Penulis: Angga Riyon Nugroho S.Pd.
Ruminews.id, Yogyakarta — Prabowo Subianto Djojohadikusumo, presiden ke-8 Indonesia adalah presiden yang banyak menyorot perhatian publik akhir-akhir ini. Bukan hanya keterlibatannya pada penculikan aktivis di tahun 1998, namun kebijakan-kebijakannya sebagai presiden yang tidak dimasuk nalar masyarakat Indonesia. Kita dapat lihat saat kampanye istilah “Gemoy” jadi bagian kampanyenya kala itu, atau slogan “Ok Gas” untuk menarik simpati masyarakat Indonesia, menyatakan dirinya sebagai calon presiden yang peduli terhadap nasib rakyat Indonesia.
Setelah menjadi presiden pola-pola pidato seperti ini terus dilanjutkan namun bukan simpati yang didapatkan melainkan protes besar-besaran dari masyarakat yang mendengarkan pidatonya. Dari istilah “antek-antek asing”, “meminta koruptor mengembalikan uang negara”, “masyarakat desa tidak pakai dollar”, sampai “wajib bagi anak sekolah untuk belajar bahasa Prancis” dll. Kata-kata ini keluar dari mulut Prabowo “bak mantra” yang semakin menurunkan reputasi Indonesia di mata dunia. Sekelas presiden yang tidak pernah mempersiapkan isi pidato kenegaraannya di depan rakyat Indonesia. Sehingga dampaknya adalah krisis ekonomi di masa pemerintahannya saat ini.
Menikmati Sebagai Anak Menteri
Dilahirkan di keluarga keluarga elit, kakek Prabowo, Margono Djojohadikusumo adalah pendiri dari Bank Negara Indonesia (BNI 46). Ayahnya Soemitro Djojohadikusumo adalah mantan menteri ekonomi di masa pemerintahan Sukarno dan menjadi menteri riset dan teknologi ketika Orde Baru berkuasa. Berasal dari keluarga yang beragam, ibu Prabowo, Dora Mari Sigar adalah penganut Kristen Protestan keturunan Minahasa-Jerman. Sehingga keluarga Prabowo merupakan campuran suku Jawa-Minahasa-Jerman jika diruntut dari asal-usul keluarga. Nama Subianto sendiri diambil dari pamannya yang meninggal dalam peristiwa Lengkong tahun 1946.
Kehidupan Prabowo sendiri sebagai bagian dari keluarga elit serta anak menteri di era pemerintahan Sukarno, membawanya dalam kehidupan yang memiliki banyak kemudahan. Dalam Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie pernah bergabung ke Gerakan Pembaharuan Indonesia (GPI) sebuah gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Soemitro Djojohadikusumo. Karena sikap memberontaknya Soemitro harus mengasingkan diri keluar negeri. Hal ini berdampak pada pendidikan dan kehidupan Prabowo yang banyak dihabiskan diluar Indonesia.
Beberapa negara seperti Swiss, Singapura, Thailand, Malaysia dan Inggris merupakan negara-negara yang disinggahi oleh Prabowo saat mengikuti sang ayah menjalani pengasingan politiknya saat itu. Prabowo pernah bersekolah di Victorian Institution School di Kuala Lumpur dan American School di London, Inggris. Hal ini membuatnya baru bisa pulang ke Indonesia saat kekuasaan Sukarno telah meredup di akhir tahun 1969.
Prabowo kemudian di dorong untuk masuk akademi militer, menurut rekan-rekannya Prabowo berbakat, memiliki hasrat untuk bersiasat dan memiliki hasrat berkuasa dalam politik. Soe Hok Gie sebagai seorang sahabat Prabowo, Dalam Catatan Seorang Demonstran, 25 Mei 1969 Gie menilai sosok Prabowo yang dikatakan cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naif. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.
Cerita soal lembaga pembangunan sempat disebut dalam catatan Soe Hok Gie, misalnya secara ekonomis organisasi ini tidak akan berbuat banyak. “Jumlah desa-desa di Indonesia beribu-ribu dan jumlah mahasiswa yang dikerahkan paling hanya beberapa ribu”. Demikian yang diungkapkan Gie tentang Prabowo. Konteks pemikiran Prabowo yang naif, terlalu idealis dan tidak matang dalam perhitungan, sehingga membuat pelaksanaan program pemerintahan Prabowo saat ini hanya dibuat serampangan dan tak mewakili harapan masyarakat pada umumnya.
Sosok Keras Kepala dan Anti Kritik
Mulai menjabat 20 Oktober 2024, menjadi presiden Indonesia, Prabowo Subianto terkenal dalam berbagai pidato-pidato politiknya yang anti-mainstream. Sudah berambisi berpolitik sejak mendirikan Partai Gerindra dan empat kali gagal dalam pencalonan presiden tak membuatnya gentar untuk mencoba kembali tahun 2024. Keberhasilan mencapai kekuasaan ini adalah bagian dari strategi politik Jokowi untuk memberikan ruang kekuasaan bagi Gibran untuk berkuasa sebagai Wakil Presiden, sehingga membuka jalan Prabowo berkuasa dan tak menghilangkan pengaruh Jokowi terhadap pemerintahan Indonesia saat ini.
Saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah berjalan, pidato-pidato Prabowo di berbagai daerah hanya bertanya seputaran manfaat MBG, pidato hari buruh 1 Mei 2026 di Monas pertanyaan yang ditanya kepada para buruh yang datang hanya seputar manfaat MBG, bukan lagi membahas regulasi pendapatan buruh maupun sistem kerja buruh secara menyeluruh.Evaluasi MBG juga tidak dilakukan secara menyeluruh hanya dengan meminta pendapat secara langsung, manipulasi data kepuasan masyarakat dibuat untuk menutupi carut-marutnya MBG di lapangan.
