Penulis : Asrar – Mahasiswa UIN ALAUDDIN MAKSSAR
ruminews.id – Setiap hari manusia melakukan berbagai tindakan yang dianggap baik. Membantu sesama, menyuarakan keadilan, berdonasi, hingga menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sosial. Namun, di tengah banyaknya tindakan yang dipuji sebagai kebaikan, ada satu pertanyaan yang sering terlewat: apakah yang lebih kita kejar adalah menjadi baik atau terlihat baik?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika kehidupan semakin dipenuhi ruang untuk menampilkan diri. Melalui media sosial, setiap tindakan dapat direkam, dibagikan, dan mendapat respons dari publik. Kebaikan yang dahulu cukup dilakukan kini sering kali juga ditampilkan. Akibatnya, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada tindakan, tetapi juga pada bagaimana tindakan itu dipersepsikan oleh orang lain.
Gagasan ini sejalan dengan refleksi yang diangkat dalam buku Mens Rea karya Yanuar Arifin. Dalam persoalan moral, tindakan bukan satu-satunya hal yang penting. Di balik setiap keputusan terdapat niat yang memberi makna pada tindakan tersebut. Dua orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi didorong oleh motif yang berbeda. Dari luar keduanya tampak serupa, sementara dari dalam keduanya mungkin berjarak sangat jauh.
Di sinilah letak salah satu dilema manusia modern. Persoalannya bukan lagi sekadar membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Persoalan yang lebih rumit adalah membedakan ketulusan dari kepentingan yang menyamar sebagai ketulusan. Seseorang dapat membantu, mendukung, atau berkontribusi pada banyak hal yang bermanfaat. Namun ketika pengakuan, citra diri, dan validasi sosial ikut menjadi tujuan, batas antara kepedulian dan kepentingan menjadi semakin kabur.
Fenomena tersebut tidak berarti bahwa setiap tindakan yang dipublikasikan pasti kehilangan nilai moralnya. Tidak sedikit orang yang membagikan aktivitas sosial untuk mengajak orang lain berbuat hal yang sama. Masalahnya muncul ketika pengakuan menjadi tujuan utama, sementara tindakan hanya berfungsi sebagai sarana untuk membangun citra. Pada titik itu, kebaikan berisiko berubah menjadi pertunjukan, dan nilai moralnya tidak lagi sesederhana yang tampak di permukaan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan etika saat ini bukan hanya bagaimana bertindak dengan benar, tetapi juga bagaimana menjaga kejujuran terhadap alasan yang mendorong tindakan tersebut. Di tengah budaya yang memberi ruang besar bagi pencitraan, manusia dituntut untuk lebih sering memeriksa dirinya sendiri daripada sibuk menilai orang lain. Sebab tidak semua kepentingan hadir secara terang-terangan. Sebagian justru datang dengan wajah yang menyerupai ketulusan.
Pada akhirnya, kehidupan moral tidak selalu berada dalam wilayah hitam dan putih. Tidak semua tindakan yang tampak baik lahir dari niat yang sepenuhnya tulus, sebagaimana tidak semua kesalahan berawal dari niat buruk. Karena itu, ukuran kebaikan tidak cukup berhenti pada apa yang terlihat. Kebaikan memperoleh maknanya ketika tindakan, nilai, dan niat berjalan dalam arah yang sama. Di tengah dunia yang semakin ramai oleh penampilan, mungkin kejujuran terhadap niat adalah bentuk integritas yang paling sulit sekaligus paling penting untuk dipertahankan.