Pendidikan

Daerah, Makassar, Pendidikan

Menyatukan Idealisme dan Profesionalisme, Tekankan Sinergi Kader HMI Menuju Indonesia Emas 2045

ruminews.id, Makassar — Di bawah cahaya hangat ruang pertemuan Hotel LaMacca, suasana siang itu terasa penuh semangat namun tetap tertib dan tenang. Para peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur tampak larut dalam kehangatan forum yang sarat gagasan. Duduk berjejer rapi, mereka menyimak pemaparan dari Husain Anwar, S.Kom., yang membawakan materi bertajuk “Sinergi Aktivisme dan Profesionalisme: Peran Strategis Kader HMI Menuju Indonesia Emas 2045.” Dalam paparannya, Husain Anwar menegaskan bahwa aktivisme dan profesionalisme bukan dua jalan yang berbeda, melainkan dua arus yang harus bertemu dalam satu muara perjuangan. Aktivisme, katanya, adalah api idealisme, semangat memperjuangkan keadilan, kesetaraan, dan perubahan sosial. Sementara profesionalisme adalah tata keterampilan dan tanggung jawab moral, yang memastikan semangat itu tidak berhenti di wacana, tetapi menjelma menjadi karya nyata yang berdampak. “Kader HMI harus mampu menjadi aktivis yang profesional dan profesional yang tetap aktivis,” ujarnya tegas. “Kita tidak cukup hanya bersuara, tapi juga harus membangun; tidak hanya mengkritik, tapi juga berkontribusi.” Husain kemudian menguraikan bahwa sinergi antara aktivisme dan profesionalisme dapat dikenali dari tiga ciri utama: kepemimpinan kolaboratif, transformasi organisasi dan sosial, serta regenerasi dan keteladanan. Menurutnya, tanpa kepemimpinan yang mampu memadukan kolaborasi lintas bidang dan generasi, semangat perubahan hanya akan menjadi gema tanpa arah. Forum berjalan tertib, hangat, dan akrab. Para peserta menyimak dengan penuh antusiasme, beberapa mencatat setiap poin penting, sementara yang lain berdialog dengan pemateri dalam suasana penuh saling menghargai. Diskusi berkembang tidak hanya pada tataran ide, tetapi juga strategi konkret tentang bagaimana kader HMI bisa memainkan peran strategis di berbagai sektor menuju Indonesia Emas 2045. Dalam konteks menuju usia 100 tahun kemerdekaan Indonesia, Husain Anwar menekankan pentingnya visi Indonesia maju, berdaulat, adil, dan makmur yang hanya bisa terwujud melalui sumber daya manusia unggul, kolaboratif, lintas karakter dan bidang, serta berintegritas. Ia menegaskan bahwa kader HMI adalah bagian dari generasi penggerak perubahan, bukan sekadar penonton sejarah. “Indonesia emas hanya akan lahir jika generasi mudanya mampu menggabungkan idealisme perjuangan dengan profesionalitas kerja. Itulah hakikat kader HMI berilmu, berakhlak, dan berdampak,” tutupnya dengan penuh keyakinan. Sesi diakhiri dengan tepuk tangan yang hangat dan senyum yang bersahabat. Para peserta masih tampak berbincang santai, menandakan suasana keakraban intelektual yang hidup dalam forum tersebut. Di ruangan itu, idealisme dan profesionalisme seolah bersalaman meneguhkan arah perjuangan kader HMI untuk terus menapaki jalan menuju Indonesia yang berdaulat, berkeadilan, dan berkemajuan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Alumni Lintas Generasi Soroti Krisis Kepemimpinan dan Pudarnya Ruh Akademik di Unhas

ruminews.id, MAKASSAR – Sejumlah tokoh lintas generasi alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) berkumpul dalam forum reflektif bertajuk Dialog Alumni Lintas Generasi: Unhas Kita – Dulu, Kini, dan Akan Datang, yang digelar Sabtu malam, 25 Oktober 2025, di Kopi Aspirasi, Jalan AP Pettarani No.5C, Makassar. Kegiatan yang diinisiasi oleh Lobelobe Forum (LOF) dan Solidaritas Alumni Peduli Unhas (SAPU), serta didukung oleh IKA Unhas Kota Makassar, ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni akademisi senior Abdul Madjid Sallatu, dosen FISIP Unhas Dr. Hasrullah, M.Si, dan sosiolog Unhas Dr. Rahmat Muhammad, M.Si. Sesi diskusi dipandu oleh Andi Sri Wulandani Thamrin, S.IP., M.Hum. