16 Maret 2025

Opini

Omong Kosong Gaya Hidup Hijau di Bulan Ramadhan.

ruminews.id – Bulan Ramadhan tidak menolong bumi selamat dari terkaman hasrat konsumsi manusia. Bulan Ramadhan sejatinya merupakan waktu yang penuh berkah bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama periode ini, umat Muslim menjalani puasa, memperbanyak ibadah, dan berbuat baik kepada sesama. Namun, di tengah semangat spiritual dan sosial tersebut, terdapat fenomena yang menarik untuk ditelaah: kesadaran akan gaya hidup hijau di kalangan masyarakat kelas menengah perkotaan dan kelompok milenial-gen Z yang sering kali tidak sejalan dengan praktik nyata mereka. Sebagai generasi yang dianggap peka terhadap isu lingkungan, mereka sering kali berkontradiksi dalam perilaku konsumsinya, terutama di bulan Ramadhan. Di tengah efisiensi anggaran yang sedang dilakukan oleh pemerintah dan berdampak hingga ke daya beli masyarakat, Bulan Ramadhan tetap menjadi waktu di mana konsumsi baik itu pakaian, makanan dan minuman mengalami peningkatan. Berdasarkan laporan terbaru dari Redseer Strategy Consultants, total belanja masyarakat Indonesia selama Ramadan 2025 diperkirakan mencapai US$ 73 miliar atau setara Rp 1.188 triliun (Kontan.co.id, 2025) dan data yang selaras berdasarkan hasil survei Snapcart, sebanyak 44% responden Indonesia akan menghabiskan Rp1 juta hingga Rp3 juta untuk belanja Ramadan 2025 dengan perincian data bahwa proporsi responden yang akan membelanjakan uangnya sebanyak Rp3 juta hingga Rp5 juta untuk Ramadan 2025 sebesar 12% dan sementara itu, sebanyak 6% responden akan menghabiskan lebih dari Rp5 juta untuk belanja Ramadan di tahun ini (dataindonesia.id, 2025). Peningkatan aktivitas konsumsi dalam hal makanan dan minuman ini kemudian memiliki implifikasi negatif ke lingkungan. Setiap pembelanjaan produk makanan dan minuman akan memberikan sampah. Konsumsi makanan yang meningkat selama bulan Ramadhan berdampak pada meningkatkan timbunan sampah. Zerowaste.id (citarumharum.jabarprov.go.id, 2025) mirilis data bahwa produksi sampah naik sekitar 20% dan mampu menghasilkan 500 ton sampah di bulan ramadhan. Lebih parah lagi, di Bandung saja per satu harinya bisa mencapai 200 ton makanan yang terbuang. Sementara itu, dikutip dari detiknews.com (citarumharum.jabarprov.go.id, 2025) menjelaskan penghitungan data dari Paropong Waste Management, sebuah pusat daur ulang yang ada di Jawa Barat, yakni dari data yang mereka peroleh menunjukkan di Jakarta sendiri ada sekitar 200 ton sampah tambahan dalam sebulan Ramadhan. Dan berdasarkan data KLHK (kompasiana.com, 2024), sampah organik berupa sisa makanan mendominasi komposisi sampah tertinggi di Indonesia mencapai 41,2%, diikuti oleh sampah plastik 18,2%. Salah satu alasan kenapa sampah menjadi lebih banyak pada saat Bulan Ramadhan adalah konsumsi sampah plastik yang berlebihan. Selama Bulan Ramadhan, orang-orang banyak yang mencari rezekinya dengan berdagang bermacam hidangan takjil. Para konsumen, karena seharian sudah menahan haus dan lapar. Maka ketika jajan, mereka cenderung jajan terlalu banyak. Biasanya sampah-sampah plastik dihasilkan dari jajanan-jajanan khas ramadhan, seperti kolak, cendol, gorengan, dan lain lain. Gaya Hidup Hijau : Kesadaran dan Praktik Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan kesadaran akan isu-isu lingkungan di kalangan kelas menengah dan generasi muda. Ini terlihat dari banyaknya kampanye yang menggugah kesadaran akan bahaya plastik, praktik konsumsi berkelanjutan, dan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun, meskipun ada kesadaran ini, terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku. Ketidak berhubungan atau gap antara kesadaran dengan praktik keseharian ini yang kemudian penulis sebut sebagai split collective behavior (keretakan perilaku kolektif) yang berdampak pada kehidupan menjadi