OPINI

Toraja Dalam Cengkraman Tentakel Industri Ekstraktif

Penulis : Garsia Randa Bandask ( Aktivis Pemuda Sangalla)

ruminews.id.,Setelah Kec. Bittuang dengan gelombang penolakan proyek geothermal yang sampai saat ini masih terus berlanjut, dan kini muncul isu baru bahwa Kec. Sangalla juga terancam dengan hadirnya proyek ini.

Proyek-proyek ini masuk dalam RUPTL 2025-2034 yang tersebar di 23 titik yang ada di Sulawesi Selatan termasuk Kab. Tana Toraja. Ini kemudian menjadi ancaman nyata bagi masyarakat adat Toraja. Pasalnya di Kec. Bittuang proyek geothermal ini telah memasuki tahap pelelangan Penugasan Survei Pendahuluan Eksplorasi (PSPE). Dan Kec. Sangalla telah memasuki tahap Survei Rinci/Detail.

Ini kemudian memantik api perlawanan dan penolakan dari berbagai kalangan masyarakat adat, mahasiswa, maupun pemuda Toraja bahwa Bittuang dan Sangalla bukan tanah kosong. Seperti yang kita ketahui bahwa toraja adalah daerah agraris yang masyarakatnya menghidupi diri mereka dari sektor pertanian, pariwisata, dan peternakan bahkan sebelum negara ini merdeka.

Dalam RT/RW Bittuang dan Sangalla masuk dalam daftar daerah rawan bencana longsor, contohnya januari 2020 telah memakan korban dari beberapa titik longsor di Kec. Bittuang. Kemudian November 2010 Sangalla mengalami bencana longsor yang mengakibatkan masyarakat mengungsi ke tempat aman. Belum sampai disitu mata air akan berhenti mengeluarkan air untuk kebutuhan masyarakat. “Kalau Bittuang punya buntu karua untuk pengairan kami di Sangalla punya Makula, dan ini adalah titik vital dari proyek geothermal ini” Garsia Bandaso Mahasiswa dan juga pemuda Sangalla.

Proyek geothermal ini beresiko mengganggu sumber mata air warga melalui pengeboran yang dapat merusak akuifer dan penurunan muka air tanah. Air adalah sumber penghidupan yang dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Begitu pula dengan kawasan hutan yang menjadi wilayah lindung bagi kawasan hulu. Menurut data pemerintah provinsi sulawesi selatan Tana Toraja di dominasi oleh wilayah pegunungan dan dataran tinggi (600-2.800 mdpl) yang memiliki struktur geologi yang kompleks dengan karakteristik batuan yang bervariasi, umumnya terdiri dari  batuan beku dan sedimen yang membentuk daerah aliran sungai (DAS).

“Ketika dilakukan pengeboran untuk mencapai titik panas maka yang terjadi dibawah tanah akan terjadi longsor dan menyebabkan semburan lumpur panas seperti yang terjadi di Lapindo dan Mandailing Natal Sumatra Utara. Dan juga tidak bisa kita pungkiri mata air akan berhenti mengalir karena rata-rata di Toraja memiliki struktur batuan sedimen dan gamping yang mampu menyerap air untuk sumber penghidupan masyarakat sehari-hari” lanjut Garsia Bandaso.

Share Konten

Opini Lainnya

WhatsApp Image 2026-04-27 at 13.41
Enrekang berada di persimpangan: Antara Kemajuan atau Kehilangan
IMG-20260427-WA0008
GEN Z Generasi Terbodoh Dalam Sejarah Manusia Modern?
WhatsApp Image 2026-04-26 at 20.03
Refleksi Membedah Wajah Luwu Utara Antara Selebrasi dan Esensi Kebijakan.
IMG-20260426-WA0009
Bayang di Balik Ojol: Siapa Menggerakkan Pembubaran Massa di Makassar?
IMG-20260426-WA0006
Membatasi Kekuasaan, Menyibak Oligarki: Ikhtiar Sunyi Demokrasi Partai
IMG-20260425-WA0003
Kabinet Inflasi Pejabat: Ketika Kritik Dianggap Gangguan
88c96682-2b7a-4f48-a9eb-32e0b96798e2
Dewan Pelapor Rakyat: Ketika DRPD Luwu Lupa Fungsinya.
IMG-20260423-WA0004
Jalan Terang dan Disiplin Batin: Membaca Ulang Etika Okult dalam "Light on the Path"
IMG-20260423-WA0003
Jalan Rusak dan Janji yang Berulang: Catatan Sunyi Anak Dusun Pakokko
IMG-20260422-WA0015
Sejarah Berdarah Para Pemimpin yang Terlalu Lama Berkuasa
Scroll to Top