OPINI

Gibran, Jembatan Antar Generasi: Menghubungkan Pengalaman dengan Semangat Anak Muda

Penulis: Arwin Welhalmina (KETUA UMUM GENG Z )

ruminews.id – Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kekuatan lintas generasi.

Sosok Gibran Rakabuming Raka kerap diposisikan sebagai bridge generation atau jembatan antar generasi—menghubungkan kebijaksanaan para senior dengan energi, kreativitas, dan cara berpikir generasi milenial serta Gen Z.

Konsep ini menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak harus mempertentangkan generasi tua dan generasi muda. Pengalaman para senior menjadi fondasi yang kokoh, sementara generasi muda membawa inovasi, keberanian beradaptasi, serta kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menjawab tantangan baru.

Narasi tersebut juga pernah muncul dalam kampanye politik Prabowo-Gibran yang menekankan kolaborasi lintas generasi.

Bagi Gibran, kepemimpinan bukan sekadar soal usia, melainkan kemampuan membangun kolaborasi. Prinsip yang diusung adalah sederhana namun relevan:

“Kami menghormati pengalaman, tetapi kami juga membawa cara baru.”

Pesan ini menjadi jawaban terhadap berbagai kritik mengenai pengalaman. Alih-alih melihat usia sebagai kelemahan, narasi tersebut menempatkan generasi muda sebagai pelengkap pengalaman para senior.

Dengan demikian, pembaruan tidak dilakukan dengan memutus kesinambungan, tetapi dengan mempercepat inovasi di atas fondasi yang telah dibangun.

Dalam berbagai kesempatan, Gibran juga menekankan pentingnya mempersiapkan talenta muda melalui penguasaan teknologi, kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, hingga kewirausahaan.

Baginya, bonus demografi Indonesia hanya akan menjadi kekuatan apabila generasi muda diberi ruang untuk berkarya dan berkontribusi.

Narasi “Jembatan Antar Generasi” pada akhirnya menggambarkan visi kepemimpinan yang inklusif: menjaga nilai-nilai yang telah terbukti berhasil, sekaligus membuka ruang bagi gagasan baru agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global.

Dengan pendekatan tersebut, Gibran diposisikan bukan hanya sebagai representasi anak muda, tetapi sebagai penghubung yang mempertemukan pengalaman, inovasi, dan semangat kolaborasi untuk masa depan Indonesia

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (3)
Mengapa Pejabat Publik Wajib Minimal Tamat SMA?
Salistio Erisa Putra
Ketika Kemiskinan Menghasilkan Lebih Banyak Sampah: Sachet Economy, Poverty Penalty, dan Ketidakadilan dalam Sustainability
Najamudin
Hilirisasi Berkeadilan untuk Perekonomian Sulselbartra
Muzakkir (4)
Filsuf di Lingkar Istana
Muzakkir (3)
Reduksionisme Dan Fisika Kuantum: Tentang Kesadaran Diri (Bagian III Akahir)
Muhammad Fauzan, S.H.
Dari Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tenggara: Menabur Visi Pengusaha Muda Menuju Indonesia Emas 2045
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20261003_144916_0000
Ketika Kampus Menjadi Ruang Impunitas: Menguji Komitmen Penegakan Hukum di UNDIPA Makassar
Muzakkir (3)
LK2 HMI: Kader Ditempa Jadi Problem Solver, Kawal Demokrasi Jaga Integritas Nasional
Andres Chandra
Pemimpin: Merangkul dengan Hati, Bekerja dengan Kasih
Muzakkir (5)
Ali Khamenei: Membaca Kolonialisme (Bagian V)
Scroll to Top