Author name: Fikri Haikal

Daerah, Makassar, Pemerintahan

Munafri Perjuangkan Aspirasi Warga Pulau: Listrik, Dermaga, dan Sekolah Rakyat

ruminews.id, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyampaikan sejumlah aspirasi masyarakat pesisir dan kepulauan di Kota Makassar kepada pemerintah pusat melalui Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, yang melakukan kunjungan kerja ke Makassar, Kamis (28/8/2025). Dalam pertemuan yang berlangsung di Balai Kota Makassar, Munafri menegaskan komitmennya memperjuangkan kebutuhan dasar masyarakat pulau, khususnya terkait ketersediaan listrik, pembangunan dermaga, hingga akses pendidikan yang layak. Aspirasi masyarakat kepulauan ini penting menjadi perhatian bersama. Listrik PLN di pulau-pulau kita masih belum maksimal, sementara dermaga juga sangat dibutuhkan untuk mobilitas warga dan perekonomian. Selain itu, pembangunan Sekolah Rakyat di kepulauan bisa menjadi solusi agar anak-anak tidak putus sekolah. Menurutnya, rencana pembangunan Sekolah Rakyat di kawasan perkotaan cukup sulit karena keterbatasan lahan. Oleh karena itu, Munafri mengusulkan agar sekolah tersebut didirikan di salah satu pulau yang ada di bawah kewenangan Pemkot Makassar. “Kami ingin ada satu pulau dijadikan pusat pendidikan, mulai tingkat SD, SMP hingga SMA,” ujar Munafri, saat menerima rombongan MPR tersebut. “Dengan begitu, anak-anak bisa berkumpul dan melanjutkan sekolah tanpa terhenti di tengah jalan. Hal ini tentu perlu ditunjang dengan jaringan listrik dan infrastruktur lain,” tambah Appi menjelaskan. Selain sektor pendidikan, Munafri juga menekankan perlunya perhatian pada layanan kesehatan dan insentif bagi tenaga pendidik maupun tenaga kesehatan yang bertugas di wilayah kepulauan, yang masuk kategori daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Saat ini, Kota Makassar memiliki delapan pulau berpenghuni dengan jumlah penduduk sekitar 12 ribu jiwa. Kebutuhan energi warga masih mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), yang sangat bergantung pada distribusi solar. “Kalau pengiriman solar bermasalah, otomatis pasokan listrik juga terhenti. Ini kami terus mencari solusi agar PLN bisa memaksimalkan kebutuhan di Pulau,” jelasnya. Sedangkan kaitan di dalam Kota, Munafri Arifuddin, menegaskan persoalan sampah menjadi salah satu fokus utama pemerintah kota dalam pembangunan lingkungan berkelanjutan. Hal itu ia sampaikan saat membahas kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang dan strategi penanganan sampah yang kini menjadi perhatian serius Pemkot Makassar. Menurut Munafri, TPA Antang saat ini menampung timbunan sampah yang sudah berlangsung puluhan tahun dengan luas area sekitar 19 hektare dan ketinggian mencapai 16–17 meter. Kondisi tersebut dinilai rawan menimbulkan risiko lingkungan, bahkan berpotensi membahayakan. Persoalan hari ini adalah di TPA. Timbunan sampah sudah berlapis puluhan tahun “Kalau tidak dikelola dengan teknologi tepat, risikonya bisa berbahaya, bahkan sewaktu-waktu bisa meledak. Karena itu, kami sedang mencari teknologi yang tepat agar persoalan ini bisa diselesaikan secara tuntas,” tutur Munafri. Ia menegaskan, Pemkot Makassar hanya akan membawa residu sampah ke TPA, sementara pengolahan harus dilakukan sejak dari sumber. Sejumlah langkah pun telah ditempuh, mulai dari optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), pemanfaatan bank sampah, hingga mendorong partisipasi aktif masyarakat. “TPS 3R dari pemerintah pusat sudah diserahkan ke kita, tapi kondisinya masih harus dimaksimalkan kembali. Dengan adanya bank sampah, kita coba kelola lebih maksimal agar sampah bisa dipilah dan diolah sejak dari rumah tangga,” ujarnya. Munafri juga mengungkapkan strategi kolaboratif dengan melibatkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kelompok masyarakat, bahkan partai politik untuk ikut terjun langsung membina warga di tingkat RT. “Contohnya SKPD besar seperti Dinas PU bisa membina minimal dua RT. Partai politik juga bisa ikut membina. Jadi semua pihak bisa berkolaborasi menangani persoalan sampah,” tambahnya. Selain itu, Pemkot Makassar tengah menunggu kepastian pembangunan PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang menjadi salah satu program prioritas nasional dalam pengelolaan sampah perkotaan. Sejumlah perusahaan telah menjajaki kerja sama dengan pemerintah, namun masih dalam tahap penjajakan untuk menentukan mitra yang paling tepat. “Kami tidak menolak pembangunan PSEL, malah konsentrasi penuh agar bisa segera terwujud. Kami berharap pengolahan sampah berjalan lancar sehingga hanya residu yang masuk ke TPA,” terangnya. Dengan berbagai langkah tersebut, Munafri berharap persoalan sampah yang selama ini membebani Makassar dapat teratasi secara bertahap dan berkelanjutan. “Untuk itu, kami terus melakukan konsultasi dengan pemerintah pusat maupun calon investor,” lanjutanya. Pada kesempatan ini, Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam menyiapkan solusi strategis untuk mengatasi persoalan persampahan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu langkah konkret yang tengah diformulasikan adalah pembangunan 33 unit incinerator di sejumlah daerah dengan kapasitas minimal 1.000 ton sampah per hari. “Bersama Menteri Lingkungan Hidup, kami sudah memformulasikan beberapa inisiatif terkait pengelolaan sampah. Daerah yang TPA-nya sudah penuh mau tidak mau harus mencari alternatif, bahkan ada yang menyewa lahan sementara,” ujarnya. Menurutnya, persoalan pengelolaan sampah selama ini terhambat oleh regulasi dan skema pembiayaan. Namun, pemerintah kini sedang merevisi Peraturan Presiden (Perpres) terkait pengelolaan sampah agar mekanismenya lebih sederhana dan menarik bagi investor. Selama ini masalah muncul karena urusan lahan dan skema tipping fee. Ke depan, seluruh kewenangan akan berada di perusahaan pengelola. Daerah cukup menyiapkan lahan dan memastikan ketersediaan sampah. Jadi, tipping fee secara harfiah adalah biaya yang dibayar untuk menumpahkan atau mengosongkan sampah di fasilitas yang telah ditentukan. “Tidak ada lagi tipping fee, karena harga jual listrik dari sampah yang dibeli PLN sudah cukup tinggi, rata-rata 13–14 persen per kWh, dan sekarang bisa mencapai 20 persen,” paparnya. Dengan skema tersebut, investor akan lebih mudah terlibat karena kepastian bisnis lebih terjamin. Sampah yang masuk ke incinerator akan dibakar, menghasilkan uap, lalu diolah menjadi listrik yang langsung diserap oleh PLN. Setiap incinerator minimal harus mengolah 1.000 ton sampah per hari. Kalau ada daerah yang kapasitasnya kecil, akan digabungkan dengan wilayah lain agar tetap memenuhi standar. “Nantinya listrik hasil pembakaran ini akan dibeli oleh PLN dengan skema yang tidak memberatkan baik PLN maupun pengusaha,” kata Eddy. Ia menegaskan, pembangunan 33 incinerator ini merupakan bagian dari upaya nasional mempercepat penyelesaian persoalan sampah yang sudah menumpuk di banyak kota besar. “Skema ini diharapkan tidak hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menjadi solusi energi terbarukan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” tukasnya. Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran MPR RI, antara lain Staf Khusus Khairurrizqo, Staf Khusus Rizki Al Jufri, serta Staf Ahli Edi Agus. Sementara itu, Munafri didampingi Sekretaris Daerah Kota Makassar, Zulkifly Nanda, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Helmy Budiman. Eddy Soeparno bersama rombongan menyambut positif aspirasi tersebut dan menyatakan akan menindaklanjutinya sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan kepulauan.

