4 November 2025

Daerah, Gowa, Hukum, Pendidikan

Satintelkam Polres Gowa Ajak Jemaah An-Nadzir Bersinergi Ciptakan Situasi Kamtibmas Yang Aman Dan Kondusif Di Kabupaten Gowa

ruminews.id, GOWA — Satuan Intelkam (Satintelkam) Polres Gowa terus memperkuat langkah preemtif dan preventif dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah hukumnya, personel Satintelkam Polres Gowa melaksanakan kegiatan silaturahmi dan dialog kamtibmas bersama jemaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang harmonis antara kepolisian dan kelompok masyarakat keagamaan. (4/11/2025) Kegiatan ini dilakukan dalam semangat kemitraan strategis untuk memperkuat sinergi antara aparat kepolisian dan tokoh-tokoh agama, khususnya dalam menghadapi dinamika sosial menjelang momentum Hari Pahlawan serta berbagai isu nasional yang berpotensi mempengaruhi stabilitas keamanan di daerah. Dalam kesempatan tersebut, petugas intelijen Polres Gowa mengajak jemaah An-Nadzir untuk bersama-sama menjaga suasana aman dan kondusif di lingkungan masing-masing, serta turut berperan aktif dalam mencegah munculnya paham atau aktivitas yang dapat menimbulkan gangguan sosial maupun konflik horizontal di masyarakat. Pihak jemaah An-Nadzir menyambut baik ajakan tersebut dan menegaskan komitmennya untuk terus mendukung langkah-langkah Polri dalam menjaga ketertiban umum serta memperkuat nilai-nilai toleransi dan persaudaraan antarumat beragama di Kabupaten Gowa. Dialog yang berlangsung secara terbuka dan penuh keakraban itu juga menjadi sarana penting dalam mempererat hubungan emosional antara aparat kepolisian dengan komunitas keagamaan, guna menciptakan rasa saling percaya dan memperkuat kehadiran Polri sebagai mitra strategis masyarakat. Kegiatan seperti ini menjadi bagian dari implementasi pendekatan humanis Polri dalam mewujudkan keamanan berbasis partisipasi masyarakat. Satintelkam Polres Gowa menegaskan komitmennya untuk terus menjalin komunikasi yang intensif dengan berbagai elemen masyarakat guna memastikan setiap potensi kerawanan sosial dapat terdeteksi dan diantisipasi sejak dini, sejalan dengan upaya Polri dalam menjaga stabilitas keamanan nasional yang kondusif.

Daerah, Makassar, Pendidikan

Rektor UNM Dinonaktifkan, Menteri Dikti Saintek Tunjuk Prof. Farida sebagai Plh: Lembaga Tetap Berjalan dalam Ketertiban

ruminews.id – Makassar, Angin perubahan kembali berhembus di Universitas Negeri Makassar (UNM). Kabar penonaktifan Rektor UNM dari jabatannya mencuat ke ruang publik seperti gelombang yang pelan namun pasti mencapai tepian. Kementerian Pendidikan Tinggi dan Sains Teknologi mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan rektor sementara guna memberi ruang bagi proses disiplin yang tengah berjalan. Keputusan ini bukan sekadar prosedur administratif. Ia adalah halaman baru dalam perjalanan lembaga pendidikan besar yang telah melahirkan ribuan intelektual di bumi Sulawesi Selatan. Di tengah dinamika tersebut, kampus oranye tidak dibiarkan tanpa nahkoda. Wakil Rektor Bidang SDM, Alumni, dan Sistem Informasi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Farida Patittingi, SH, M.Hum, ditunjuk sebagai Pelaksana Harian (Plh) Rektor UNM. Penunjukan ini menegaskan bahwa roda akademik, birokrasi, dan pembinaan kemahasiswaan harus tetap bergerak dengan tertib, stabil, dan berkeadaban.

