10 Mei 2026

Nasional, Opini, Pemuda, Yogyakarta

Negeri dalam Timbunan Nol

Penulis: Suko Wahyudi – Pegiat Literasi Yogyakarta ruminews.id – Negeri ini barangkali terlalu banyak memelihara angka sampai lupa memelihara manusia. Di layar-layar televisi, angka dipamerkan seperti pengantin baru. Grafik ekonomi melenggang bak peragawati di catwalk pembangunan. Para pejabat tersenyum lebar sambil menyebut triliun demi triliun dengan lidah yang enteng, seolah-olah uang negara jatuh dari langit seperti hujan bulan November. Kini utang pemerintah hampir Rp10 ribu triliun. Sebuah angka yang kalau ditulis lengkap mungkin bisa membentang dari Monas sampai ujung kesabaran rakyat. Nolnya berbaris panjang seperti rombongan semut menemukan gula. Dan anehnya, bangsa ini mendengarnya dengan wajah biasa saja. Tidak ada yang pingsan. Tidak ada yang jatuh dari kursi. Mungkin karena rakyat sudah terlalu lama hidup di bawah guyuran angka-angka fantastis sampai rasa kagetnya habis digerus pidato ekonomi. Padahal Rp10 ribu triliun bukan angka kecil. Itu angka yang bisa membuat kalkulator masuk angin. Tetapi di republik ini, triliun sudah diperlakukan seperti uang parkir. Hari ini bicara triliun, besok bicara kuadriliun pun mungkin orang hanya mengangguk sambil menyeruput kopi sachet. Pemerintah tentu punya penjelasan yang terdengar gagah perkasa. Utang dipakai untuk pembangunan. Untuk infrastruktur. Untuk stabilitas ekonomi. Untuk masa depan bangsa. Kata “masa depan” memang kata yang paling sering dipinjam penguasa ketika masa kini mulai terasa sesak. Masa depan dijadikan lemari besar untuk menyimpan semua janji. Lalu jalan-jalan tol dibangun membelah pulau seperti ular baja yang sedang mencari makan. Bandara berdiri gagah dengan kaca mengilap. Gedung-gedung menjulang tinggi seperti sedang berlomba menyundul langit. Dari kejauhan negeri ini tampak modern. Lampu kota gemerlap. Beton tumbuh lebih cepat daripada pohon. Crane berdiri di mana-mana seperti burung bangau besi yang tak pernah tidur. Tetapi coba belok sedikit ke gang-gang sempit. Di sana hidup rakyat yang lain. Ada ibu-ibu yang menghitung harga cabai dengan wajah setegang sidang kabinet. Ada buruh yang gajinya habis sebelum kalender sempat ganti halaman. Ada anak-anak sekolah yang mimpinya sering kandas sebelum sampai meja makan. Negeri ini akhirnya seperti pesta perkawinan besar dengan dekorasi mewah, tetapi dapurnya kosong. Yang lucu, setiap kali utang naik, yang diminta mengerti selalu rakyat kecil. Mereka diminta sabar demi stabilitas nasional. Kata “stabilitas” di negeri ini sakti luar biasa. Ia dipakai seperti minyak angin untuk mengobati semua persoalan. Harga naik, demi stabilitas. Pajak naik, demi stabilitas. Subsidi dikurangi, demi stabilitas. Lama-lama rakyat mungkin akan diminta menahan lapar demi stabilitas perasaan para elite. Sementara itu para pejabat tetap muncul dengan mobil yang pintunya lebih berat daripada nasib rakyat. Jas mereka licin seperti baru disetrika malaikat. Jam tangannya berkilau seperti lampu diskotek. Mereka bicara penghematan sambil duduk di kursi empuk yang harganya mungkin cukup untuk membiayai satu dusun makan sebulan. Dan korupsi tetap berjalan dengan langkah santai seperti orang habis menang arisan. Negeri ini memang ajaib. Utang naik, korupsi juga naik. Rakyat diminta hemat, pencuri uang negara malah semakin sehat. Kadang saya curiga jangan-jangan korupsi di republik ini sudah menjadi cabang olahraga nasional. Bedanya, pelakunya tidak berkeringat tetapi rekeningnya yang gemuk. Kita ini seperti keluarga yang atap rumahnya bocor di mana-mana, tetapi sibuk membeli lampu kristal untuk ruang tamu. Air hujan masuk dari segala arah, sementara tuan rumah berdiri bangga memamerkan sofa baru kepada tetangga. Begitulah kira-kira pembangunan kita: megah di depan, rapuh di belakang. Yang paling menyedihkan adalah rakyat kecil sering tidak benar-benar menikmati pembangunan itu. Jalan tol dibangun, tetapi petani tetap sulit menjual hasil panennya. Bandara diperluas, tetapi nelayan masih berutang solar. Kota dibuat cantik, tetapi kontrakan rakyat tetap sumpek seperti kaleng sarden. Negeri ini sibuk memperindah wajah, tetapi lupa mengobati perut. Padahal Indonesia bukan negeri miskin. Tanahnya subur sampai tongkat kayu dan batu bisa tumbuh jadi tanaman, kata orang lama. Lautnya luas seperti hamparan doa yang tak selesai dibaca. Gunungnya penuh isi bumi. Tetapi entah bagaimana caranya, kekayaan sebesar itu sering berubah menjadi kemiskinan berjamaah. Mungkin masalah terbesar bangsa ini bukan kurang uang, melainkan terlalu banyak kebocoran. Anggaran bocor. Moral bocor. Amanah bocor. Negeri ini seperti ember tua yang terus diisi air, tetapi lubangnya lebih rajin bekerja daripada orang yang menuang. Karena itu utang Rp10 ribu triliun bukan sekadar urusan ekonomi. Ini soal arah akal sehat bangsa. Soal apakah negara masih ingat wajah rakyatnya sendiri atau sudah terlalu silau oleh cahaya investasi dan tepuk tangan pasar. Sebab kalau pembangunan hanya melahirkan gedung tinggi tetapi hati rakyat makin rendah, maka yang tumbuh bukan kemajuan, melainkan kesepian sosial. Dan jika utang terus menggunung sementara kesejahteraan tetap berjalan pincang, mungkin suatu hari nanti sejarah akan mencatat republik ini sebagai negeri yang terlalu sibuk menghitung angka sampai lupa menghitung air mata.