parsialis dan tersegmentasi. Bulan Ramadhan menjadi waktu di mana konsumsi makanan dan minuman meningkat pesat. Buka puasa sering kali diisi dengan sajian berlimpah, yang umumnya dikemas dalam plastik atau wadah sekali pakai. Ini bertentangan dengan semangat gaya hidup hijau yang mereka gaungkan. Data yang telah disebutkan diatas menunjukkan bahwa produksi sampah plastik meningkat tajam selama bulan Ramadhan. Kelas menengah dan milenial-gen Z, yang seharusnya menjadi pelopor dalam praktik hijau, justru menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar. Mereka sering kali menggunakan kemasan makanan dari restoran atau tempat makan yang tidak ramah lingkungan. Titik temu dari ketidakberhubungan kesadaran dengan praktik kesaharian ini terletak pada pandangan psikoanalisis yang menempatkan konsumsi sebagai fenomena tak sadar (unconscious) sebagaimana yang disebutkan oleh Piliang (2011). Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z melakukan aktivitas konsumsi di bulan Ramadhan pada dasarnya berada pada kondisi ketidaksadaran, karena ada pada kondisi ketidaksadaran sehingga ideologi yang tidak ada ideologi yang mucul, ketidakadaan ideologi ini yang membuat praktik keseharian Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z menjadi absurd landasan geraknya. Ada tekanan sosial yang dirasakan oleh Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z untuk tampil bersama dengan teman-teman atau lingkungan sekitar pada momen Buka Bersama misalnya, yang sering kali berujung pada konsumsi berlebihan. Alih-alih bergerak kearah kesadaran yang lebih berkeseimbangan justru membuat cita-cita gaya hidup hijau menjadi hanya sebatas jargon, semu prestise, citra yang menggiring masyarakat ke arah hipnotis konsumerisme. Gaya hidup hijau yang hanya menjadi citra semu merupakan bentuk dari masih rendahnya tanggung jawab individu dan kolektif dari Kelas menengah dan kelompok milenial-gen Z. Masih rendahnya tanggung jawab individu dan kolektif tersebut tidak pelak akan memunculkan resikonya. Beck (2015) menuturkan pergeseran dalam masyarakat modern dari masyarakat industri menuju masyarakat yang lebih sadar akan risiko yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Dalam konteks ini, risiko bukan hanya dianggap sebagai fenomena yang dapat dihindari, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi individu, komunitas, dan lingkungan. Melonjaknya sampah plastik berdampak langsung pada lingkungan. Penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air. Selain itu, pembuangan sampah plastik yang sembarangan dapat menyebabkan masalah serius, seperti banjir akibat penyumbatan saluran air. Sampah plastik yang terbuang sembarangan menjadi sarang bagi berbagai jenis penyakit. Genangan air di sekitar sampah plastik dapat menarik vektor penyakit, seperti nyamuk, yang dapat mengakibatkan wabah demam berdarah atau malaria. Penumpukan plastik juga berpotensi mengeluarkan zat berbahaya yang dapat mencemari lingkungan dan mempengaruhi kesehatan manusia. Selain risiko lingkungan dan kesehatan, peningkatan sampah plastik juga menimbulkan masalah sosial dan ekonomi. Masyarakat yang tinggal di sekitar TPA sering kali mengalami dampak sosial yang serius, seperti penurunan kualitas hidup, stigma sosial, dan bahkan konflik akibat sengketa penggunaan lahan. Ekonomi lokal juga terpengaruh, mengingat biaya pengelolaan sampah meningkat seiring dengan volume sampah yang terus bertambah. Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momen refleksi dan perubahan positif, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam praktik sehari-hari, termasuk perilaku konsumsi yang ramah lingkungan. Bulan Ramadhan dicita-citakan menjadi ruang yang menghilangkan logika hasrat dan logika citra justru menjadi ruang percepatan proses kehancuran. Masyarakat kelas menengah dan milenial-gen Z memiliki

