4 September 2025

Opini, Pendidikan

Kampus Megah, Intelektualitas yang Rapuh

ruminews.id – Di tengah kota Makassar, berdiri sebuah kampus megah. Pilar-pilarnya menjulang, arsitekturnya gagah, catnya berkilau. Namun di dalamnya, segala yang bernama kebebasan, intelektualitas, dan keberanian justru merapuh. Di balik kemegahan bangunan, ada kehampaan: belajar hanya soal absen, organisasi dicurigai, diskusi ditakuti, suara mahasiswa dibungkam. Kampus, yang seharusnya menjadi rahim peradaban dan ladang subur bagi lahirnya gagasan, perlahan menjelma penjara yang membungkam. Ruang organisasi dibatasi, diskusi dan kajian intelektual dihapus seolah menjadi virus yang menakutkan. Akademia kehilangan denyutnya, hanya tersisa rutinitas kaku bernama absen dan presentasi kelompok yang miskin esensi. Ironisnya, organisasi yang seharusnya menjadi lidah perlawanan justru kehilangan orientasi. Mereka bagai perahu tanpa kompas, terombang-ambing dalam arus birokrasi kampus, lupa bahwa sejarah mahasiswa adalah sejarah keberanian melawan ketidakadilan. Sementara itu, mahasiswa lain larut dalam apatisme: lebih nyaman menjadi penonton daripada pelaku, lebih rela menjadi angka dalam presensi daripada suara yang menuntut perubahan. Lebih parah lagi, tenaga pengajar yang seharusnya menyalakan api pengetahuan justru banyak yang hadir tanpa ruh. Alih-alih menginspirasi dan menyalakan api intelektual, banyak yang hanya hadir sebagai pengisi waktu, mengulang slide lama, menjejali mahasiswa dengan formalitas, seakan kuliah hanya rutinitas administratif, bukan proses pencerahan. Pendidikan akhirnya kehilangan makna, tinggal kulit tanpa isi, sekadar prosedur administratif menuju ijazah. Inilah wajah kampus kita hari ini: represif pada gerakan, kaku pada organisasi, kerdil pada kebebasan. Megah di bangunan, rapuh di pemikiran. Juga membunuh jiwa bangsa. Sebab, dari ruang-ruang diskusi yang dibungkam itulah seharusnya lahir pemikiran kritis, dari organisasi yang dipersempit itulah terbentuk kepemimpinan yang visioner. Jika semua itu dihapuskan, maka kampus hanya akan melahirkan generasi yang patuh, bukan generasi yang berpikir; generasi yang tunduk, bukan generasi yang berani. Pertanyaannya sederhana: Apakah kita rela kampus menjadi pabrik gelar tanpa jiwa? Apakah kita akan terus diam ketika ruang belajar, ruang berorganisasi, dan ruang berpikir kita dilucuti? Jika mahasiswa diam, maka sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang kalah sebelum berjuang.

