Suswantono. Hingga berita ini diturunkan, Kementerian ESDM belum merilis keterangan resmi terkait waktu pelantikan. Namun, masuknya Prof. Ahmad Erani Yustika, aktivis ISMEI yang kini menjabat Sekjen ESDM, menandai babak baru keterlibatan tokoh gerakan mahasiswa ekonomi dalam panggung kebijakan strategis energi nasional.

Pendidikan

PKKMB Polinus 2025 Dirangkaikan dengan Penandatanganan MoU Bersama APERTISI

ruminews.id – Makassar, 16 September – Politeknik Nusantara Makassar (Polinus) sukses melaksanakan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Tahun Akademik 2025/2026 pada Senin, 15 September 2025. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru dengan penuh antusias sebagai langkah awal menapaki dunia pendidikan tinggi di Polinus. Kegiatan PKKMB tahun ini semakin istimewa karena dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Polinus dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APERTISI). Kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam memperluas jejaring, meningkatkan kualitas akademik, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi mahasiswa maupun dosen. Direktur Politeknik Nusantara Makassar, Syahruddin, menegaskan bahwa MoU ini merupakan wujud komitmen kampus dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan zaman. “Polinus terbuka terhadap kolaborasi yang memberi dampak positif, baik dalam bidang akademik, penelitian, maupun pengembangan kemahasiswaan. Dengan dukungan APERTISI, kami optimistis dapat melahirkan lulusan yang unggul, berdaya saing, dan mampu berkontribusi nyata bagi bangsa,” ujarnya. Melalui pengukuhan PKKMB yang dirangkaikan dengan penandatanganan MoU bersama APERTISI ini, Polinus menegaskan diri sebagai perguruan tinggi yang siap berinovasi, berkolaborasi, dan berkomitmen mencetak generasi muda berintegritas, kreatif, serta adaptif terhadap tantangan global.

Opini

SAL 200 Triliun: Mazhab Keynesian atau Monetaris?

Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani Indrawati ke Purbaya Yudhi Sadewa memunculkan perdebatan baru tentang arah kebijakan fiskal dan moneter. Salah satu langkah awal yang menimbulkan sorotan adalah rencana Purbaya memindahkan sekitar Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke bank umum dengan skema deposito berbunga komersial 4,5 persen. Sri Mulyani vs Purbaya: Dua Pendekatan Sri Mulyani selama ini menempatkan SAL di Bank Indonesia (BI) untuk mendukung stabilitas fiskal melalui operasi moneter dan pengendalian yield Surat Berharga Negara (SBN). Sebaliknya, Purbaya memilih menaruh SAL di bank umum dengan logika bahwa bunga 4,5 persen akan menjadi cost of fund bagi bank. Bank, pada gilirannya, diyakini akan menyalurkan kredit ke sektor riil dengan bunga 6–7 persen, setara kupon SBN. Di titik inilah perbedaan mazhab muncul. Jokowi pernah menyebut Purbaya berbeda aliran dengan SMI. Namun faktanya, keduanya tetap berangkat dari keyakinan pada mekanisme pasar, hanya berbeda pada cara menyalurkan likuiditas—apakah lewat instrumen moneter (SMI) atau lewat perbankan (Purbaya). Debat Mazhab: Keynesian vs Monetaris Menurut perspektif Keynesian, likuiditas berlebih justru bisa mendorong spekulasi ketika ekonomi sedang dalam gejolak. Inilah yang dulu menjadi dasar burden sharing saat pandemi Covid-19, ketika BI membeli SBN pemerintah di pasar perdana untuk membiayai defisit. Tujuannya jelas: mengarahkan likuiditas ke fiskal untuk menopang belanja publik. Sebaliknya, pandangan monetaris ala Milton Friedman percaya bahwa mekanisme bunga akan menyeimbangkan pasar. Jika bunga simpanan cukup menarik, bank akan terdorong menyalurkan kredit. Namun, pertanyaan besarnya: apakah benar ada permintaan kredit yang sehat dan mampu membayar bunga 6–7 persen dalam situasi ekonomi sekarang? Problem Transmisi Kredit Purbaya tampaknya terlalu percaya pada asumsi bahwa bank akan otomatis menyalurkan kredit. Padahal, bank bekerja berdasarkan logika risk and return. Jika risiko gagal bayar tinggi, sekalipun dana tersedia dengan bunga murah, kredit tidak akan mengalir. Lebih jauh, penempatan SAL dalam bentuk deposito on call berarti dana bisa diambil pemerintah sewaktu-waktu. Bagi bank, ini bukan aset likuid yang bisa dengan aman dipinjamkan untuk kredit jangka menengah atau panjang. Risiko mismatch likuiditas sangat besar, mirip dengan pengalaman BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit) era Orde Baru yang berujung pada kredit macet. Belajar dari QE AS dan China Kebijakan Purbaya juga dibandingkan dengan praktik Quantitative Easing (QE) pasca-krisis finansial 2008. Di AS, The Fed membeli aset keuangan dan menyalurkan dana lewat perbankan, namun tetap dengan government arm berupa ekspansi fiskal—misalnya subsidi pengangguran dan insentif sektor riil. Transmisi tidak diserahkan sepenuhnya ke mekanisme pasar. China berbeda lagi: devisa dikelola ketat, seluruh hasil ekspor harus masuk sistem perbankan domestik. Aliran dana diarahkan langsung ke sektor riil dengan kontrol pemerintah. Kedua model ini menunjukkan satu hal: kredit hanya akan jalan bila ada intervensi negara ke sektor riil, bukan sekadar bunga simpanan. Kunci di Sektor Riil, Bukan di Bank Kritik utama pada gagasan Purbaya adalah ia menaruh beban terlalu besar pada perbankan. Padahal, peran Menkeu seharusnya adalah memoderasi kebijakan agar Quick Win sektor riil yang dirancang kementerian teknis bisa berjalan. Tanpa perlindungan industri domestik—seperti kasus keterlambatan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) di sektor tekstil—tidak ada insentif bagi dunia usaha untuk mengambil kredit, sekalipun bunga rendah. Contoh lain, di sektor pangan biaya produksi gabah on farm di Indonesia adalah yang tertinggi di kawasan. Tanpa reformasi biaya lahan dan efisiensi produksi, menaruh SAL di bank tidak akan mengubah struktur ongkos, dan impor tetap lebih murah untuk menjaga inflasi. Kesimpulan: Antara Mazhab dan Realitas Purbaya mungkin ingin tampil sebagai true believer of market mechanism. Namun kebijakan menaruh SAL di bank umum berisiko hanya menjadi “emak-emak ekonomi”—sekadar memindahkan dana ke tempat dengan bunga lebih tinggi tanpa strategi jelas ke sektor riil. Sejarah akan membuktikan apakah Rp200 triliun SAL benar-benar menjadi tongkat Nabi Musa yang mampu membelah lautan problem ekonomi, atau hanya sekadar eksperimen yang kembali menegaskan bahwa tanpa reformasi struktural di sektor riil, likuiditas akan tetap mengendap sebagai uang murah yang tidak produktif.

Pendidikan

Grand Opening Macca Education 3.0 : Hadir dengan Wajah Baru untuk Generasi Masa Depan