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi alumni untuk berdiskusi secara jernih dan konstruktif mengenai perjalanan panjang Unhas sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di kawasan timur Indonesia. Tema “Dulu, Kini, dan Akan Datang” diangkat untuk meninjau kembali perjalanan historis Unhas, kondisi kekinian kampus, serta arah pengembangannya di masa depan. Kampus Seperti Tempat Kursus Salah satu pandangan paling tajam datang dari Ni’matullah, alumni Fakultas Ekonomi Unhas sekaligus mantan Ketua Senat Mahasiswa. Ia menilai atmosfer akademik di Unhas kini kian memudar dan bergeser menjadi sekadar rutinitas administratif. “Unhas hari ini sudah seperti tempat kursus saja saya lihat. Tidak kelihatan nuansa dan tradisi akademik bergagasan di dalamnya, yang ada hanya orang yang mau mengejar ijazah,” tegas Ulla dalam forum tersebut. Menurutnya, dengan jumlah mahasiswa mencapai sekitar 39 ribu orang, organisasi kampus kini terlalu besar dan kehilangan kelincahan intelektual untuk melahirkan ide-ide besar. “Organisasi kampus kita sudah terlalu gemuk, makanya tidak bisa berbuat banyak selain rutinitas saja. Kita sulit berharap ada gagasan besar lahir dari konteks seperti saat ini,” ujarnya. Ulla juga menegaskan bahwa Unhas memiliki tanggung jawab besar terhadap kemajuan Provinsi Sulawesi Selatan. “Menurut saya, Unhas-lah yang paling bertanggung jawab untuk Sulsel. Gubernur kita alumni, Ketua DPRD Sulsel juga alumni. Bupati dan Wali Kota, anggota DPRD banyak alumni Unhas. Tapi mengapa kita tidak bisa memberi dampak yang lebih bagus?” ucapnya. Krisis Kepemimpinan Akademik Sementara itu, Abdul Madjid Sallatu, akademisi senior dan mantan Wakil Kepala Bappeda Sulsel, menyoroti hilangnya kepemimpinan akademik sejati di tubuh Unhas. “Yang tidak ada di Unhas saat ini adalah academic organizational leadership. Yang ada hanya personal leadership, sehingga tidak memberi dampak besar bagi masyarakat,” kata Madjid. Ia juga mengkritisi sistem perangkingan universitas dan beban administratif dosen yang dinilainya justru membunuh kreativitas serta mengerdilkan ruang akademik yang seharusnya menjadi jantung perguruan tinggi. “Perangkingan universitas adalah jebakan agar kampus terjun di dunia kompetisi, padahal saat ini yang dibutuhkan adalah sinergi dan kolaborasi. Kompetisi seharusnya tidak dikenal dalam tradisi akademik,” tegasnya. Budaya Literasi yang Memudar Dosen Ilmu Komunikasi Unhas, Dr. Hasrullah, M.Si, menyoroti lemahnya kemampuan literasi mahasiswa dan civitas akademika saat ini. “Memang banyak faktor penyebab pudarnya budaya membaca ataupun menulis, tapi kampus seharusnya mencari jalan keluar untuk ini. Kalau tidak, ini alarm bahaya bagi dunia akademik,” tegasnya. Ia mengenang masa kepemimpinan Prof. Ahmad Amiruddin, rektor ke-6 Unhas, yang kerap mengumpulkan dosen-dosen terbaik untuk berdiskusi berbagai topik — mulai dari isu kebangsaan hingga persoalan kemasyarakatan. “Dari forum-forum diskusi yang intens itulah banyak lahir ide dan gagasan, bahkan sebagian menjadi buku,” kenang Hasrullah. Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan Sementara itu, Dr. Rahmat Muhammad, yang pernah menjabat Wakil Dekan III FISIP Unhas, menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan akademik yang sehat dan terencana. “Dalam dunia akademik, regenerasi kepemimpinan harus dilakukan secara rutin. Tugas tambahan seperti Ketua atau Sekretaris Departemen, Dekan, Wakil Dekan, Rektor, atau Wakil Rektor sebaiknya tidak diduduki terlalu lama,” ujarnya. Menurutnya, cukup satu periode agar lebih banyak dosen dapat memperoleh pengalaman dalam manajemen organisasi kampus. “Dari 2.500-an dosen di Unhas, semuanya seharusnya punya kesempatan yang sama untuk mengenyam pengalaman memimpin. Potensi besar ini jangan disimpan di kampus saja,” tegas Rahmat. Ia juga menambahkan, Unhas yang begitu besar semestinya berani mendorong potensi terbaiknya ke level nasional. “Kalau memang berpotensi, kita harus dorong keluar kampus dan menjadi tokoh nasional, termasuk rektor,” ujarnya menutup pandangannya. Mengenang Kepemimpinan Emas Baik Abdul Madjid Sallatu, Ni’matullah, Dr. Hasrullah, maupun Dr. Rahmat Muhammad, sepakat bahwa kepemimpinan akademik terbaik dalam sejarah Unhas terjadi pada masa Prof. Ahmad Amiruddin. “Beliau bukan hanya pemimpin kampus, tapi pemimpin peradaban. Spirit kepemimpinannya belum ada yang menyamai hingga hari ini,” demikian simpulan reflektif yang mengemuka dalam forum yang berlangsung hingga pukul 23.00 WITA itu. Puluhan alumni dari berbagai fakultas dan angkatan hadir aktif dalam forum ini, menjadikannya ajang refleksi lintas generasi yang sarat gagasan dan semangat memperkuat kembali marwah, tradisi keilmuan, dan peran strategis Unhas dalam pembangunan bangsa. (*)

Pendidikan

Dosen UNESA Dampingi Sekolah di Malang Bangun Branding Lewat Media Sosial

