Penulis: Rahmatullah Usman ( Buruh Tinta)
ruminews.id – Kritikus Mazhab Frankfurt, Herbert Marcuse memandang bentuk baru dari sebuah pengontrolan manusia melalui rasionalitas teknologi, yang dianggap paling rasional dalam membentuk cara manusia berbudaya. Rasionalisasi atas kemajuan industri, tampak nyata dalam membantu manusia membuat keputusan; standar hidup, orientasi, kesadaran, dan kenyamanan. Singkatnya, tata surya dari kesadaran manusia diserahkan oleh kuasa teknologi.
Kondisi tersebut menjadi ironi manusia, ia ditampilkan sebagai yang “rasional”, dan secara tidak langsung menandakan irasionalitas manusia. Marcuse mengatakan: “Sekali lagi, kita dihadapkan dengan salah satu aspek yang paling mengganggu dari peradaban industri maju; karakter rasional dari irasionalitasnya. Produktivitas dan efisiensi, kapasitasnya untuk meningkatkan dan menyebarkan kenyamanan, untuk mengubah kesia-siaan menjadi kebutuhan……”, (2000:13).
Kolonialisme berupaya untuk membuat sketsa wajah baru bagi masyarakat untuk membentuk pengontrolan terhadapnya. Melalui ledakan industri, tampak segalanya menjadi rasional. Ketika kenyamanan diubah menjadi kesia-siaan, yang sesungguhnya harus ditolak. Namun, berkat rasional dari irasional tersebut menjadi kebutuhan.
Pengontrolan ini, sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang menjadi ukuran dari segalanya. Sehingga, upaya untuk menciptakan kehidupan baru bagi manusia, diciptakanlah desain kehidupan yang dikontrol oleh sains dan teknologi. Dengan saran yang tersedia saat ini, pikiran, kesadaran, dan kebudayaan masyarakat,
meminjam istilah Marcuse sebagai “manusia satu dimensi”.
Ali Khamenei menggambarkan sedemikian rupa bagaimana cara kolonialisme membentuk manusia satu dimensi dengan menarasikan masa depan manusia sebagai abad dari sains dan teknologi. Yang berupaya untuk menyingkirkan kebudayaan masyarakat dan agamanya.
“Digambarkan di dalamnya bahwa abad masa depan adalah abad atom, elektronik, dan kemajuan ilmu pengetahuan ruang angkasa yang mencengangkan. Jelas, semua itu refleksikan betapa hampanya alam ini dari pemikiran yang berbobot”, tegas Ali Khamenei (2023:55).
Narasi kolonialisme di atas dalam melancarkan kekuasaannya terhadap dunia Timur, yang menganggap mereka (Timur) harus dibantu dengan caranya sendiri. Barat melihat Timur sebagai wadah mereka untuk melakukan eksperimen manusia. Dengan menggunakan sarana dan prasarana sains dan teknologi, mereka mencoba mencabut akar dari kebudayaan Timur dan menawarkan kebudayaan mereka (Barat). Atau kata Ali Khamenei, tercerabutnya agama dan spiritualitas sampai ke akar-akarnya. Tak ada lagi gambaran setelah itu (2023:55).
Melancarkan Budaya Saintisme
Kolonialisme Barat melakukan eksplorasi ilmu pengetahuan untuk menjinakkan Timur dan menguasai geografisnya. Di mata Barat, Timur adalah “yang lain” yang siap untuk dilakukan uji coba atas penemuan-penemuan mereka. Salah satu modal utama mereka untuk mengganti kebudayaan Timur, adalah melancarkan serangan budaya sains dan teknologi. Kolonialisme ingin memodifikasi Timur sebagai manusia modern menurut
selera mereka.
Roger Trigg dalam Heriyanto menggambarkan dominasi budaya saintisme dalam peradaban modern: “Metode-metode dalam penemuan-penemuan sains modern telah mendominasi dunia……. kesuksesan dan kemajuan ilmiah telah diterima begitu saja sebagai kebenaran……. konsepsi dunia ilmiah mendikte apa yang boleh diterima secara
filosofis”, (2003:65).
