OPINI

Mahasiswa di Persimpangan Jalan Perjuangan: September yang Kembali Hanya untuk Diingat

Penulis : Akbar Mujadid Nusantara – Wasekbid P3A HMI Komisariat Hukum UNTIRTA

Ruminews.id – Setiap September, kita kembali mengingat. Ingatan tentang mereka yang hilang. Tentang mereka yang dibungkam. Tentang kekerasan yang pernah terjadi dan keadilan yang belum sepenuhnya menemukan jalannya. September kembali membawa kita pada sejarah yang tidak selesai—sejarah tentang kekuasaan, kekerasan, demokrasi, dan manusia yang pernah menjadi korban dari semuanya.

Di ruang-ruang kampus, diskusi kembali digelar. Poster kembali dibuat. Narasi tentang hak asasi manusia kembali memenuhi media sosial. Jalan-jalan kembali menjadi ruang untuk menyuarakan tuntutan.

Seolah-olah September mempunyai tugas untuk mengingatkan mahasiswa bahwa bangsa ini pernah memiliki luka.
Tetapi di tengah riuhnya peringatan, ada satu pertanyaan yang justru semakin penting untuk diajukan:
Apakah kita benar-benar sedang merawat ingatan, atau hanya sedang mengulang agenda?
Pertanyaan itu menjadi penting karena mahasiswa hari ini sedang berdiri di sebuah persimpangan jalan perjuangan.

Di satu sisi, mahasiswa masih memiliki ruang untuk menjadi kekuatan moral dan intelektual yang mempertanyakan kekuasaan. Di sisi lain, gerakan mahasiswa berhadapan dengan kecenderungan menjadikan perjuangan sebagai rangkaian momentum: muncul ketika ada isu, ramai ketika ada peringatan, lalu perlahan menghilang ketika kalender berganti.

September Hitam pun berisiko mengalami nasib yang sama.
Ia diperingati, tetapi tidak selalu diteruskan.
Ia dibicarakan, tetapi belum tentu dikawal.
Ia dikenang, tetapi belum tentu menjadi energi untuk melakukan sesuatu setelahnya.
Padahal, ingatan tanpa perjuangan hanya akan menjadi arsip.

Paulo Freire mengajarkan bahwa pendidikan tidak semestinya berhenti pada proses memahami realitas. Pendidikan harus melahirkan kesadaran kritis yang memungkinkan manusia membaca realitas sekaligus terlibat dalam upaya mengubahnya. Freire menghubungkan kesadaran dengan praxis: hubungan antara refleksi dan tindakan.

Jika gagasan tersebut ditarik ke dalam kehidupan mahasiswa, maka persoalannya menjadi sederhana tetapi mendasar:

Untuk apa kita mengingat jika ingatan itu tidak mengubah cara kita bertindak?
September Hitam semestinya tidak berhenti pada pengetahuan bahwa pernah terjadi pelanggaran HAM. Ia harus mendorong mahasiswa untuk memahami mengapa kekerasan dapat terjadi, bagaimana kekuasaan bekerja, mengapa impunitas dapat bertahan, dan apa yang dapat dilakukan masyarakat untuk mencegahnya berulang.

Sebab mengetahui ketidakadilan tetapi tidak bergerak terhadapnya hanya menghasilkan manusia yang terinformasi, tetapi tidak tertransformasi.

Di sinilah mahasiswa seharusnya menemukan kembali makna pergerakan.
Kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar. Ia juga merupakan ruang untuk belajar membaca masyarakat. Dan mahasiswa bukan hanya kelompok yang sedang menunggu masuk ke dunia kerja; mahasiswa memiliki posisi sebagai bagian dari masyarakat yang dapat mempertanyakan arah kehidupan publik.

Henry Giroux, dalam gagasannya mengenai critical pedagogy, melihat pendidikan dan mahasiswa dalam kaitannya dengan kehidupan demokratis. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang membentuk warga yang kritis dan terlibat, serta melihat ruang pendidikan sebagai bagian dari ruang publik demokratis.

