OPINI

Ali Khamenei; Membaca Kolonialisme (IV)

Penulis: Rahmatullah Usman (Buruh Tinta)

ruminews.id – Max Horkheimer dan Theodorno W. Adorno melihat pencerahan di Barat selalu berurusan dengan perubahan progresif, yang bertujuan untuk membebaskan manusia dari mitos dan ketakutan untuk membangun kedaulatannya. Pencerahan selalu berupaya untuk menyingkirkan cara berpikir abad pertengahan, yang dianggap paling merugikan bagi kelahiran abad pencerahan.

Saat pencerahan berhasil menggugah selera masyarakat dan kesadaran dibentuk melalui proses pencerahan akal budi. Alam berhasil ditaklukkan sedemikian rupa, dengan menyingkirkan mitos dan berhasil menghasilkan bencana. Teori kritis Mazhab Frankfurt, Horkheimer dan Adorno melihat demikian; “Namun bumi yang sepenuhnya tercerahkan telah menimbulkan kemenangan yang penuh bencana; program pencerahan adalah kekecewaannya terhadap dunia, penghapusan mitos dan diganti pengetahuan karena tahayul, ( 2014:28).

Ilmu pengetahuan menjadi satu-satunya cara manusia untuk mencapai tujuan kebenaran. Kebenaran yang dibungkus oleh kebudayaan pencerahan. Kehancuran terhadap nilai-nilai manusia dan alam sebagai wadah untuk melakukan eksplorasi ilmu pengetahuan. Dengan cara ini, Ali Khamenei melihat peluang bagi Barat untuk melakukan serangan budaya bagi bangsa lain dengan sifat kolonial mereka.

Baginya, karakteristik peradaban yang dilancarkan oleh kolonialisme seperti; industri dan ilmu pengetahuan sebagai cara halus untuk mengendalikan pikiran bangsa yang dijajah agar bangsa tersebut berpijak pada prinsip materialisme. Fungsinya adalah untuk menyingkirkan bangsa yang dijajah atau umat Islam khususnya agar meninggalkan budaya dan agama mereka. Oleh karena itu, mereka kolonialisme, seperti yang dikatakan Ali Khamenei; “Karakteristik yang paling menonjol adalah kecenderungan pada industri dan ilmu pengetahuan, serta penggunaan alat-alat kehidupan yang baru. Dan yang paling penting dari semua itu adalah kecenderungan pada falsafah yang berpijak di atas prinsip materialisme’, (2023: 52).

Ali Khamenei memandang bentuk karakteristik tersebut adalah sikap frontal yang telah disusun untuk mengambil posisi vis a vis dengan kebudayaan dan pemikiran religius bangsa yang dijajah. Terutama bagi masyarakat dan bangsa Timur yang memiliki karakter religius yang dibentuk oleh kebudayaan dan dijunjung tinggi dengan nilai-nilai keagamaan. Kolonialisme berupaya untuk menghancurkan nilai-nilai tersebut, dengan melakukan perombakan total terhadap cara berpikir masyarakat melalui karakteristik yang telah disebutkan di atas.

Bagi kolonialisme, Timur merupakan harta karun mereka, yang siap untuk dieksplorasi sesuai dengan kemauan mereka. Bagi masyarakat Timur yang religius, Kolonialisme menganggap itu sebuah objek yang siapa untuk dibentuk sesuai kebutuhan mereka. Karena baginya, religiusitas timur merupakan cara primitif masyarakat yang harus diganti oleh budaya mereka (kolonial). Edwar W. Said, dalam studi kritisnya mengenai cara pandang kolonial terhadap dunia Timur, seperti yang dikatakannya:

“Bagi orang-orang Eropa, Timur tidak hanya bersebelahan dengan kawasan mereka. Lebih dari itu, orang Eropa selalu Timur sebagai daerah jajahan mereka yang terbesar, terkaya, dan tertua selama ini. Timur juga dianggap sebagai sumber bagi peradaban dan bahasa Eropa, saingan atas budaya Eropa…….. Timur adalah (the other) bagi Eropa”, ( 2010: 2). Kolonialisme Barat selalu menganggap dirinya sebagai superior , sang subjek yang siap melakukan apa saja untuk merawat, mengurus, dan memelihara sang objek (the other) Timur.