Nasional, Pemuda

500 Pemuda Sulsel Dilantik, 3 Ketua DPP KNPI Hadir Sekaligus: Sejarah Baru, Vonny Tegaskan KNPI Sulsel Bersatu Untuk Indonesia.

ruminews.id – Makassar –  Sebanyak 500 pemuda terbaik se-Sulawesi Selatan resmi dilantik menjadi pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Daerah Sulawesi Selatan, dalam momen yang langsung mencatatkan sejarah nasional: untuk pertama kalinya sepanjang sejarah organisasi, pelantikan satu daerah dihadiri langsung oleh tiga orang Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) KNPI sekaligus, hadir bersama dalam satu forum, satu waktu, memberikan restu dan pengukuhan penuh. Pelantikan dipimpin langsung oleh Ketua KNPI Sulsel, Vonny, dengan struktur lengkap: 3 Ketua Harian, 10 Wakil Ketua, dan 500 pengurus inti yang mewakili seluruh 24 kabupaten/kota se-Sulsel. Angka 500 bukan sekadar jumlah, melainkan bukti kekuatan, keterwakilan mutlak, dan dukungan nyata pemuda seluruh daerah ini. Vonny menyampaikan rasa haru dan bangga luar biasa saat menyoroti kehadiran para pucuk pimpinan pusat tersebut. “Pelantikan kami ini, menurut saya, sangat bersejarah. Insyaallah kalau saya tidak keliru, ini yang pertama kali terjadi di seluruh Indonesia: Sulawesi Selatan mendapat kehormatan tertinggi, dikukuhkan dan disaksikan langsung oleh tiga Ketua DPP KNPI sekaligus dalam satu acara pelantikan. Jujur, saya sendiri tak pernah membayangkan momen indah ini bisa terjadi, namun Alhamdulillah, hari ini kenyataan itu ada di depan mata kita semua”, ujarnya disambut tepuk tangan gemuruh. “Ini penghormatan tertinggi bagi Sulsel, sekaligus beban kehormatan yang berat. Ini membuktikan kami harus lebih siap, lebih kuat, lebih bekerja keras lagi. Karena hari ini, di pundak kami semua, terukir sejarah baru yang tak terhapuskan. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ketua DPP KNPI dan seluruh pimpinan pusat yang berkenan hadir, bersatu, dan mengukuhkan kami—ini bukti nyata bahwa KNPI Sulsel diakui, sah, dan menjadi rujukan persatuan”, tambah Vonny. Vonny kembali mengajak seluruh pemuda Sulsel bersatu, jauh dari kepentingan pribadi dan ego sempit. “Saya mengajak seluruh pemuda Sulawesi Selatan: mari majukan kepemudaan kita bukan untuk diri sendiri, bukan untuk kekuasaan semata. Atas nama saya dan seluruh pengurus, saya berjanji: saya siap menjahit kembali tali silaturahmi yang mungkin terputus atau renggang di luar kepengurusan kami, semua kita arahkan ke satu tujuan: Pemuda Indonesia bersatu, KNPI makin maju, Indonesia berjaya”. Terkelibat keberadaan pihak-pihak yang mengaku membawa nama KNPI di luar struktur sah ini, Vonny bicara dengan bahasa halus, elegan, namun tegas penuh makna politik: “Kita paham, di perjalanan gerakan pemuda, kadang muncul nama-nama atau kelompok yang merasa dan mengaku mewakili nama besar organisasi ini. Mari kita anggap itu tanda semangat KNPI memang indah dan diinginkan banyak pihak. Namun biarlah publik dan sejarah yang menilai: mana yang lahir dari proses lengkap, mana yang membawa aspirasi nyata 24 kabupaten kota, mana yang didukung 500 pengurus, dan mana yang dikukuhkan langsung oleh tiga Ketua DPP KNPI sekaligus seperti yang kita saksikan hari ini. Kita tidak menolak keberadaan siapa pun, namun kita percaya: keabsahan tidak perlu diteriakkan keras-keras, ia sudah tertulis jelas dalam proses, struktur, dan restu induk organisasi tertinggi. Biarlah mereka berjalan dengan pemahaman masing-masing, namun kami berdiri kokoh di atas landasan yang pasti, sah, dan diakui seluruh elemen pemuda”. Di akhir, Vonny tegaskan kesiapan total jajarannya: “Dengan kekuatan luar biasa 500 orang ini, kami siap mewakafkan seluruh jiwa, raga, tenaga dan pikiran kami demi memajukan Sulawesi Selatan dan seluruh 24 kabupaten kota di bawah kepemimpinan kami. Kami hadir bukan berdebat, tapi berkarya; bukan memecah belah, tapi menyatukan segala potensi demi kejayaan bersama”.

