OPINI

Saat Kita Ribut Mazhab, Dunia Sedang Membagi Peta

ruminews.id – Kebanyakan orang Indonesia hari ini masih sibuk memperdebatkan konflik Sunni–Syiah, seolah-olah dunia berhenti di abad pertengahan. Padahal geopolitik global sudah bergerak jauh melampaui isu sektarian itu. Yang sedang bermain bukan lagi sekadar perbedaan mazhab, melainkan perebutan energi, jalur dagang, teknologi militer, dominasi informasi, dan pengaruh kawasan.

Sementara kita ribut soal identitas, dunia sedang menyusun peta kekuatan baru.

Coba lihat dengan kepala dingin. Konflik di Timur Tengah hari ini bukan sekadar soal Sunni atau Syiah. Konflik itu berkaitan dengan posisi strategis kawasan, kontrol Selat Hormuz, harga minyak global, aliansi militer, hingga pertarungan blok besar dunia. Tetapi narasi yang terus digoreng di media sosial (khususnya di Indonesia) justru diarahkan ke satu titik sempit seolah “Ini perang Sunni vs Syiah.”

Mengapa?

Karena isu sektarian itu murah, emosional, dan mudah memecah belah. Isu itu seperti tombol merah yang jika ditekan, orang langsung marah tanpa berpikir panjang. Dan ketika umat Islam sibuk saling curiga, siapa yang diuntungkan?

Bukan rakyat Palestina.
Bukan rakyat Iran.
Bukan rakyat Arab.
Bukan juga umat Islam Indonesia.

Yang diuntungkan adalah pihak yang ingin dunia Islam terfragmentasi. Strategi klasik; pecah, lemahkan, lalu kendalikan.

Ironisnya, sebagian dari kita (netizen indonesia) dengan sukarela menjadi pengeras suara narasi itu. Mereka mengulang framing yang dibangun oleh kepentingan geopolitik luar, seolah itu adalah perjuangan teologis kita sendiri. Mereka membenci atas nama mazhab, padahal yang sedang dimainkan adalah catur kekuasaan global.

Indonesia bukan Timur Tengah. Sejarah Islam di Nusantara dibangun di atas akulturasi, tasawuf, kearifan lokal, dan toleransi. Kita tidak punya beban sejarah perang mazhab seperti di kawasan lain. Lalu mengapa kita begitu bersemangat mengimpor konflik yang bukan milik kita?

Perbedaan Sunni–Syiah adalah fakta teologis. Itu bagian dari sejarah intelektual Islam. Tetapi menjadikannya bahan bakar kebencian politik hari ini adalah bentuk kemalasan berpikir. Perbedaan itu menyederhanakan persoalan kompleks menjadi hitam-putih yang dangkal.

Jika kita terus terjebak pada pertengkaran mazhab, kita kehilangan fokus pada isu yang lebih besar yakni keadilan global, kemerdekaan bangsa-bangsa, kedaulatan ekonomi, dan martabat umat.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang keras dalam berdebat, tetapi lemah dalam membaca realitas.

Bijaklah. Bedakan antara perbedaan teologi dan permainan geopolitik. Jangan biarkan identitas keagamaan kita diperalat untuk agenda yang bahkan tidak kita pahami sepenuhnya.

Karena ketika umat sibuk bertengkar soal label, para aktor global sedang sibuk menghitung barel minyak, kontrak senjata, dan peta pengaruh.

Dan pada akhirnya, yang rugi bukan mazhab. Yang rugi adalah kita sendiri.

[Erwin]

Share Konten

Opini Lainnya

IMG-20260303-WA0003
Logika Perang Asimetris Iran
IMG-20260303-WA0007
Negeri-Negeri Kaca Di Teluk
IMG-20260302-WA0003
Duka Dunia Islam : Saat Api Menyala Dunia Islam Membisu
WhatsApp Image 2026-03-02 at 15.44
Iran di Titik Api: Dunia Tanpa Pemimpin.
WhatsApp Image 2026-03-02 at 10.26
Nurcholish Madjid: Islam dan Masalah Pembaharuan Pemikiran (Bagian V)
WhatsApp Image 2026-02-21 at 16.29
Evaluasi Yuridis: Desakan Konstitusional untuk Keluar dari Board of Peace
WhatsApp Image 2026-03-02 at 10.18
Mahasiswa Di Persimpangan Jalan : Antara Pendidikan dan Eksploitasi Pendidikan
IMG-20251210-WA0025
Pak Menteri, Membatasi Minimarket Demi Koperasi Bukan Solusi Bijak
WhatsApp Image 2026-02-28 at 11.34
Sang Pelita dalam Kamar Terkunci : Perlawanan Pena Seorang Perempuan
IMG-20260227-WA0003
MBG: Siapa yang Sebenarnya Diberi Makan?
Scroll to Top