OPINI

Reduksionisme Dan Fisika Kuantum: Tentang Kesadaran Diri (Bagian II)

Penulis: Rahmatullah Usman – Buruh Tinta

Ruminews.id – Pandangan holisme kuantum mendapatkan respons dari para fisikawan setelah percobaan Bateson memasukan sibernetika dalam pandangan holisme. Ia menggantikan peran makanisme reduksionis dalam ilmu-ilmu biologi dan sosial, dan juga menambahkannya dalam daftar meditasi dari Zen.

Mungkin yang paling menonjol diantara para pemikir holisme yakni, Fritjof Capra seorang fisikawan partikel yang menggeluti meditasi-meditasi Timur. Dalam pengalaman mistiknya, bagi para saintisme merupakan hal yang tabu. Namun, Capra menemukan hubungan meditasinya dengan teori kuantum relativistik.

Capra mendalami literatur meditasi Timur seperti hinduisme, Budduhisme, dan taoisme dalam masa meditasinya. Ia mendasari penemuannya dengan karakter partikel kecil dalam sifat materi dan pengalaman mistik;
“Dia menemukan seperangkat kesejajaran antara deskripsi para ilmuan tentang hasil pengamatan pertikel kecil di alam semesta dan deskripsi para mistikus yang melukiskan pengalaman mistisnya dengan realitas”,tutur Armahedi (46:2004).

Dalam perkembangan holisme selanjutnya yang menjadikan Capra terkenal karena penemuannya, yang bagi kalangan ilmuan sains merupakan hal yang mengejutkan. Sebab hal itu adalah paradigma baru dan asing bagi saintisme Barat yang masih diliputi oleh paradigma aufklarung yang mekanistik.

Hasil penemuan Capra berdampak pada cabang ilmu pengetahuan lainnya. Terutama dalam bidang psikologi yang sebelumnya dipengaruhi oleh pandangan Cartesian dengan mengambil jalan dualisme antara jiwa dan tubuh. Para psikolog kemudian menemukan dari pendekatan holisme yang menyelaraskan psikologi modern dan mistik Timur dengan nama; psikologi transpersonal serta keselarasan antara diri dan lingkungan.

Jadi, paradigma baru holisme membuka jalan untuk melihat kembali keselarasan antara diri dan lingkungan sekitar. Dengan demikian, percobaan itu menemukan kesadaran para saintisme bahwa alam dan manusia memiliki nilai ruhani. Sehingga perhatian itu memunculkan gerakan ekologi dan etika spritual. Oleh karena itu, paradigma holiseme menjadi paradigma alternatif bagi mereka.

Dalam perkembangannya, holisme menjadi penemuan penting bagi para saintisme untuk menelisik kembali mengenai kesadaran diri dan alam semesta yang dipengaruhi oleh renaisanas dan reduksionisme menjadi warisan mereka. Namun, apakah pandangan holisme ini benar-benar bisa terlepas dari dua raksasa besar yang memengaruhi revolusi sains? Bagaiaman holisme bisa lepas dari dua pandagan tersebut?

Sebagai pandagan alternatif, holisme menjadi besar dalam perkembangan sains modern. Kesempurnaannya yang tepat ketika pendekatan komputasional sebagai pelengkap sibernetika. Hal ini, yang membuktikan salah satu hipotesis bahwa holisme kesulitan keluar dari bayang-bayang reduksisonisme mekanistik. Meskipun kemunculnya untuk memberi kritikan pada reduksionis, namun paradigmanya tetap saja memberi keluasan sistem mekanistik untuk menjelaskan kesadaran manusia dan karakter benda-bena materi.

Meskipun upaya mereka untuk keluar dari reduksionis dan memberi pandangan baru terhadap kesadaran diri dan sifat kerja alam semesta, dan keselarasannya. Namun, tetap saja ruang reduksionis memenbgaruhi mereka meski secara implisit. Apa lagi dengan membicarakan kesadaran spritualitas manusia dengan sifat karakter benda materi seperti pertikel-partikel kecil melalui meditasi. Dan itu membawa arus utama reduksisonis tentang kesadaran diri.

Fakta bahwa kesulitan mereka keluar dari reduksionisme, bahkan dalam perkembanganya yang mutakhir. Holisme menjadi pandangan integratif yang memadukan reduksionisme menjadi “holisme informatik”:

“Dalam perkembangan mutakhir, holisme bukan lagi merupakan paradigma alternatif, melainkan merupakan paradigma integratif di mana paradigma reduksionisme mekanistik dianggap komplementer sebagai paradigma holisme informatik”, tutur Armahedi”, (47:2004).

Akal Dan Jiwa : Kesadaran Artifisial

Paradigma di atas memberi ruang pemeriksaan terhadap akal dan jiwa melalui pendekatan sainstisme. Meskipun tawaran mereka yang tampak holistik. Dengan ditemukannya paradigma holisme, namun cara kerja untuk melihat holisme dengan mata reduksionis. Melihat keseluruhan alam yang saling berkaitan satu dengan yang lain dengan prosedur cara kerja sains sebagai ukuran.

Bahkan untuk membuktikan kesadaran tersebut sebagai bukti, ia harus dipaksa untuk melihat bukti tersebut dalam jejak-jejak atom. Meski beberapa ilmuan dari mereka tidak sepakat akan hal itu. Mereka tetapa berupaya mempertahankan akal yang bersifat holistik. Akan tetapi, tetap saja tidak memberikan jawaban yang memuaskan.