ruminews.id – Malang, 17 Juni 2025 — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi S1 Bisnis Digital, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung transformasi digital dunia pendidikan. Melalui kegiatan bertajuk “Pengembangan Keterampilan Social Media Marketing untuk Mendukung Branding Sekolah di SMA Hasanuddin Wajak Malang”, tim dosen UNESA membantu sekolah beradaptasi dengan perubahan era digital melalui strategi branding dan pelatihan keterampilan pemasaran digital. Acara ini berlangsung pada hari Selasa, (17/06/2025) dimulai pukul 07.00 WIB, yang diikuti oleh guru serta siswa SMA Hasanuddin Wajak, Kabupaten Malang. Kegiatan ini diinisiasi oleh tim PKM yang diketuai oleh Dr. Muhammad Fachmi, S.E., M.M., bersama empat dosen anggota, yakni Nadia Nur Thahirrah, S.E., M.SM., Dr. Ratih Amelia, S.E., M.M., Fresha Kharisma, S.E., M.SM., dan Ika Diyah Candra Arifah, S.E., M.Com. Kegiatan turut dibuka oleh Kepala Sekolah, Ratna Faradisa, M.Pd., yang menyampaikan apresiasinya atas kerja sama dengan UNESA. Kegiatan PKM dirancang secara partisipatif dan aplikatif, dengan melibatkan pemateri oleh Nadia Nur Thahirrah, S.E., M.SM., dosen muda Program Studi S1 Bisnis Digital UNESA. Materi yang diberikan mencakup pembuatan konten kreatif dan menarik (poster, reels, caption edukatif), pemanfaatan aplikasi desain digital seperti Canva dan CapCut, strategi penggunaan hashtag dan peningkatan engagement, serta penjadwalan konten dan analisis insight di Instagram dan Facebook. “Program ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi guru dan siswa dalam bidang social media marketing, yang pada akhirnya mampu meningkatkan citra sekolah melalui promosi digital yang efektif, sekaligus membekali siswa dengan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan era digital,” ujar Nadia. Ketua Tim PKM, Dr. Muhammad Fachmi, S.E., M.M., menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pendidikan digital yang berkelanjutan. “Melalui kegiatan PKM, kami ingin membantu sekolah-sekolah agar lebih siap menghadapi persaingan era digital. Guru dan siswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga kreator konten yang mampu memperkuat citra positif sekolah,” jelasnya. Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Guru dan siswa secara langsung mempraktikkan pembuatan konten promosi sekolah yang diunggah ke akun resmi media sosial SMA Hasanuddin Wajak. Hasil karya mereka menunjukkan kreativitas, kolaborasi, dan pemahaman baru terhadap strategi branding digital, menjadi modal penting dalam memperkuat citra sekolah di ranah digital.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global di Forum LK2 HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Di bawah temaram lampu Hotel LaMacca, malam itu terasa hangat, bukan karena udara kota, melainkan karena semangat intelektual yang menyala di dada para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ruangan itu tertata rapi, penuh ketertiban dan keteduhan, tempat berlangsungnya Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur. Dari balik podium, hadir sosok yang dihormati Prof. Qashim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar sekaligus kader senior HMI, membawakan materi bertajuk “Gerakan Islam dan Transformasi Sosial: Menjawab Kapitalisme Global.” Suasana forum begitu tenteram, seolah setiap kursi dan meja menyimpan rasa hormat. Para peserta duduk dengan sikap yang santun, pandangan mereka tertuju penuh perhatian kepada sang pemateri. Tak ada hiruk pikuk, hanya suara lembut Prof. Qashim yang menembus keheningan, menjahit benang-benang makna antara iman, perjuangan, dan perubahan sosial. “Islam,” ujarnya perlahan, “bukan hanya tentang ritual, tapi tentang gerak. Ia adalah daya yang menuntun manusia untuk mengubah realitas sosialnya untuk melawan ketidakadilan, menegakkan martabat, dan menolak hegemoni kapitalisme global yang mengerdilkan kemanusiaan.” Kata-kata itu mengalir seperti mata air di tanah kering. Para peserta menyimak dengan wajah yang khusyuk, sebagian mencatat, sebagian lain larut dalam renungan panjang. Dalam forum itu, Islam dibicarakan bukan sebagai doktrin kaku, melainkan sebagai kekuatan peradaban yang hidup kekuatan yang memanggil umatnya untuk berpikir, bertindak, dan bertransformasi. Prof. Qashim memaparkan bagaimana kapitalisme global tak hanya menguasai ekonomi, tapi juga membentuk kesadaran manusia — menjadikan hidup sekadar transaksi, dan nilai-nilai spiritual kehilangan makna sosialnya. Namun, ia menegaskan bahwa gerakan Islam harus hadir bukan sebagai perlawanan emosional, melainkan