Author name: Admin01

Makassar, Uncategorized

Reza Rezkiwanto PM Resmi Terpilih Pimpin DPD SP BNI Wilayah 7, Siap Bawa Semangat Marendeng Marampa

ruminews.id – Makassar — Musyawarah Daerah (Musda) DPD Serikat Pekerja (SP) BNI Wilayah 7 yang digelar pada 14–15 November 2025 di Hotel Ibis Makassar berlangsung sukses dan penuh kekeluargaan. Mengusung tema “Marendeng Marampa” yang berarti aman, tenteram, dan sejuk, kegiatan ini menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi sekaligus penentuan nahkoda baru kepengurusan SP BNI wilayah 7. Musda tahun ini dihadiri oleh para delegasi dari berbagai cabang BNI wilayah 7 yang turut memberikan pandangan strategis terkait arah perjuangan serikat pekerja ke depan. Suasana musyawarah berjalan dengan kondusif sesuai dengan semangat tema, di mana seluruh peserta mengedepankan dialog yang santun, terbuka, dan penuh rasa persaudaraan. Dalam proses pemilihan yang berlangsung demokratis, transparan, dan partisipatif, Reza Rezkiwanto Putra Muchlis akhirnya terpilih sebagai Ketua DPD SP BNI Wilayah 7. Dukungan kuat dari mayoritas peserta Musda menjadi bukti kepercayaan terhadap visi dan komitmen Reza dalam memperjuangkan hak serta meningkatkan kesejahteraan anggota serikat pekerja di lingkungan BNI. Reza dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas amanah yang diberikan dan menegaskan komitmennya untuk membangun kepengurusan yang solid, responsif, dan adaptif terhadap dinamika dunia kerja. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat komunikasi internal serta kolaborasi dengan manajemen guna menciptakan iklim kerja yang aman, harmonis, dan produktif. Dengan terpilihnya Reza Rezkiwanto Putra Muchlis, DPD SP BNI Wilayah 7 kini memasuki fase baru kepemimpinan yang diharapkan dapat membawa organisasi lebih maju, kuat, dan tetap sejuk dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang.

Dinas Koperasi Makassar

“Dinas Koperasi Makassar Dorong Inovasi Daur Ulang Lewat Pelatihan Limbah Plastik”

ruminews.id – Makassar – Upaya memperkuat ekonomi hijau dan mendorong kemandirian UMKM kembali ditunjukkan Pemerintah Kota Makassar melalui pelaksanaan Pelatihan Pengolahan Limbah Plastik yang digelar pada 13 dan 17 November 2025 di Aula Kantor Kecamatan Ujung Tanah. Kegiatan ini diinisiasi oleh Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas pelaku usaha mikro berbasis lingkungan. Ketua Panitia Pelaksana, Andi Tenri Beda, S.AP, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman, praktik, serta keterampilan kepada masyarakat dalam mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Ia menegaskan bahwa pelatihan ini menyasar pelaku UMKM, ibu rumah tangga, pemuda, serta masyarakat umum yang memiliki motivasi tinggi untuk memulai usaha kreatif berbasis daur ulang. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Arlin Ariesta, S.STP., M.Si, menekankan pentingnya melahirkan pelaku usaha yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki kesadaran lingkungan. Menurutnya, persoalan limbah plastik harus diubah menjadi peluang usaha yang mampu berkontribusi pada ekonomi sirkular, sekaligus mengurangi pencemaran di Kota Makassar. Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah siap memberikan pendampingan lanjutan dalam aspek pemasaran, pengembangan produk, hingga akses pembiayaan. Dalam pelatihan ini, peserta dibimbing langsung oleh narasumber kompeten, di antaranya Musrika, motivator Bank Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Ujung Tanah, serta Gio Fany Firmansyah dari PT. Karya Rappo Indonesia yang membawakan materi terkait manajemen limbah dan produksi berbasis daur ulang. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan dan diskusi mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari bahan limbah plastik. Pelatihan ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat peran UMKM sebagai agen perubahan menuju kota yang lebih bersih, kreatif, dan berkelanjutan. Arlin Ariesta menegaskan bahwa pengembangan ekonomi hijau harus menjadi gerakan bersama, dan kegiatan seperti ini merupakan bagian dari visi Makassar sebagai kota dunia yang inovatif dan inklusif. Di akhir kegiatan, panitia berharap minimal satu produk hasil pelatihan dapat dikembangkan menjadi usaha baru yang bernilai jual. “Kami ingin pelatihan ini tidak berhenti di ruangan, tetapi berlanjut menjadi peluang ekonomi yang nyata bagi peserta,” tutur Ibu Tenri dalam penutup laporannya. Pelatihan ini menjadi langkah nyata dalam membangun budaya daur ulang dan meningkatkan daya saing UMKM Makassar di masa depan.