Daerah, Makassar, Opini, Pendidikan

Feodalisme Berkedok Adab

ruminews.id – Ada sebuah adagium tak tertulis di dunia persilatan santri: kalau mau jadi santri, siap-siaplah jongkok. Bukan cuma jongkok pas antre mandi, tapi jongkok dalam artian filosofis. Saking filosofisnya, kadang lagi enak-enak minum susu saset di depan kamar, eh, Pak Kyai lewat, refleks itu badan langsung merunduk dalam-dalam, seolah susu di tangan lebih hina dari air kobokan. Ini adab, kata mereka. Ta’dzim pada guru, sang pewaris nabi. Sebuah tradisi luhur yang menjaga agar ilmu tetap berkah. Pertanyaannya, benarkah tradisi semacam ini murni bentuk adab tanpa cela? Atau jangan-jangan, tanpa sadar, kita sedang mempraktikkan ghuluw, sikap berlebihan yang justru dilarang dalam agama? Beberapa waktu lalu, jagat maya dibuat riuh oleh sebuah tayangan televisi nasional yang mengintip kehidupan pesantren. Alih-alih jadi tontonan penyejuk iman, acara itu justru memantik perdebatan sengit. Satu kubu membela mati-matian tradisi sebagai wujud hormat tak ternilai. Kubu seberang mengecamnya sebagai praktik feodalisme usang yang sudah tak relevan di zaman di mana kesetaraan dijunjung tinggi. Yang paling seru justru bukan di acaranya, tapi di kolom komentar. Di sanalah suara-suara kritis yang selama ini mungkin hanya jadi bisik-bisik di pojok kobong, akhirnya meledak. Mulai dari pertanyaan lugu, “Kenapa harus sampai segitunya, sih?” hingga analisis tajam soal relasi kuasa yang timpang antara kyai dan santri. Dari Jongkok Sampai Cium Kaki: Di Mana Garis Batasnya? Di tengah perdebatan, seorang netizen melempar sebuah hadis yang seolah menampar kita semua. “Ini hadis yang mungkin lupa diajarkan di pesantren-pesantren tertentu,” tulisnya, dengan nada satir yang menusuk. Hadis itu mengisahkan sahabat Mu’adz bin Jabal yang baru pulang dari Syam. Terpesona melihat penduduk Syam sujud kepada para uskup dan pemimpin agama mereka, Mu’adz pun melakukan hal yang sama kepada Rasulullah ﷺ setibanya di Madinah. Niatnya baik: kalau para pemimpin agama lain saja dihormati sedemikian rupa, Rasulullah jelas lebih berhak. Tapi apa jawaban Nabi? Beliau tidak lantas tersenyum bangga. Beliau justru bertanya, “Apa ini, wahai Mu’adz?” Setelah mendengar penjelasan Mu’adz, Rasulullah ﷺ bersabda dengan tegas, “Janganlah kalian lakukan itu. Sungguh, seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya…” (HR. Ahmad no. 19403 dan Ibnu Majah no. 1853. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini). Jelas sekali. Nabi, manusia termulia sejagat raya, menolak penghormatan yang menyerupai ibadah. Sujud, puncak ketundukan, hanya untuk Allah. Titik. Kisah ini seharusnya menjadi alarm. Jika sujud kepada Nabi saja dilarang, bagaimana dengan tradisi jalan merunduk (ngepel), cium tangan bolak-balik, bahkan sampai cium kaki kyai? Bagi pembela, ini murni adab. Tapi bagi yang kritis, inilah ghuluw yang mengkhawatirkan. “Presiden lewat aja nggak segitunya,” celetuk netizen lain. “Artis K-Pop lewat malah pada histeris. Lah, ini kok bisa sampai merendahkan diri serendah itu?” Kyai, Santri, dan Amplop: Saat Berkah Bersinggungan dengan Kuasa Masalahnya, soal penghormatan ini seringkali nggak berhenti di gestur fisik. Ia merembet ke ranah lain yang lebih sensitif: ekonomi dan kuasa. “Kyai yang kaya raya, tapi umat yang kasih amplop,” tulis seorang komentator. Kalimat pendek ini adalah kritik pedas terhadap ketimpangan yang seringkali tak terucap, tapi nyata terasa. Amplop bisa jadi simbol sedekah, tapi