Artinya, ketika mahasiswa berbicara mengenai persoalan sosial, politik, dan HAM, aktivitas tersebut seharusnya tidak dipandang hanya sebagai kegiatan tambahan di luar perkuliahan.
Ia adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.

Sebab pendidikan yang kehilangan keberanian untuk mempertanyakan ketidakadilan hanya akan melahirkan orang-orang terdidik yang pandai menyesuaikan diri dengan keadaan, tetapi gagap ketika berhadapan dengan ketidakadilan.

Ketika Gerakan Terjebak dalam Kalender Masalah gerakan mahasiswa hari ini mungkin bukan kekurangan keberanian. Bukan pula kekurangan isu. Justru kita hidup di tengah begitu banyak persoalan yang dapat dipersoalkan. Masalahnya adalah kesinambungan.

Kita sering memiliki keberanian untuk berbicara pada hari ketika isu sedang ramai. Tetapi apakah keberanian yang sama masih ada ketika isu tersebut tidak lagi menjadi perhatian publik?

Kita mampu berkumpul dalam satu malam untuk mendiskusikan HAM. Tetapi apakah kita bersedia menghabiskan berbulan-bulan untuk membaca dokumen, mendampingi korban, melakukan advokasi, membangun jaringan, dan mengawal kebijakan?

Kita mampu membuat pernyataan sikap dalam beberapa halaman. Tetapi apakah kita mampu mempertahankan tuntutan ketika tidak ada kamera yang merekam?

Di sinilah pemikiran Charles Tilly mengenai gerakan sosial menjadi relevan. Tilly memahami gerakan sosial bukan sebagai satu aksi tunggal, melainkan sebagai kampanye yang berkelanjutan, dengan berbagai bentuk aksi kolektif dan tuntutan yang diarahkan kepada pemegang kekuasaan. Demonstrasi hanyalah salah satu bagian dari repertoar gerakan, bukan keseluruhan gerakan itu sendiri.

Maka, jika September Hitam hanya menghasilkan satu diskusi, satu aksi, satu poster, atau satu unggahan, kita perlu bertanya:

Apakah itu sudah dapat disebut sebagai gerakan, atau baru sebatas momentum?
Gerakan tidak selesai ketika massa membubarkan diri.
Gerakan tidak selesai ketika mikrofon dimatikan.
Gerakan tidak selesai ketika poster diturunkan.
Dan gerakan tidak seharusnya selesai ketika September berakhir.

Sebab perjuangan yang bergantung pada kalender pada akhirnya akan kalah oleh kalender.
September yang Datang, September yang Pergi
Barangkali yang paling berbahaya bukan ketika mahasiswa berhenti mengingat.
Yang lebih berbahaya adalah ketika mahasiswa hanya mengingat pada saat tertentu.

Setiap September kita berbicara tentang korban.
Setiap September kita berbicara tentang HAM.
Setiap September kita berbicara tentang demokrasi.
Tetapi ketika September selesai, persoalan-persoalan itu perlahan kembali menjadi percakapan yang jauh dari ruang-ruang mahasiswa.

Lalu tahun berikutnya kita mengulanginya.
September datang.
Kita mengingat.
Kita berkumpul.
Kita berbicara.
Kita mengunggah.
Kemudian September berlalu.
Dan kita kembali lupa.

Jika siklus itu terus berlangsung, maka ada sesuatu yang harus kita evaluasi dari gerakan mahasiswa sendiri.
Jangan-jangan kita terlalu sibuk memperingati perjuangan sampai lupa melanjutkan perjuangan.

Jangan-jangan kita terlalu nyaman menjadi generasi yang mewarisi cerita perlawanan, tetapi tidak cukup berani untuk menciptakan cerita perlawanan kita sendiri.

Dan jangan-jangan kita sedang mengubah tragedi sejarah menjadi sekadar agenda tahunan yang harus diselenggarakan karena September telah tiba.