Dinas Koperasi Makassar

Sekda Makassar Targetkan Gerai KKMP Jadi Pusat Ekonomi Baru

  ruminews.id – Makassar – High Level Meeting (HLM) Pengembangan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) yang digelar pada 13 November 2025 di Kota Makassar menjadi momentum penting dalam percepatan pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih. A. Zulkifly, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Satgas KKMP, menegaskan bahwa agenda ini bukan hanya membahas pendataan lahan, tetapi merupakan langkah strategis menata ulang penguatan ekonomi kerakyatan di tingkat kelurahan. Dalam sambutannya, A. Zulkifly menyampaikan bahwa Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 menjadi pijakan utama percepatan pembentukan dan pembangunan Koperasi Merah Putih. Ia menekankan pentingnya dukungan infrastruktur fisik seperti gerai dan pergudangan untuk memastikan koperasi dapat berfungsi secara optimal. “Pembentukan koperasi saja tidak cukup. Kita harus memastikan ada fasilitas fisik yang memadai agar koperasi benar-benar bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya. Zulkifly juga menyoroti keselarasan program ini dengan Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025 dan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri, yang secara khusus mengatur percepatan pembangunan fisik koperasi di desa dan kelurahan. Menurutnya, Gerai Koperasi Merah Putih akan menjadi pusat distribusi modern yang dapat memperkuat akses pasar UMKM, menyediakan kebutuhan pokok bersubsidi, dan menghubungkan masyarakat dengan rantai ekonomi yang lebih luas. Lebih lanjut, ia memaparkan beberapa hal kunci yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah, termasuk penyediaan lahan minimal 1.000 meter persegi, pemanfaatan beragam skema pembiayaan seperti APBD, Dana Desa, dan APBN, serta pelibatan BUMN seperti PT Agrinas Pangan Nusantara. TNI juga disebut memainkan peran penting dalam mendukung percepatan pembangunan, terutama dalam hal sinergi lintas lembaga. Meski demikian, A. Zulkifly mengingatkan adanya beberapa tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari ketersediaan lahan yang cepat siap bangun hingga koordinasi antarinstansi yang harus berjalan lebih intensif. Ia menegaskan pentingnya pengelolaan koperasi yang profesional serta transparansi dalam proses pembangunan. “Transparansi dan profesionalisme adalah kunci. Kita harus memastikan setiap proses berjalan tepat sasaran dan akuntabel,” tegasnya. Menutup sambutannya, Sekda Kota Makassar tersebut mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah, pengurus koperasi, pihak swasta, hingga masyarakat—untuk memperkuat kolaborasi demi mewujudkan gerai koperasi yang benar-benar mampu mendorong kemandirian ekonomi lokal. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan berharap pembangunan gerai dapat segera direalisasikan. “Ini bukan sekadar proyek fisik. Ini investasi untuk kesejahteraan masyarakat Makassar,” tutupnya.