Kita mulai melekat dengan istilah “Hey Antek-Antek Asing”, selalu berkelana dalam narasi masyarakat Indonesia. Narasi ini merujuk kepada orang-orang LSM, mahasiswa dan kelompok kritis, sehingga seolah-olah Prabowo anti terhadap asing, namun menjilat Trump saat bergabung menjadi anggota “Board of Peace” namun tak menjawab permasalahan dari konflik yang terjadi di Gaza antara Israel dengan Palestina.
Istilah berikutnya yaitu “Nye-Nye-Nye” dalam pidatonya di Munas HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), Lampung (10/6). Penggunaan diksi tak santun dan lebih terkesan mengejek ini diarahkan kepada para mahasiswa yang melakukan demonstrasi, atau masyarakat yang mengkritik kebijakan Prabowo.
Mereka yang medengar diksi ini bertepuk tangan dan tertawa, seolah-olah pidato ini seperti “ Comedy” yang patut ditertawakan. Pidato ini berdampak pada kepercayaan pasar terhadap Indonesia. Lebih kasar lagi ketika ucapan “Ndasmu” dilontarkan Prabowo pada hari ulang tahun Partai Gerindra tahun 2025 kepada para pengkritiknya, Sabtu (15/2). Menurut pengamat politik kata-kata ini terlalu berlebihan, kekanak-kanakan dan tak pantas diucapkan sebagai Kepala Negara.
Retorika lain yang menjadi sorotan dari Prabowo ketika salah berbicara tentang kenaikan gaji guru 300 % ternyata itu adalah kenaikan gaji untuk para hakim. Sosoknya yang keras kepala juga diakui oleh ayahnya, Soemitro, “Bahwa Bowo itu arogan, iya kesannya memang begitu. Bahwa ia temperamental, ia”. Demikian penggambaran sikap Prabowo yang keras kepala oleh Soemitro, sehingga walau memiliki hubungan darah, sikap dan sifat Prabowo sangat bertolak belakang dengan ayahnya.
Buah Itu Jatuh Jauh Dari Pohonnya
Semua orang percaya ketika seseorang memiliki hubungan darah, pasti kemiripan sifat dan sikap akan dimiliki oleh orang tersebut. Namun tidak dengan Prabowo, sebagai anak Begawan Ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo, ternyata Prabowo memiliki pribadi yang tidak sama dengan ayahnya. Banyak orang mengklaim pengaruh pemikiran ekonomi Soemitro diterapkan dalam pemerintahan Prabowo saat ini, namun kenyataannya tidak, Prabowo menjalankan praktik ekonomi Indonesia menyimpang dari ide-ide Soemitro.
Dikutip dari Tempo.co, “Ekonomi Menyimpang Anak Sumitro”, dikatakan bahwa Soemitro seorang Keynesian, percaya bahwa negara tak boleh berpangku tangan dalam perekonomian meski dilarang mengontrol terlalu jauh, Soemitro menyakini perekonomian yang sehat tak digerakan oleh komando. Ekonomi hendaknya dihela oleh perpaduan antara aktivitas pasar yang alamiah dan perencanaan pemerintah yang matang.
Sang anak justru sebaliknya. Sejumlah program favorit Prabowo lahir titah dan dijalankan grasah-grusuh. Dalam hal koperasi Desa Merah Putih, ia memerintahkan pembangunan ribuan koperasi serentak, meskipun tata kelolanya mengundang pertanyaan. Berlandaskan instruksi presiden, Prabowo memerintahkan menteri keuangan memotong dana desa untuk membiayai koperasi dan menjadikan PT Agrinas Pangan Nusantara sebagai pengelola.
Karena serba satu arah dan minim diskusi pelaksanaan porak-parik. Mengejar target berdirinya bangunan koperasi sejumlah gedung asal terbangun, berdekatan satu dengan yang lain, ada yang dibangun ditempat yang sulit di jangkau (di tengah hutan dan gunung) dan masyarakat pemilik hak dana desa yang sesungguhnya hanya menjadi penonton dari proyek ini.Sehingga menurut Soemitro ini bukanlah konsep koperasi, “tidak akan berjalan menjadi koperasi jika dikomando dari atas”. Koperasi Desa Merah Putih hanya menjadi Legitimasi Politik Prabowo untuk merauk keuntungan bagi kelompok penguasa.
Hal lain yang bertentangan dengan konsep Soemitro adalah pengelolaan sumber pendapatan negara seharusnya bisa dikelola dengan baik melalui sumber daya alam Indonesia yang berlimpah (Minyak Bumi, Batu Bara, Nikel dll.), namun pendapatan negara sektor pajak ini menjadi penopang yang dominan dalam ekonomi nasional, sehingga setiap program-program yang dijalankan pemerintah seluruhnya ditopang dari pajak, misalnya pajak penghasilan, kendaraan, makanan dll.
membuat masyarakat umum menjadi terbebani dengan adanya regulasi ini. Lalu kemana hasil dari sumber daya mineral yang menjadi sumber pendapatan terbesar bagi negara Indonesia? Kekayaan mineral ini dikuasai oleh kelompok “Oligarki” di pemerintahan dengan melibatkan perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh anggota DPR bermain di sektor tersebut. Sehingga dampak keuntungan dari tambang dan industri Ekstraktif tidak dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah tersebut. Melalui ini membuktikan bahwa kekuasaan sudah mulai mengalahkan kenaifan diri, pada akhirnya membuahkan kehancuran yang begitu besar.
Semestinya apa yang terjadi pada Prabowo saat ini menjadi gambaran bahwa “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya” ketika kekuasaan telah merenggut hak-hak humanisnya pada sesama. (A.R)