Penulis: Ariel Putra Pratama Presidium Forum Literasi Mahasiswa Indonesia
ruminews.id – Setiap bulan Agustus tiba, jalan-jalan utama hingga gang sempit mendadak riuh oleh warna-warni umbul-umbul merah putih. Musik perjuangan membahana dari pengeras suara desa, dan bendera dikibarkan di setiap pekarangan.
Namun, di balik gegap gempita seremoni tahunan ini, ada ruang sunyi yang memaksa kita menatap kembali wajah asli bangsa hari ini. Tinta yang kita goreskan tidak boleh hanya mencatat kemegahan panggung perayaan, melainkan harus berani menyuarakan realita yang sering kali terabaikan di balik tiang bendera.
Kemerdekaan sejatinya adalah janji luhur untuk membebaskan rakyat dari ketakutan, kebodohan, dan penderitaan ekonomi. Namun, ketika kita memandang sekeliling, jurang ketimpangan masih menganga lebar. Pendidikan yang seharusnya menjadi eskalator mobilitas sosial justru masih menjadi barang mewah yang tak merata.
Di saat anak-anak di kota besar menikmati fasilitas pembelajaran berbasis teknologi canggih, masih ada jutaan anak di pelosok negeri yang harus menyeberangi sungai berbahaya atau belajar di bawah atap kelas yang lapuk demi selembar kertas ijazah. Ketika kesempatan belajar ditentukan oleh tebalnya dompet orang tua atau lokasi географиis, maka hakikat “mencerdaskan kehidupan bangsa” belum sepenuhnya tuntas.
Kondisi tersebut berkelindan erat dengan kemiskinan yang masih membendung mimpi-mimpi rakyat kecil. Di tengah narasi pertumbuhan ekonomi, masih banyak orang tua yang terpaksa mengubur cita-cita anaknya karena harus memilih antara membeli beras atau membayar biaya sekolah.
Belum lagi nasib para guru honorer di garis depan pendidikan yang mengabdi dengan sisa-sisa harapan meski menerima upah jauh di bawah batas kelayakan. Ini menandakan bahwa perjuangan bertahan hidup bagi sebagian besar warga adalah ‘perang’ yang saban hari masih berkecamuk.
Menuliskan ketimpangan ini bukanlah bentuk pesimisme, melainkan wujud cinta yang paling jujur terhadap Republik. Merayakan 17 Agustus dengan kesadaran kritis berarti menolak untuk ternina-bobokan oleh retorika manis di atas mimbar.
Tugas kita adalah terus merawat ingatan publik dan mengetuk nurani pemangku kebijakan. Kemerdekaan Indonesia baru menemukan jiwa yang utuh ketika keadilan tak lagi berhenti di papan iklan kota, melainkan sungguh-sungguh dirasakan hingga ke dapur-dapur masyarakat miskin dan ruang-ruang kelas di ujung negeri.