Daerah, Makassar, Pemerintahan

Wali Kota Munafri Soroti Kebocoran dan Parkir Liar, Dukung Sistem QRIS

ruminews.id, MAKASSAR – Perusahaan umum Daerah (Perumda) Parkir Makassar, terus berbenah dengan menghadirkan sistem pembayaran parkir berbasis digital melalui QRIS. Inovasi ini merupakan langkah menuju transparansi, keamanan, dan kenyamanan bagi masyarakat sekaligus upaya mengurangi praktik pungutan liar. Plt Direktur Utama PD Parkir Makassar, Adi Rasyid Ali, menyampaikan bahwa pihaknya telah melaporkan rencana ini kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. “Launching sistem pembayaran digital parkir dengan QRIS dijadwalkan pada 1 September 2025, dimulai secara pilot project di Jalan WR Supratman (dekat kantor Pos), Makassar,” ujarnya, saat bertemu Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin di kantor Balai Kota Makassar, Rabu (27/8/2025). Audiensi ini turut dihadiri jajaran manajemen PD Parkir Makassar, antara lain Plt Dirut Adi Rasyid Ali, SE., MM., Plt Direktur Keuangan Syafri Hafid, SE., Staf Ahli Direksi Christhoper Aviary, S.Sos., Kabag Umum Ir. Asraruddin Mamonto, serta Humas Asrul. Lebih lanjut ARA menjelaskan, dalam sistem baru berbasis QRIS ini, setiap juru parkir telah dibekali rekening dan barcode QRIS yang dapat langsung dipindai oleh pengguna jasa parkir. Nilai tarif tetap sama sesuai aturan, yakni Rp2.000 untuk motor dan Rp3.000 untuk mobil. Sementara untuk kawasan percontohan, tarifnya sedikit disesuaikan, yakni Rp3.000 untuk motor, dan Rp5.000 untuk mobil. “Kami mengundang khusus Pak Wali Kota untuk hadir pada launching nanti. Sebelumnya, kami juga sudah memberikan sertifikasi kepada juru parkir terkait penggunaan sistem digital ini,” ungkap Adi. Selain menguntungkan masyarakat dan juru parkir, sistem pembayaran digital ini juga diharapkan memperkuat tata kelola pendapatan daerah sekaligus menciptakan layanan publik yang lebih modern, transparan, dan akuntabel. Ia menjelaskan, penggunaan QRIS memberikan sejumlah manfaat, baik bagi masyarakat maupun juru parkir. Selain transaksi lebih praktis tanpa repot uang kembalian, sistem ini juga menjamin pembagian hasil parkir yang transparan. “Dengan QRIS, uang langsung terbagi otomatis antara juru parkir dan perusahaan. Jadi lebih aman, terhindar dari pungli, dan juru parkir pun bisa langsung menggunakan saldonya untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya. Meski sebagian juru parkir masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi, respon awal mereka dinilai cukup positif. PD Parkir juga akan melakukan sosialisasi dan penerapan bertahap di sejumlah lokasi lain setelah kawasan pilot project. Target Perumda Parkir, pada tahun 2026, sekitar 50 persen pembayaran parkir di Makassar sudah beralih ke sistem non-tunai. “Saat ini kami mulai dari kawasan yang paling siap, dan selanjutnya akan diperluas ke titik-titik strategis lainnya,” pungkasnya. Pemerintah Kota Makassar menyatakan dukungan penuh terhadap rencana PD Parkir meluncurkan sistem pembayaran parkir berbasis digital QRIS pada 1 September 2025 mendatang. Hal ini terungkap dalam audiensi PD Parkir bersama Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, ia menegaskan bahwa persoalan parkir tidak hanya sebatas pada mekanisme pembayaran, tetapi juga menyangkut keteraturan, perizinan, dan pengawasan di lapangan. Menurutnya, kondisi parkir di jalanan saat ini masih sering semrawut karena tidak ada standar yang jelas. “Kalau saya lihat, pengaturan parkir kita ini masih campur-campur. Ada yang paralel, ada yang kepala masuk ke dalam. Menurut saya, yang paling bagus itu paralel, supaya lebih rapi dan tidak mengganggu arus kendaraan,” ujar Munafri. Ia juga menyoroti perlunya pengawasan lebih ketat, terutama pada pelaksanaan event yang seringkali tidak terkelola