Penulis: Muqimah Surganingsih – Dosen PGPAUD FIP UNM
ruminews.id – Tanggal 17 Agustus, kita kembali berbicara tentang kemerdekaan. Bendera dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, perlombaan digelar, dan anak-anak diperkenalkan pada sejarah perjuangan bangsa. Namun, di tengah berbagai persoalan sosial dan kegaduhan dalam kehidupan pemerintahan, ada pertanyaan yang mungkin lebih penting untuk kita renungkan sebagai pendidik, apa sebenarnya makna kemerdekaan bagi anak usia dini, dan karakter seperti apa yang perlu kita tanamkan kepada generasi sekarang?
Bagi anak usia dini, kemerdekaan bukanlah konsep politik yang abstrak. Anak belum membutuhkan penjelasan tentang dinamika kekuasaan atau pertentangan politik orang dewasa. Kemerdekaan perlu hadir dalam bentuk yang dapat mereka rasakan dan alami.
Merdeka berarti anak memiliki ruang untuk bermain, bereksplorasi, bertanya, berpendapat, memilih, mencoba, bahkan melakukan kesalahan dan belajar memperbaikinya
Anak juga perlu merasakan bahwa dirinya dihargai. Ia boleh memiliki minat yang berbeda dengan temannya. Ia tidak harus selalu menjadi yang paling pintar, paling cepat, atau paling berani. Ia berhak mendapatkan lingkungan yang aman dari kekerasan dan perundungan.
Namun, kemerdekaan bukan berarti kebebasan tanpa batas.
Anak perlu belajar bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab. Boleh memilih mainan, tetapi harus belajar merapikannya. Boleh menyampaikan pendapat, tetapi harus belajar mendengarkan orang lain. Boleh bermain sesuai keinginannya, tetapi harus menghargai aturan dan hak teman.
Dengan demikian, kemerdekaan bagi anak usia dini adalah kesempatan untuk tumbuh, bermain, berpikir, berpendapat, dan berkembang secara aman dengan tetap belajar menghargai hak dan keberadaan orang lain.
Ketika Dunia Orang Dewasa Tidak Selalu Memberikan Teladan
Persoalannya, bagaimana kita menanamkan karakter kepada anak ketika mereka tumbuh di tengah kondisi masyarakat yang tidak selalu memberikan contoh ideal?
Anak-anak hari ini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya belajar dari orang tua dan guru. Mereka juga melihat media sosial, menonton berbagai informasi, mendengar percakapan orang dewasa, dan menyaksikan berbagai peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya.
Mereka mungkin belum memahami persoalan pemerintahan, tetapi mereka dapat menangkap perilaku orang dewasa.
Mereka melihat bagaimana orang berbicara ketika berbeda pendapat. Mereka melihat bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Mereka belajar dari cara orang dewasa menyelesaikan konflik. Bahkan tanpa kita sadari, mereka belajar dari apa yang kita lakukan ketika kita mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kita kerjakan.
Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh hanya berhenti pada nasihat.
Kita tidak cukup mengatakan kepada anak bahwa mereka harus jujur. Anak harus mendapatkan kejujuran untuk menjadi jujur dalam kehidupan sehari-hari.
Kita tidak cukup mengatakan bahwa mereka harus adil. Mereka harus merasakan bahwa guru dan orang dewasa memperlakukan mereka secara adil.
Kita tidak cukup mengajarkan toleransi. Mereka harus melihat bahwa perbedaan tidak menjadi alasan untuk merendahkan orang lain.
Kita tidak cukup mengajarkan tanggung jawab. Mereka harus diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan, melakukan sesuatu sendiri, dan belajar memperbaiki kesalahan.
Karakter lebih banyak dipelajari anak melalui apa yang mereka lihat dan alami daripada apa yang mereka dengar.
Jangan Mendidik Anak Hanya untuk Patuh
Ada satu hal yang menurut saya perlu kita refleksikan. Pendidikan karakter jangan sampai hanya menghasilkan anak yang “patuh”.
Anak yang baik bukan hanya anak yang selalu mengikuti perintah orang dewasa.
Kita membutuhkan generasi yang mampu membedakan mana yang benar dan salah, berani bertanya ketika menemukan sesuatu yang tidak tepat, mampu menyampaikan ketidaksetujuan dengan santun, menghargai perbedaan, serta bertanggung jawab terhadap pilihannya.
Jika kita menginginkan generasi yang kritis, jangan mematikan pertanyaan anak.