juga bisa jadi penanda relasi patron-klien yang tak sehat. Belum lagi soal “berkah”. Tradisi berebut sisa minuman kyai, atau mencium tangan sambil menyelipkan “salam tempel”, bagi sebagian adalah wujud harapan berkah. Tapi di mata yang lain, ini adalah praktik yang sangat rentan dieksploitasi dan bisa menjerumuskan pada kultus individu. Membuka Kotak Pandora Hipokrisi Publik Tayangan televisi itu, sadar atau tidak, telah membuka kotak pandora. Ia memaksa kita melihat hal-hal yang selama ini coba kita abaikan. Di tengah perdebatan soal jongkok, muncul pertanyaan yang lebih menusuk tentang konsistensi kita. “Ada oknum Kyai cabul [1], publik banyak yang DIAM. Ada pejabat Kemenag korupsi kuota haji [2], Korupsi Al-Qur’an [3], publik cenderung DIAM. Ada lembaga filantropi besar menyelewengkan dana umat [4], publik juga adem ayem. Tapi begitu ada tayangan kritis soal tradisi pesantren, langsung BERISIK dan teriak-teriak pelecehan!” Sentilan ini menyadarkan kita bahwa yang dibutuhkan publik sebenarnya adalah keadilan. Kritik jangan hanya tajam ke luar, tapi juga harus berani menghujam ke dalam. Masalah predator seksual berkedok agama dan korupsi dana umat jelas jauh lebih merusak citra Islam ketimbang sebuah tayangan televisi. Takdzim yang Tidak Mematikan Akal Tentu, di tengah segala kritik, ada pembelaan yang tulus. Banyak yang merasa penghormatan pada kyai lahir dari cinta sejati, dari rasa syukur atas ilmu yang tak ternilai. Ikatan batin antara guru dan murid yang kadang “lebih kuat dari ikatan darah”. Hormat mereka bukan karena takut, tapi karena cinta. Ini valid dan tak bisa dimungkiri. Masalahnya, bagaimana membedakan mana penghormatan yang lahir dari cinta, dan mana yang lahir dari doktrin yang membekukan nalar kritis? Jawabannya mungkin bisa kita temukan dari para kyai itu sendiri, yang telah menggambar batas tegas di mana takdzim yang sehat berakhir dan feodalisme buta dimulai. Seperti ditegaskan oleh KH. Ahmad Mustofa Bisri, “Takdzim itu bukan mematikan akal. Santri hormat kepada kiai, tapi juga berpikir kritis. Kalau semua diserahkan tanpa berpikir, itu bukan adab itu perbudakan batin.” Pandangan ini menggemakan apa yang pernah dikatakan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bahwa feodalisme lahir ketika takdzim telah kehilangan ruh keilmuannya dan hanya menyisakan simbol-simbol kosong tanpa pemahaman. Artinya, ketika rasa hormat telah bergeser menjadi rasa takut, dan loyalitas tidak lagi lahir dari kebenaran melainkan status, maka di situlah seorang guru telah menjadi pusat kuasa yang tak tersentuh kritik. Pada titik inilah, takdzim sejati yang seharusnya membebaskan manusia dari keangkuhan ego justru berbalik menjadi kepatuhan buta yang membelenggu. Mungkin inilah saatnya membuka ruang dialog yang lebih sehat. Pesantren, sebagai institusi yang luar biasa penting, harus siap beradaptasi. Adab itu esensial, tapi adab tidak boleh mematikan akal sehat. Seperti kata seorang bijak, “Adab itu perendahan hati, bukan perendahan diri.” Menghormati guru itu sebuah keharusan. Tapi, menjaga martabat diri sebagai manusia merdeka dan memelihara keberanian untuk berpikir kritis, mungkin adalah berkah ilmu yang sesungguhnya. ________________________________________ Ditulis oleh seorang yang pernah mondok 3 tahun, dan hingga hari ini masih suka nyium tangan kepada yang lebih tua, tapi sambil mikir, ini adab atau ghuluw, ya? [1] Kurniawan Fadilah, “Bejat! Ustaz di Bekasi Cabuli Anak Angkat dan Keponakan,” detik.com, Sep. 25,