Luwu Utara, Pendidikan

Hasbi Syamsu Ali: Pemerintah Harus Adil dalam Kasus Dua Guru Luwu Utara

ruminews.id – MAKASSAR — Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu Raya (BPW KKLR) Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Hasbi Syamsu Ali, menyampaikan keprihatinan mendalam atas pemecatan tidak dengan hormat terhadap dua guru SMA Negeri 1 Luwu Utara yang dinilai beritikad baik membantu rekan guru honorer mereka. Menurut Hasbi, keputusan pemecatan terhadap Rasnal dan Abdul Muis sangat melukai rasa keadilan publik, terutama di tengah berbagai persoalan serius yang masih dihadapi dunia pendidikan Indonesia. “Rasanya sangat mengusik keadilan di tengah masih banyaknya masalah serius di dunia pendidikan kita,” kata Hasbi di Makassar, Rabu (12/11). Ia menegaskan, jika ditelaah secara jernih, tindakan kedua guru tersebut tidak memiliki unsur memperkaya diri. Sebaliknya, mereka justru berinisiatif membantu guru honorer lain yang belum menerima gaji selama berbulan-bulan. “Kalau disimak seksama kasus ini, tidak ada tujuan memperkaya diri pada kedua orang pelaku itu. Niatnya murni mau bantu guru honorer lain yang belum dapat gaji berbulan-bulan,” ujarnya. Hasbi juga menyerukan perhatian serius dari pemerintah, mulai dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Gubernur Sulsel, hingga Presiden Prabowo Subianto, agar meninjau kembali keputusan tersebut dengan mempertimbangkan aspek keadilan dan kemanusiaan. “Saya berharap pemerintah, baik di tingkat provinsi maupun pusat, memberi atensi terhadap hal ini. Dunia pendidikan kita jangan sampai kehilangan rasa kemanusiaan hanya karena penegakan aturan yang kaku,” tegasnya. Lebih lanjut, Hasbi meminta agar pemerintah menelusuri akar persoalan sebenarnya, yakni mengapa ada guru honorer yang tidak memperoleh hak gajinya dalam waktu lama. Menurutnya, hal itulah yang seharusnya menjadi prioritas penyelidikan dan pembenahan. “Yang harus ditelusuri adalah mengapa bisa ada guru honorer tidak mendapatkan gaji. Ini yang harusnya jadi prioritas, karena pasti ada kebijakan atau pelaku yang menyebabkan para guru honorer itu tidak dapat alokasi gaji,” pungkasnya. Sebelumnya, dua guru SMAN 1 Luwu Utara dipecat tidak dengan hormat (PTDH) setelah dinyatakan bersalah oleh Mahkamah Agung atas kasus pengumpulan dana dari orang tua murid untuk membantu pembayaran gaji guru honorer. Keputusan tersebut menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan yang menilai sanksi itu tidak sebanding dengan niat baik dan pengabdian para guru tersebut. (*)

Dinas Koperasi Makassar

Celebes All Show 2025 Resmi Dibuka, Diskop-UKM Makassar Dorong UMKM Masuk Ekosistem Digital

ruminews.id – MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop-UKM) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor UMKM sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Hal ini tercermin dari pembukaan Celebes All Show 2025 yang menghadirkan pameran digital printing dan festival inovasi di Kawasan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Jumat (7/11/2025). Kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar, Arlin Ariesta, S.STP., M.Si, bersama Ketua DPD Dekrafmi Sulsel, Zulkifli Thahir, dan Ketua Panitia Pelaksana, Wahyuda. Dalam sambutannya, Arlin menegaskan bahwa Celebes All Show 2025 merupakan wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menciptakan ekosistem bisnis yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Arlin menyoroti pentingnya adaptasi pelaku UKM terhadap perkembangan teknologi, terutama di bidang digital printing dan ekonomi kreatif. Ia menyebut bahwa masih banyak pelaku usaha yang belum memahami mekanisme Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Pemerintah, termasuk proses pendaftaran melalui e-katalog. Karena itu, Diskop-UKM membuka ruang diskusi dan pelatihan untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan UMKM lokal dalam sistem pengadaan pemerintah. Selain itu, Arlin menjelaskan bahwa Diskop-UKM Makassar kini telah mengoperasikan inkubator bisnis dan UMKM sebagai wadah pengembangan inovasi dan jaringan usaha. Melalui inkubator tersebut, berbagai pelatihan praktis seperti barista, sablon kaos, dan cetak digital diberikan kepada masyarakat untuk memperkuat daya saing mereka di sektor ekonomi kreatif. Ia juga menekankan besarnya dampak ekonomi dari penyelenggaraan event-event berskala besar, yang turut menggerakkan hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM. Menutup sambutannya, Arlin berharap Celebes All Show 2025 dapat menjadi momentum bagi pelaku usaha untuk bertukar ilmu, memperluas jejaring profesional, serta meningkatkan kualitas produk dan jasa. Ia menegaskan bahwa Makassar siap menjadi pusat aktivitas inovasi dan teknologi di Kawasan Indonesia Timur, sekaligus tuan rumah berbagai event industri berskala nasional maupun regional.