dengan baik. Munafri menilai, pengaturan parkir harus diperhatikan sejak proses perizinan, bukan hanya sekadar mengontrol di lapangan. “Kalau ada event, pengaturannya jangan cuma di luar, tapi di dalam lokasi juga harus jelas. Jangan sampai hanya asal jalan saja,” tambahnya. Selain itu, Wali Kota menekankan pentingnya penertiban juru parkir liar yang selama ini marak memanfaatkan ruang publik tanpa izin resmi. Appi mencontohkan, banyak oknum yang hanya bermodal rompi oranye bisa langsung menguasai lahan parkir di depan toko atau minimarket. “Setiap hari, dampaknya sangat terasa. Orang bisa seenaknya ambil lahan parkir hanya dengan pakai rompi oranye. Ini harus kita tertibkan. Tantangannya memang besar, tapi kalau tidak mulai sekarang,” tegasnya. Digitalisasi pembayaran parkir melalui QRIS diharapkan dapat menjadi solusi untuk menekan praktik pungutan liar, meningkatkan transparansi, dan memberi kenyamanan lebih bagi masyarakat. Munafri juga juga menyoroti kebocoran pendapatan parkir yang kerap memicu perselisihan antara juru parkir dan warga. Dia menegaskan, ke depan semua juru parkir resmi harus tertib, memiliki identitas, serta ditempatkan sesuai aturan sehingga tidak menimbulkan konflik di lapangan. “Kita tidak mau ada lagi kebocoran. Juru parkir harus tertib, resmi, dan jelas posisinya. Dengan begitu, pengelolaan parkir akan lebih rapi, teratur, dan bisa meningkatkan pendapatan daerah,” jelasnya.

Nasional, Pendidikan

HMI Cabang Makassar Timur Terima Tanah Wakaf, Momentum Baru Perjuangan Kaderisasi

ruminews.id, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur kembali mengukir jejak sejarah perjuangan. Pada Rabu, 27 Agustus 2025. HMI Maktim resmi menerima sebidang tanah wakaf yang akan dijadikan basis perjuangan sekaligus sekretariat organisasi. Tanah wakaf ini diberikan oleh Kanda Sakkir Hanafi, alumni HMI Maktim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin, yang kini juga dipercaya sebagai Ketua Ikatan Alumni FKM Unhas. Lahan seluas 165 meter persegi di Kampung Parang, dekat Perumahan Dosen Unhas, bukan sekadar sebidang tanah biasa. Bagi kader HMI, tanah ini adalah modal juang yang akan memperkokoh oleh kaderisasi, menjadi ruang dialektika intelektual, dan pusat konsolidasi gerakan. Ketua HMI Cabang Makassar Timur, Muhammad Zulfikar Ridha, menegaskan bahwa wakaf ini adalah amanah besar yang harus dijaga oleh segenap kader. “Wakaf ini bukan hanya tanah, tapi simbol perjuangan. Ia adalah amanah dan modal juang yang harus kita kelola secara visioner demi memastikan estafet kaderisasi dan pergerakan intelektual HMI Maktim terus berlanjut,” ujar Zulfikar. Saat ini, akta wakaf sedang dalam proses pengurusan di Kementerian Agama sebelum kemudian diajukan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk penerbitan sertifikat resmi. Sekretariat di atas tanah wakaf tersebut direncanakan akan mulai dibangun usai pelaksanaan Latihan Kader II (Intermediate Training) pada 22 September 2025. Pada momentum Intermediate Training itu, HMI Cabang Makassar Timur juga akan menghadirkan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN, Nusron Wahid, yang dijadwalkan menyerahkan langsung sertifikat tanah wakaf. Kehadiran Nusron, yang juga merupakan alumni HMI, menjadi bukti bahwa sinergi kader dan alumni adalah bagian dari kekuatan perjuangan. Turut hadir dalam momentum bersejarah ini, mantan Ketua Umum Badko HMI Sulselbar periode 2021–2023, Andi Ikram Rifqi, yang menekankan bahwa wakaf ini adalah strategi jangka panjang bagi keberlangsungan perkaderan. “Ini bukan sekadar wakaf, ini adalah langkah strategis untuk mengokohkan kaderisasi. Semoga tanah wakaf ini menjadi amal jariyah bagi pemberinya sekaligus penguat jalan juang kader HMI Maktim di masa depan,” ujar Ikram. Penulis : Ahmad Fauzan Suneth

