OPINI

M. Arsyi Jailolo: Hijau Hitam, Jalan Pengabdian yang Tak Berhenti.

Penulis: Aditya Pratama – Aktivis HMI

Ruminews.id – ‎Enam tahun lebih bukan sekadar hitungan waktu. Ada banyak jalan yang dilewati, banyak pintu yang diketuk, banyak malam yang habis dalam percakapan tentang HMI, tentang kader, tentang masa depan yang kadang terasa jauh dari jangkauan.

‎Saya masih ingat Arsyi Jailolo ketika berada di BPL HMI Cabang Makassar. Dari ruang-ruang itulah perjalanan itu pelan-pelan menemukan bentuknya. Ia tidak tumbuh hanya dari satu tempat. Dari Enrekang sampai ujung Bulukumba, beberapa cabang di Sulawesi Selatan menjadi saksi bagaimana seorang kader mencoba mengabdikan dirinya untuk hijau hitam.

Enam tahun lebih saya menemani sebagian perjalanan itu. Melihat dari dekat bagaimana seorang anak muda belajar dari jalan yang tidak selalu rata. Ada tawa, ada perdebatan, ada letih yang tidak selalu diceritakan, juga ada keyakinan yang berkali-kali harus dipertahankan. Sampai akhirnya perjalanan itu membawanya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Makassar.

‎Bagi saya, yang menarik dari perjalanan Arsyi bukan semata-mata sampai di mana ia berada hari ini. Justru yang paling berarti adalah jalan yang sudah dilewati sebelum sampai di sana. Sebab kaderisasi tidak selalu melahirkan seseorang dalam satu malam.

‎Kadang ia dibentuk oleh perjalanan panjang, oleh pertemuan-pertemuan kecil, oleh kegelisahan yang terus dipelihara, dan oleh keberanian untuk tetap berjalan ketika banyak orang memilih berhenti.

‎Kini Arsyi Jailolo bakal hadir sebagai kandidat Ketua Umum PB HMI. Ruangnya tentu berbeda. Kalau dahulu gagasan diuji di lingkar-lingkar kecil cabang, maka ruang PB HMI menuntut gagasan yang lebih luas: bagaimana HMI tetap menjadi rumah intelektual, tetap dekat dengan persoalan kader, dan tetap punya keberanian membaca zaman tanpa kehilangan akar perjuangannya.

Di titik ini, saya kira perjalanan saja tidak cukup. Jejak masa lalu penting, tetapi masa depan selalu meminta sesuatu yang baru. HMI membutuhkan gagasan yang tidak hanya terdengar indah ketika dibicarakan, tetapi mampu menjawab kegelisahan kader dan perubahan zaman.

‎Dan di situlah saya memahami satu kalimat sederhana:

HMI NEVER STOP.
‎‎Never Stop bukan sekadar slogan tentang terus bergerak. Ia adalah janji bahwa pencarian tidak boleh selesai hanya karena satu jabatan telah dicapai.

Never Stop untuk berpikir.
‎Sebab HMI lahir dari tradisi intelektual. Kader tidak boleh berhenti bertanya hanya karena sudah merasa menemukan jawaban.

Never Stop untuk belajar.
‎Karena zaman terus berubah. Kader yang berhenti belajar akan tertinggal oleh dunia yang bergerak jauh lebih cepat.

Never Stop untuk mengabdi.
‎Sebab hijau hitam bukan hanya warna yang dikenakan di dada. Ia adalah jalan panjang yang menuntut keberanian untuk tetap hadir ketika masyarakat membutuhkan suara dan kerja nyata.

Never Stop untuk mencari jalan.
‎Karena tidak semua jalan harus lurus. Kadang kita tersesat, kembali, kemudian menemukan arah yang lebih baik. Yang penting bukan tidak pernah jatuh, tetapi tidak menjadikan jatuh sebagai alasan untuk berhenti.

‎Mungkin itulah makna perjalanan enam tahun lebih yang saya lihat dari dekat. Dari BPL, dari cabang-cabang, dari Enrekang hingga Bulukumba, dari HMI Cabang Makassar, sampai hari ini ketika Arsy berdiri sebagai salah satu kandidat Ketua Umum PB HMI.

‎Pada akhirnya, saya tidak ingin perjalanan ini hanya dikenang sebagai perjalanan menuju sebuah posisi. Saya ingin ia dibaca sebagai perjalanan seorang kader yang masih memiliki ruang untuk tumbuh, berpikir, dan melahirkan gagasan baru bagi rumah besar bernama HMI.

‎Bismillahirrahmanirrahim, untuk saudaraku M. Arsyi Jailolo.

Jalan masih panjang. Gagasan masih harus dirawat. Banyak pintu masih harus diketuk.

‎Sebab hijau hitam tidak pernah benar-benar selesai pada satu generasi.

‎HMI NEVER STOP, karena selama masih ada kegelisahan yang harus dijawab, masih ada kader yang harus diperjuangkan, dan masih ada masa depan yang harus dipikirkan, perjalanan ini belum boleh berhenti. Sobat…

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (5)
Mahasiswa di Persimpangan Jalan Perjuangan: September yang Kembali Hanya untuk Diingat
Muzakkir (3)
Skandal ATR/BPN dan Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260919_151934_0000
HIMASKEP dan Jalan Panjang Membangun Generasi Kesehatan yang Berdampak
Sampul Rumi
Skandal ATR/BPN: Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid dan Kredibilitas Pemerintahan Prabowo
Asia Liberty Forum 2026
Cerita dari Sri Lanka: Menemukan Kembali Kebebasan di Asia
Muzakkir (4)
Menteri Keuangan Diganti, Publik Diminta Diam?
Muzakkir (3)
Merawat Api Perjuangan: HMI, Kaderisasi, dan Ikhtiar Menegakkan Keadilan di Tengah Zaman.
Muzakkir (3)
Purbaya Pergi, Arah Fiskal Berubah
Muzakkir (4)
Iran International: Media Independen atau Pabrik Tuduhan?
Muzakkir (3)
Dari Kebijakan Sektoral ke Policy Integration : Membangun Sumber Daya Manusia di Kabupaten Pangkep
Scroll to Top