Bagi Ali Khamenei, serangan yang dilakukan oleh kolonial Barat tidak henti-hentinya untuk menaklukkan Timur untuk menjadi boneka mereka. Oleh karena itu, mereka berupaya untuk melakukan serangan atas budaya spritualitasnya. Sebab, kolonialisme mengetahui bahwa spritualitas Timur sebagai kekuatan mereka. Ali Khamenei memandang bahwa karena spritualitas menjadi tujuan penghancuran Barat, itu menunjukkan kepada kita umat Islam bahwa betapa kerasnya serangan yang ditujukan terhadap pemikiran Islam.

Kolonialisme Barat berupaya untuk melakukan modernisasi besar-besaran atas nama kemajuan zaman. Mereka dengan superiornya menggaungkan atas nama kebebasan. Dengan menawarkan kemajuan industri dan rasionalisasi. Kritikus Mazhab Frankfurt, Herbert Marcuse memandang bahwa cara industri maju dan rasionalitas yang ditawarkan oleh Barat merupakan “ketidakbebasan yang menyenangkan”. Mereka berupaya menciptakan halusinasi untuk membentuk budaya industri dan rasionalisasi untuk mengontrol masyarakat.

Marcuse (2000:1) mengatakan; “Suatu ketidakbebasan yang menyenangkan, lembut, masuk akal dan demokratis berlaku di dalam peradaban industri maju, hal ini merupakan tanda adanya kemajuan teknis. Sesungguhnya, apa yang bisa lebih rasional daripada himpitan terhadap individualitas di dalam mekanisasi kinerja yang secara sosial perlu tetapi menyakitkan….”. Cara kolonialisme melakukan pengontrolan dengan sangat halus yang digambarkan oleh Marcuse, sebagai cara Barat untuk memisahkan umat Islam dari sumber pemikiran dan kebudayaannya yaitu, agama.

Kolonialisme mempertontonkan cara mereka hidup dan berbudaya. Melalui ilmu pengetahuan, sains dan teknologi sebagai bentuk kemajuan dan rasional yang dapat diterima. Dampak dari hegemoni kolonialisme ini, Ali Khamenei mengatakan; “Orientasi agama dan spiritualitas di dunia melemah dan pengaruhnya pun tambah kecil. Tak ayal, kemerosotan akhlak dan spritual pun menjadi fenomena yang mudah kita jumpai di tegah masyarakat” ( 2023: 54).

Bagi bangsa Timur umumnya, dan khususnya masyarakat Muslim yang tengah dirundung pengaruh oleh budaya kolonialisme ini, tentu dengan sangat gencar melakukan sosialisasi terhadap kemegahan budaya kolonialisme. Sebab, mereka menganggap bahwa tradisi dan kebudayaan Islam tidak tampak atau tidak bisa diunggulkan lagi. Ini akibat dari keberhasilan Kolonialisme mencekoki budaya mereka terhadap masyarakat.

Seorang muslim yang telah dicekoki oleh hegemoni kolonialisme akan bersuara atas nama mereka sendiri, dengan cara berpikir kolonial. Ini karena masyarakat Muslim telah kehilangan identitas dan sejarah mereka sendiri. Ali Syari’ati menggambarkan demikian: “ Manusia-manusia yang kehilangan latar belakang, terasing dari sejarah dan agamanya, asing terhadap apa yang telah dibangun oleh bangsanya, sejarahnya, dan nenek moyangnya di dunia ini. Terasing dari watak manusiawinya, satu kepribadian bekas dan mode konsumsinya telah diubah, yang pikirannya telah diubah, yang telah kehilangan pikiran-pikirannya yang berharga”, (1994:35).

Apa yang dikatakan Syari’ati di atas, tak ubahnya manusia yang betul-betul total kehilangan dirinya. Masyarakat yang telah kehilangan atau terasing dari karakter dirinya yang telah digambarkan Syari’ati, akan memupuk budaya luar untuk dijadikan sandaran dan cara berpikir masyarakat. Hal tersebut, tampak jelas dalam analisis Ali Khamenei, bahwa kondisi tersebut memudahkan kolonialisme dalam melancarkan serangan budaya dan membentuk ekosistem di wilayah jajahannya.