Hukum, Jakarta, Kriminal, Nasional, Pemerintahan, Politik

Babak Baru Korupsi Laptop Chromebook: Kejagung Tetapkan Nadiem Makarim Tersangka

ruminews.id, Jakarta – Penyidikan kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memasuki babak baru. Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menetapkan mantan Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim, sebagai tersangka. “Inisial NAM telah ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Anang Supriatna, saat konferensi pers di Gedung Kejagung, Jakarta Selatan, Kamis (4/9/2025). Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Nurcahyo Jungkung Madyo, menuturkan penetapan Nadiem sebagai tersangka didasari bukti yang diperoleh dari pemeriksaan saksi, saksi ahli, hingga dokumen terkait. “Berdasarkan rangkaian alat bukti yang telah dikumpulkan, mulai dari keterangan saksi, ahli, dokumen, hingga barang bukti lainnya, maka penyidik menetapkan NAM selaku Mendikbudristek periode 2019–2024 sebagai tersangka,” jelasnya. Sebelumnya, Nadiem sudah tiga kali dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan. Pemeriksaan pertama dilakukan pada 23 Juni 2025 selama kurang lebih 12 jam, kemudian pemeriksaan kedua pada 15 Juli 2025 sekitar 9 jam. Pada pemeriksaan ketiga hari ini, statusnya resmi berubah menjadi tersangka. Ia juga telah dicegah bepergian ke luar negeri sejak 19 Juni 2025 untuk jangka waktu enam bulan. Dalam perkara ini, Kejagung sebelumnya menetapkan empat tersangka lain yang diduga terlibat dalam proyek digitalisasi pendidikan periode 2019–2022. Proyek tersebut ditaksir menimbulkan kerugian negara hingga Rp 1,98 triliun. Keempat tersangka yang telah lebih dulu dijerat yaitu: Sri Wahyuningsih (SW), mantan Direktur Sekolah Dasar Ditjen PAUD Dikdasmen Kemendikbudristek (2020–2021); Mulyatsyah (MUL), mantan Direktur SMP Kemendikbudristek (2020); Jurist Tan (JT/JS), staf khusus Mendikbudristek era Nadiem; Ibrahim Arief (IBAM), konsultan perorangan pada proyek infrastruktur teknologi Kemendikbudristek. Dengan ditetapkannya Nadiem sebagai tersangka, total sudah ada lima orang yang akan dimintai pertanggungjawaban hukum dalam kasus korupsi pengadaan Chromebook ini.

Uncategorized

Cipayung Plus Gowa Gelar Longmarch dan Dialog Terbuka dengan Pemerintah

Gowa – 3 September 2025. Aliansi Cipayung Plus Kabupaten Gowa, yang beranggotakan PMKRI, HMI Gowa Raya, IMM, GMNI, Komca Pemuda Katolik, dan SAPMA PP, menggelar aksi longmarch dari perbatasan Makassar–Gowa menuju Kantor Bupati serta DPRD Gowa. Aksi tersebut berlangsung tertib dengan pengamanan ketat dari jajaran Polres Gowa dan Kodim 1409. Dalam pergerakannya, massa menyuarakan sejumlah isu strategis di tingkat nasional maupun lokal. Tuntutan Nasional meliputi: Mendesak reformasi Polri serta pencopotan Kapolri. Mewujudkan transparansi dalam penanganan kasus hukum. Evaluasi prosedur pengamanan aksi massa. Pengesahan RUU Perampasan Aset. Pencabutan Inpres Nomor 1 Tahun 2025. Penegakan supremasi hukum dan HAM. Evaluasi program MBG. Sementara untuk tuntutan daerah, massa menekankan: Pencopotan Kapolda Sulsel. Penolakan terhadap rencana kenaikan pajak di Gowa. Evaluasi terhadap aktivitas pertambangan. Transparansi PAD dari sektor tambang legal. Pemberantasan praktik tambang ilegal. Momen menarik terjadi ketika Bupati Gowa turun langsung ke jalan dan duduk bersama peserta aksi untuk mendengarkan aspirasi mereka. Kehadiran Ketua DPRD Gowa juga menjadi perhatian, di mana ia berkomitmen menyalurkan tuntutan Cipayung Plus melalui mekanisme resmi DPRD. Dalam jalannya aksi, masing-masing pimpinan organisasi mahasiswa dan pemuda menyampaikan orasi: Kalvin (Ketua PMKRI Gowa): menekankan bahwa reformasi Polri menjadi kebutuhan mendesak demi tegaknya supremasi hukum. Nawir (Ketua HMI Cabang Gowa Raya): menyatakan konsolidasi aksi ini berhasil dan tuntutan utama, baik nasional maupun lokal, sudah tersampaikan dengan damai. Khaliq (Ketua GMNI Gowa): mengkritisi tambang ilegal dan kebijakan pajak yang dianggap merugikan rakyat kecil. Nurafni (Ketua IMM Gowa): menegaskan kenaikan pajak adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah rakyat. Antonio (Ketua Pemuda Katolik Gowa): menggarisbawahi pentingnya transparansi PAD dan menolak kebijakan yang hanya menguntungkan elit. Sigit (Ketua SAPMA PP Gowa): mengecam mafia tanah serta tambang ilegal, dan menegaskan aparat harus netral. Aksi berlangsung kondusif hingga berakhir. Sebagai penutup, Cipayung Plus Gowa menyampaikan apresiasi kepada Polres Gowa dan Kodim 1409 atas pengawalan sejak titik awal hingga aksi selesai dengan aman.

Scroll to Top