Penulis : A. Rachmat Ady Ullang – Sekretaris Umum HMI Cabang Bantaeng
Ruminews.id – Delapan puluh satu tahun bukan usia yang singkat bagi sebuah bangsa. Dalam rentang waktu itu, Indonesia telah melewati berbagai fase sejarah: mempertahankan kemerdekaan, membangun fondasi negara, menghadapi krisis, hingga memasuki era digital yang penuh perubahan. Banyak hal telah dicapai, tetapi di tengah berbagai kemajuan tersebut, satu pertanyaan tetap layak diajukan, ‘Indonesia seperti apa yang sebenarnya sedang kita bangun?’
Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika kita menengok kembali gambaran tentang ‘Indonesia Sederhana’. Sebuah Indonesia yang hidup dekat dengan alam, mengenali lingkungannya, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan membangun kehidupan dari kemampuan yang dimiliki. Kesederhanaan pada masa itu bukan sekadar keterbatasan, melainkan cara hidup yang melahirkan kemandirian, pengetahuan, dan solidaritas sosial.
Indonesia dahulu mungkin sederhana. Namun kesederhanaan itu tidak selalu identik dengan keterbelakangan.
Di dalamnya terdapat kemampuan untuk bertahan, memahami kebutuhan, menjaga keseimbangan dengan lingkungan, dan membangun hubungan sosial yang kuat. Ada kesadaran bahwa kehidupan tidak hanya tentang memiliki lebih banyak, tetapi juga tentang memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan.
Hari ini Indonesia telah berubah jauh. Kita hidup di tengah perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi digital, industri modern, kendaraan listrik, dan berbagai inovasi yang dahulu hanya menjadi bayangan masa depan. Kemajuan tersebut patut diapresiasi karena menunjukkan kemampuan bangsa untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Namun kemajuan juga menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar, ‘apakah semakin modern Indonesia, semakin berdaulat pula rakyatnya?’
Sebab kemajuan tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan.
Sebuah negara dapat memiliki gedung pencakar langit, tetapi masih memiliki anak-anak yang kesulitan memperoleh pendidikan yang layak. Kawasan industri dapat tumbuh dengan cepat, tetapi masyarakat di sekitarnya belum tentu menikmati manfaat yang sepadan. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi kekayaan itu tidak otomatis menjadi kemakmuran apabila rakyat tidak memiliki akses dan kendali terhadap pengelolaannya.
Karena itu, ‘Indonesia Sederhana’ tidak seharusnya dipahami sebagai ajakan untuk kembali ke masa lalu. Ia justru dapat menjadi cermin untuk menilai arah masa depan.
Kita tidak perlu kembali sederhana dalam teknologi. Kita tidak perlu meninggalkan inovasi, industri, atau kemajuan ekonomi. Yang perlu kita kembalikan adalah kesederhanaan dalam memahami tujuan pembangunan ‘manusia’.
-Kesederhanaan sebagai Kedaulatan
Indonesia dianugerahi kekayaan yang luar biasa. Tanah yang subur, laut yang luas, hutan, energi, mineral, kebudayaan yang beragam, serta sumber daya manusia yang besar.
Namun kekayaan tidak otomatis melahirkan kedaulatan.
Kedaulatan lahir ketika bangsa mampu mengelola kekayaannya sendiri, mengembangkan ilmu pengetahuannya sendiri, membangun teknologinya sendiri, dan memastikan manfaat pembangunan kembali kepada masyarakat.
Dalam konteks ini, kesederhanaan memiliki makna yang berbeda.
Sederhana bukan berarti miskin.
Sederhana berarti memahami apa yang benar-benar dibutuhkan.
Sederhana berarti pembangunan tidak kehilangan arah.
Sederhana berarti teknologi tetap menjadi alat untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan sebaliknya.
Sederhana berarti negara tidak hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan hidup yang bermartabat.