sebagai transformasi yang sadar dan berakar pada ilmu serta akhlak. “Gerakan Islam yang sejati,” tuturnya, “adalah gerakan yang memahami realitas, menatap masa depan dengan ilmu, dan menapaki jalan perubahan dengan moralitas. Itulah jihad intelektual kita.” Suasana forum terasa akrab, di sela-sela keseriusan diskusi, tawa ringan sesekali pecah. Para peserta muda HMI bertanya dengan sopan, penuh rasa ingin tahu. Prof. Qashim menjawabnya dengan senyum, dengan sabar, dengan nada seorang guru yang tak hanya mengajar, tapi membimbing jiwa. “Kalianlah generasi yang akan menentukan arah Islam di masa depan,” katanya. “Jangan biarkan semangat kalian padam hanya karena dunia tampak dikuasai oleh sistem yang tak adil. Islam selalu punya jawaban selama kita mau berpikir dan berbuat dengan kesadaran.” Forum itu berakhir dengan tepuk tangan yang pelan tapi panjang. Ada rasa haru yang meneduh di dada para peserta. Mereka tahu, malam itu bukan sekadar kuliah, itu adalah pertemuan antara generasi dan gagasan, antara ilmu dan keimanan, antara masa lalu perjuangan dan masa depan perubahan. Di luar ruangan, angin Makassar berembus lembut. Beberapa peserta masih berkumpul, berdiskusi kecil, sementara Prof. Qashim menyapa mereka satu per satu dengan kehangatan seorang ayah yang bangga pada anak-anaknya. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi saksi bahwa HMI Makassar Timur bukan hanya ruang belajar, tetapi ruang pembentukan jiwa. Di sanalah ilmu dan nilai bertemu, membentuk manusia yang sadar akan tugas sejarahnya: menjawab kapitalisme global dengan semangat Islam yang mencerahkan dan membebaskan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Zulhajar Bicara Negara dan Manusia: LK2 HMI Makassar Timur Jadi Ruang Hangat Menyemai Kesadaran Sosial

ruminews.id, Makassar — Siang di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun bersahaja. Di ruang pertemuan yang diterangi cahaya lembut, puluhan peserta Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur duduk rapi, membentuk lingkaran diskusi yang hangat. Wajah-wajah muda itu menatap penuh antusias ketika Zulhajar, S.Ip., M.A., anggota DPRD Kota Makassar sekaligus senior HMI Cabang Makassar Timur, melangkah ke depan membawakan materi bertajuk “Negara dan Manusia: Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya.” Sejak awal, forum itu tak sekadar tampak ilmiah, tetapi sarat suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Tak ada sekat antara pemateri dan peserta; yang ada hanya dialog setara antara generasi yang berpikir, merasa, dan berjuang. Dengan nada suara yang tenang namun tegas, Zulhajar membuka materinya tentang hubungan mendasar antara manusia dan negara sebuah relasi yang sering kali rumit, namun selalu relevan. “Negara seharusnya tidak hanya mengatur,” ujarnya lirih namun dalam, “tetapi juga memastikan manusia hidup dengan martabat memiliki hak ekonomi yang adil, hak sosial yang setara, dan hak budaya yang dijaga keberagamannya.” Para peserta menyimak dengan khidmat. Sesekali, mereka mengangguk, mencatat, dan berdiskusi kecil di antara jeda kalimat. Dalam forum itu, negara tak lagi dipandang sebatas institusi kekuasaan, melainkan sebagai ruang bersama tempat manusia tumbuh, bermimpi, dan menegakkan keadilan. Zulhajar mengajak peserta untuk menafsirkan kembali makna kehadiran negara. Ia menyinggung tentang hak-hak ekonomi rakyat kecil, tentang kesenjangan sosial yang terus melebar, serta pentingnya menjaga budaya sebagai napas kehidupan bangsa. “Hak-hak sosial bukanlah hadiah dari negara,” katanya dengan mantap, “melainkan hak kodrati manusia yang harus dijamin oleh setiap sistem yang mengaku beradab.” Nada bicara Zulhajar sesekali melembut, terutama saat ia menyelipkan kenangan masa mudanya di HMI masa ketika idealisme dan semangat perubahan menjadi satu-satunya bekal perjuangan. “Di sinilah dulu saya belajar berpikir kritis, tapi juga belajar menghargai manusia,” ucapnya disambut senyum para peserta. Forum itu pun terasa hidup, bukan karena perdebatan, melainkan karena percakapan yang tumbuh dari hati. Di tengah keseriusan tema, tawa ringan sesekali pecah, mencairkan suasana tanpa kehilangan makna. Keakraban intelektual terasa nyata seperti keluarga besar yang tengah belajar memahami dunia bersama. Saat sesi tanya jawab dibuka, beberapa peserta mengangkat tangan dengan semangat. Pertanyaan mereka mengalir tajam tentang ketimpangan ekonomi, hak buruh, dan posisi negara