3 Juni 2025

Pangkep

KNPI PANGKEP MATI SURI, HMI DESAK MUSDA ATAU KARATEKER

ruminews.id, Pangkep – Pimpinan Cabang HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI) mempertanyakan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pangkep yang diduga mati suri di bawah kepemimpinan Bupati MUH YUSRAN LALOGAU “Seharusnya, KNPI Pangkep sudah melakukan Musda, mengingat masa kepengurusan mereka sudah tidak aktif semenjak beberapa tahun lalu,” kata Ketua Umum Hmi Cabang pangkep Fadli menduga, kinerja KNPI pangkep dibawah kepemimpinan bupati, mandeg alias jalan ditempat. Bahkan, sampai saat ini organisasi itu mati suri. Untuk itu kami mendesak agar KNPI PANGKEP untuk segera melakukan Musda, mengingat masa jabatannya sudah berakhir pada tahun 2022 lalu,” tegasnya. Fadli juga mempertanyakan masa jabatan pengurus KNPI pangkep yang telah melebihi masa kepemimpinan “Ini kan aneh, masa kepemimpinan bupati saja yang hanya 5 tahun, sedangkan masa jabatan kepengurusan KNPI hanya 3 tahun,” tandasnya. Sementara itu Himpunan Mahasiswa Islam cabang pangkep meminta DPD I KNPI SULSEL untuk menurunkan tim karateker untuk DPD II KNPI pangkep karena masa kepengurusan KNPI pangkep yang sudah lama berakhir. Muh. Fadli selaku ketua umum HMI cabang pangkep dalam keterangan tertulisnya yang diterima oleh awak media sangat menyesalkan kepengurusan KNPI pangkep yang telah lama stagnan tanpa ada Niat membuat musyawarah daerah (musda). “Padahal masa kepengurusan telah usai sejak tahun 2022 sesuai dengan AD/ART pasal 23 poin 4 yang mengatur masa kepengurusan tingkat kabupaten/kota diadakan sekali dalam 3 (tiga) tahun,” terangnya, Menurutnya sekarang tidak ada alasan lagi untuk tidak buat musda karena masa kepengurusan yang harusnya 3 tahun, sekarang sudah berlarut hampir 7 tahun, dan menurut pantauannya, KNPI tidak pernah menjadi payung bagi OKP dipangkep , seharusnya hadirnya KNPI bisa menjadi wadah bagi seluruh OKP yang ada dikabupaten pangkep . Maka dalam hal itu ia meminta DPD 1 KNPI SULSEL menurunkan tim karateker untuk membabat kepengurusan KNPI PANGKEP yang lama tak kunjung buat musda, sehingga dengan adanya regenerasi didalam tubuh KNPI menjadi penyegar sebagai wadah bagi seluruh OKP DIKABUPATEN PANGKEP “Kami berharap ketua KNPI PANGKEP untuk dapat menindaklanjuti hal ini, demi regenerasi KNPI pangkep yang lebih baik,” tegasnya.

Gowa

Nurul Qinayah Pelajar Gowa yang Bersuara untuk Anak Bangsa

ruminews.id, Sungguminasa- Pelajar asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Nurul Qinayah Rustam terus menunjukkan prestasi luar biasa di usia muda. Lahir di Gowa pada 9 Januari 2009, putri dari pasangan Rustam Siddiq dan Sunarti Rustam ini tidak hanya berprestasi di sekolah, tetapi juga aktif mengangkat suara anak-anak di berbagai forum daerah hingga nasional, Rabu (03/06/2025). Perjalanan pendidikannya dimulai dari SD inpres Biringkaloro, dilanjutkan ke SMPN 1 Pallangga, dan kini ia tercatat sebagai siswi di SMA Negeri 1 Gowa (Salis). Di sekolah, Nurul dikenal aktif dan bertanggung jawab. Hal ini dibuktikan dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Wakil Ketua OSIS SMA 1 Gowa sejak tahun 2024. Namun, kiprah Nurul tak hanya terbatas di lingkungan sekolah. Ia menunjukkan dedikasi tinggi dalam memperjuangkan suara anak-anak di berbagai tingkat organisasi. Di tahun 2023, iya dinobatkan sebagai Duta Anak Kabupaten Gowa, sebuah tonggak awal dari keterlibatannya dalam gerakan anak. Kemudian, pada tahun 2024, Nurul terpilih menjadi Ketua Forum Anak Hasanuddin Tamala’jua (Fahasta) dan juga menjadi pengurus Forum Anak Sulawesi Selatan (FASS) Kerja keras dan kepeduliannya terhadap isu-isu anak membawa Nurul terpilih sebagai Pengurus Forum Anak Nasional (FAN) periode. 2025- 2027 sebuah pencapaian yang jarang diraih oleh remaja seusianya. “Saya ingin menjadi perwakilan suara anak-anak Indonesia, terutama mereka yang belum mendapatkan ruang untuk menyampaikan pendapatnya,” ujar Nurul dalam sebuah wawancara usai kegiatan diskusi bersama Forum Anak. Dengan semangat, keberanian, dan kepemimpinannya, Nurul Qinayah Rustam menjadi sosok inspiratif bagi generasi muda lainnya. Iya membuktikan bahwa usia muda bukan penghalang untuk membuat perubahan besar bagi masa depan bangsa.