Makassar

Selegram Makassar “Citrainsani_87” Dua Kali Mangkir dari Panggilan Polda Sulsel

ruminews.id – Makassar, – Pemilik akun Instagram @citrainsani_87, selegram ternama asal Makassar dengan hampir satu juta pengikut, dilaporkan ke Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Sulawesi Selatan atas dugaan pencemaran nama baik melalui media sosial. Laporan tersebut diajukan oleh seorang advokat berinisial AJ, sebagaimana tertuang dalam Laporan Informasi Nomor: LI/223/III/RES.2.5/2025/DITKRIMSUS, tertanggal 11 Maret 2025. Berdasarkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Nomor B/241/VII/RES.2.5/2025/DITKRIMSUS tanggal 4 Juli 2025, pihak penyidik Ditkrimsus Polda Sulsel telah dua kali melayangkan undangan klarifikasi kepada pemilik akun tersebut. Namun, hingga kini yang bersangkutan belum memenuhi panggilan penyidik dengan alasan masih berada di Arab Saudi. Pelapor, AJ, berharap selegram tersebut dapat bersikap kooperatif dengan memenuhi panggilan penyidik. “Kami berharap saudari pemilik akun @citrainsani_87 dapat hadir memberikan klarifikasi agar proses hukum dapat berjalan lancar dan objektif,” ujar AJ. Kasus ini kini masih dalam tahap penyelidikan oleh tim Ditkrimsus Polda Sulsel.

Dinas Koperasi Makassar

GEMASKOP 2025 Dorong Gen Z Makassar Jadi Motor Gerakan Koperasi.

ruminews.id – Makassar – Dinas Koperasi dan UKM Kota Makassar kembali menghadirkan inovasi dalam upaya menumbuhkan semangat kewirausahaan kolektif di kalangan anak muda melalui kegiatan Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi (GEMASKOP) 2025. Program ini secara khusus menyasar generasi muda Gen Z dengan tujuan membangun kesadaran, pengetahuan, dan semangat berkoperasi sebagai pilar penting dalam menciptakan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan. Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Makassar, Arlin Ariesta, S.STP., M.Si, menjelaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam dunia koperasi masih sangat rendah. Berdasarkan survei nasional, hanya sekitar 6 persen anggota koperasi di Indonesia yang berasal dari Gen Z. Angka ini menunjukkan masih minimnya minat anak muda, yang umumnya menganggap koperasi sebagai hal kuno dan kurang relevan dengan gaya hidup modern. “Padahal, koperasi justru merupakan wadah paling fleksibel dan kolaboratif. Ia menumbuhkan semangat kebersamaan dan kemandirian ekonomi yang sangat sesuai dengan karakter Gen Z,” ujar Arlin. Ia menegaskan bahwa melalui GEMASKOP, pihaknya ingin mengubah persepsi tersebut dengan menunjukkan bahwa koperasi dapat menjadi sarana berwirausaha secara cerdas dan inklusif. Selain memberikan edukasi, Dinas Koperasi dan UKM Makassar mendorong koperasi untuk membuka diri terhadap gagasan-gagasan segar dari anak muda, mulai dari digitalisasi manajemen hingga strategi pemasaran kreatif yang relevan dengan era media sosial. Dengan semangat kolaborasi ini, GEMASKOP 2025 diharapkan mampu menjadi titik balik lahirnya koperasi modern berbasis kreativitas dan teknologi, sekaligus memperkuat posisi Gen Z sebagai motor penggerak ekonomi lokal. Koperasi bukan lagi soal masa lalu, tetapi tentang masa depan ekonomi yang tumbuh bersama.