dalam melindungi rakyat dari hegemoni pasar. Zulhajar menanggapinya satu per satu, tidak sebagai pejabat, tapi sebagai abang HMI yang ingin berbagi pengalaman hidup dan pemikiran. “Kita boleh kritis kepada negara,” katanya menutup sesi, “tapi jangan lupa kita juga bagian dari negara itu. Tugas kita adalah memperbaikinya, bukan menjauhinya.” Tepuk tangan panjang mengiringi akhir sesi. Beberapa peserta masih berdiskusi kecil, sementara pemateri dengan hangat menyapa mereka satu per satu. Di ruangan itu, tampak jelas: HMI bukan hanya melahirkan pemikir, tetapi juga manusia yang peduli pada sesamanya. Siang di Hotel LaMacca berakhir dengan kesan mendalam. Dalam keheningan yang ramah, para peserta membawa pulang bukan hanya catatan, tapi kesadaran baru bahwa negara, manusia, dan kemanusiaan sejatinya tumbuh dari akar yang sama: cinta pada keadilan, dan tanggung jawab pada sesama.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Politik sebagai Ruang Pengasuhan Kekuasaan: Prof. Armin Gurat Kesadaran Kritis Kader HMI di LK2 Nasional Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Sore Hingga Malam di Hotel LaMacca terasa berwibawa namun hangat. Udara ruangan bercampur aroma kopi yang mengepul pelan, menjadi saksi bagi para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai daerah yang duduk berjejer rapi, menyimak dengan penuh perhatian. Di tengah suasana tertib, tenteram, dan penuh keakraban, tersaji satu sesi yang paling ditunggu: pemaparan Prof. Armin dengan tema “Politik sebagai Arena Kontestasi Kekuasaan.” Dengan suara yang tenang namun penuh daya, Prof. Armin membuka materinya dengan perenungan tajam: “Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ruang tempat kepemimpinan diasuh, diuji, dan dimaknai.” Ucapan itu bergema lembut, namun menghunjam dalam ke benak setiap peserta. Dalam pandangan sang profesor, politik seharusnya diasuh oleh kepemimpinan profektif, kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan, menuntun arah perubahan, dan membangun tatanan sosial dengan visi kemanusiaan yang luas. “Politik yang sehat,” lanjutnya, “adalah politik yang memberi ruang bagi nalar, bukan sekadar nafsu kuasa. Sebab tanpa politik, kita tak akan pernah punya alat untuk memperbaiki demokrasi.” Para peserta menunduk sesaat, mencatat kalimat-kalimat yang terasa seperti wejangan panjang dari seorang guru bangsa. Di ruang yang terang tapi lembut itu, politik tidak lagi terdengar kotor atau menakutkan; ia tampil sebagai jalan pengabdian, jalan untuk memperbaiki sistem, menata keadilan, dan menghidupkan kembali cita luhur bernegara. Prof. Armin kemudian memperkaya wacana dengan menyinggung dua konsep besar dalam filsafat politik: libertarian dan komunitarian. “Kaum libertarian,” ujarnya, “melihat kebebasan individu sebagai hak tertinggi bahwa manusia bebas menentukan hidupnya sejauh tidak mengganggu kebebasan orang lain.” Sementara itu, komunitarian justru memandang manusia sebagai bagian dari komunitas, bahwa kebebasan tidak berarti apa-apa tanpa tanggung jawab sosial dan nilai kebersamaan. “Di antara dua kutub itulah,” sambungnya, “politik harus menemukan keseimbangannya, bagaimana kebebasan pribadi tidak meniadakan kepentingan publik, dan bagaimana solidaritas sosial tidak mematikan hak individu.” Suasana forum terasa hidup, namun damai. Peserta LK2 tampak khusyuk menyimak, sesekali tersenyum atau mengangguk, seolah memahami bahwa yang dibicarakan bukan sekadar teori, melainkan cermin dari realitas bangsa yang tengah mereka hidupi. Tidak ada kegaduhan, tidak ada ketegangan; hanya dialog yang jujur dan intelektual yang hangat, dibalut rasa saling menghargai. Ketika sesi tanya jawab dibuka, tangan-tangan terangkat dengan sopan. Pertanyaan mengalir, dan Prof. Armin menjawab dengan sabar kadang diselingi tawa ringan yang memecah keheningan. Di tengah forum yang damai itu, politik tampak begitu manusiawi; ia menjadi bahasa tentang bagaimana manusia mengatur hidup bersama dengan akal sehat dan hati nurani. Menjelang akhir, Prof. Armin menutup dengan kalimat yang disambut tepuk tangan panjang: “Politik adalah seni memanusiakan kekuasaan. Dan demokrasi hanya akan hidup jika kita memiliki pemimpin yang mau belajar, bukan sekadar berkuasa.” Malam di Hotel LaMacca pun menorehkan kesan mendalam. Dalam forum yang tertib, tenteram, dan akrab, para kader muda HMI seolah mendapatkan napas baru: bahwa politik, sejatinya, bukan medan kotor, melainkan ladang pengabdian tempat idealisme diuji, dan keadilan diperjuangkan dengan nurani yang jernih.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan, Uncategorized

