Penulis : A Fahrul Ar – Dewan Pengawas Organisasi HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2026-2027
Ruminews.id – Dalam definisi Media sosial adalah platform digital yang memungkinkan orang untuk membuat, membagikan, menerima, dan menanggapi informasi serta berinteraksi dengan orang lain melalui internet. Dan menurut Andreas M. Kaplan dan Michael Haenlein (2010) Media sosial merupakan kelompok aplikasi berbasis internet yang memungkinkan terciptanya dan pertukaran konten yang dibuat oleh pengguna (user-generated content).
Jadi, pengguna tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat membuat dan menyebarkannya. Dalam dua definisi tersebut dapat kita tarik satu kesimpulan bahwa media adalah alat untuk mempermudah penyebaran informasi. Sekilas tidak ada yang bermasalah dalam hal tersebut, tapi ketika kita berpikir lebih terbuka terkait persoal itu, media sosial juga dapat kita liat sebagai alat yang dapat mengontrol cara berpikir dan cara pandang seseorang maupun masyarakat luas karena jangkauannya yang sangat luas.
Dalam pandangan kali ini saya mengajak teman teman untuk lebih mengkaji permasalahan ini secara terbuka dalam forum forum formal maupun non formal. Ketika kita melihat media sosial sebagai alat yang dapat mengkontrol arah berpikir ataupun cara berpandang masyarakat tentu ini sangat lah berbahaya karena memungkinkan terjadinya kesalah pahaman terkait sesuatu yang terjadi. Dan ketika kita menganalisis lebih dalam lagi media sosial kerap dijadikan sebagai alat propaganda untuk mempengaruhi masyarakat.
Terlihat tidak ada yang janggal dalam kasus tersebut tetapi apakah teman teman memperhatikan karakter berpikir masyarakat sekarang dan masyarakat dulu sangat lah amat jauh berbeda? Kira kira apa yang membuat hal tersebut terjadi? Yap saya mendapatkan satu jawaban yaitu adanya pengaruh media sosial dikhalayak luas yang mempengaruhi cara berpikir hingga cara memandang sesuatu.
Arah berpikir masyarakat sekarang telah ditentukan oleh propaganda yang ditampilkan oleh media sosial yang membuat kebanyakan masyarakat cepat membuat sebuah asumsi yang tak berdasarkan analisis panjang maupun pengkajian yang lebih dalam, kita liat dalam beberapa kasus dalam pembakaran gedung DPRD Kota makassar yang terjadi pada tahun 2025 kemarin, bisa kita liat bahwa pemicu awal terjadinya pembakaran oleh massa adalah propaganda yang hadir dimedia sosial yang mengakibatkan kemarahan dimasyarakat memuncang dan dampaknya adalah pembakaran gedung DPRD kota makassar oleh oknum, ini hanya salah satu kasus dari banyaknya kasus yang terjadi di indonesia akibat giringan opini oleh media sosial, dan pada akhirnya itu merugikan juga bagi masyarakat karna pembangun gedung DPRD Kota makassar adalah bersumber dari pajak rakyat.
Dan pertanyaan terakhir adalah apakah pola berpikir masyarakat telah ditentukan sedari awal atau media sosial yang membentuk cara berpikir masyarakat luas?