Daerah, Makassar, Pemerintahan

Bunda PAUD Kota Makassar Ajak Orang Tua dan Guru Berperan Aktif Lindungi Anak dari Kekerasan

ruminews.id, MAKASSAR – Bunda PAUD Kota Makassar, Melinda Aksa mengajak guru PAUD dan orang tua untuk peduli dan aktif dalam mencegah kekerasan terhadap anak, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar. Hal itu disampaikan Melinda saat membuka kegiatan Sosialisasi Lencegahan Kekerasan Anak di Rumah dan di Sekolah, yang digelar Pokja Bunda PAUD Kota Makassar di Hotel Novotel, Rabu (27/8/2025). Kegiatan ini hadiri jajaran pengurus Pokja Bunda PAUD Makassar, Bunda Pokja PAUD Kecamatan, kepala sekolah PAUD Negeri, kepala sekolah dan guru PAUD, sejumlah orang tua, formum anak dan berbagai organisasi wanita. Dalam sambutannya, Melinda mengatakan di Kota Makassar, kasus kekerasan anak masih sering terjadi. Ironisnya, pelaku kekerasan kerap berasal dari lingkungan terdekat anak. “Tidak jarang pelaku justru berasal dari orang tua, keluarga, maupun guru. Kondisi ini menjadi alarm serius yang harus segera direspons bersama,” ujarnya. Lebih lanjut, Ia menceritakan kisah kasus anak yang menjadi pelaku pelecehan setelah bertahun-tahun mengalami kekerasan seksual dari guru mengajinya. Menurut Melinda, ini adalah bukti nyata bagaimana lingkaran kekerasan bisa berulang dan melahirkan generasi baru korban sekaligus pelaku. Jika tidak diputus, pola ini akan terus terjadi dan merusak masa depan anak-anak. “Sayangnya, hukuman terhadap pelaku sering kali ringan. Bahkan wajah pelaku kerap disamarkan, sehingga masyarakat sulit mengenali dan waspada. Padahal, kekerasan pada anak bukan hanya melukai fisik, tapi meninggalkan trauma mendalam yang sulit dipulihkan,” ujarnya. Untuk itu, Melinda menekankan kepada orang tua dan guru untuk benar-benar memahami perannya dalam mendidik anak. Ia meminta agar tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar memahami tahap perkembangan anak. “Lingkungan sekitar juga berpengaruh besar, terutama bagi anak yang rentan terhadap pengaruh teman sebaya. Karena itu, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat harus saling melengkapi,” lanjutnya. Melinda berharap masyarakat berani melapor dan bertindak saat melihat kekerasan terhadap anak, agar mereka mendapat perlindungan dan pendampingan. Ia juga berharap kegiatan ini mendorong lebih banyak pihak terlibat menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah anak. “Orang tua harus berani tegas demi masa depan anak. Tegas bukan berarti keras, tetapi hadir memberi arahan dan batasan. Semoga melalui sosialisasi ini, peserta bisa mempraktikkan ilmunya di rumah dan menyebarkannya ke masyarakat,” ujarnya. Sosialisasi ini menghadirkan Lusia Palulungan sebagai narasumber pertama. Ia membawakan materi mengenai bentuk-bentuk kekerasan anak, dampak jangka panjangnya, serta strategi pencegahan kekerasan di rumah dan sekolah. Lusia juga menjelaskan mengenai hak-hak anak serta perlindungan hukum yang melekat. “Pemahaman hukum sangat penting agar masyarakat berani melapor jika melihat kekerasan, sekaligus mengetahui jalur perlindungan yang tersedia bagi korban,” ujarnya. Pemateri berikutnya, Dr. Dian Novita Siswanti, staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), membawakan materi tentang penanganan dan pemulihan trauma pada anak korban kekerasan. “Dukungan keluarga adalah kunci utama pemulihan. Anak yang merasa dicintai, diterima, dan dipeluk hangat keluarganya akan lebih cepat pulih dari luka batin akibat kekerasan,” ujarnya. Kegiatan ini turut dimeriahkan penampilan gerak dan lagu “Sentuhan Baik dan Sentuhan Tidak Baik” oleh murid TK ke-5 PAUD Negeri Kota Makassar, serta menghadirkan berbagai booth UMKM yang ikut meramaikan acara.

