Penulis : Roma Wellvin – Kader HMI Komisariat Sunan Ampel Cabang Jember
ruminews.id – Awal mula saya mengenal dunia organisasi dimulai saat menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Kala itu, saya cukup aktif di Koperasi Siswa (KOPSIS), sebuah organisasi unit usaha sekolah yang dikelola oleh siswa di bawah bimbingan pembina. Bahkan, saya diberi amanah menjabat sebagai Ketua Kopsis periode 2022–2023.Minat berorganisasi tersebut kemudian saya bawa ke bangku perkuliahan. Pada semester empat, saya melangkah lebih jauh dengan aktif di Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI), yaitu sebuah organisasi intra-kampus di tingkat program studi yang mewadahi mahasiswa PAI untuk mengembangkan potensi akademik maupun non-akademik.
Di dalamnya, saya diamanahi menjadi Ketua Bidang Keilmuan dan Keagamaan, yang secara struktural berfokus pada pengembangan intelektual dan spiritual mahasiswa melalui kajian ilmiah, tahsin Al-Qur’an, public speaking, praktik mengajar, hingga seminar.
Awalnya, saya merasa cukup hanya berproses di organisasi internal kampus. Namun, ruang pemikiran saya terbuka ketika mengenal salah satu organisasi eksternal bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang dikenal sebagai wadah perjuangan intelektual independen dan tidak terafiliasi dengan instansi manapun.
Dari sanalah muncul ketertarikan untuk mengikuti Latihan Kader 1 (LK 1), hingga akhirnya sampai hari ini saya aktif sebagai anggota HMI Komisariat Sunan Ampel Cabang Jember.
Selama berproses menempa diri lewat HMPS dan HMI, banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Minat yang tumbuh sejak di MAN ini melatih saya memahami arti kepemimpinan, kerja sama tim, pengelolaan emosi, pemecahan masalah, hingga ilmu manajemen.
Sayangnya, di balik manfaat besar itu, saya menyaksikan realitas yang ironis. Semakin hari, ruang-ruang sekretariat justru makin sepi minat. Banyak mahasiswa memandang organisasi tidak berguna karena tidak memberikan keuntungan materiil secara instan. Ada pula yang menganggap kegiatan organisasi membosankan dan perannya bisa dengan mudah digantikan oleh wadah lain.
Situasi ini diperparah oleh budaya toksik senioritas yang hobi membentak, jam rapat yang selalu molor sampai larut malam (terutama bagi mahasiswa pulang-pergi atau PP), hingga stigma negatif yang muncul dari berbagai pihak sehingga memicu larangan orang tua. Pada akhirnya, banyak mahasiswa yang lebih memilih pergi dan lepas tangan demi menyelamatkan kesehatan mental mereka.
Kenapa Ruang Sekretariat Sekarang Sepi?
Jika organisasi dinilai tidak menghasilkan uang, hal itu memang ada benarnya. Organisasi pada dasarnya dirancang sebagai wadah pengasahan soft skills, sehingga kurang tepat jika dipandang secara pragmatis demi hasil finansial cepat. Banyak mahasiswa saat ini terlalu berfokus lulus cepat agar bisa langsung bekerja.
Di saat yang sama, pilihan untuk berkembang tidak lagi didominasi oleh organisasi kampus semata. Kehadiran kursus daring, kerja paruh waktu (freelance), side hustle, hingga konten digital membuat mahasiswa merasa ada alternatif wadah lain yang lebih relevan dan tidak menguras emosi.
Sayangnya, keengganan berorganisasi ini sering kali dipicu oleh masalah mendasar di internal organisasi itu sendiri. Hal yang paling saya resahkan selama berproses adalah budaya toksik yang terus dilestarikan. Jam rapat yang molor hingga tengah malam serta sikap senior yang sok pintar dan sok teliti atas nama “demi kebaikan organisasi” terasa sangat menyiksa.
Tekanan mental terus terjadi akibat bentakan yang dibungkus alibi “ketegasan”. Lucunya, para senior sering bingung mengapa makin sedikit mahasiswa yang tertarik berorganisasi, tanpa menyadari bahwa perilaku mereka sendirilah yang membuat orang kapok dan memilih pergi demi kesehatan mental.
Masalah ini kian memburuk saat berbenturan dengan realitas fisik dan manajemen waktu. Buruknya pengelolaan waktu rapat yang selalu molor menjadi hambatan besar, khususnya bagi mahasiswa PP yang dilarang orang tua karena agenda selalu rampung larut malam. Kurangnya pemahaman orang tua akibat mendengar stigma buruk dari lingkungan sekitar akhirnya membuat mereka melarang anaknya aktif di kampus.