Opini

Estetika Pembelajaran Seni: Melampaui Keterampilan Menuju Penemuan Diri

RUMINEWS – Seni sering kali dianggap sebagai sebuah bahasa universal yang mampu menyentuh emosi manusia, menciptakan koneksi yang mendalam antara individu dan dunia sekitar. Namun, sistem pendidikan yang ada, kita lebih sering mendengar tentang cara menggambar yang benar, perspektif yang tepat, atau aturan warna yang sempurna. Apa yang hilang dalam pengajaran seni ini adalah esensi dari seni itu sendiri, proses eksplorasi pribadi yang tidak terikat oleh aturan dan standar eksternal. Seni, dalam banyak konteks, menjadi sekadar rutinitas teknis yang mengikuti instruksi, tanpa memberi ruang bagi siswa untuk benar-benar menjadi “seniman” dalam arti yang lebih mendalam. Bukankah ini sebuah ironi? Pendidikan seni yang seharusnya memberi kebebasan justru seringkali dibatasi oleh kerangka aturan yang kaku. Kelas yang fokus pada keterampilan teknis lebih diminati karena menawarkan solusi cepat dan mudah tanpa proses rumit. Namun, belajar untuk membentuk diri, apalagi menciptakan karya seni yang asli dan orisinil, tidaklah sesederhana itu. Metode pengajaran yang hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis tidak akan cukup untuk membantu siswa berkembang menjadi seniman sejati. Gaya mengajar ini juga mungkin tidak akan mendukung perjalanan peserta didik dalam mengenal diri mereka sebagai seniman, yang melibatkan eksplorasi, eksperimen, dan pengembangan kreativitas. Pertanyaannya, apakah kita fokus pada keterampilan atau penemuan diri? Bagaimana mengajarkan kreativitas jika mengikuti aturan yang sudah ada? Jika kita terus mendiktekan teknik dan metode tanpa memberikan ruang untuk eksperimen, apakah kita benar-benar mendidik seniman, atau sekadar melatih pekerja seni yang hanya bisa meniru apa yang sudah ada? Ini adalah pertanyaan yang mendalam dan mengundang kita untuk merenung lebih jauh. Mengutip pernyataan Einstein dalam wawancaranya dengan The Saturday Evening Post pada tahun 1929, “Imaginasi lebih penting daripada pengetahuan, karena pengetahuan terbatas, sementara imajinasi mencakup seluruh dunia.” Dengan kata lain, pengetahuan yang terbatas pada teknik dan aturan tidak akan mampu mengembangkan imajinasi siswa untuk menciptakan karya seni yang orisinal dan transformatif. Dalam konteks pendidikan seni, ini berarti bahwa kita harus menggeser fokus dari pengajaran teknik yang ketat menuju pemberian ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas mereka melalui eksplorasi bebas dan eksperimen. Namun, dalam budaya dan sistem pendidikan, ada sebuah tekanan sosial yang besar untuk mematuhi norma dan standar yang telah ditetapkan. Di beberapa tempat, seni dipandang sebagai aktivitas yang “bisa diukur” berdasarkan seberapa baik seseorang mengikuti teknik tertentu, sementara kebebasan kreatif justru sering dipandang sebagai sesuatu yang tidak dapat diajarkan, atau bahkan disia-siakan. Dalam masyarakat yang sangat terstruktur, di mana prestasi sering kali diukur dengan standar yang jelas dan dapat dilihat, seni sering kali kehilangan esensinya sebagai sebuah ekspresi pribadi yang autentik. Memahami Perjalanan Kreatif Siswa Menjadi Seniman Ketika kita berbicara tentang perjalanan menjadi seorang seniman, kita berbicara tentang sebuah perjalanan yang penuh dengan ketidakpastian dan kegagalan. Setiap langkah dalam perjalanan ini bukan hanya tentang mencapai hasil yang sempurna, tetapi lebih pada proses yang mengarah pada pemahaman diri dan penemuan suara kreatif yang unik. Ini adalah hal yang sering kali tidak diajarkan dalam pembelajaran seni. Kita terlalu sering mengajar untuk “menghasilkan karya seni yang indah” tanpa memberi tahu siswa bahwa seni yang sesungguhnya