Penulis: Muh.Alkun Iradat – Anggota Departemen P3A Komisariat Ushuluddin Filsafat dan Politik.
ruminews.id – Di tengah berbagai dinamika dan problematika kebangsaan yang terus berkembang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) senantiasa hadir sebagai bagian integral dari perjalanan bangsa Indonesia.Kehadirannya tidak hanya sebatas menemani, melainkan turut berjuang, merawat, dan menjaga semangat perjuangan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman serta komitmen kebangsaan.
Hal tersebut sejalan dengan tujuan HMI, yaitu terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT.
Sejak didirikan pada 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan 5 Februari 1947 M, HMI telah menunjukkan konsistensinya dalam mengawal cita-cita keumatan dan kebangsaan.
Eksistensi yang terus bertahan hingga hari ini merupakan bukti konkret bahwa perjuangan HMI bukanlah perjuangan yang bersifat temporal, melainkan sebuah ikhtiar historis yang termanifestasikan dalam konstitusi organisasi serta nilai-nilai Lima Kualitas Insan Cita yang tertanam dalam diri setiap kader.
Dalam perjalanan sejarahnya, HMI telah melahirkan banyak tokoh yang berkiprah di berbagai bidang, khususnya dalam ranah politik, pemerintahan, pendidikan, dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Kehadiran kader-kader HMI di berbagai posisi strategis bangsa merupakan salah satu indikator keberhasilan proses kaderisasi yang dijalankan. Namun demikian, tujuan utama HMI tidak pernah berhenti pada pencapaian jabatan atau posisi kekuasaan semata.
Lebih dari itu, HMI bertujuan membentuk kader yang memiliki kesadaran kritis terhadap tanggung jawab moral, intelektual, dan sosialnya sebagai agen perubahan.
Kesadaran tersebut menuntut setiap kader untuk senantiasa berpihak pada nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran, serta berani melawan segala bentuk penindasan yang masih terjadi di berbagai belahan dunia.
Selama ketidakadilan masih berlangsung dan nilai-nilai kemanusiaan masih dirampas, selama itu pula HMI memiliki alasan historis dan moral untuk terus menunjukkan eksistensi perjuangannya.
Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perjalanannya HMI kerap menghadapi berbagai kritik dan tudingan, termasuk anggapan bahwa gerakannya telah ditunggangi oleh kepentingan elit politik tertentu.
Pandangan tersebut merupakan bagian dari dinamika yang terus muncul dalam setiap lintas generasi.
Kritik demikian tentu perlu disikapi secara dewasa sebagai bahan evaluasi dan autokritik bagi seluruh kader HMI agar tetap menjaga marwah organisasi.
Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa secara konstitusional HMI memiliki landasan yang jelas. Dalam Anggaran Dasar HMI Pasal 5 ditegaskan bahwa HMI bersifat independen, sementara pada Pasal 3 disebutkan bahwa HMI berasaskan Islam.
Kedua prinsip tersebut menjadi fondasi utama yang membimbing setiap kader dalam memperjuangkan kebenaran, menegakkan keadilan, serta menghapus berbagai bentuk kebatilan di tengah kehidupan masyarakat.
Tentu saja, mengimplementasikan nilai-nilai tersebut bukanlah perkara yang mudah.
Dalam setiap proses kaderisasi, baik formal maupun nonformal, kader HMI akan senantiasa dihadapkan pada pergulatan dengan dirinya sendiri, egoisme pribadi, tantangan zaman, serta kompleksitas persoalan bangsa. Oleh karena itu, kaderisasi bukan hanya proses transfer pengetahuan, melainkan juga proses pembentukan karakter dan kesadaran.
Pada akhirnya, kader HMI ditempa melalui berbagai ujian, tantangan, dan dinamika perjuangan. Sebab, sebagaimana ungkapan yang hidup dalam tradisi kaderisasi HMI, seorang kader akan terbentur, terbentur, terbentur, lalu terbentuk.
Dari proses itulah lahir kader-kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara moral, matang secara spiritual, dan teguh dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam serta kemanusiaan.
Yakin Usaha Sampai.