Daerah, Makassar, Pemerintahan

Urban Farming Jadi Muara Program RT/RW

ruminews.id, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah guna mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Hal itu disampaikan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dalam rapat koordinasi khusus bersama jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, di Jalan Chairil Anwar, Rabu (27/8/2025). Rakor dihadiri langsung Kepala DLH Helmy Budiman dan Sekretaris Ferdy Mochtar, serta jajaran pejabat teknis yang menangani urusan persampahan. Munafri menekankan perlunya kerja kolektif yang solid agar penanganan sampah berjalan optimal, sekaligus memenuhi target penilaian Adipura. “Saya mau kita fokus pembenahan akses di area TPA. Ini proses pengelolaan sampah yang harus kita ikuti dengan detail,” ujarnya, berupa seruan kepada jajaran DLH pada rakorsus trsebut. “Saat ini nilai kita masih di angka 60-an, sementara targetnya ada di 85. Nilai terbesar ada di TPA, dan itu harus kita intervensi maksimal,” tambah Munafri. Wali Kota berlatar pengusaha itu, ia menekankan kondisi TPA Antang yang membutuhkan penanganan serius. Ia menekankan perlunya perbaikan topsoil, akses jalan, serta pengelolaan kolam lindik agar TPA tidak hanya menjadi lokasi pembuangan, tetapi juga tertata dengan baik. TPA harus memperlihatkan bahwa masih mampu menerima sampah dengan terencana. Penataan halus, sistem perencanaan, hingga pengaturan penempatan sampah harus jelas. “Saya minta ini ditangani dengan ritme yang sama, jangan lagi sektoral,” lanjutnya. Wali Kota meminta agar mulai hari ini, data dapat dikelola lebih cepat sebagai dasar pengambilan keputusan. Jangan ada lagi slow response. Koordinasi data harus lancar supaya penyajian informasi bisa lebih cepat dan normal. Munafri menegaskan bahwa DLH menjadi leading sector dalam penanganan sampah. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan program ini akan ditopang dukungan lintas OPD. Seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, hingga instansi lain. “Tidak boleh ada ego sektoral. DLH akan jadi lead, dan instansi lain akan support. Jumat atau Sabtu kita akan rapat bersama lagi dengan semua pihak untuk menyusun flow program secara detail,” ungkapnya. Terakhir, ia meminta DLH melakukan pengecekan menyeluruh terhadap seluruh peralatan dan inventaris agar bisa dimaksimalkan untuk mendukung kelancaran program. “Semua alat kita cek, inventaris maksimalkan. Kita ingin ini jalan dengan serius,” tuturnya. Appi berharap koordinasi lintas pihak bisa berjalan maksimal, sehingga perbaikan kondisi di lapangan dapat segera terlihat dengan langkah konkret. Menurut dia, perlunya langkah darurat untuk merespons persoalan teknis yang muncul dalam pelaksanaan pekerjaan proyek di lapangan. Dimana, kondisi yang ada saat ini tidak bisa hanya dihadapi dengan pendekatan ideal, melainkan membutuhkan cara-cara luar biasa agar progres tetap berjalan. “Saya pikir secara teknis, bapak-bapak yang harus memaksimalkan itu dengan melihat kondisi. Semua proses ini harus dikomunikasikan dengan baik,” terangnya. “Persoalan yang ada kan bukan baru sekarang, tapi harus kita tunjukkan ada progres, ada niatan baik untuk memperbaiki semuanya,” lanjut kata Munafri. Ia menekankan, persoalan seharusnya sudah diintervensi lebih awal. Namun, karena baru ditangani saat ini, pemerintah bersama pihak terkait diminta segera menyusun langkah-langkah darurat untuk menanggulangi situasi di lapangan. “Bukan lagi saatnya berpikir ideal. Kalau hanya berpikir ideal, selesai. Sekarang harus ada extraordinary cara berpikir supaya pekerjaan bisa tetap berjalan,” ujarnya. Selain itu, Munafri juga menilai persoalan akses jalan serta penimbunan material. Ia meminta agar alur transportasi sementara dapat diatur agar tidak mengganggu aktivitas, sekaligus mencari lokasi penimbunan paling dekat guna mempercepat pekerjaan. “Kalau soal penimbunan, bisa dibicarakan langsung dengan kontraktor. Jangan sampai semua dibebankan ke kita, tetapi mari kita atur agar ada solusi cepat,” tegasnya. Dalam arahannya, Munafri juga menegaskan bahwa program pengelolaan sampah harus bermuara pada pengembangan urban farming atau pertanian perkotaan. Ia mendorong DLH untuk menghadirkan percontohan langsung di lingkup instansi. “Saya mau di DLH sendiri ada pertanian percontohan. Jangan ada lagi pegawai yang masih abai soal sampah, apalagi plastik. DLH harus jadi teladan,” ujarnya. Orang nomor satu Kota Makassar itu, ia menginstruksikan seluruh perangkat daerah (OPD) untuk ikut membina tingkat RT/RW dalam edukasi dan pengelolaan sampah. Setiap dinas akan diberi tanggung jawab membina wilayah tertentu sesuai kapasitasnya. Semua OPD harus turun. “Satu dinas bisa membina satu atau beberapa RT. Kalau ada mitra kerja, bisa dilibatkan juga. Intinya kita bentuk pola pembinaan langsung ke masyarakat,” tukas Munafri.