Opini

Puasa Sebagai Obat Stres Kronis

ruminews.id,- Kelenjar adrenal terletak di atas kedua ginjal, satu di setiap sisi tubuh. Bentuknya seperti segitiga kecil dan berfungsi seperti pabrik kecil yang terus bekerja untuk menghasilkan hormon. Saat seseorang mengalami stres, misalnya karena situasi yang mendadak atau tekanan emosional, kelenjar ini akan segera melepaskan hormon seperti adrenalin yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan otot-otot siap bekerja. Selain itu, kelenjar ini juga menghasilkan kortisol yang membantu meningkatkan gula darah sehingga tubuh mendapatkan energi tambahan. Namun, jika stres berlangsung terus-menerus atau kronis, kelenjar adrenal akan bekerja terus-menerus tanpa henti. Kondisi ini bisa membuat kelenjar menjadi “lelah”, sehingga pada akhirnya tubuh bisa mengalami masalah seperti kelelahan berlebihan, gangguan tidur, dan penurunan sistem kekebalan tubuh. “Ketika keinginan seseorang tidak terpenuhi, hal ini bisa menimbulkan perasaan kecewa atau frustrasi yang dianggap oleh otak sebagai suatu stres.” Jika seseorang sangat terikat dengan keinginannya, maka apabila keinginan tersebut tidak terpenuhi, dampak stres yang dirasakan bisa jauh lebih intens. Keterikatan yang tinggi membuat otak menafsirkan kegagalan dalam memenuhi keinginan sebagai ancaman besar, sehingga kelenjar adrenal akan mengeluarkan lebih banyak hormon stres seperti adrenalin dan kortisol. Akibatnya, tubuh dapat mengalami peningkatan detak jantung, tekanan darah, serta perasaan cemas dan frustrasi yang berkepanjangan. Keterikatan yang kuat terhadap keinginan juga mencakup hal-hal dasar seperti makan, minum, dan seks. Ketika seseorang sangat bergantung pada pemenuhan kebutuhan tersebut, dan jika kebutuhan itu tidak terpenuhi sesuai harapan, hal ini bisa menimbulkan perasaan frustrasi dan stres. Dengan kata lain, keinginan yang sangat kuat dalam hal-hal dasar sekalipun, jika terganggu, bisa memicu reaksi stres yang serupa seperti ketika keinginan-keinginan lainnya tidak terpenuhi. Selain itu, tekanan emosional atau psikologis seringkali muncul ketika seseorang merasa khawatir tentang berbagai aspek kehidupan, seperti keterbatasan waktu, masalah keuangan, tekanan dalam karier, atau bahkan kehilangan orang yang dicintai. Saat menghadapi situasi seperti ini, tubuh secara alami bereaksi dengan melepaskan hormon stres. Hormon-hormon ini membantu tubuh tetap waspada dan siap menghadapi tantangan. Namun, jika tekanan ini berlangsung terus-menerus tanpa ada waktu untuk pemulihan, stres dapat berubah menjadi beban berkepanjangan yang berdampak buruk bagi kesehatan. Akibatnya, seseorang bisa mengalami gangguan tidur, mudah lelah, sulit berkonsentrasi, daya tahan tubuh menurun, hingga rentan terhadap berbagai penyakit. Dapat kita simpulkan bahwa keterikatan yang berlebihan terhadap keinginan dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami stres kronis, karena mereka terus-menerus merasa cemas, frustrasi, atau takut kehilangan sesuatu yang mereka anggap penting. Oleh sebab itu, dengan belajar mengontrol keinginan dan tidak terlalu terikat padanya, kita bisa menjadi lebih tenang dan mengurangi stres. Ketika seseorang terlalu bergantung pada pemenuhan keinginan tertentu – baik itu dalam hal materi, karier, hubungan, atau bahkan ekspektasi terhadap diri sendiri – mereka cenderung merasa gelisah dan tertekan jika kenyataan tidak sesuai harapan. Sebaliknya, ketika kita bisa menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan, tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks. Kelenjar adrenal tidak akan terus-menerus melepaskan hormon stres. Seorang arif berkata bahwa puasa hati dari hawa nafsu lebih utama daripada puasa perut dari makanan. Ini berarti puasa tidak hanya soal menahan perut dari makan dan minum, tetapi juga tentang mengendalikan keinginan yang lebih dalam, seperti keinginan emosional dan spiritual. Artinya, selain mengontrol kebutuhan dasar, puasa juga mengajarkan kita untuk mengelola keinginan dalam pikiran dan hati – seperti keinginan untuk mendapatkan kepuasan instan, ambisi yang berlebihan, keserakahan, keinginan untuk selalu merasa bahagia, sukses, keinginan untuk diakui, dan bahkan emosi destruktif seperti kemarahan atau iri hati. Karena keterikatan yang berlebihan pada keinginan dalam pikiran dan hati dapat menyebabkan stres kronis. Dengan berpuasa, kita belajar untuk mengontrol kecenderungan pada apa yang kita inginkan, baik kebutuhan fisik maupun keinginan dalam pikiran dan hati. Puasa bisa menjadi salah satu sarana terbaik untuk mengurangi stres, karena esensinya adalah latihan mengontrol keinginan dan keterikatan terhadap hal-hal duniawi. Ketika kita berpuasa, kita belajar untuk menahan diri tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari dorongan emosional seperti kemarahan, kecemasan, dan ambisi berlebihan. Dengan mengurangi keterikatan terhadap keinginan, tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang. Produksi hormon stres berkurang, dan sistem tubuh lebih seimbang. Selain itu, puasa juga melatih kesabaran, keikhlasan, serta penerimaan terhadap keadaan, yang semuanya berkontribusi pada ketenangan batin dan kesehatan mental yang lebih baik. Oleh karena itu, puasa bisa menjadi metode alami untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara menyeluruh. Meskipun puasa memiliki banyak manfaat, termasuk membantu mengatasi stres kronis dan meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental, tujuan utamanya tetaplah untuk mengharap ridha Sang Maha Sempurna. Puasa bukan sekadar latihan menahan diri, tetapi juga bentuk penghambaan dan ketaatan, dimana kita berlatih mengendalikan hawa nafsu demi mendekatkan diri kepada-Nya. Dengan niat yang lurus, puasa tidak hanya memberikan ketenangan fisik dan emosional, tetapi juga menghadirkan kedamaian spiritual. Ketika kita berpuasa dengan penuh kesadaran bahwa itu adalah ibadah, hati menjadi lebih ikhlas, jiwa lebih ringan, dan stres pun berkurang karena adanya kepasrahan total kepada kehendak Sang Maha Sempurna. Inilah yang menjadikan puasa bukan hanya sarana mengontrol keinginan, tetapi juga jalan menuju ketenangan sejati dan kehidupan yang lebih bermakna.