ruminews.id – Makassar, 15 September 2025 – Macca Education resmi membuka cabang barunya, Macca Education 3.0, yang berlokasi di Jl. Adhyaksa No. 17 (Lantai 2 Kaori Coffee), Makassar. Peresmian ini menjadi tonggak penting dalam upaya Macca Education menghadirkan layanan pendidikan yang lebih modern, inklusif, dan berkualitas bagi generasi muda. Acara grand opening yang berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus 2025 pukul 14.00 WITA ini dihadiri oleh para tamu undangan, tokoh pendidikan, serta mitra strategis. Peresmian cabang baru ini ditandai dengan serangkaian agenda, mulai dari tour ruang belajar, perkenalan fasilitas, hingga ramah tamah bersama seluruh tamu yang hadir. Dalam sambutannya, Ms. Dian, Operational Manager Macca Education, menyampaikan rasa syukur dan optimismenya atas kehadiran cabang baru ini. “Kami sangat bangga dapat menghadirkan Macca Education 3.0 sebagai langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan berkualitas. Dengan fasilitas yang lebih modern serta program unggulan yang relevan, kami berharap bisa menjadi bagian dari perjalanan belajar anak-anak hingga orang dewasa di Makassar,” ujar Ms. Dian. Sebagai bagian dari rangkaian acara, Macca Education juga menggelar Master Class (Trial Class) untuk memperkenalkan berbagai program unggulannya, yaitu: English for Kids – kelas interaktif dengan metode belajar menyenangkan. English for Adults – program komunikasi praktis untuk kebutuhan kerja maupun sehari-hari. IELTS Preparatory – kelas persiapan ujian internasional untuk siswa dan profesional yang ingin melanjutkan studi atau karier global. Kegiatan ini disambut antusias oleh para peserta yang berkesempatan mencoba langsung metode pembelajaran khas Macca Education. “Macca Education 3.0 merupakan bentuk komitmen kami dalam memberikan pengalaman belajar yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kami ingin mencetak generasi unggul dengan pendekatan inovatif dan suasana belajar yang nyaman,” tambah perwakilan Macca Education. Selain peresmian fasilitas baru, acara ini juga menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan kolaborasi antara pendidik, orang tua, serta masyarakat luas. Macca Education berharap kehadiran cabang ini dapat memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan pendidikan di Makassar dan sekitarnya. Masyarakat dapat mengikuti momen grand opening ini melalui akun resmi Instagram @maccaeducation dan @maccajuniors. Tentang Macca Education Macca Education adalah lembaga pendidikan yang berkomitmen mencetak generasi unggul melalui metode pembelajaran yang inovatif, menyenangkan, dan berorientasi pada pengembangan karakter. Dengan kehadiran cabang terbaru ini, Macca Education siap menjangkau lebih banyak siswa untuk meraih masa depan gemilang.

DPRD Kota Makassar

Gedung DPRD Makassar Dibakar Massa

ruminews.id – MAKASSAR – Aksi unjuk rasa di Kota Makassar berujung ricuh. Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar dibakar massa, Jumat (29/8/2025) malam. Tidak hanya gedung, sejumlah kendaraan roda empat yang diduga milik anggota dewan juga ikut dilalap api. Selain itu, pos polisi lalu lintas di pertigaan Jalan AP Pettarani–Jalan Sultan Alauddin turut dibakar. Pantauan di lapangan menunjukkan, massa awalnya berunjuk rasa dengan menutup dua ruas jalan di depan Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Namun, situasi semakin tidak terkendali setelah massa merangsek menuju kantor DPRD Makassar Sambil meneriakkan yel-yel “revolusi”, pengunjuk rasa melempari dan membakar sejumlah fasilitas. Tidak terlihat aparat kepolisian berada di lokasi saat aksi anarkis tersebut berlangsung. Kericuhan juga terjadi di beberapa titik lain, antara lain di depan Kampus Universitas Bosowa (Unibos), Universitas Muslim Indonesia (UMI) Jalan Urip Sumohardjo, Kampus UNM Jalan AP Pettarani, serta Jalan Sultan Alauddin. Ribuan massa menutup ruas jalan Trans Sulawesi dengan membakar ban bekas. Akibatnya, arus lalu lintas di sejumlah titik utama Kota Makassar lumpuh total. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun pemerintah daerah terkait insiden tersebut. (*)