DPRD Kota Makassar

Komisi A DPRD Makassar Gelar RDP Bersama Asosiasi Pengusaha Industri Hiburan Makassar

ruminews.id – Makassar – Komisi A DPRD Kota Makassar menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan Asosiasi Pengusaha Industri Hiburan (APIH) Makassar pada Selasa, 3 Juni 2025. Rapat yang berlangsung di ruang Badan Anggaran DPRD Makassar, Jalan A.P. Pettarani, ini bertujuan untuk mencari solusi terkait sejumlah permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku industri hiburan di kota tersebut.   Rapat ini juga melibatkan sejumlah pihak terkait, di antaranya Ketua Komisi A DPRD Makassar, Andi Pahlevi, yang menyampaikan bahwa permasalahan yang dialami oleh industri hiburan tidak hanya berdampak pada sektor usaha itu sendiri, tetapi juga memberikan dampak pada pendapatan daerah yang berasal dari pajak, retribusi, serta penyediaan lapangan kerja.   “Kami memahami bahwa persoalan ini sangat kompleks. Tidak hanya menghambat pertumbuhan sektor hiburan, tetapi juga memberikan dampak langsung pada pendapatan daerah dan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu, kami berharap Pemerintah Kota Makassar dapat lebih aktif berkoordinasi dengan semua pihak agar solusi yang konkret bisa ditemukan untuk mengatasi masalah ini,” ujar Andi Pahlevi kepada awak media usai pertemuan.   Tantangan Regulasi yang Tumpang Tindih   Andi Pahlevi juga menegaskan bahwa pihaknya tidak dalam kapasitas untuk memberikan penafsiran hukum lebih lanjut mengenai regulasi yang ada. Namun, ia menekankan pentingnya kajian yang lebih mendalam dari Pemerintah Kota Makassar terkait aturan yang dianggap kurang mendukung perkembangan industri hiburan.   Mantan Ketua KNPI Makassar, Hasrul Kaharuddin, yang turut hadir dalam pertemuan ini, menjelaskan bahwa pengusaha hiburan membutuhkan wadah yang lebih terstruktur untuk menyampaikan aspirasi mereka. Menurutnya, selama ini banyak aturan yang tumpang tindih antara pemerintah kota dan pemerintah provinsi, sehingga mempersulit proses perizinan dan pengembangan usaha.   “Selama ini, kami merasa kesulitan karena banyaknya regulasi yang saling bertentangan antara pemerintah kota dan provinsi. Kami hanya menginginkan satu payung hukum yang jelas, yang dapat memudahkan proses perizinan dan memberikan arah yang pasti dalam kebijakan terkait usaha hiburan,” ungkap Hasrul Kaharuddin.   Moratorium dan Rekomendasi MUI Jadi Kendala   Salah satu isu yang menjadi perhatian utama dalam rapat tersebut adalah kebijakan moratorium yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kebijakan ini dinilai oleh pengusaha hiburan sebagai langkah yang mempersempit ruang gerak mereka. Hasrul menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada pertumbuhan usaha hiburan, tetapi juga menyulitkan pengusaha dalam menjalankan bisnis mereka secara sah.   Selain itu, Hasrul juga menyoroti syarat rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam proses perizinan. Menurutnya, syarat ini menjadi kendala besar bagi para pengusaha hiburan, karena tidak relevan dengan konteks usaha hiburan yang sah secara hukum. Ia menyebutkan bahwa, meskipun pihaknya menghormati MUI sebagai lembaga agama, namun menjadikan rekomendasi MUI sebagai syarat perizinan hiburan dianggapnya tidak adil dan menghambat kelancaran usaha.   “Kalau rekomendasi MUI dijadikan syarat, ini seperti menjebak kami. Karena MUI pasti menolak, dan akhirnya usaha kami terhambat. Ini bukan masalah menentang aturan, tetapi kami hanya meminta kepastian hukum yang jelas agar usaha kami bisa berjalan dengan baik,” tegas Hasrul.   Harapan akan Kolaborasi Antar-Pihak   Melalui rapat ini, DPRD Makassar diharapkan dapat memainkan peran penting dalam mendorong Pemerintah Kota Makassar untuk membuka ruang komunikasi yang lebih luas dengan pelaku industri hiburan. Dengan begitu, kebijakan yang diterapkan dapat lebih berpihak pada kepentingan pengusaha hiburan dan tidak mematikan usaha mereka secara sepihak.   Andi Pahlevi berharap rapat ini menjadi awal dari upaya kolaboratif yang melibatkan DPRD, Pemerintah Kota Makassar, dan para pelaku industri hiburan untuk menyusun regulasi yang lebih adil, tidak tumpang tindih, serta mampu menciptakan iklim usaha yang sehat di kota ini. Ia juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pemerintah dalam hal pengawasan dan regulasi dengan kebutuhan dunia usaha yang harus tetap dapat berkembang.   “Kami berharap ada sinergi yang lebih baik antara pemerintah, pengusaha hiburan, dan masyarakat, agar regulasi yang ada dapat diterima semua pihak. Pemerintah harus mampu mendengarkan dan merespons dengan kebijakan yang tidak memberatkan dunia usaha, namun tetap memperhatikan kepentingan sosial dan keamanan masyarakat,” kata Andi Pahlevi.   Sementara itu, Hasrul Kaharuddin juga menambahkan bahwa pelaku industri hiburan sangat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan kota yang aman dan nyaman, namun mereka berharap kebijakan yang ada tidak justru menghambat usaha yang sah dan telah berjalan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.   “Kami ingin industri hiburan bisa berkembang secara sehat dan memberi manfaat lebih bagi kota ini. Untuk itu, kami sangat berharap ada perhatian lebih dari pemerintah agar kami dapat terus beroperasi dengan baik tanpa terbentur oleh regulasi yang tumpang tindih,” tambah Hasrul.   Pentingnya Kajian Mendalam dan Dialog Terbuka   Dalam rapat tersebut, semua pihak sepakat bahwa untuk mencari solusi yang terbaik, diperlukan kajian yang lebih mendalam mengenai kebijakan-kebijakan yang ada. Selain itu, dialog terbuka dan transparan antara pemerintah, DPRD, dan pelaku usaha menjadi kunci untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan tidak merugikan salah satu pihak.   Rapat ini menjadi titik awal dari upaya bersama untuk menciptakan regulasi yang lebih jelas dan adil bagi semua pihak, serta membangun kota Makassar yang lebih dinamis dan mendukung pertumbuhan sektor usaha hiburan secara berkelanjutan.

