25 Oktober 2025

Daerah, Makassar, Uncategorized

HMI Korkom Tamalate Gelar FGD Bahas Sinergitas Tiga Pilar Menuju Pembangunan Berkelanjutan

ruminews.id Makassar — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kordinator Komisariat (Korkom) Tamalate menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Sinergitas Tiga Pilar Menuju Pembangunan Berkelanjutan”, Sabtu (25/10/2025), di Aula Kantor BKKBN Sulawesi Selatan, Jalan A.P. Pettarani, Kota Makassar. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari tiga unsur penting, yakni perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Makassar, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, dan Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Makassar. FGD ini menjadi ajang diskusi lintas sektor untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan pemuda dalam merumuskan kebijakan pembangunan berkelanjutan yang responsif terhadap tantangan zaman, terutama di era digital. Ketua HMI Korkom Tamalate dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan membuka ruang dialog antara pemuda dan pembuat kebijakan agar gagasan pemuda dapat lebih didengar dan diakomodasi dalam proses pembangunan daerah. “Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan. Kita harus terlibat aktif, menyampaikan ide, dan menjadi mitra strategis pemerintah serta DPRD dalam membangun kota yang berkelanjutan,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan Dispora Kota Makassar, dalam pemaparannya menekankan pentingnya mengoptimalkan peran talenta muda untuk mendukung inovasi dan transformasi digital di sektor pemerintahan. “Kami melihat banyak anak muda Makassar yang memiliki kemampuan digital luar biasa. Pemerintah kota terbuka terhadap kolaborasi dengan komunitas dan organisasi kepemudaan untuk memperkuat layanan publik berbasis teknologi,” ujarnya. Dari sisi legislatif, anggota DPRD Kota Makassar yang turut hadir menyebutkan bahwa lembaga DPRD sangat terbuka terhadap aspirasi dan masukan dari generasi muda, khususnya terkait perencanaan program prioritas daerah. “DPRD membutuhkan perspektif baru dari pemuda agar kebijakan yang dibuat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Forum seperti ini penting untuk menjembatani komunikasi antara mahasiswa dan wakil rakyat,” katanya. Sedangkan perwakilan DPD KNPI Kota Makassar menegaskan bahwa sinergitas tiga pilar tidak hanya sebatas wacana, tetapi harus diwujudkan dalam langkah konkret melalui kolaborasi berkelanjutan. “Pemuda memiliki energi dan kreativitas, sementara pemerintah dan DPRD memiliki kewenangan dan kebijakan. Jika ketiganya bersinergi, pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya visi, tapi kenyataan,” tegasnya. Kegiatan berlangsung interaktif, diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pertukaran gagasan antara peserta dan narasumber. Para peserta berharap hasil dari FGD ini dapat menjadi rekomendasi bersama untuk mendorong sinergitas tiga pilar dalam membangun Kota Makassar yang lebih maju, transparan, dan inklusif.