Daerah, Pangkep

Mahasiswa Soroti Dugaan Korupsi dan Janji Palsu Kepala Desa Poleonro

ruminews.id, Pangkep – Randi M, Mahasiswa asal Desa Poleonro, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep, mempertanyakan kinerja pemerintah desa setempat. Ia menilai, sejak empat tahun pasca terpilihnya Kepala Desa Poleonro pada 2021 lalu, berbagai janji visi dan misi yang pernah diucapkan masih sekadar angan-angan, tanpa realisasi nyata bagi masyarakat. Menurut Randi, hasil investigasi mahasiswa bersama masyarakat menemukan adanya dugaan praktik penyimpangan dalam pengelolaan anggaran desa. Salah satu temuan menonjol ialah pada pembangunan/rehabilitasi/peningkatan sarana dan prasarana transportasi desa tahun 2024, yang tercatat menelan anggaran sebesar Rp415.666.800. Namun, dalam papan informasi proyek hanya tercantum Rp396.249.755. Selisih angka tersebut memunculkan kritik keras dari mahasiswa dan warga, terlebih material pembangunan dermaga sebagian besar hanya menggunakan pasir lokal. Selain itu, Randi juga menyoroti program pelatihan/bimtek teknologi tepat guna untuk nelayan pada tahun 2024 yang menelan biaya Rp105 juta. Ia menduga adanya praktik monopoli dalam penyaluran bantuan kendaraan bermotor untuk nelayan. “Kendaraan yang sebenarnya sudah disalurkan pada tahun 2020, kembali dianggarkan pada tahun 2024. Artinya, satu barang dianggarkan dua kali,” ungkapnya. Tak hanya itu, masyarakat juga mengeluhkan ketiadaan Operator SIX-NG di Desa Poleonro selama tiga bulan terakhir. Kondisi ini semakin diperparah dengan tidak adanya pembaruan data masyarakat selama 3 tahun 7 bulan ke Dinas Sosial Kabupaten Pangkep. Padahal, data tersebut sangat krusial bagi kebutuhan pelayanan dan bantuan sosial warga. “Pemerintah desa harus segera melakukan perekrutan Operator SIX-NG agar proses pembaruan data masyarakat bisa berjalan lancar,” tegas Randi. Ia pun meminta Aparat Penegak Hukum (APH) turun tangan menindaklanjuti dugaan penyimpangan anggaran serta problematika tata kelola pemerintahan di Desa Poleonro. “Ini bukan hanya keresahan mahasiswa, tapi juga jeritan masyarakat yang sudah terlalu lama menunggu keadilan,” tambahnya.

Daerah, Makassar, Politik

Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum Demo di Kantor DPW PPP Sulsel, Desak Usut Dugaan Penyelewengan Dana CSR BI dan OJK yang digunakan H. Amir Uskara

ruminews.id, Makassar – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Anti Mafia Hukum menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Kantor Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulawesi Selatan, Senin (25/8). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas dugaan penyelewengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang disebut-sebut diterima oleh salah satu kader PPP, H. Amir Uskara. Dalam aksinya, jenderal lapangan (Bung Cimeng) memberikan kecaman terhadap praktik penyalahgunaan dana publik. Mereka menilai penggunaan dana CSR yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat justru berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan politik kelompok tertentu. “Kami mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas dugaan penyelewengan dana CSR BI dan OJK yang diterima H. Amir Uskara. Jangan ada pembiaran terhadap praktik mafia hukum di negeri ini,” tegas Jenderal Lapangan dalam orasinya. Massa aksi juga menuntut transparansi dalam pengelolaan dana CSR lembaga negara, agar tidak dijadikan bancakan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kedekatan politik maupun jabatan. Mereka menilai, jika kasus ini tidak segera ditindaklanjuti, akan menurunkan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan negara maupun partai politik. Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat kepolisian, sementara pihak PPP Sulsel belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan para demonstran.