Daerah, Makassar, Nasional, Opini, Pendidikan, Politik, Uncategorized

Sedang Menghabiskan Jatah Kalah

ruminews.id – SAYA sudah mengalami banyak kekalahan dalam kontestasi politik praktis sejak terjun ke dunia politik pada Pemilu 2024 lalu. Dalam setiap pertempuran politik itu, saya selalu berdiri di sisi yang sama sisi perubahan, sisi yang melawan petahana dan menantang kenyamanan status quo. Di Pilpres 2024, saya menjadi bagian dari perjuangan pasangan Anies Baswedan Muhaimin Iskandar (AMIN), sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Daerah (TKD) AMIN Sulawesi Selatan. Kami berjuang membawa gagasan perubahan bangsa, dengan segala keterbatasan dan tekanan yang ada. Hasilnya, pasangan kami dinyatakan kalah oleh KPU. Di Pileg, saya juga maju sebagai Calon Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Dapil XI (Luwu Raya). Meski tak begitu maksimal, saya sempat turun ke lapangan, menyapa warga, berdiskusi tentang masa depan daerah, dan memperjuangkan politik yang lebih bersih serta berbasis gagasan. Hasilnya? Sudah jelas. Saya tidak terpilih sebagai pemenang. Petahana akhirnya masih duduk kembali. Belum cukup sampai di situ. Dalam Pilkada Serentak 2024, saya kembali turun gelanggang. Di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel, saya dipercaya menjadi Juru Bicara pasangan Danny Pomanto – Azhar Arsyad (DIA). Kami membawa visi baru mewujudkan Sulawesi Selatan sebagai Global Food Hub. Namun lagi-lagi, hasilnya belum berpihak. Gubernur petahana (Andi Sudirman Sulaiman) masih menang, meskipun kami harus berjuang hingga titik akhir di Mahkamah Konstitusi (MK). Di Pemilihan Bupati Luwu Timur, kampung halaman saya sendiri, saya ikut membantu pasangan Isrullah Achmad – Usman Sadik. Kami berhadapan dengan petahana (Budiman) dan rival bebuyutannya (Irwan Bachri Syam) yang memiliki infrastruktur politik dan kekuasaan yang lebih mapan. Hasilnya, kami juga kalah. Meski di kasus ini petahana juga ikut tumbang. Terakhir, bahkan di ranah akademik, dalam penjaringan calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) 3 November 2025, calon yang saya dukung Prof. dr. Budu, Ph.D juga belum berhasil mengalahkan perolehan suara petahana. Meski masih ada tahap selanjutnya di Majelis Wali Amanat (MWA), tapi sepertinya sulit menggeser posisi Prof Jamaluddin Jompa yang meraup lebih dari 80 persen suara Senat Akademik (SA) Unhas. Nah, tersisa satu kontestasi beraroma politik praktis yang belum saya lewati, yakni Pemilihan Ketua RT serentak yang segera akan dilaksanakan di Kota Makassar. Di level inipun, saya mungkin bisa saja kembali kalah. Tapi karena kurang tertarik, jadi kita skip saja. Melawan Petahana Kalau saya coba tarik benang merah dari semua kekalahan itu, terdapat satu pola terlihat jelas, bahwa semuanya terjadi karena saya selalu melawan petahana. Saya selalu memilih posisi berseberangan dengan kekuasaan yang mapan, bukan karena ingin kalah, tapi karena yakin bahwa perubahan hanya bisa lahir dari keberanian menantang kenyamanan lama. Saya masih belum suka mencari posisi aman. Saya selalu memilih berada di sisi yang memperjuangkan sesuatu yang lebih besar dari diri saya sendiri. Dan itulah harga dari idealisme politik yang harus menempuh jalan yang berat, panjang, dan penuh luka. Tapi juga jalan yang paling jujur dan bisa dibanggakan kelak. Politik sebagai Proses Banyak orang melihat politik sebagai soal menang dan kalah. Tapi bagi saya, politik adalah lebih sebagai proses untuk menjadi. Kekalahan memberi saya banyak pelajaran tentang strategi, tentang komunikasi, tentang membaca arah angin politik, tapi lebih dari itu. Kekalahan juga menjadi kesempatan berharga untuk memahami manusia dan makna perjuangan. Saya belajar bahwa dukungan publik bukan hanya dibangun lewat kampanye, tapi lewat ketulusan yang konsisten. Saya belajar bahwa tidak semua orang siap untuk perubahan, tapi perubahan tetap harus diperjuangkan. Dan saya belajar bahwa kadang, kalah hari ini adalah bagian dari cara Tuhan mempersiapkan kemenangan yang lebih besar esok. Menghabiskan Jatah Kalah Saya pernah membaca kalimat ini: “Setiap orang punya jatah kalah. Habiskanlah jatah kalahmu di awal, supaya sisanya tinggal kemenangan.” Saya menyukainya. Mungkin memang saya sedang menghabiskan jatah kalah saya. Kekalahan demi kekalahan bukan pertanda akhir, tapi pembersihan. Mungkin Tuhan sedang menguji seberapa teguh saya bertahan pada jalan yang saya yakini benar. Mungkin semua ini adalah cara alam semesta menyiapkan ruang agar kemenangan nanti tidak membuat saya lupa diri. Menang dengan Terhormat Saya tidak tahu kapan giliran kemenangan itu tiba. Tapi saya tahu satu hal. Ketika saatnya datang, saya ingin menang dengan cara yang benar dan terhormat bukan karena manipulasi, bukan karena kekuasaan uang, tapi karena gagasan, kerja, dan kepercayaan publik. Karena pada akhirnya, politik bukan soal siapa yang menang lebih dulu, tapi siapa yang tetap tegak sampai di akhir pengabdian. “Saya tidak pernah benar-benar kalah. Saya hanya sedang belajar lebih dalam tentang bagaimana caranya menang dengan benar.” Kira-kira begitu.

Scroll to Top