Pendidikan

Dosen UNESA Dampingi Sekolah di Malang Bangun Branding Lewat Media Sosial

ruminews.id – Malang, 17 Juni 2025 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi S1 Bisnis Digital, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi digital dunia pendidikan. Melalui kegiatan bertajuk “Pengembangan Keterampilan Social Media Marketing untuk Mendukung Branding Sekolah di SMA Hasanuddin Wajak Malang”, tim dosen UNESA membantu sekolah beradaptasi dengan perubahan era digital melalui strategi branding dan pelatihan keterampilan pemasaran digital. Acara ini berlangsung pada hari Selasa, (17/06/2025) dimulai pukul 07.00 WIB, yang diikuti oleh guru serta siswa SMA Hasanuddin Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diinisiasi oleh tim PKM yang diketuai oleh Dr. Muhammad Fachmi, S.E., M.M., bersama empat dosen anggota, yakni Nadia Nur Thahirrah, S.E., M.SM., Dr. Ratih Amelia, S.E., M.M., Fresha Kharisma, S.E., M.SM., dan Ika Diyah Candra Arifah, S.E., M.Com. Kegiatan turut dibuka oleh Kepala Sekolah, Ratna Faradisa, M.Pd., yang menyampaikan apresiasinya atas kerja sama dengan UNESA. Kegiatan PKM dirancang secara partisipatif dan aplikatif, dengan melibatkan pemateri oleh Nadia Nur Thahirrah, S.E., M.SM., dosen muda Program Studi S1 Bisnis Digital UNESA. Materi yang diberikan mencakup pembuatan konten kreatif dan menarik (poster, reels, caption edukatif), pemanfaatan aplikasi desain digital seperti Canva dan CapCut, strategi penggunaan hashtag dan peningkatan engagement, serta penjadwalan konten dan analisis insight di Instagram dan Facebook. “Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dan siswa dalam bidang social media marketing, yang pada akhirnya mampu meningkatkan citra sekolah melalui promosi digital yang efektif, sekaligus membekali siswa dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan era digital,” ujar Nadia. Ketua Tim PKM, Dr. Muhammad Fachmi, S.E., M.M., menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang berkelanjutan. “Melalui kegiatan PKM, kami ingin membantu sekolah-sekolah agar lebih siap menghadapi persaingan era digital. Guru dan siswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga kreator konten yang mampu memperkuat citra positif sekolah,” jelasnya. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Guru dan siswa secara langsung mempraktikkan pembuatan konten promosi sekolah yang diunggah ke akun resmi media sosial SMA Hasanuddin Wajak. Hasil karya mereka menunjukkan kreativitas, kolaborasi, dan pemahaman baru terhadap strategi branding digital, menjadi modal penting dalam memperkuat citra sekolah di ranah digital.

Berau, Gowa, Hukum, Uncategorized

Gali Emas di Tanah Sendiri, Warga Gowa Terancam 5 Tahun Penjara: Kilau Harapan yang Berujung Petaka

ruminews.id, Gowa — Harapan warga untuk memperbaiki nasib justru berubah menjadi ancaman hukum. Sebuah tambang emas di Kabupaten Gowa digerebek Polres Gowa karena diduga melakukan penambangan emas ilegal di lahan mereka sendiri. Aktivitas Tambang Tradisional, Masuk Jerat Hukum Penambangan dilakukan secara tradisional dengan alat sederhana. Meski tampak sebagai usaha kecil untuk mencari rezeki, kegiatan ini termasuk pelanggaran hukum berat. “Prediksi kami, tambang ini sudah beroperasi satu hingga dua bulan,” ungkap pihak kepolisian saat penggerebekan. Penyelidikan menunjukkan bahwa para warga menggali tanah mereka sendiri untuk menemukan butiran emas, tanpa izin resmi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, setiap orang yang menambang tanpa izin dapat dijatuhi hukuman penjara hingga lima tahun dan denda hingga Rp100 miliar. Dampak Lingkungan dan Ancaman Hukum Polisi menegaskan aktivitas tambang ilegal tidak hanya merugikan negara, tetapi juga berisiko besar bagi lingkungan. “Selain merusak alam, kegiatan ini bisa menimbulkan longsor dan pencemaran air. Kami akan menindak tegas siapa pun yang terlibat,” tegas petugas kepolisian. Saat ini, lokasi tambang telah ditutup, dan aparat mengimbau masyarakat agar tidak tergiur oleh janji keuntungan cepat dari aktivitas tambang ilegal. Pelajaran Pahit dari Kilau Emas Kilau emas yang semula dianggap berkah kini berubah menjadi jerat hukum yang menakutkan. Di balik setiap butir emas yang berkilau, tersimpan pelajaran pahit tidak semua yang bersinar membawa keberuntungan.