“Gagasan yang dipopulerkan oleh para penulis semisal Teilhard de Chardian, bahwa jika manusia sadar pasti ada beberapa jejak kesadaran atom, sungguh tidak memiliki dasar rasional… kesadaran bukanlah sesuatu yang kita harapkan dipaksa diakui sebagai hasil akhir dari argumen tentang perilaku partikel fisik”, tutur Davies (117:2020). Lebih jauh, ia melanjutkan: dalam ungkapan yang lebih modern, akal “bersifat holistik”.

Pandagan holistk tidak memberi penegasan arti kesadaran tentang akal dan jiwa. Sebab dalam perkembanganya yang labih canggih, akal diperlawankan sebagai komputer. Perlawanan itu muncul akibat kebingungan mengenai proses berpikir manusia yang memang dalam skala yang lebih jauh, akal bukanlah suatu mode manusia berpikir. Sehingga akal didefenisikan melalui prosedur sains mekanis, dalam istilah mereka “akal artifisial” yang dalam pengembanganya bergeser menjadi akal dalam komputer. Analsis yang labih jauh Davies mengatakan:

“Tentu tak satupun dari semua ini menghalangi kemungkinan akal artifisial, mesin yang berpikir, dan sebagainya. Yang mengherankan bahwa banyak orang yang bersedia mengakui pikiran mereka memiliki akal, ngeri memikirkan komputer yang memiliki akal”, (117:2020). Tampaknya, paradigma holisme tetap saja meninggalkan bekas tersendiri mengenai kesadaran diri yang tidak memiliki kejelasan signifikan.

Inilah bentukan paradigma yang dibangaun oleh manusia modern, setelah sekian lama dipengaruhi oleh cara pandang renaisans yang dipuja-puja. Hasilnya, mereka harus membangaun kembali manusia dan alam yang telah dirombak habis-habisan oleh revolusi sains, akibat perlawannya kepada kekuasaan abad pertengahan.

Mereka kembali harus memungut puing-puing yang telah lama berserakan akibat goncangan sainstisme yang mengklaim dirinya otoritatif untuk menjelaskan manusia dan alam semesta. Sambil tertatih-tatih, mereka menerangkan kosmos kembali dengan sedikit berbeda dari pendahulunya. Meski demikian, pengaruh terhadap pemikiran mekanistik reduksionis sukar untuk dielakan.

“Pengetahuan saintifik secara fundamental bersifat paradoksal. Paradoksal ialah bahwa semua ‘kebenaran’ sains alam ‘yang nyata’ didasarkan distorsi paling keji. Dalam rangka menciptakan alam semesta yang dapat dimengerti, kita berkomitmen pada oversimplikasi dan terang, kita telah mengabaikan mekanisme pemahaman, [yaitu tentang] diri”, tutur Brian Appleyard (178: 2010).

Indikasi dari kemajuan paradigma holisme mencirikan kompleksitas dari pandagan mereka terhadap manusia dan alam semesta. Komplesitas itu menjadi babak baru dalam perkembangan sains melalui jalur holisme yang membagi secara mekanis sifat dasar manusia dan cara kerja kesadarannya. Terlebih lagi komplesitas bentuk baru terhadap cara kerja alam semesta.

Komplesitas baru tersebut, ungkap Armahedi, bahwa kemampuan secara kreatif untuk menghasilkan ketertiban di alam semesta. Kata yang muncul sebagai kunci ialah “kreatif’, dalam pengertiannya yang lebih jauh sebagai unsur pembentuk baru dari bentuk-bentuk yang semakin kompleks pada materi. Hasilnya, malahan semakin merumitkan untuk menjelaskan yang disebutnya “spritualitas” dan cara pandang yang menyeluruh terhadap alam ini, yang katanya alam ini saling terkait dalam paradigma holisme.

Takdipungkiri bahwa kemunculan holisme sebagai upaya manusia untuk melawan paradigma reduksionisme yang merajai dunia sains secara masif. Bukan tidak mungkin, reduksionisme secara total membuang spritulitas manusia dan Tuhan pada wilayah ilmu pengetahuan. Sehingga sainstisme betul-betul totalitas dalam membuang hal-hal yang bersentuhan dengan metafiska atau adikodrati dalam penelitian mereka. Jatuh bangunnya upaya ilmuan sains untuk mempertahankan pandangan holisme, malahan jatuh dipelukan holisme yang baru. Yang dalam perkembangannya muncul holisme kuantum tentang Tuhan.

Bersambung………………………………

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (7)
Hari Tani 2026: Sekadar Seremonial Tahunan atau Bukti Bahwa Reforma Agraria Masih Sebatas Janji?
Muzakkir (5)
Normalisasi Pita Cukai Rokok Mendesak, Menkeu Perlu Buka Ruang Evaluasi dan Penertiban
Muzakkir (4)
Kemiskinan di Sulawesi Selatan: Ketika Pertumbuhan Belum Dirasakan Semua Masyarakat
Muzakkir (3)
Menagih Kedaulatan Ekonomi Daerah di Tengah Ekspansi Ritel Modern Barru
Yudi Latif Speech
Demokrasi Tanpa Kemakmuran Bersama
Muzakkir (3)
Mengoptimalkan Multiplier Effect Fiskal untuk Kesejahteraan Rakyat: DPP IKA ISMEI Sampaikan Analisis Atas Kinerja APBN per Agustus 2026
WhatsApp Image 2026-09-21 at 11.48
Anatomi Ketimpangan di Balik Jubah Statistik
Muzakkir (5)
Mahasiswa di Persimpangan Jalan Perjuangan: September yang Kembali Hanya untuk Diingat
Muzakkir (4)
M. Arsyi Jailolo: Hijau Hitam, Jalan Pengabdian yang Tak Berhenti.
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260919_151934_0000
HIMASKEP dan Jalan Panjang Membangun Generasi Kesehatan yang Berdampak
Scroll to Top