DPRD Kota Makassar

DPRD Ingatkan Risiko Lahan Pertanian di Tengah Desakan Pembangunan PSEL

ruminews.id – MAKASSAR – Desakan percepatan pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar semakin menguat. Namun DPRD Kota Makassar mengingatkan agar pemerintah tidak gegabah dalam menentukan lokasi proyek strategis tersebut. Anggota Komisi B DPRD Makassar, Kasrudi, menegaskan bahwa PSEL mendesak dibangun karena Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tamangapa sudah kelebihan kapasitas.   “TPA kita sudah penuh, sudah tidak mampu menampung sampah lagi. Karena itu PSEL harus segera dibangun,” katanya, Kamis (28/7/2025). Meski begitu, Kasrudi menyoroti rencana pembangunan di kawasan Manggala yang dinilai masih memiliki lahan pertanian produktif. Ia khawatir keberadaan PSEL bisa memicu pencemaran dan mengorbankan ketahanan pangan kota. Kalau PSEL dibangun di dekat persawahan, ada potensi pencemaran. Lahan pertanian di Makassar jumlahnya sudah sangat terbatas, jangan sampai justru dikorbankan demi proyek infrastruktur,” ujarnya. “Silakan wali kota tentukan tempat yang tepat, tapi jangan abaikan lahan pertanian. Intinya, PSEL memang harus segera dibangun, tapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan ketahanan pangan,” tambahnya.

DPRD Kota Makassar

Ketua Komisi B DPRD Makassar Dorong Penguatan Pasar Tradisional Lewat Sosialisasi Perda

ruminews.id – MAKASSAR – Ketua Komisi B DPRD Kota Makassar, Ismail, SH, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pengembangan pasar tradisional di Kota Makassar. Hal itu ia sampaikan dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) yang digelar bersama konstituennya “Sahabat Ismail” di Hotel Grand Maleo, Jln. Pelita Raya, Makassar.   Menurut Ismail, kehadiran pasar modern dan toko ritel besar yang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir membuat pasar tradisional kian terdesak. “Kita lihat realita di lapangan, banyak pasar tradisional yang kondisinya sudah setengah mati. Alhamdulillah, dalam tiga bulan terakhir penataan ruang di pasar sudah mulai membaik. Ini harus kita kawal terus agar pasar tradisional kembali hidup,” tegasnya Ismail juga mencontohkan perubahan signifikan di Pasar Terong setelah bertahun-tahun dikeluhkan kumuh. Ia menekankan bahwa wajah pasar tradisional harus ditata agar bisa menjadi cerminan kota modern. “Kalau Makassar mau disebut kota dunia, wajah pasarnya juga harus layak. Tidak boleh ada pedagang yang dibiarkan berjualan di luar sementara bagian dalam kosong,” ujarnya. Hal senada disampaikan Plt Dirut Perumda Pasar Makassar, Ali Gauli Arief, yang menekankan pentingnya pengelolaan pasar tradisional. Menurutnya, pasar bukan hanya pusat transaksi ekonomi, tetapi juga ruang pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan koperasi. “Kalau pasar ramai, ekonomi masyarakat juga berputar. Perda ini penting untuk melindungi pelaku usaha kecil agar tidak terpinggirkan oleh ritel modern,” jelas Ali.

DPRD Kota Makassar

Transformasi Sekretariat DPRD Makassar, Disiplin dan Nilai Kebangsaan Kian Hidup

MAKASSAR — Suasana kerja di Sekretariat DPRD Kota Makassar mulai menunjukkan perubahan sejak dipimpin Plt Sekretaris DPRD, Andi Rahmat Mappatoba. Sejumlah langkah penataan yang dilakukan dinilai berhasil menumbuhkan kembali kedisiplinan sekaligus memperkuat nilai kebangsaan dan religius di lingkungan kerja.   Anggota DPRD Kota Makassar, Muchlis Misbah, menilai perubahan fisik seperti pengaspalan halaman dan perbaikan area parkir hanyalah pintu masuk dari transformasi yang lebih besar.   “Efeknya terasa luas, bukan hanya pada kantor, tapi juga pada sikap dan kedisiplinan pegawai,” ujarnya, Minggu (24/8/2025). Menurut Muchlis, gaya kepemimpinan Andi Rahmat yang tegas sekaligus memberi teladan menjadi kunci perubahan perilaku aparatur yang kini lebih rapi dan teratur. Salah satu inovasi yang diapresiasi yakni rutinitas menyanyikan Indonesia Raya setiap pagi dan sore. Langkah ini dipandang bukan sekadar formalitas, melainkan upaya membangun kesadaran kebangsaan di tengah aktivitas kerja. Selain itu, suasana religius juga semakin terasa dengan lantunan adzan yang tersambung ke seluruh ruangan. Hal ini dinilai memberi keseimbangan antara pekerjaan dan ibadah.

Scroll to Top