Uncategorized

Teologi Pembebasan dan Suara Umat Tertindas di Forum LK2 Tingkat Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di ruang pertemuan Hotel LaMacca, sore itu udara terasa teduh dan penuh makna. Cahaya lampu yang lembut berpadu dengan suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, ketika puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur menyimak dengan khusyuk kehadiran sosok yang dikenal luas di kalangan aktivis Islam progresif Rahmatullah Usman, kader HMI dan aktivis nasional yang dikenal pula sebagai NDPers. Dengan tenang, ia membuka materinya yang bertajuk “Teologi Pembebasan: Islam dan Umat Tertindas.” Suaranya tidak meninggi, tapi bergetar dengan kekuatan moral dan spiritual yang dalam. Setiap kalimat mengandung api perjuangan dan kelembutan iman yang menyatu. “Islam,” ucapnya perlahan, “tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh di tengah penindasan, dan sejak awal membawa pesan yang jelas membebaskan manusia dari segala bentuk kezaliman, baik ekonomi, politik, maupun batin.” Ruangan seketika hening. Para peserta seperti tersihir oleh kesungguhan kata-kata itu. Tak ada suara selain napas yang tertahan dan bunyi pena yang mencatat. Dalam forum itu, agama tak lagi dipandang sebagai sekadar keyakinan pribadi, tetapi sebagai gerak sosial, sebagai kekuatan moral yang menolak tunduk pada struktur penindasan. Rahmatullah berbicara tentang teologi pembebasan sebagai bentuk perlawanan yang berakar pada nilai-nilai Islam, nilai keadilan (‘adl), kesetaraan (musawah), dan kemanusiaan (insaniyah). Ia menyinggung bagaimana umat hari ini sering kali dijauhkan dari kesadaran kritis oleh sistem yang menindas dengan lembut: kapitalisme, oligarki, dan kekuasaan yang memperalat agama. “Ketika agama dijadikan alat legitimasi kekuasaan,” katanya menatap peserta satu per satu, “maka tugas kita sebagai kader HMI adalah mengembalikannya kepada ruh pembebasan. Islam bukan untuk menguatkan singgasana, tapi untuk menegakkan keadilan.” Peserta LK2 dari berbagai cabang tampak larut dalam perenungan. Di antara mereka, ada yang menunduk diam, ada pula yang mengangguk pelan seolah menyetujui setiap makna. Forum itu tak hanya menjadi ruang diskusi, tapi ruang pertemuan spiritual tempat iman dan intelektual bertaut dalam kesadaran kemanusiaan. Dalam sesi tanya jawab, pertanyaan mengalir tajam tapi santun. Rahmatullah menjawab dengan gaya seorang sahabat, bukan pengajar; ia menanggapi bukan untuk menggurui, melainkan untuk menghidupkan percakapan. Keakraban terpancar dari setiap senyum dan tepuk bahu, menandakan bahwa HMI bukan sekadar organisasi, tapi keluarga ideologis yang tumbuh bersama nilai-nilai pembebasan. “Kita harus belajar dari sejarah Nabi,” tuturnya menutup sesi. “Bahwa Islam hadir bukan di istana, tapi di jalanan bersama buruh, bersama fakir miskin, bersama mereka yang tertindas. Karena dari sanalah kebenaran sejati memantulkan cahaya.” Tepuk tangan panjang pun menggema, tidak riuh, tapi sarat rasa hormat. Para peserta berdiri, menyalami pemateri dengan senyum penuh kagum. Malam di Hotel LaMacca menjadi saksi lahirnya kesadaran baru: bahwa menjadi kader HMI berarti menjadi pembela kemanusiaan bukan dengan kemarahan, tapi dengan ilmu, iman, dan cinta terhadap sesama. Di sudut ruangan, kopi masih mengepul, tawa kecil menyelingi obrolan ringan. Tapi di balik semua itu, setiap kepala muda tahu, sesuatu telah tumbuh di dalam dirinya: kesadaran bahwa Islam sejati adalah pembebasan dan manusia beriman adalah manusia yang melawan ketidakadilan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global