Daerah, Pangkep, Pendidikan

UNIVERSITAS SAWERIGADING GELAR PKM DOSEN & KKN MAHASISWA ANGKATAN XXVIII DI KELURAHAN BORIAPPAKA, PANGKEP

ruminews.id – Pangkep, 26 Agustus 2025 – Universitas Sawerigading (UNSA) Makassar menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Dosen yang terintegrasi dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mahasiswa Angkatan XXVIII Tahun 2025 di Kelurahan Boriappaka, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Kegiatan ini mengusung tema “Sosialisasi Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan serta Kemudahan Pengurusan Berkas Pertanahan” sebagai bentuk edukasi langsung kepada masyarakat. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Hukum UNSA, Dr. Dian Eka Kusuma Wardani, S.H., M.H. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa PKM dan KKN bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan tanggung jawab moral perguruan tinggi untuk memberikan kontribusi nyata. “Sosialisasi ini diharapkan dapat memperluas wawasan hukum dan administrasi warga, sehingga mereka lebih percaya diri dalam mengakses layanan publik,” ujarnya. Koordinator KKN UNSA, Muhammad Awal Ramadhan, menyampaikan laporan pelaksanaan. Ia menekankan bahwa mahasiswa KKN Angkatan XXVIII akan berkolaborasi dengan masyarakat setempat untuk mengintegrasikan program sosialisasi dengan kegiatan pemberdayaan lokal. Mewakili Pemerintah Kabupaten Pangkep, Asisten III Pemda Pangkep, Abbas Hasan, A.P., M.M., memberikan sambutan sekaligus orasi ilmiah. Ia menegaskan pentingnya pajak bumi dan bangunan (PBB) dalam mendukung pembangunan daerah, mulai dari infrastruktur hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pada sesi pemaparan, Abdul Kahar Mustakim, S.Kom., Sekretaris Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Pangkep, menjelaskan mekanisme pembayaran PBB yang kini semakin mudah, cepat, dan transparan. Sementara itu, Raden Detty Septiani Aisyah, S.H., M.H., Kepala Sub Bagian Data Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Pangkep menyanpaikan kemudahan layanan pertanahan yang bertujuan memperkuat kepastian hukum dan membantu masyarakat dalam pengelolaan aset tanah. Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Lurah Boriappaka, Muhammad Ali, S.H. Ia menyebut kehadiran UNSA melalui PKM dan KKN sebagai energi positif yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Seluruh rangkaian acara dipandu oleh Aqramawardana, S.H., M.H., dosen pembimbing KKN sekaligus moderator. Ia menekankan bahwa keberhasilan kegiatan ini lahir dari sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Universitas Sawerigading kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan PKM dan KKN yang berdampak nyata. Sosialisasi diharapkan mampu meningkatkan literasi hukum, fiskal, dan administrasi masyarakat, sehingga mereka lebih mandiri, berdaya, dan siap menghadapi tantangan pembangunan daerah ke depan.

Opini

Tunjangan Rumah DPR Rp50 Juta: Potret Ketidakadilan, Saat Buruh Pelabuhan Masih Jadi Kelas Kontrakan

ruminews.id, Di tengah gegap gempita pembangunan, kita kembali disuguhi fakta mencengangkan: setiap anggota DPR RI menerima tunjangan rumah Rp50 juta per bulan. Angka fantastis ini, bila ditarik ke dalam realitas buruh pelabuhan, sungguh terasa sebagai ironi yang menohok. Mari kita hitung sederhana. Cicilan rumah sederhana bagi buruh pelabuhan rata-rata hanya Rp2 juta per bulan. Artinya, satu tunjangan rumah DPR dalam sebulan bisa membayar 25 kali cicilan rumah buruh pelabuhan. Dengan 575 anggota DPR, negara menggelontorkan Rp28,7 miliar setiap bulan untuk sekadar fasilitas perumahan pejabat. Padahal dana sebesar itu, jika dialihkan, bisa membiayai cicilan rumah bagi 14.350 keluarga buruh pelabuhan setiap bulannya, atau 172.200 keluarga dalam setahun. Buruh: Garda Depan yang Terpinggirkan Buruh pelabuhan adalah urat nadi logistik nasional. Mereka bekerja di bawah terik matahari, di bawah hujan, mengangkat, memanggul, dan memindahkan barang agar roda ekonomi tidak berhenti berputar. Tanpa mereka, pelabuhan lumpuh, perdagangan tersendat, dan rantai pasok nasional bisa terganggu. Namun, fakta yang terjadi sungguh menyedihkan. Banyak buruh pelabuhan masih hidup di rumah kontrakan sempit, bahkan di kawasan padat dan tidak sehat. Kepemilikan rumah bagi buruh masih sebatas mimpi. Di sisi lain, para wakil rakyat hidup dalam kenyamanan berlebih. Tunjangan Rp50 juta hanya untuk rumah, belum termasuk gaji pokok, tunjangan transportasi, dan fasilitas lainnya. Inilah ketimpangan yang merobek rasa keadilan sosial. Suara Keras dari Pelabuhan Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia, Subhan Hadil, menyuarakan keresahan ini dengan lantang: “Satu tunjangan rumah DPR senilai Rp50 juta bisa membiayai cicilan rumah 25 keluarga buruh pelabuhan dalam sebulan. Ini fakta yang nyata. Apalagi jika dikalikan jumlah anggota DPR, maka ratusan ribu keluarga buruh bisa terbantu. Pertanyaannya: mengapa negara lebih memprioritaskan kenyamanan pejabat dibanding kesejahteraan buruh yang menjadi penopang logistik nasional?” Buruh pelabuhan, kata Subhan, tidak menuntut rumah mewah. Mereka hanya ingin rumah sederhana yang bisa dimiliki. Sebuah tempat layak untuk keluarga, agar anak-anak buruh bisa tumbuh dengan kehidupan yang lebih bermartabat. Program Perumahan Pekerja: Dari Buruh untuk Buruh Menariknya, SP TKBM Indonesia tidak sekadar menyuarakan protes. Mereka juga telah menggulirkan Program Perumahan Pekerja, yang dijalankan melalui badan otonomnya, KOPPELINDO MANDIRI (Koperasi Pekerja Pelabuhan Indonesia Mandiri). Program ini dirancang untuk menyediakan rumah layak dan terjangkau bagi anggota TKBM Indonesia, sekaligus untuk pekerja di sektor pelabuhan dan industri lain yang memiliki nasib serupa. Skema koperasi dipilih agar buruh punya akses lebih adil dalam mendapatkan rumah, tanpa terjerat bunga mencekik. Lebih jauh, SP TKBM Indonesia mendorong negara untuk bersinergi dengan konsep KPR Peradaban, sebuah skema pembiayaan rumah yang berbasis keberpihakan sosial. Skema ini dianggap mampu menjawab kebutuhan perumahan pekerja berpenghasilan rendah, dengan bunga ringan dan tenor panjang yang manusiawi. Negara Harus Memilih: Pejabat atau Pekerja? Perbandingan ini jelas membuka mata. Tunjangan rumah DPR adalah simbol betapa negara lebih mudah menggelontorkan dana untuk kenyamanan pejabat, dibanding menghadirkan kebijakan konkret bagi kesejahteraan buruh. Jika negara serius ingin membangun keadilan sosial, maka prioritas harus diubah: bukan lagi menambah fasilitas pejabat, melainkan memastikan buruh punya rumah yang layak. Negara harus memilih: berpihak pada pejabat yang sudah hidup dalam kemewahan, atau berdiri bersama buruh yang menggerakkan roda ekonomi bangsa? Sejarah akan mencatat, siapa yang benar-benar memperjuangkan rakyat pekerja, dan siapa yang hanya menikmati kursi empuk kekuasaan.