-Delapan Puluh Satu Tahun dan Pertanyaan tentang Cita-Cita
Pada usia 81 tahun, Indonesia tidak cukup hanya menghitung jumlah jalan yang dibangun, investasi yang masuk, atau pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Yang lebih penting adalah mengevaluasi sejauh mana pembangunan tersebut benar-benar meningkatkan kualitas kehidupan rakyat.
Tema mIndonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’ seharusnya tidak berhenti sebagai slogan peringatan kemerdekaan. Tema tersebut perlu menjadi ukuran untuk menilai perjalanan bangsa.
Berdaulat berarti mampu menentukan arah sendiri.
Adil berarti manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Makmur berarti hasil pembangunan benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan. Tidak mungkin ada kemakmuran tanpa keadilan. Tidak mungkin ada keadilan tanpa institusi yang kuat. Dan tidak mungkin ada kedaulatan apabila rakyat tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Karena itu, makna kemerdekaan perlu dipahami lebih luas. Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah kemampuan sebuah bangsa untuk menentukan masa depannya sendiri.
-Indonesia yang Sederhana, tetapi Tidak Kecil
Indonesia tidak membutuhkan kesederhanaan karena tidak mampu maju. Indonesia membutuhkan kesederhanaan karena mampu membedakan antara kemajuan dan keserakahan.
Indonesia boleh menjadi negara industri. Indonesia boleh menjadi kekuatan ekonomi. Indonesia harus menguasai teknologi. Indonesia harus mampu bersaing dalam geopolitik global.
Namun semua itu tidak boleh membuat bangsa ini kehilangan akar dan tujuan. Pembangunan harus membuat rakyat semakin berdaya, bukan semakin bergantung. Teknologi harus memperluas kesempatan, bukan memperlebar kesenjangan.
Kekayaan alam harus menjadi sumber kesejahteraan, bukan sumber ketimpangan. Pendidikan harus membebaskan pikiran, bukan sekadar menghasilkan ijazah. Dan kekuasaan harus menjadi alat pelayanan publik, bukan alat mempertahankan kepentingan.
-Merdeka untuk Apa?
Setelah 81 tahun, pertanyaan paling penting bukan lagi apakah Indonesia telah merdeka.
Jawabannya sudah jelas.
Pertanyaan yang lebih penting adalah, ‘untuk apa kemerdekaan itu digunakan?’
Jika kemerdekaan hanya menghasilkan pergantian penguasa, maka perjuangan belum selesai. Jika kemerdekaan belum mampu menghadirkan keadilan, maka cita-cita belum selesai. Jika kemerdekaan belum membuat rakyat mampu berdiri dengan kemampuannya sendiri, maka perjalanan belum selesai. Dan jika kemerdekaan belum mampu membawa manusia Indonesia hidup dengan martabat, maka kita masih memiliki pekerjaan sejarah yang harus dituntaskan.
Pada akhirnya, Indonesia didirikan bukan hanya untuk menjadi negara yang kuat, tetapi juga negara yang memanusiakan manusia. Mungkin itulah pelajaran paling penting dari ‘Indonesia Sederhana’. Kita boleh bergerak jauh ke masa depan, membangun teknologi yang semakin maju, memperkuat ekonomi, dan meningkatkan daya saing bangsa. Namun jangan sampai kita melupakan untuk siapa masa depan itu dibangun.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan hanya seberapa tinggi gedung yang dibangunnya atau seberapa besar pertumbuhan ekonominya, melainkan seberapa bermartabat manusia yang hidup di dalamnya.
Indonesia harus besar dalam cita-cita, maju dalam peradaban, kuat dalam kemandirian, dan tetap sederhana dalam cara berpikir: bahwa negara hadir untuk rakyat, pembangunan menghadirkan keadilan, kekayaan menghasilkan kemakmuran, dan kemajuan menjaga kemanusiaan.
Itulah Indonesia yang seharusnya terus kita perjuangkan.