Ekonomi, Jeneponto

BPC HIPMI Jeneponto Siap Gelar Muscab untuk Tentukan Kepemimpinan Baru

Ruminews.id, Jeneponto – Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Kabupaten Jeneponto bersiap menggelar Musyawarah Cabang (Muscab), sebuah agenda penting dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan. Acara ini diharapkan menjadi momentum strategis dalam memperkuat peran pengusaha muda dalam pembangunan ekonomi daerah. Plt Ketua Umum BPC HIPMI Jeneponto, Ikram Rifqi, dalam konferensi pers di Café Placiuous, Jalan Letjen Hertasning, menegaskan bahwa HIPMI memiliki peran krusial dalam membangun jiwa kewirausahaan di kalangan anak muda. “Kehadiran HIPMI di Kabupaten Jeneponto sangat penting guna membangun jiwa pengusaha muda di daerah. Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menunjang pengembangan ekonomi lokal di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Jeneponto,” ujar Ikram.   Berbagai persiapan telah dilakukan untuk memastikan kelancaran agenda ini. Panitia telah menyusun rangkaian kegiatan yang melibatkan seluruh anggota HIPMI serta pemangku kepentingan di Kabupaten Jeneponto. Proses pemilihan Ketua Umum yang baru diharapkan berjalan secara transparan dan demokratis guna melahirkan pemimpin yang berintegritas serta memiliki visi kuat dalam memajukan dunia usaha. Ketua Umum BPC HIPMI Jeneponto yang terpilih nantinya diharapkan mampu meningkatkan peran strategis organisasi dalam mendukung pengembangan wirausaha, terutama bagi generasi muda. Selain itu, kepemimpinan baru juga diharapkan dapat memperkuat jejaring bisnis dan sinergi antaranggota HIPMI, sehingga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Dengan semangat kolaborasi dan visi yang jelas, BPC HIPMI Kabupaten Jeneponto optimis bahwa Muscab ini akan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa organisasi ke arah yang lebih maju. Dukungan dari seluruh anggota serta pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam mewujudkan HIPMI sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Ikram Rifqi, yang juga merupakan demisioner Badko HMI Sulselbar, dikenal sebagai salah satu kader terbaik HMI serta figur yang berpengaruh di Sulawesi Selatan. Keberadaannya di HIPMI diharapkan dapat semakin memperkuat sinergi organisasi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal maupun regional. Muscab BPC HIPMI Kabupaten Jeneponto bukan hanya sekadar agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk merumuskan strategi baru dalam memperkuat peran pengusaha muda sebagai pilar utama pembangunan ekonomi daerah.

