✍️Oleh : Safrudin Halik – Kader HmI Komisariat Hukum 45 Unibos
Ruminews.id, -Makassar,Tulisan ini lahir sebagai bentuk kritik terbuka terhadap wajah HMI hari ini, sekaligus otokritik yang mendalam bagi penulis sendiri sebagai seorang kader. Kita sering kali terjebak dalam romantisme sejarah, terjebak dalam lingkaran rutinitas formalis, dan perlahan menjadi tumpul serta kebas terhadap jeritan penderitaan rakyat. Sebagai kader yang ditempa dalam rahim organisasi perjuangan, adalah sebuah pengkhianatan nurani jika kita memilih diam, bersikap apatis, atau sekadar menjadi penonton ketika kondisi bangsa sedang compang-camping dihantam krisis demi krisis.
Perspektif sangat diperlukan dalam melihat suatu persoalan. Tanpa perspektif yang tajam, suatu masalah tidak dapat dipetakan secara jelas, bahkan akan berdampak pada kesalahan dalam mengurai akar masalah. Jika demikian, maka penentuan langkah perjuangan pasti akan keliru.
Sebagai contoh, dalam melihat karut-marut kondisi Indonesia hari ini yang ditarik dari benang merah ugal-ugalan kebijakan sejak rezim Jokowi dan kini berlanjut di bawah kepemimpinan Prabowo kita membutuhkan perspektif ekonomi-politik dan hukum yang kritis. Kita harus berani membongkar bagaimana relasi kuasa dan dominasi oligarki menjadi akar dari krisis yang menimpa bangsa ini. Kebijakan yang lebih berpihak pada akumulasi modal telah memicu perusakan lingkungan yang terstruktur dan penyempitan ruang hidup rakyat secara masif. Akibatnya sangat jelas dan nyata di depan mata: rentetan krisis sosial dan bencana ekologis yang tak kunjung usai. Bencana banjir dan longsor yang terus berulang di Aceh dan Sumatra, duka mendalam akibat gempa bumi di NTT, hingga kebakaran hutan dan lahan yang merangsek Kalimantan serta berbagai pelosok Indonesia bukanlah sekadar takdir alam yang berdiri sendiri. Ini adalah dampak langsung dari eksploitasi yang merusak keseimbangan alam dan kelalaian negara dalam melindungi warganya. Dalam setiap krisis tersebut, rakyat kecil selalu menjadi pihak yang paling menderita dan dikorbankan.
Untuk menemukan bagaimana mekanisme dan cara kerja sistem di balik penindasan serta kerusakan ekologis tersebut, hadirnya perspektif menjadi mutlak. Coba bayangkan jika pergerakan mahasiswa, khususnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), melihat tantangan bangsa ini tanpa basis pengetahuan dan perspektif yang jernih. Tentu gerakannya hanya akan mengambang, meraba-raba, dan ngawur dalam menganalisis keadaan. Jika begitu, analisis tersebut bahkan tidak layak disebut sebagai sebuah analisis pergerakan. Itulah mengapa langkah-langkah perjuangan yang diambil sering kali hanya bersifat reaktif dan sekadar meredam gejolak sesaat tanpa menyentuh akar persoalan (tidak efektif).Selain perspektif, keberpihakan adalah roh utama dalam medan perjuangan HMI. Di momentum Maulid Nabi Muhammad SAW ini, kesadaran akan keberpihakan tersebut menjadi semakin krusial untuk kita renungkan kembali. Islam diturunkan dan Nabi Muhammad SAW dilahirkan bukan sekadar membawa ritual keagamaan, melainkan membawa misi pencerahan (liberasi) untuk membebaskan manusia dari kegelapan, ketidakadilan, dan penindasan. Rasulullah hadir sebagai pembela utama kaum yang lemah dan tertindas (mustadh’afin). Hal ini sejalan dengan apa yang pernah ditegaskan oleh pejuang HAM
Munir Said Thalib
“Islam bukan sekadar simbol atau ritus, melainkan sebuah perjuangan nyata untuk menghadirkan keadilan, menolak kesewenang-wenangan, dan membebaskan siapa pun yang terzalimi tanpa memandang latar belakangnya.”
Pesan profetik ini menegaskan bahwa membela rakyat yang menjadi korban kesewenang-wenangan penguasa dan penderitaan akibat krisis hari ini adalah mandat moral dan spiritual yang wajib diteruskan oleh setiap insan beriman, terlebih kader HMI.Apakah pantas kader HMI diam membisu menyaksikan rentetan ketidakadilan dan penderitaan rakyat ini? Jawabannya TIDAK SAMA SEKALI ! HMI didirikan sebagai organisasi perjuangan, bukan penonton pasif apalagi stempel kekuasaan. Kader HMI memiliki landasan ideologis dan etis yang kukuh melalui Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Dalam NDP HMI, perspektif keesaan Tuhan (Tauhid), kemanusiaan, dan keadilan sosial telah ditanamkan secara mendalam. Nilai-nilai ini membekali kader dengan cara pandang bahwa ketidakadilan adalah pengingkaran atas kemanusiaan, dan penindasan adalah musuh utama Tauhid. Oleh karena itu, keberpihakan kader HMI bukanlah pilihan opsional, melainkan konsekuensi logis dari pemahaman NDP yang telah terbangun.
Lantas, apa yang harus dilakukan oleh kader HMI hari ini? Sekarang mari kita lihat bersama secara jujur, terbuka, dan lapang dada. Berapa banyakah alumni maupun kader HMI yang berkarier atau memilih jalan hidup sebagai politisi, pejabat publik, aktivis LSM, dan berbagai profesi strategis lainnya? Sangat banyak. Namun, bagaimana keberpihakan mereka terhadap rakyat miskin, korban penggusuran, petani yang dirampas tanahnya, serta masyarakat yang kehilangan ruang hidup akibat bencana dan eksploitasi mereka yang seharusnya menjadi fokus utama keberpihakan HMI? Sangat sedikit!
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa pelaksanaan Misi HMI telah mengalami pendangkalan, pembelokan pemahaman, sekaligus penyelewengan dalam penerapannya. Keberpihakan HMI tidak boleh digadaikan demi kenyamanan kekuasaan atau kompromi pragmatis. Bagaimanapun juga, keberpihakan harus tetap dijangkarkan kepada kaum yang tertindas, kepada siapa pun yang memang menjadi kewajiban sejarah HMI untuk dibela bahkan jika HMI harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal;dibenci penguasa, dikucilkan dari lingkar kekuasaan, atau bahkan risiko pengorbanan tertinggi.
Serupa dengan manusia yang hidup, HMI lahir dan bergerak karena memiliki tujuan luhur. Agar tujuan tersebut terwujud, ia harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan, dan setiap pengorbanan harus dilandasi dengan ketulusan nurani. Berani mengambil sikap tegas mengoreksi dan melawan kesewenang-wenangan penguasa dengan segala konsekuensinya yang didasarkan pada nurani fitrah yang cenderung pada kebenaran (hanif)itulah bentuk keikhlasan yang sejati. Ikhlas dalam berpikir, berani dalam bertindak, serta konsisten membela kaum tertindas: itulah aktualisasi tauhid dan peneladanan atas risalah Nabi Muhammad SAW yang sesungguhnya dalam tubuh kader HMI.