Membaca Tubuh dan Tenaga: Sri Wulandari Bedah Relasi Eksploitasi Ganda dalam Kapitalisme dan Gender di LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Malam di Hotel LaMacca terasa hening namun berdenyut oleh semangat pengetahuan. Dalam ruangan berbalut hijau identitas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), para kader dari berbagai daerah berkumpul dalam Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur, menandai satu babak penting dalam perjalanan intelektual mereka. Malam itu, suasana forum yang tertib, tenteram, dan penuh keakraban menjadi saksi hadirnya sosok pemateri yang menggugah kesadaran: Sri Wulandari, dengan tema “Kapitalisme dan Gender: Relasi Eksploitasi Ganda dalam Sistem Produksi dan Reproduksi.” Dengan tutur yang tenang namun penuh daya renung, Sri membuka materinya dengan kalimat sederhana namun tajam, “Gender bukanlah properti individu, ia adalah proses sosial yang hidup bergerak, berubah, dan bekerja dalam ruang kehidupan manusia.” Kata-katanya meluncur seperti aliran sungai yang menghapus kabut kebingungan di benak peserta. Ia menguraikan bahwa pengalaman gender tidaklah tunggal, melainkan berlapis-lapis, berubah sesuai usia, status sosial, dan konteks hidup. Dalam sistem patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan dan otoritas, perempuan dan kelompok rentan lainnya seringkali menjadi korban dari eksploitasi ganda baik dalam sistem produksi ekonomi maupun reproduksi sosial di ranah domestik. “Patriarki,” ujar Sri dengan nada lembut namun menusuk, “tidak hanya hidup di rumah tangga, tapi juga di tempat kerja, di ruang politik, bahkan di dalam pikiran kita sendiri.” Forum seketika menjadi ruang refleksi. Para peserta, baik laki-laki maupun perempuan, tampak larut dalam pemahaman baru tentang relasi sosial yang selama ini tersembunyi di balik norma dan kebiasaan. Suasana yang tertib dan khusyukmembuat setiap kalimat pemateri menggema dalam kesadaran kolektif. Sri kemudian mengaitkan gagasan gender dengan kapitalisme, menyebut bahwa kapitalisme bukanlah sekadar sistem, melainkan sesuatu yang “dikerjakan dan dihidupi manusia setiap hari.” Dalam relasi ini, tubuh perempuan menjadi bagian dari rantai kerja yang tak pernah terlihat dari dapur rumah tangga hingga pabrik, dari ruang kelas hingga ruang reproduksi sosial. “Kapitalisme,” ujarnya, “berdiri di atas kerja yang tak dibayar dan tenaga yang tak diakui.” Suasana forum kian hidup ketika sesi dialog dibuka. Peserta mengajukan pertanyaan dengan semangat kritis, sementara Sri menjawab dengan kesabaran dan empati. Tidak ada perdebatan keras; hanya pertukaran makna yang menumbuhkan kesadaran baru. Tatapan-tatapan yang semula penuh tanya kini berubah menjadi pancaran tekad untuk memahami perjuangan sosial dari sisi yang lebih manusiawi. Menjelang akhir sesi, Sri menutup dengan kalimat yang meresap ke dalam ruang:“Jalan pembebasan sosial tidak hanya tentang menggulingkan struktur ekonomi, tetapi juga membebaskan cara kita memandang tubuh, kerja, dan martabat manusia. Sebab pembebasan sejati lahir ketika keadilan tumbuh di antara relasi yang setara.” Tepuk tangan mengalun lembut, disertai senyum dan kehangatan antar peserta. Malam di Hotel LaMacca pun menjadi lebih dari sekadar forum pelatihan, ia menjelma menjadi ruang pembebasan pikiran, tempat kader HMI belajar bahwa perjuangan melawan ketidakadilan bukan hanya soal politik dan ekonomi, tetapi juga tentang bagaimana manusia saling memahami dalam kemanusiaannya yang paling dalam. Dan di ruangan yang tenteram itu, terpatri satu kesadaran baru: bahwa perjuangan sosial tidak akan pernah utuh tanpa keadilan gender, tanpa keberanian melihat bahwa tubuh, kerja, dan cinta pun bisa menjadi medan pembebasan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Dari Kampus untuk Rakyat: Ir. Anwar Mattawape Ajak Kader HMI Menemukan Jalan Pembebasan Sosial di Tengah Arus Kapital

