OPINI

Paradoks Kebijakan Pendidikan: Ketika Janji Belum Menjadi Kepastian

Penulis: Renaldi Al-Faridzi M – Mahasiswa

ruminews.id – Janji politik bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan saat kampanye. Janji adalah komitmen yang menjadi dasar lahirnya kepercayaan masyarakat kepada seorang pemimpin. Ketika sebuah janji menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, seperti upaya meringankan biaya pendidikan, maka masyarakat berhak berharap bahwa komitmen tersebut akan diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang nyata.

Sebaliknya, apabila pelaksanaannya terus tertunda tanpa kepastian yang jelas, kepercayaan publik perlahan akan berubah menjadi keraguan. Situasi inilah yang kini menjadi perhatian masyarakat di Kota Palopo terkait program seragam sekolah gratis. Program yang sebelumnya disampaikan sebagai salah satu komitmen pemerintah hingga kini belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Di tengah dimulainya tahun ajaran baru, banyak orang tua tetap harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli seragam sekolah anak-anak mereka agar dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar. Bagi keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, pengeluaran tersebut tentu menjadi beban tambahan yang seharusnya dapat dikurangi apabila program berjalan sesuai harapan.

Persoalan ini sesungguhnya bukan hanya tentang seragam sekolah. Yang menjadi sorotan adalah kepastian pelaksanaan sebuah kebijakan publik. Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan, melainkan mengharapkan adanya kepastian mengenai kapan program akan dilaksanakan, siapa yang menjadi penerima
manfaat, serta bagaimana mekanisme pelaksanaannya. Ketika informasi tersebut tidak disampaikan secara terbuka, ruang publik akan dipenuhi oleh pertanyaan, spekulasi, bahkan kekecewaan.

Dalam pemerintahan yang demokratis, komunikasi kepada masyarakat sama pentingnya dengan pelaksanaan program itu sendiri. Pemerintah tentu dapat menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi administrasi, regulasi, maupun teknis di lapangan. Namun, kendala tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk membiarkan masyarakat berada dalam ketidakpastian. Keterbukaan mengenai perkembangan program justru menunjukkan adanya tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi.

Di sisi lain, program seragam sekolah gratis memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan pakaian kepada peserta didik. Program ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah terhadap pemerataan akses pendidikan dan upaya meringankan beban ekonomi keluarga. Ketika pelaksanaannya mengalami keterlambatan, yang terdampak bukan hanya kondisi keuangan orang tua, tetapi juga persepsi masyarakat terhadap komitmen pemerintah dalam memenuhi janji yang telah disampaikan.

Bukan masyarakat yang terlalu cepat menagih janji, melainkan waktu yang terus berjalan tanpa kepastian. Setiap hari yang berlalu membuat harapan publik sedikit demi sedikit berubah menjadi kekecewaan. Diamnya pemerintah di tengah pertanyaan masyarakat hanya akan memperlebar jarak antara pemimpin dan rakyat yang pernah menaruh harapan besar. Sebab, dalam politik, yang paling mudah diucapkan adalah janji, tetapi yang paling sulit adalah membuktikannya.

Masyarakat Palopo tidak sedang meminta sesuatu yang mewah. Mereka hanya menunggu realisasi dari komitmen yang pernah disampaikan di hadapan publik. Kepercayaan rakyat bukanlah sesuatu yang dapat diminta untuk terus bersabar tanpa batas. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan. Ketika janji dibiarkan menggantung terlalu lama, masyarakat berhak mempertanyakan sejauh mana keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan mereka.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pemerintahan tidak diukur dari seberapa banyak program yang diumumkan atau seberapa indah narasi yang disampaikan kepada publik. Keberhasilan diukur dari manfaat yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Rakyat tidak akan mengingat siapa yang paling lantang menjanjikan perubahan, tetapi akan selalu mengingat siapa yang mampu menepati janjinya. Sebab sejarah tidak pernah mencatat banyaknya janji, melainkan keberanian untuk membuktikannya.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (1)
MBG di Bawah Sorotan Dugaan ladang Korupsi, Kasus Keracunan, dan Lemahnya Pengawasan Negara.
Iman Amirullah
Demokrasi Prosedural dan Kolapsnya Politik Partisipatori Sejati
Rawnlins Kenheta
Menolak Lupa di Mimbar Akademik: Catatan Kritis Atas Eskapisme Pejabat di UGM
Muzakkir (5)
Takalar Cepat: Dari Potensi Alam Menuju Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Muzakkir (4)
Menenun Masa Depan Takalar: Akselerasi Digital dan Investasi Kemanusiaan yang Berkelanjutan
Muzakkir (3)
Takalar Surga Tersembunyi yang Kini Terhubung Digital
Muzakkir (2)
Visi dan Misi Ekonomi Digital Kabupaten Takalar
Muzakkir (1)
Digitalisasi Takalar: Antara Aspirasi Kemajuan dan Tantangan Pemerataan
Muzakkir (3)
Takalar Cepat Berbasis Digitalisasi
Muzakkir (2)
Takalar cepat : Ketika Daerah Berani Bertranformasi di Era Society 5.0
Scroll to Top