di Forum LK2 HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di bawah temaram lampu Hotel LaMacca, malam itu terasa hangat, bukan karena udara kota, melainkan karena semangat intelektual yang menyala di dada para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ruangan itu tertata rapi, penuh ketertiban dan keteduhan, tempat berlangsungnya Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Dari balik podium, hadir sosok yang dihormati Prof. Qashim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar sekaligus kader senior HMI, membawakan materi bertajuk “Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global.” Suasana forum begitu tenteram, seolah setiap kursi dan meja menyimpan rasa hormat. Para peserta duduk dengan sikap yang santun, pandangan mereka tertuju penuh perhatian kepada sang pemateri. Tak ada hiruk pikuk, hanya suara lembut Prof. Qashim yang menembus keheningan, menjahit benang-benang makna antara iman, perjuangan, dan perubahan sosial. “Islam,” ujarnya perlahan, “bukan hanya tentang ritual, tapi tentang gerak. Ia adalah daya yang menuntun manusia untuk mengubah realitas sosialnya untuk melawan ketidakadilan, menegakkan martabat, dan menolak hegemoni kapitalisme global yang mengerdilkan kemanusiaan.” Kata-kata itu mengalir seperti mata air di tanah kering. Para peserta menyimak dengan wajah yang khusyuk, sebagian mencatat, sebagian lain larut dalam renungan panjang. Dalam forum itu, Islam dibicarakan bukan sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai kekuatan peradaban yang hidup kekuatan yang memanggil umatnya untuk berpikir, bertindak, dan bertransformasi. Prof. Qashim memaparkan bagaimana kapitalisme global tak hanya menguasai ekonomi, tapi juga membentuk kesadaran manusia — menjadikan hidup sekadar transaksi, dan nilai-nilai spiritual kehilangan makna sosialnya. Namun, ia menegaskan bahwa gerakan Islam harus hadir bukan sebagai perlawanan emosional, melainkan sebagai transformasi yang sadar dan berakar pada ilmu serta akhlak. “Gerakan Islam yang sejati,” tuturnya, “adalah gerakan yang memahami realitas, menatap masa depan dengan ilmu, dan menapaki jalan perubahan dengan moralitas. Itulah jihad intelektual kita.” Suasana forum terasa akrab, di sela-sela keseriusan diskusi, tawa ringan sesekali pecah. Para peserta muda HMI bertanya dengan sopan, penuh rasa ingin tahu. Prof. Qashim menjawabnya dengan senyum, dengan sabar, dengan nada seorang guru yang tak hanya mengajar, tapi membimbing jiwa. “Kalianlah generasi yang akan menentukan arah Islam di masa depan,” katanya. “Jangan biarkan semangat kalian padam hanya karena dunia tampak dikuasai oleh sistem yang tak adil. Islam selalu punya jawaban selama kita mau berpikir dan berbuat dengan kesadaran.” Forum itu berakhir dengan tepuk tangan yang pelan tapi panjang. Ada rasa haru yang meneduh di dada para peserta. Mereka tahu, malam itu bukan sekadar kuliah, itu adalah pertemuan antara generasi dan gagasan, antara ilmu dan keimanan, antara masa lalu perjuangan dan masa depan perubahan. Di luar ruangan, angin Makassar berembus lembut. Beberapa peserta masih berkumpul, berdiskusi kecil, sementara Prof. Qashim menyapa mereka satu per satu dengan kehangatan seorang ayah yang bangga pada anak-anaknya. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi saksi bahwa HMI Makassar Timur bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang pembentukan jiwa. Di sanalah ilmu dan nilai bertemu, membentuk manusia yang sadar akan tugas sejarahnya: menjawab kapitalisme global dengan semangat Islam yang mencerahkan dan membebaskan.

Scroll to Top