Enrekang, Nasional, Pemerintahan, Pendidikan

Arsyila Farzana, Siswi Kelas 1 SDN 1 Enrekang, Harumkan Nama Sulsel di JSO

ruminews.id, MAKASSAR – Kabupaten Enrekang kembali menorehkan prestasi membanggakan di bidang akademik. Arsyila Farzana Tyas, siswi kelas 1 SD Negeri 1 Enrekang, sukses menyabet medali perak dalam ajang bergengsi Jenius Science Olympiad (JSO) babak Final Provinsi Sulawesi Selatan untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Kompetisi yang berlangsung di Kampus STIMIK KHARISMA Makassar ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai daerah. Namun, ketenangan dan kecerdasan Arsyila berhasil membuatnya unggul di antara para pesaingnya, sekaligus memastikan satu tiket untuk mewakili Provinsi Sulawesi Selatan di tingkat nasional. Sinergi Orang Tua dan Guru Kesuksesan Arsyila tidak lepas dari bimbingan intensif duet guru pendamping, Amriani Mustakim Nur dan M. Haris Syah. Menurut tim pendamping, keberhasilan peserta didik merupakan buah dari kolaborasi yang solid antara lingkungan sekolah dan rumah. “Prestasi ini adalah hasil nyata dari kerja sama serta dukungan penuh dari orang tua, guru, dan Kepala Sekolah. Sinergi inilah yang membangkitkan rasa percaya diri anak di atas panggung kompetisi,” ujar guru pendamping. Persiapan Menuju Puncak Nasional Rasa bangga terpancar dari raut wajah orang tua Arsyila, Dr. Yassir M. Nur dan Ibu Tuti Alawiah. Sebagai ayah, Dr. Yassir menyatakan komitmennya untuk terus mendukung sang buah hati dalam menghadapi tantangan yang lebih besar di babak final nasional. “Kami selaku orang tua tentu merasa sangat bangga. Insya Allah, kami akan memberikan persiapan yang lebih matang lagi agar Arsyila bisa tampil maksimal di tingkat nasional nanti,” ungkap Dr. Yassir. Menuju UPN Yogyakarta Berdasarkan jadwal yang dirilis panitia, Arsyila akan berangkat membawa nama Sulawesi Selatan ke babak Final Nasional yang diagendakan pada 28 Juni 2026 mendatang. Pertarungan perebutan gelar juara nasional tersebut akan dipusatkan di Kampus UPN Veteran Yogyakarta. Prestasi Arsyila ini diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa-siswi lain di Kabupaten Enrekang untuk terus berani bermimpi dan mengasah kemampuan sejak dini di kancah internasional maupun nasional.

Scroll to Top