Gowa, Hukum, Makassar, Maros, Nasional

Relawan Setia Prabowo Temukan Masalah MBG di Beberapa Daerah, ada SPPI “Minta Jatah” ke Mitra Kerja

ruminews.id, Makassar – Relawan setia Prabowo menemukan sejumlah masalah terkait dengan program Makanan Bergizi Gratis presiden RI, Prabowo Subianto di beberapa daerah. Temuan ini berpotensi mengganggu produksi MBG dan merusak sistem yang telah ada. Ketua Relawan Prabowo Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri Majjaga menyebut, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu program prioritas nasional. Hanya saja, ada sistem yang ditemukan bermasalah. Salah satunya adalah keberadaan oknum pendamping Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). “Kami mendapati ada banyak onkum SPPI di beberapa daerah di Sulsel yang mencoba bekerja ganda. Mereka meminta jatah ke mitra kerja dan mengancam mitra kerja,” kata Zul, Selasa (3/6/2025). Dia menyebut, oknum SPPG ini melakukan pekerjaannya secara tidak profesional. Jika mitra kerja tidak memenuhi permintaan SPPI, maka pencairan anggaran untuk bahan makanan tidak akan diproses. “Modusnya seperti itu. Jika tidak dapat jatah suplier, mereka ancam mitra kerja untuk tidak memproses pencairan anggaran,” kata dia. Dia menyebut, hal ini terjadi di beberapa daerah yang menjadi sampelnya. Di antaranya ada di Makassar, Maros dan Gowa. Menurutnya, hal ini akan menjadi bom waktu dan menyebabkan kegagalan MBG secara massif di daerah. “Pihak terkait koordinator SPPI di Provinsi harus segera menindaki ini. Laporan yang saya terima, sudah terjadi di beberapa daerah. Kalau tidak percaya, dampaknya bisa saja terjadi dua atau tiga pekan ke depan. Akan ada mitra kerja yang mogok kerja karena ulah SPPI,” kata dia. Pria yang akrab disapa Zul ini menyatakan bahwa MBG merupakan wujud nyata komitmen Presiden dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak dini, sebagaimana tertuang dalam program Asta Cita. “Program ini adalah amanah langsung dari Presiden Prabowo untuk kepentingan bangsa. Jangan sampai ada yang mencoba menyalahgunakan,” tegas Zul. Ia meminta semua pihak yang terlibat untuk menjaga integritas dan komitmen dalam melaksanakan program tersebut. “Tidak boleh ada yang berani mengkhianati amanah ini. MBG bukan ruang untuk mencari keuntungan pribadi, tapi sarana membangun masa depan generasi Indonesia,” ujarnya. Zul menekankan bahwa keterlibatan masyarakat, relawan, dan aparatur pelaksana sangat penting demi memastikan program ini tepat sasaran dan berkelanjutan.(*)

Scroll to Top