ruminews.id, Makassar — Suasana malam di Hotel LaMacca terasa tenang namun berdenyut oleh semangat intelektual yang hidup. Di ruangan itu, para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dari berbagai penjuru tanah air berkumpul dalam Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional HMI Cabang Makassar Timur, menyalakan api kesadaran yang tak pernah padam. Malam itu, mereka menyimak dengan penuh perhatian materi yang dibawakan oleh Ir. Anwar Mattawape, ST. MBA. bertajuk “Dari Kampus Untuk Rakyat: Mahasiswa, Sociopreneurship, dan Jalan Pembebasan Sosial.” Dengan gaya tutur yang hangat namun bernas, Anwar membuka sesi dengan refleksi tajam tentang nasib para aktivis setelah meninggalkan kampus. “Banyak dari mereka,” ujarnya pelan, “yang kehilangan arah ketika dunia kampus tertinggal di belakang. Idealismenya tinggi, tetapi tidak memiliki kemandirian ekonomi untuk menegakkan perjuangan.” Suasana ruangan seketika hening, seolah setiap kalimatnya menyentuh sisi paling dalam dari perjalanan para peserta. Ia melanjutkan, bahwa aktivisme tanpa kemandirian ekonomi sering berhenti pada wacana. Semangat yang dahulu bergelora di ruang-ruang diskusi kampus, kerap redup di hadapan kerasnya realitas hidup. “Kita butuh aktivis yang tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan,” tegasnya, “tetapi juga mampu membangun basis ekonomi yang mandiri, aktivis yang tidak bergantung pada kekuasaan, melainkan berdiri di atas kakinya sendiri.” Dalam paparan yang penuh semangat, Anwar memperkenalkan konsep sociopreneurship sebagai jalan pembebasan sosial. Menurutnya, dunia usaha tidak semestinya menjadi antitesis dari idealisme, melainkan instrumen untuk memperluas kebermanfaatan sosial. “Kapital hari ini telah menjadi faktor dominan yang membentuk arah politik, pendidikan, dan bahkan nilai sosial. Maka jalan pembebasan harus dimulai dengan merebut kembali kendali atas ekonomi,” ujarnya dengan nada tegas namun lembut. Forum malam itu berjalan tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Para peserta duduk rapi, sebagian sibuk mencatat, sebagian lain menatap dengan mata berbinar, mata yang memantulkan semangat baru untuk berdiri di atas kesadaran dan kemandirian. Tidak ada kebisingan, hanya percakapan yang dalam dan jujur antara pemateri dan kader muda yang tengah menata arah perjuangannya. Ketika sesi dialog dibuka, pertanyaan-pertanyaan mengalir dari berbagai sisi ruangan. Diskusi berkembang hangat, diselimuti senyum dan tawa kecil yang akrab. Namun di balik kehangatan itu, mengalir pula kesadaran yang serius: bahwa idealisme mahasiswa tidak boleh berhenti pada kata, tetapi harus berbuah pada karya yang menyejahterakan. Menutup sesi, Anwar menyampaikan pesan yang melekat di benak setiap peserta:“Jadilah aktivis yang mampu menciptakan perubahan tanpa menunggu izin dari siapa pun. Bangun kemandirianmu, sebab dari situ lahir kebebasan sejati.” Tepuk tangan panjang menggema di ruangan itu. Malam di Hotel LaMacca menjadi saksi lahirnya semangat baru bahwa perjuangan sosial tidak hanya milik mereka yang berorasi di jalan, tetapi juga mereka yang berani berinovasi di tengah masyarakat. Di ruang yang tertib dan penuh keakraban itu, kader-kader muda HMI menemukan kembali makna perjuangan: bahwa dari kampus, mereka tidak hanya membawa gelar, tetapi juga tanggung jawab untuk memerdekakan rakyat melalui kemandirian, kreativitas, dan keberanian untuk berdiri di atas nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Di Bayang-Bayang Oligarki: Fajar., M.Si Gugat Arah Demokrasi dan Hukum Indonesia di LK2 Nasional HMI Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Dalam balutan suasana malam yang hangat di Hotel LaMacca, para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur dari berbagai penjuru negeri berkumpul dalam satu ruang, menyatukan semangat dan nalar kritis dalam kegiatan Intermediate Training (LK2) Tingkat Nasional. Di tengah ketertiban forum yang tenang dan penuh keakraban, hadir seorang pemateri yang menggetarkan kesadaran: Fajar., M.Si, dengan tema yang menggugah nalar kebangsaan, “Oligarki, Demokrasi, dan Sistem Hukum di Indonesia.” Cahaya lampu hotel yang lembut memantul di wajah-wajah muda yang menyimak dengan khidmat. Fajar memulai paparannya dengan nada yang tenang, namun setiap kalimatnya mengalir tajam seperti pisau intelektual yang mengiris lapisan kenyataan. “Reformasi,” ujarnya, “telah memunculkan dirinya dengan gemilang, tetapi di balik gegap gempitanya, banyak pejabat yang kini menduduki kursi kekuasaan justru lupa menunaikan janji reformasi itu sendiri.” Ia berbicara tentang oligarki bayangan kekuatan ekonomi dan politik yang terus membayangi sistem demokrasi di negeri ini. Dengan bahasa yang jernih namun sarat makna, Fajar mengurai bagaimana kekuasaan sering berputar di lingkaran yang sama, dikuasai oleh