Jika kita menginginkan generasi yang demokratis, dengarkan pendapat mereka.
Jika kita menginginkan generasi yang jujur, tunjukkan bahwa mengakui kesalahan bukanlah sesuatu yang memalukan.
Jika kita menginginkan generasi yang adil, jangan biasakan anak melihat perlakuan yang berbeda hanya karena status, kemampuan, atau kedekatan.
Jika kita menginginkan generasi yang bertanggung jawab, berikan mereka kesempatan untuk melakukan sesuatu sendiri.
Inilah karakter yang dibutuhkan generasi sekarang, bukan sekadar kepatuhan, tetapi kesadaran moral.
PAUD sebagai Ruang Kecil untuk Membentuk Indonesia Masa Depan
Ketika kehidupan orang dewasa sedang gaduh, ruang kelas PAUD seharusnya menjadi tempat di mana anak mengalami bentuk kecil dari Indonesia yang kita harapkan.
Guru yang mau mendengarkan anak sedang mengajarkan demokrasi.
Guru yang tidak pilih kasih sedang mengajarkan keadilan.
Guru yang mengakui kesalahan sedang mengajarkan kejujuran.
Guru yang menghargai perbedaan sedang mengajarkan toleransi.
Guru yang memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih sedang mengajarkan kemerdekaan.
Dan ketika anak diajak menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, mereka sedang belajar bahwa perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Karena itu, pendidikan karakter bukan sekadar memasukkan nilai-nilai ke dalam tema pembelajaran atau menuliskannya dalam modul. Pendidikan karakter harus hadir dalam budaya sehari-hari.
Cara guru berbicara kepada anak merupakan pendidikan karakter.
Cara orang tua menyelesaikan masalah adalah pendidikan karakter.
Cara sekolah memperlakukan seluruh warganya adalah pendidikan karakter.
Bahkan cara orang dewasa berbicara tentang orang lain di hadapan anak juga merupakan pendidikan karakter.
Kita Sedang Mendidik Indonesia yang Akan Datang
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan negara hari ini. Kita tidak dapat memastikan bahwa anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan sosial yang selalu ideal.
Tetapi kita masih memiliki sesuatu yang sangat penting, kesempatan untuk membentuk cara mereka menghadapi dunia.
Jika hari ini kita menanamkan kejujuran, kelak mereka memiliki keberanian untuk tidak mengikuti ketidakjujuran.
Jika hari ini kita menanamkan keadilan, kelak mereka tidak mudah menganggap ketidakadilan sebagai sesuatu yang normal.
Jika hari ini kita mengajarkan empati, kelak mereka tidak mudah mengorbankan orang lain demi kepentingannya sendiri.
Jika hari ini kita membiasakan mereka berpikir kritis, kelak mereka tidak mudah menerima informasi tanpa mempertanyakannya.
Dan jika hari ini kita mengajarkan kemerdekaan yang disertai tanggung jawab, kelak mereka memahami bahwa menjadi manusia merdeka bukan berarti bebas melakukan apa saja, melainkan mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan sesuatu yang baik.
Pada akhirnya, mungkin kita tidak dapat mewariskan kepada anak sebuah negara yang sempurna.
Tetapi kita dapat berusaha mewariskan generasi yang mampu memperbaiki negara yang belum sempurna ini.
Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana bangsa ini terbebas dari penjajahan di masa lalu. Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita memastikan anak-anak hari ini tumbuh sebagai manusia yang bebas berpikir, berani bersuara, mampu menghargai orang lain, memiliki integritas, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Sebab Indonesia dua puluh tahun mendatang sedang tumbuh di ruang-ruang PAUD hari ini.
Dan mungkin, di tengah segala kegaduhan yang kita saksikan, perjuangan paling penting yang dapat dilakukan seorang pendidik adalah memastikan bahwa anak-anak kita tidak mewarisi kegaduhan itu sebagai karakter.
Kita boleh mewariskan dunia yang belum sempurna. Tetapi jangan sampai kita mewariskan ketidakjujuran, ketidakadilan, kebencian, dan sikap apatis sebagai sesuatu yang dianggap normal. Itulah makna kemerdekaan yang perlu terus kita tanamkan kepada anak, merdeka untuk tumbuh, merdeka untuk berpikir, merdeka untuk menjadi dirinya sendiri, dan merdeka untuk memilih kebaikan dengan penuh tanggung jawab.