Daerah, Towuti

Ketua HMTP UNANDA Kritisi Kebocoran Pipa HFSO PT Vale di Towuti, Soroti Kepatuhan ISO 14001:2015

ruminews.id, Towuti – Sabtu 23 Agustus 2025 — Kebocoran pipa High Sulphur Fuel Oil (HFSO) di Dusun Molindowe, Desa Lioka, Kecamatan Towuti, membuat masyarakat resah. Minyak kental berwarna hitam pekat ini sudah mencemari lahan pertanian warga dan berpotensi mengalir ke sungai hingga sistem danau. Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Andi Djemma (HMTP UNANDA), Yadit, menyampaikan kritik tegas atas insiden ini. “HFSO sangat kental, lengket, dan mengandung sulfur tinggi. Di lahan pertanian, tanah kehilangan porositas dan akar mati. Di sungai, lapisan minyak menutup oksigen, mencemari sedimen, dan mengancam biota. Jika sampai ke sistem Danau Malili, dampaknya bisa serius dan jangka panjang,” jelas Yadit (Ketua HMTP FT UNANDA). Ia menilai kejadian ini harus dilihat dalam kerangka ISO 14001:2015 Sistem Manajemen Lingkungan, yang menuntut perusahaan memastikan identifikasi risiko, pemeliharaan pencegahan, monitoring, serta kesiapsiagaan darurat. Yadit menambahkan “Jika PT Vale mengklaim patuh ISO 14001:2015, maka sistem tanggap darurat dan pengendalian risiko pipa seharusnya bekerja. Kebocoran ini membuktikan masih ada celah besar antara prosedur dan praktik lapangan, tegasnya. Hal ini akan berdampak pada beberapa hal, seperti : Dampak ke Pertanian: Tanah tertutup minyak, infiltrasi air terganggu, panen berpotensi gagal lama. Dampak ke Sungai: Minyak mengapung, menurunkan oksigen, merusak sedimen dan vegetasi tepi. Dan jika sampai masuk ke Danau: Maka residu bertahan lama, menempel di pesisir dan dasar, mengganggu rantai makanan air. Yadit menekankan bahwa penanganan insiden ini harus segera dilakukan secara menyeluruh. Tanggap darurat perlu diaktifkan dengan memasang oil boom, melakukan skimming, dan mengisolasi tanah tercemar agar penyebaran HFSO bisa diminimalkan. Selain itu, audit jalur pipa independen sangat penting untuk memeriksa integritas, korosi, tekanan, serta sistem deteksi kebocoran guna memastikan risiko serupa tidak terulang. Pemantauan lingkungan yang transparan harus dilakukan melalui uji air, tanah, dan sedimen secara berkala, dengan hasilnya dipublikasikan agar masyarakat dan pihak terkait dapat mengetahui kondisi sebenarnya. Remediasi ilmiah menjadi langkah krusial, termasuk excavation tanah sangat tercemar, bioremediasi minyak berat, serta phytoremediasi untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan. Dampak sosial-ekonomi juga tidak boleh diabaikan; perlu ada verifikasi kerugian, pembayaran ganti rugi, dan upaya pemulihan produktivitas lahan warga. Terakhir, perusahaan harus melakukan perbaikan organisasi, mencakup tinjauan manajemen, perbaikan desain prosedur operasional, serta latihan darurat rutin agar penerapan ISO 14001:2015 berjalan efektif dan risiko kebocoran dapat diminimalkan di masa depan. “Kepatuhan ISO 14001:2015 bukan sekadar sertifikat, tapi tanggung jawab nyata. Kami mendesak penanganan berbasis sains, transparansi data, dan pemulihan penuh. Mahasiswa akan terus mengawal,” pungkas Yadit.

Scroll to Top