OPINI

HIMASKEP dan Jalan Panjang Membangun Generasi Kesehatan yang Berdampak

Oleh: Jamrud Betawi — Ketua Umum Himaskep

Ruminews.id — Di tengah perkembangan dunia kesehatan yang semakin dinamis, mahasiswa keperawatan tidak cukup hanya dibekali kemampuan akademik dan keterampilan klinis. Tantangan pelayanan kesehatan ke depan membutuhkan generasi yang mampu berkomunikasi, bekerja dalam tim, beradaptasi terhadap perubahan, memiliki kepemimpinan, serta memahami persoalan kesehatan dari perspektif masyarakat. Dalam konteks tersebut, organisasi mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai ruang pembentukan karakter dan pengembangan kapasitas generasi muda.

Himpunan Mahasiswa Keperawatan (HIMASKEP), karena itu, tidak semestinya dipandang sekadar sebagai tempat berkumpulnya mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang sama. Lebih jauh, HIMASKEP dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan realitas sosial. Organisasi dapat menjadi tempat mahasiswa mengasah kemampuan berpikir kritis, membangun keberanian menyampaikan gagasan, belajar bekerja sama, sekaligus memahami bahwa profesi kesehatan memiliki dimensi kemanusiaan yang sangat kuat.

Kebutuhan tersebut semakin relevan ketika persoalan kesehatan masyarakat terus berkembang. Tenaga kesehatan di masa depan akan berhadapan dengan perubahan teknologi, tuntutan pelayanan yang semakin kompleks, dinamika sosial, serta kebutuhan masyarakat yang terus berubah. Penguasaan ilmu menjadi fondasi penting, tetapi kemampuan menerjemahkan ilmu tersebut ke dalam tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat juga tidak kalah penting.

Di sinilah HIMASKEP dapat mengambil peran. Berbagai aktivitas seperti diskusi ilmiah, pelatihan, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan sosial, kajian kesehatan, hingga kolaborasi lintas organisasi dapat menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa. Kegiatan tersebut seharusnya tidak berhenti pada rutinitas program kerja, tetapi diarahkan menjadi proses yang memberikan pengalaman, pengetahuan, dan kesadaran baru bagi setiap kader dan anggota.

Organisasi mahasiswa juga memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya intelektual. Mahasiswa keperawatan perlu didorong untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu membaca persoalan, mengidentifikasi kebutuhan, mengkaji berbagai alternatif solusi, dan menyampaikan gagasan berdasarkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam proses tersebut, kepemimpinan menjadi salah satu kemampuan yang perlu dibangun sejak dini. Menjadi pemimpin bukan semata-mata tentang memegang jabatan struktural, melainkan tentang kemampuan mengambil tanggung jawab, mendengarkan orang lain, mengambil keputusan secara bijaksana, menyelesaikan persoalan, dan memastikan setiap proses organisasi memberikan manfaat.

Karena itu, keberhasilan HIMASKEP tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak kegiatan yang terlaksana dalam satu periode kepengurusan. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan apa yang terjadi pada anggota setelah mengikuti proses organisasi. Apakah mereka menjadi lebih kritis? Apakah kemampuan komunikasinya berkembang? Apakah mereka semakin memahami persoalan kesehatan masyarakat? Apakah mereka memiliki keberanian untuk berkontribusi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk memastikan organisasi tidak kehilangan tujuan dasarnya sebagai ruang pembentukan generasi.

HIMASKEP juga perlu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Persoalan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu atau satu kelompok saja. Mahasiswa keperawatan perlu terbiasa bekerja bersama mahasiswa dari bidang kesehatan lainnya maupun dengan berbagai elemen masyarakat. Kolaborasi semacam ini bukan hanya memperluas jejaring, tetapi juga mengajarkan pentingnya komunikasi, pembagian peran, dan penghargaan terhadap perspektif yang berbeda.

Pada saat yang sama, organisasi perlu menjaga keseimbangan antara aktivitas internal dan orientasi pengabdian. HIMASKEP harus mampu menjadikan kebutuhan masyarakat sebagai salah satu dasar dalam merancang gerakan dan kegiatan. Dengan demikian, organisasi tidak hanya sibuk membangun dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

Saya percaya bahwa generasi tenaga kesehatan yang berkualitas tidak lahir secara instan. Mereka tumbuh melalui proses panjang: belajar, berdiskusi, mengalami kegagalan, mengevaluasi diri, bekerja bersama orang lain, dan berani mengambil tanggung jawab. Organisasi mahasiswa dapat menjadi salah satu ruang yang menyediakan proses tersebut.

Pada akhirnya, HIMASKEP bukan hanya tentang siapa yang memimpin hari ini. Yang jauh lebih penting adalah generasi seperti apa yang akan lahir dari proses organisasi hari ini. Kepemimpinan dapat berganti, kepengurusan dapat berakhir, dan program kerja dapat selesai. Namun, nilai, pengalaman, pengetahuan, dan karakter yang terbentuk selama proses organisasi dapat terus dibawa oleh setiap anggotanya ke ruang pengabdian yang lebih luas.

HIMASKEP hari ini adalah ruang untuk berproses. Dari ruang tersebut, diharapkan lahir generasi tenaga kesehatan yang tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga karakter, integritas, kepedulian, dan keberanian untuk memberikan kontribusi. Sebab masa depan pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi juga oleh manusia-manusia yang memilih untuk menggunakan pengetahuan tersebut bagi kemaslahatan masyarakat.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (5)
Mahasiswa di Persimpangan Jalan Perjuangan: September yang Kembali Hanya untuk Diingat
Muzakkir (4)
M. Arsyi Jailolo: Hijau Hitam, Jalan Pengabdian yang Tak Berhenti.
Muzakkir (3)
Skandal ATR/BPN dan Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid
Sampul Rumi
Skandal ATR/BPN: Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid dan Kredibilitas Pemerintahan Prabowo
Asia Liberty Forum 2026
Cerita dari Sri Lanka: Menemukan Kembali Kebebasan di Asia
Muzakkir (4)
Menteri Keuangan Diganti, Publik Diminta Diam?
Muzakkir (3)
Merawat Api Perjuangan: HMI, Kaderisasi, dan Ikhtiar Menegakkan Keadilan di Tengah Zaman.
Muzakkir (3)
Purbaya Pergi, Arah Fiskal Berubah
Muzakkir (4)
Iran International: Media Independen atau Pabrik Tuduhan?
Muzakkir (3)
Dari Kebijakan Sektoral ke Policy Integration : Membangun Sumber Daya Manusia di Kabupaten Pangkep
Scroll to Top