29 September 2026

Daerah, Kuningan, Pemuda

Dari Kohe Menjadi Pupuk Gemuk, Lamping Kidang Perluas Distribusi Pupuk Organik

Ruminews.id, Kuningan — Persoalan kotoran hewan di Lamping Kidang perlahan diolah menjadi peluang pemanfaatan lingkungan dan ekonomi masyarakat. Melalui pengelolaan kohe, masyarakat mengembangkan pupuk organik bernama Pupuk Gemuk yang kini mulai didistribusikan ke sejumlah kegiatan dan ruang publik di luar wilayah pengelolaannya. Pada Kamis (24/9/2026), sebanyak 100 karung kohe dikemas untuk didistribusikan kepada Sangkanika. Pengemasan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan Pupuk Gemuk agar tidak hanya digunakan di sekitar Lamping Kidang, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat dan kelompok yang membutuhkan pupuk organik. Sebelumnya, Pupuk Gemuk juga digunakan dalam kegiatan penanaman pohon di Kesambi melalui DDV Chapter Cirebon, Kota Cirebon, pada Minggu (20/9/2026). Dalam kegiatan tersebut, sebanyak lima kemasan dengan berat masing-masing tiga kilogram digunakan untuk mendukung penanaman pohon. Produk yang berasal dari pengelolaan kohe itu juga diperkenalkan melalui bazar kopi Hawwu dalam rangka Minangkala Kopi Hawwu ke-6. Pupuk Gemuk diperkenalkan kepada masyarakat melalui ruang pertemuan dan aktivitas komunitas, tidak hanya sebagai produk pertanian tetapi juga sebagai bagian dari upaya pengelolaan lingkungan. Distribusi berikutnya dijadwalkan berlangsung di Saung Wangsekerta pada Minggu (27/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah untuk memperkenalkan Pupuk Gemuk kepada masyarakat yang lebih luas. Pengembangan Pupuk Gemuk tidak hanya berkaitan dengan pengolahan limbah peternakan. Bagi masyarakat Lamping Kidang, proses tersebut menjadi bagian dari upaya mengubah persoalan lingkungan menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Dalam prosesnya, mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) turut terlibat. Lima mahasiswa PPL belajar dari masyarakat mengenai proses pengelolaan kohe sekaligus mengambil bagian dalam promosi dan pengenalan Pupuk Gemuk melalui media digital maupun kegiatan lapangan. Keterlibatan mahasiswa tersebut menjadi pengalaman langsung dalam melihat proses pemberdayaan masyarakat dari persoalan yang sederhana. Pengelolaan kotoran ternak yang sebelumnya menumpuk dikembangkan melalui proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi kepada masyarakat. “Pupuk Gemuk ini bukan hanya soal pupuk. Di baliknya ada proses masyarakat dalam mengelola kohe dan melihat bahwa sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah ternyata masih bisa dimanfaatkan,” ujar Pak Yoesril, penyuluh wilayah Cisantana BTNGC. Menurut Yoesril, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan kawasan. “Kami tidak hanya bicara soal menjaga kawasan, tetapi bagaimana masyarakat juga bisa melihat bahwa potensi di sekitar kawasan dapat dikelola dengan baik. Ketika masyarakat terlibat dan merasakan manfaatnya, di situ konservasi bisa berjalan bersama dengan pemberdayaan dengan harapan para sektor juga ikut andil dalam pemberdayaannya.” Bagi mahasiswa PPL, proses pengemasan dan distribusi Pupuk Gemuk juga menjadi pembelajaran mengenai bagaimana produk masyarakat dapat diperkenalkan, digunakan, dan diterima oleh kelompok yang lebih luas. Dari Lamping Kidang ke Sangkanika, kegiatan penanaman pohon di Kesambi, bazar Kopi Hawwu, hingga Saung Wangsekerta, Pupuk Gemuk mulai menemukan ruang distribusi di luar tempat produksinya. Pengembangan tersebut menunjukkan bagaimana pengelolaan kohe dapat berjalan beriringan dengan upaya pemberdayaan masyarakat. Sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah kini dikembangkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan.

Scroll to Top