Proyek peradaban sains modern Barat telah membatasi pikiran manusia hanya pada fakta dan data-data ilmiah yang mendikte kebenaran sains. Modus ini, bagi Ali Khamenei sebagai cara kolonialisme memisahkan agama dan spiritualitas bangsa Timur. Baginya, perkembangan ilmu pengetahuan di Barat dan kemajuan industri dari abad 19 dan 20 yang disebut abad pencerahan itu erat kaitannya dengan pemisahan agama dan spiritualitas (2023: 56) dari bangsa Timur.
Kolonialisme tahu bahwa tradisi keagamaan Timur sangat kuat ketika mereka dihidupkan dan bangsa Timur bersatu. Oleh karena itu, Barat dengan keloninya berupaya untuk menyingkirkan kebudayaan masyarakat Timur yang religius yang hidup dengan agamanya.
Ali Khamenei mengamati bahwa seluruh kekuatan dunia (Barat dan keloninya) sepakat penghapusan terhadap eksistensi agama. Barat kata Ali Khamenei, mereka bukan bermaksud menghapus “nama agama”, melainkan menjauhkan makna hakiki dari agama (2023:56). Agama bukan lagi sebagai pandangan dunia bagi bangsa Timur,
melainkan sebagai bentuk kegiatan normatif fenomena masyarakat.
Hasil pencerahan di abad 18 telah menimbulkan budaya saintisme yang mendominasi, dan menjadi alat kuasa kolonialisme untuk mendikte budaya Timur. Tampak jelas, bahwa cara berpikir ini telah merasuki budaya Timur. Masyarakat telah dipengaruhi cara berpikir angka dan kegunaan. Segala sesuatu telah diukur oleh angka. Termaksud agama.
Fenomena agama kini diukur dari standar hidup modern; dengan acara keagamaan di gedung/hotel mewah. Dan busana sebagai ukuran dari ketebalan iman seseorang dengan harga fantastis. Horkheimer dan Adorno melihat pencerahan di Barat begitu masif dalam mengendalikan pikiran dan kesadaran manusia. Khususnya, dalam cara pandang nilai guna dan angka: “Bagi pencerahan, apapun yang tidak sesuai dengan aturan perhitungan dan kegunaana dalah dicurigai. Sepanjang ia tidak terganggu dengan setiap tekanan luar…..”, (2014:33).
Timur tidak dibiarkan oleh kolonial menemukan dirinya sendiri dan membangun peradaban mereka. Bagi kolonialisme, Timur adalah tempat wahana mereka bermain dan bernostalgia. Barat selalu menganggap bangsa Timur tidak mampu untuk membangun bangsanya, ia tidak bisa menampilkan dirinya sebagai bangsa Timur. Maka,
mereka patut untuk dibantu.
Edwar W. Said, menggambar analisisnya tentang cara kerja kolonialisme menafsirkan Timur: “Bahwa seandainya dunia Timur dapat menampilkan dirinya sendiri, maka tentu ia akan melakukannya, namun karena ia tidak mampu melakukannya, namun para orientalis/kolonial merasa perlu untuk mewakilinya dalam bentuk teks-teks imajinatif dan ilmiah’, (2016:31).
Dengan penyebaran ilmu pengetahuan: karya-karya sastra dan sains ilmiah, Barat mewakili Timur untuk menjelaskan dirinya. Mereka, melakukan representasi terhadap Timur melalui teks-teks dalam karya sastra mereka dengan imajinatif dan dengan kata kunci Ilmiah.
Analisis Ali Khamenei dengan cara kolonialisme di atas, seperti fenomena keagamaan dibiarkan tetap eksis; namun itu merupakan penampilan lahiriah tanpa isi. Perilaku agama semacam itu, dalam pandangannya telah tercerabut dari akar keimanan yang realistis (2023:56).
Bersambung……………..