Di Persimpangan Jalan Perjuangan
Di sinilah mahasiswa berada.
Di sebuah persimpangan.

Jalan pertama adalah menjadikan September Hitam sebagai ritual: datang ketika September tiba, mengingat ketika momentum datang, kemudian pulang ketika agenda selesai.

Jalan kedua adalah menjadikan September sebagai pintu masuk menuju perjuangan yang lebih panjang.
Bukan sekadar memperingati.

Tetapi memahami.
Bukan sekadar memahami.
Tetapi mengorganisir.
Bukan sekadar mengorganisir.
Tetapi mengadvokasi.
Dan bukan sekadar mengadvokasi.

Tetapi memastikan bahwa isu yang diperjuangkan tidak mati setelah sorotan publik menghilang.
Karena pergerakan bukan perlombaan untuk menjadi yang paling keras suaranya, melainkan kesediaan untuk menjadi yang paling panjang napas perjuangannya.

Mahasiswa tidak membutuhkan lebih banyak seremoni.
Mahasiswa membutuhkan lebih banyak keberanian untuk bertahan.
Bertahan membaca ketika orang lain mulai bosan.

Bertahan mengawal ketika media mulai berhenti memberitakan.
Bertahan bersolidaritas ketika tidak ada keuntungan yang dapat diperoleh.
Dan bertahan memperjuangkan keadilan ketika perjuangan itu tidak lagi menghasilkan tepuk tangan.
September Boleh Berakhir, Ingatan Jangan September pada akhirnya akan selalu berakhir.

Poster akan diturunkan.
Panggung akan dibongkar.
Mikrofon akan dimatikan.

Orang-orang akan kembali kepada kesibukannya masing-masing.
Tetapi luka tidak mengenal kalender.
Ketidakadilan tidak mengenal September.
Maka yang seharusnya kita takutkan bukanlah berakhirnya September.

Yang seharusnya kita takutkan adalah berakhirnya perjuangan ketika September berakhir.
Sebab September Hitam bukan sekadar tentang bagaimana kita mengingat masa lalu.
Ia adalah tentang bagaimana masa lalu membentuk keberanian kita menghadapi hari ini.
Dan pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukan lagi:

“Apakah kita masih mengingat?”

Tetapi: “Apa yang kita lakukan setelah mengingat?”

Sebab ingatan yang tidak melahirkan kesadaran hanya akan menjadi kenangan.

Kesadaran yang tidak melahirkan tindakan hanya akan menjadi wacana.

Dan tindakan yang tidak memiliki kesinambungan hanya akan menjadi momentum.

Di persimpangan jalan perjuangan ini, mahasiswa harus menentukan sendiri ke mana langkahnya akan diarahkan.
Apakah September akan terus kembali hanya untuk diingat, atau ingatan tentang September akan menjadi alasan untuk terus bergerak setelah September pergi?

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (4)
M. Arsyi Jailolo: Hijau Hitam, Jalan Pengabdian yang Tak Berhenti.
Muzakkir (3)
Skandal ATR/BPN dan Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260919_151934_0000
HIMASKEP dan Jalan Panjang Membangun Generasi Kesehatan yang Berdampak
Sampul Rumi
Skandal ATR/BPN: Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid dan Kredibilitas Pemerintahan Prabowo
Asia Liberty Forum 2026
Cerita dari Sri Lanka: Menemukan Kembali Kebebasan di Asia
Muzakkir (4)
Menteri Keuangan Diganti, Publik Diminta Diam?
Muzakkir (3)
Merawat Api Perjuangan: HMI, Kaderisasi, dan Ikhtiar Menegakkan Keadilan di Tengah Zaman.
Muzakkir (3)
Purbaya Pergi, Arah Fiskal Berubah
Muzakkir (4)
Iran International: Media Independen atau Pabrik Tuduhan?
Muzakkir (3)
Dari Kebijakan Sektoral ke Policy Integration : Membangun Sumber Daya Manusia di Kabupaten Pangkep
Scroll to Top