Di sisi lain, tidak sedikit pula mahasiswa yang berdalih takut akademiknya terganggu, padahal waktu mereka justru habis untuk nongkrong sampai larut malam dengan obrolan kosong atau sekadar mengikuti tren TikTok. Ketidakmampuan membagi skala prioritas ini bertemu dengan program kerja organisasi yang monoton, sekadar formalitas, dan tidak memberikan dampak nyata.
Kenapa Mahasiswa Tetap Butuh Berorganisasi?
Di tengah berbagai polemik dan godaan untuk hidup pragmatis, muncul pertanyaan mendasar: apakah organisasi mahasiswa masih relevan? Mengapa kita tetap butuh berorganisasi? Jawabannya terletak pada esensi pengayaan diri yang tidak bisa digantikan oleh lembar ijazah maupun ruang kelas formal.
Secara teoretis, World Economic Forum (WEF) mencatat bahwa mayoritas keterampilan utama yang paling dibutuhkan di dunia kerja masa kini bukanlah pengetahuan teknis semata, melainkan soft skills seperti kepemimpinan, pemecahan masalah kompleks, adaptabilitas, serta resiliensi.
Kelas perkuliahan mungkin membekali kita dengan pemahaman teknis (hard skills), namun organisasi adalah laboratorium nyata untuk menguji keterampilan interpersonal tersebut. Di sinilah tempat kita belajar bernegosiasi, mengelola konflik, menyelaraskan perbedaan karakter, hingga mengontrol emosi di bawah tekanan.
Riset dari National Association of Colleges and Employers (NACE) juga menunjukkan bahwa mayoritas perekrut kerja mencari bukti nyata pengalaman kepemimpinan dan kerja sama tim dalam rekam jejak calon karyawannya. Pengetahuan teknis hanya menyumbang porsi kecil dari kesuksesan karier, sementara sisanya ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kemampuan berkomunikasi, dua hal yang ditempa secara intensif melalui dinamika berorganisasi.
Selain itu, merujuk pada teori modal sosial (social capital) dari Mark Granovetter tentang strength of weak ties, sebagian besar peluang di dunia profesional justru datang dari jejaring relasi di luar lingkaran terdekat. Organisasi, terutama yang memiliki jaringan eksternal seperti HMI maupun organisasi eksternal lainnya, membuka ruang interaksi dengan lintas jurusan, alumni, hingga tokoh profesional. Jejaring inilah yang menjadi investasi jangka panjang dan tidak bisa didapatkan jika mahasiswa hanya memilih pola hidup “kuliah-pulang”.
Menganggap organisasi tidak berguna hanya karena tidak menghasilkan uang secara instan adalah kekeliruan cara pandang. Organisasi memang tidak dirancang untuk memberikan keuntungan finansial jangka pendek, melainkan membentuk kapasitas diri dan kecerdasan emosional yang menjadi modal utama dalam menghadapi dunia pascakampus.
Bagaimana Solusi dan Aksi Nyata Selanjutnya?
Melihat besarnya nilai manfaat organisasi yang mulai redup akibat masalah internal, sudah saatnya perbaikan menyeluruh dilakukan. Langkah utama harus dimulai dari pembenahan kultur internal dengan memangkas habis budaya senioritas kaku, bentakan, dan sikap sok pintar berkedok ketegasan. Senior sudah sepatutnya memosisikan diri sebagai mentor yang merangkul dan membimbing, sehingga tercipta ruang aman secara psikologis bagi junior untuk berproses tanpa rasa takut.
Selain perbaikan kultur, organisasi harus profesional dalam mengelola waktu. Kebiasaan rapat molor dan pelaksanaan agenda hingga larut malam harus segera dihentikan demi mengakomodasi kebutuhan seluruh mahasiswa, terutama mahasiswa PP. Hal ini perlu dibarengi dengan inovasi program kerja yang tidak lagi monoton atau sekadar formalitas penggugur kewajiban, melainkan kegiatan yang benar-benar relevan, efektif, dan memberi dampak nyata. Melalui pembuktian karya nyata dan pendekatan yang humanis, stigma negatif masyarakat dan orang tua terhadap organisasi dapat perlahan terkikis.
Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya kita bersikap kritis dan bijak. Kita tidak boleh semena-mena menilai baik dan buruk sesuatu hanya lewat cibiran teman yang belum tentu benar. Pengalaman berorganisasi tetaplah wadah pembelajaran yang sangat mahal harganya jika dimaknai dengan tepat.
Namun di sisi lain, organisasi juga tidak boleh terus-menerus merasa paling benar dan menutup mata dari realitas. Tanpa ada keberanian untuk membuang kultur toksik dan merombak cara kerja, organisasi akan terus kehilangan relevansinya. Jika perubahan itu tidak dimulai dari sekarang, jangan menyalahkan mahasiswa jika mereka lebih memilih berjarak dan membiarkan ruang-ruang sekretariat semakin sepi.