adalah tentang kebebasan untuk gagal dan berani bereksperimen. Seperti yang dikatakan oleh Carl Jung, “Individuasi adalah proses pencapaian keutuhan diri yang sejati.” Dalam seni, ini berarti bahwa seorang seniman harus menemukan cara untuk menciptakan sesuatu yang unik dari dirinya sendiri, bukan meniru atau mengikuti pola yang sudah ada. Namun, dalam sistem pendidikan yang sering kali berfokus pada pencapaian teknis, proses ini sering diabaikan. Bukankah ini menciptakan kontradiksi? Kita mengajarkan cara menggambar dengan sempurna, tetapi pada saat yang sama kita mengabaikan nilai eksplorasi dan penemuan diri yang seharusnya menjadi inti dari seni itu sendiri. Seni seharusnya bebas ekspresi, namun aturan kaku justru membatasi imajinasi siswa, Pendidikan seni bukan hanya tentang mempelajari teknik menggambar atau melukis. Lebih dari itu, seni adalah perjalanan panjang yang melibatkan penemuan diri, keberanian untuk bereksperimen, dan kemampuan untuk menerima ketidaksempurnaan. Setiap pelajaran seni lebih dari sekadar mengajarkan cara membuat karya seni; ada proses yang lebih mendalam yang mengarah pada bagaimana seseorang bisa menjadi seniman sejati. Namun, bagian ini tidaklah mudah. Pembelajaran yang terlalu fokus pada keterampilan teknis dan logika, sementara siswa belum menemukan cara untuk menciptakan seni yang orisinal dan murni dari dalam diri mereka, justru dapat menghambat perkembangan dan kemajuan mereka sebagai seniman. Mengandalkan aturan dan teknik tanpa menyentuh sisi kreatif mereka hanya akan membatasi potensi seni yang bisa mereka hasilkan. Dalam konteks ini, siswa sering kali diajarkan untuk mengikuti aturan dan menyalin hal-hal berdasarkan logika otak, bukannya menggali sisi kreatif mereka. Kita cenderung mengikuti aturan dan meniru apa yang sudah ada berdasarkan pemikiran logis. Namun, seni yang benar-benar baru dan asli tidak dapat tercipta hanya dengan menggunakan logika. Untuk itu, kita perlu mengakses sisi lain dari diri kita, yaitu sisi kreatif dan imajinatif. Pembelajaran untuk menjadi seorang seniman seharusnya tidak hanya fokus pada keterampilan teknis dan aturan yang logis. Sebaliknya, perhatian perlu beralih ke sisi kreatif otak, yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghubungkan hal-hal yang sebelumnya tampak tidak terkait. Sisi kreatif ini memungkinkan pola-pola baru muncul, berimajinasi, bermain dengan ide, dan bereksperimen. Ia juga mengajarkan untuk menerima ketidakpastian dan tidak terhalang oleh kritik batin atau ketakutan akan kegagalan. Melalui kesalahan dan proses yang dijalani, setiap langkah dalam perjalanan kreatif menjadi lebih bermakna. Sisi kreatif ini mendorong seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru, yang akhirnya menghasilkan karya seni yang benar-benar asli dan unik. Demikian, tentu saja, setiap siswa memiliki preferensi dalam cara mereka menggambar. Jika mereka merasa nyaman dengan cara tersebut, tentu mereka akan melakukannya dengan cara yang sama. Namun, hal ini tidak berarti cara mereka adalah yang terbaik untuk orang lain. Setiap individu itu unik, dan setiap siswa berhak untuk menciptakan seni dengan cara yang sesuai dengan diri mereka sendiri, yang mencerminkan keunikan dan ekspresi pribadi mereka. Siswa berhak mendapatkan kesempatan untuk menciptakan karya seni mereka sendiri, dan inilah esensi dari pendidikan yang membebaskan. Guru tidak dapat langsung mengajarkan siswa bagaimana membuat karya seni, karena setiap individu hanya tahu cara terbaik untuk mengungkapkan seni mereka sendiri. Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970), mengajarkan bahwa pendidikan yang membebaskan bukanlah pendidikan yang mengandalkan pengajaran top-down, melainkan lebih