segelintir elit yang piawai memanfaatkan hukum sebagai alat legitimasi, bukan keadilan. “Kita hidup,” katanya, “di zaman ketika hukum tak lagi berdiri tegak sebagai pelindung rakyat, tetapi sebagai benteng bagi mereka yang punya kuasa dan modal.” Suasana forum tetap tertib, tenteram, dan hangat. Para peserta menatap penuh perhatian, mencatat setiap gagasan yang meluncur dari pemateri. Beberapa di antaranya mengangguk pelan, seolah menemukan cermin dari kegelisahan yang selama ini mereka simpan dalam diam. Ketika sesi diskusi dibuka, suasana berubah menjadi perbincangan yang hidup namun beretika, dialog antara kegelisahan dan harapan. Fajar dengan sabar menanggapi setiap pertanyaan. Nada suaranya tidak meninggi, tetapi penuh ketegasan moral. Ia mengingatkan bahwa untuk menegakkan demokrasi sejati, generasi muda harus berani berdiri di bayang-bayang oligarki, bukan untuk tunduk, melainkan untuk mengkritik, melawan, dan melampauinya dengan kekuatan pengetahuan dan moralitas. “Demokrasi,” tuturnya lirih namun tegas, “tidak akan berarti jika rakyat hanya menjadi penonton di panggung kekuasaan. Dan hukum tidak akan adil jika ia hanya berpihak kepada yang kuat.” Tepuk tangan pelan namun dalam menggema memenuhi ruangan. Para peserta masih bertahan di kursi mereka, enggan beranjak, seolah malam itu belum selesai memberi pelajaran. Dalam keheningan yang lembut, wajah-wajah muda itu menyimpan satu tekad: bahwa kader HMI harus menjadi bagian dari sejarah yang menyalakan kembali api reformasi—bukan sekadar slogan, tetapi gerak nyata melawan ketimpangan. Malam di Hotel LaMacca pun menorehkan jejaknya. Di antara cahaya lampu, tawa kecil, dan diskusi hangat yang belum usai, tersimpan kesadaran baru: bahwa perjuangan menegakkan demokrasi bukan soal kekuasaan, melainkan soal keberanian menjaga nurani di tengah bayang-bayang oligarki.

Daerah, Makassar, Nasional, Pendidikan

Menembus Dialektika Sejarah: Afrizal As-Siddiq Bakar Semangat Kader HMI di Intermediate Training LK2 Makassar Timur

ruminews.id, Makassar — Dalam ruang yang dipenuhi aroma intelektualitas dan semangat pergerakan, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur kembali menorehkan catatan penting melalui kegiatan Intermediate Training (LK2). Forum tingkat Nasional ini menjadi wadah penyemaian kesadaran dan pendalaman nilai perjuangan bagi para kader muda yang haus akan pengetahuan dan pembaruan pemikiran. Salah satu momen yang paling menyedot perhatian peserta adalah saat Afrizal As-Siddiq, seorang pemikir muda yang dikenal tajam dan berwawasan historis, membawakan materi bertajuk “Materialisme Dialektis dan Perubahan Sosial: Dialektika Relasi Produksi dan Superstruktur” Dengan tutur yang mengalir namun sarat makna, Afrizal mengajak para peserta menyelami kembali hakikat manusia dalam sejarahnya bahwa manusia bukan sekadar penonton perubahan, tetapi pelaku yang mesti membuktikan kebenaran melalui kenyataan dan kekuatan tindakannya. “Materialisme,” ujarnya dengan tenang namun tegas, “adalah dasar pemahaman tentang kenyataan hidup manusia, sementara dialektika adalah denyut perubahan itu sendiri pertemuan antara gagasan dan kenyataan yang saling meneguhkan.” Ia menambahkan bahwa dalam pandangan Marxis, sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas, namun di tangan generasi muda, dialektika sejarah dapat dimaknai sebagai ruang pembuktian: bahwa kesadaran tak berhenti di kepala, melainkan hidup di tindakan. Suasana forum berlangsung tertib, tenteram, dan penuh keakraban. Para peserta menyimak dengan khidmat, sesekali mengajukan pertanyaan dengan nada ingin tahu yang tinggi. Tak ada hiruk-pikuk yang mengganggu, hanya percakapan ide yang berlapis makna. Sorot mata peserta mencerminkan semangat yang menyala sebuah tanda bahwa materi yang disampaikan tidak hanya dipahami, tetapi juga diresapi sebagai bagian dari kesadaran diri seorang kader HMI. Di penghujung sesi, Afrizal menutup dengan kalimat yang menggetarkan ruang: “Sejarah bukanlah catatan masa lalu. Ia adalah arus yang terus mengalir, dan kita manusia adalah perahunya. Maka berlayarlah dengan kesadaran, agar arahmu tak ditentukan oleh ombak, tetapi oleh kemauanmu sendiri.” Kegiatan Intermediate Training LK2 HMI Cabang Makassar Timur pun menjadi lebih dari sekadar pelatihan, ia menjelma menjadi ruang dialektika yang hidup, tempat ide dan kenyataan bertemu dalam kehangatan intelektual dan semangat persaudaraan yang tulus.

Scroll to Top