Bagi Ali Khamenei, ekosistem jajahan yang secara sistematis dibentuk oleh kolonial dapat tumbuh subur di dalam benak pikiran kaum Muslimin. Penyebaran itu ditandai dengan pola pikir dan perilaku masyarakat Muslim yang secara sadar atau tidak menjadi materialisme. Lebih jauh, Ali Khamenei menegaskan: “Bersamaan dengan tersebarnya paham materialisme yang telah mencapai puncaknya dalam pemikiran, politik, dan perilaku manusia……. Demikian pula, ilmu pengetahuan berkembang ekstrem.

Bagi Ali Khamenei, manusia dengan gaya industri maju, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menyerahkan dirinya dengan budaya material yang mengukur diri dan karakteristik manusia melalui benda-benda material. Siapa kita, budaya kita, identitas kita, adalah ukuran dari benda-benda material yang diciptakan oleh kolonial melalui prosedur kapitalisme.

Apa yang dikatakan Ali Khamenei di atas, telah menjadi studi penelitian oleh Martin J. Lee. Pada topik penelitiannya, ia mengatakan: “Objek material menjadi elemen vital dalam pembentukan identitas manusia dan refleksi atasnya; siapa kita, persepsi kita terhadap diri sendiri, dan penilaian atas harga diri kita seluruhnya dipengaruhi oleh apa yang kita miliki dan kuasi”, (2015: 45). Barat melakukan penggantian kebudayaan dan peradaban terhadap wilayah jajahannya secara total untuk menjadikannya modern.

Modernisasi dengan mengeluarkan biaya yang tinggi atas keinginan untuk menaklukkan Timur sebagai bangsa jajahan mereka. Dengan dalih, agar Timur menjadi beradap menurut mereka. Analisis Syari’ati menganalisis lebih jauh mengenai masalah ini; “Dengan dalih memperadabkan serta memperkenalkan kepada kebudayaan, Barat menghadirkan modernitas ini kepada kita (ketika saya mengatakan kita, yang saya maksud adalah bangsa-bangsa non-Eropa dan Dunia Ketiga), yang terus mereka sebut sebagai peradaban ideal”, (1994:160).

Dengan cara ini, bagi Ali Khamenei merupakan pencabutan dari akar budaya dan agama kaum kaum Muslimin. Mereka ingin menciptakan masyarakat ideal, yang menurut bangsa Timur lah yang menjadi uji coba mereka. Selain itu, untuk menaklukkan geografis mereka untuk menguasai sumber daya alam.

Bersambung,…………

Share Konten

Opini Lainnya

IMG-20260323-WA0004-768x432
Kelangkaan BBM dan LPG Di Sulsel : Krisis Distribusi atau Jejaring Mafia Energi
Desain tanpa judul
Darurat Energi Sulsel: Kelangkaan BBM & LPG 3 Kg Picu Kemacetan, Pertamina Dan Wakil Rakyat Dituntut Bongkar Mafia Distribusi
Muzakkir (5)
Krisis BBM dan LPG 3 Kg di Sulawesi Selatan: Ketika Negara Hadir dalam Kebijakan, tetapi Absen dalam Distribusi
Muzakkir (1)
Dusun Bagek Lawang di Desa Pohgading Timur, Kabupaten Lombok Timur, Terkepung Jalan Rusak Sepuluh Tahun dan Rawan Begal
Muzakkir (4)
Antara Data dan Fakta: Catatan Juari Bilolo, Pemuda Toraja Utara, Menyikapi Polemik Eva Stevany Rataba
Muzakkir (3)
Menggugat Ruang Pengungsian: Ketika Bencana Alam Memperberat Beban Perempuan
Muzakkir (1)
Jarak, Debu, dan Nurani : Pulang Sebelum Hilang
Muzakkir (1)
Kampung Nelayan Merah Putih Entry Point Membangun Sinergi Gerakan Pemberdayaan Perempuan Pesisir dan Kepulauan
Muzakkir (1)
Vonis Mati Bagi Koruptor Bisa Jadi Bumerang Selama Sistem Peradilan Masih Compang- Camping
Muzakkir (6)
Setelah Keracunan, Siapa Memulihkan Korban MBG?
Scroll to Top