Dinas Koperasi Makassar, Pemerintah Kota Makassar

Dukung Produk Dalam Negeri, Pemkot Makassar Tegaskan Komitmen Belanja untuk UMKM Lokal

RUMINEWS. MAKASSAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat keberpihakan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah kebijakan pengalokasian 50 persen belanja pemerintah untuk produk lokal dan pelaku UMKM Makassar. (1-11) Kebijakan tersebut ditegaskan kembali dalam kegiatan Sosialisasi Implementasi Perpres Nomor 46 Tahun 2025 tentang Sinergi LKPP dalam Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri, yang digelar di Makassar pada Kamis (30/10/2025). Wali Kota Makassar, Munafri “Appi” Arifuddin, menegaskan bahwa arah kebijakan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan strategi nyata agar perputaran uang APBD dapat memberi manfaat langsung bagi masyarakat Kota Daeng. “Kita ingin uang daerah berputar di Makassar, dinikmati oleh pelaku usaha lokal, dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga,” ujar Appi. Sejak 2019, seluruh proses pengadaan dan belanja Pemkot Makassar telah dilakukan secara digital melalui e-procurement, yang menempatkan Makassar sebagai peringkat kedua nasional dengan nilai transaksi pengadaan elektronik mencapai Rp645 miliar. Sistem ini tidak hanya menjamin transparansi, tetapi juga mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal. Selain itu, Pemkot Makassar juga aktif mendorong sertifikasi higienitas bagi UMKM kuliner, memperluas akses pembiayaan, dan membuka jaringan pemasaran hingga pasar global. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari strategi besar untuk meningkatkan daya saing dan kesiapan produk lokal menembus pasar ekspor. Dengan sinergi kebijakan dan inovasi yang berkelanjutan, Pemkot optimistis transformasi ekonomi daerah akan melaju pesat — dari ekonomi lokal yang kuat, naik ke level nasional, hingga akhirnya bersaing di pasar global.    

Gowa

PMII Gowa Gugat Arah Kekuasaan Lewat Gerakan “Interupsi Rezim” Gerakan Nurani yang Menyuarakan Keadilan dari Jalanan

ruminews.id – MAKASSAR, 28 Oktober 2025 — Di tengah hiruk-pikuk peringatan Hari Sumpah Pemuda, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Gowa menggemakan satu seruan yang mengguncang ruang publik: “Interupsi Rezim.” Sebuah gerakan yang tidak hanya menuntut perubahan kebijakan, tetapi juga menegaskan bahwa mahasiswa masih menjadi nadi nurani bangsa. Melalui pernyataan sikap yang dirilis pada 26 Oktober 2025, PMII Gowa menilai bahwa arah pemerintahan saat ini telah menyimpang dari cita-cita konstitusi. Mereka menyoroti praktik penyalahgunaan kekuasaan, komersialisasi pendidikan, ketimpangan ekonomi, serta lemahnya penegakan hukum yang kian memperdalam jurang keadilan sosial. “Kami berdiri bukan untuk menentang negara, tapi untuk mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa moral akan melahirkan penderitaan. Interupsi Rezim adalah bentuk cinta kami terhadap bangsa ini,” ujar Abdullah Ketua PMII Gowa dalam orasinya di hadapan kader dan simpatisan. Gerakan yang Tumbuh dari Nurani Kolektif PMII Gowa menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap kondisi rakyat kecil yang kerap diabaikan. Sepuluh tuntutan pun disuarakan, mulai dari penghentian program MBG, penegakan HAM, hingga penghapusan praktik komersialisasi pendidikan. Gerakan ini juga menyoroti pentingnya keberpihakan negara terhadap buruh, petani, pelajar, dan seluruh elemen masyarakat yang selama ini hidup dalam tekanan sistem yang tidak adil. “Kami tidak akan berhenti bersuara sebelum keadilan benar-benar berpihak pada rakyat. Mahasiswa lahir dari rahim penderitaan sosial, dan di situlah tanggung jawab moral kami tumbuh,” ungkap Irwanto Jenderal Lapangan Aksi “Interupsi Rezim” dengan tegas. Menurutnya, aksi ini adalah bentuk nyata dari dakwah sosial mahasiswa yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah — menegakkan keadilan dengan kesadaran spiritual dan keberanian intelektual. Mengawal Demokrasi, Menggugah Kesadaran PMII Gowa menegaskan bahwa Interupsi Rezim bukanlah gerakan yang menolak negara, melainkan gerakan penyadaran terhadap moralitas kekuasaan. Mahasiswa, kata mereka, tidak boleh menjadi penonton di tengah krisis nurani bangsa. Dalam pandangan mereka, perjuangan mahasiswa tidak berhenti di ruang kelas, tetapi harus hidup di jalanan, di antara suara rakyat yang nyaris tak terdengar. Gerakan ini menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan sekadar sistem politik, melainkan napas keadilan yang harus dijaga. Dan selama ketidakadilan masih ada, mahasiswa akan tetap berdiri — menginterupsi kekuasaan yang lupa pada rakyatnya.

Scroll to Top