Gowa, Politik

Dukung Program Pengentasan Kemiskinan Ekstrim di Gowa, Legislator PAN Jadi Orangtua Asuh Warga Romangloe

ruminews.id, GOWA – Anggota DPRD Gowa dari Fraksi PAN, Faisal Nyengka, mendukung program orangtua asuh dalam rangka pengentasan kemiskinan ekstrim yang menjadi program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Gowa, Husniah Talenrang-Darmawangsyah Muin. Dukungan Faisal Nyengka ditunjukkan dengan menjadi orangtua asuh bagi warga miskin ekstrim di Desa Romangloe, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa. Dalam kunjungannya di desa tersebut, Sabtu (15/3/2025), Faisal juga membagikan paket sembako kepada warga miskin Desa Romangloe. Faisal Nyengka yang dikenal sebagai legislator dengan kepedulian tinggi terhadap masyarakat bawah mengungkapkan, bahwa pembagian sembako ini adalah bentuk nyata dari komitmennya untuk membantu meringankan beban warga kurang mampu, terutama di daerah yang membutuhkan perhatian lebih dengan sasaran utama masyarakat miskin ekstrim. “Dukungan dari saya bentuk kolaborasi antara eksekutif dan legislatif. Program Gowa Sejahtera yang diaplikasikan dalam bentul orangtua asuh bagi warg miskin ekstrim yang dicanangkan Bupati Gowa sangat positif dan perlu disupport seluruh pihak demi mengentaskan kemiskinan ekstrim di Kabupaten Gowa,” ujar Anggota Komisi B DPRD Gowa ini saat di konfirmasi awak media. Faisal Nyengka berharap melalui langkah kecil yang dia lakukan, dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Romangloe dan sekitarnya serta menjadi pemicu bagi pihak lain untuk turut serta membantu mengurangi angka kemiskinan ekstrem di Kabupaten Gowa. “Dengan kolaborasi dan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial, Inshaallah saya optimis masalah kemiskinan di Gowa dapat segera teratasi,” paparnya. Sekretaris Desa Romangloe, Jumriati sangat mengapresiasi pembagian sembako yang dilakukan anggota DPRD Gowa, Faisal Nyengka. “Bagi kami ini sangat positif, dan merupakan bagian dari kontribusi nyata dalam mewujudkan program 100 hari Ibu Bupati Husniah. Seluruh pejabat sampai di tingkat Desa, wajib menjadi orangtua asuh bagi warga miskin ekstrim,” ujar Jumriati. Jumriani menambahkan, melalui program orang tua asuh ini, kesejahteraan warga Romangloe dapat meningkat. “Yang pastinya program orangtua asuh ibu bupati sangat luarbiasa manfaatnya bagi kami aparat desa. Program orang tua asuh ini sangat menunjang dan mendukung penurunan angka kemiskinan di desa, serta mempererat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat,” terangnya. “Saya mewakili pemerintah Desa Romangloe beserta jajaran mengucapkan apresiasi yang tinggi atas diluncurkannya program Gowa Sejahtera atau orangtua asuh bagi masyarakat miskin ekstrim,” tambahnya. Hadir dalam kegiatan tersebut, Camat Bontomarannu, Plt Kepala Desa Romangloe, Sekdes, Kepala Dusun (Kadus), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), staf desa, serta Babinsa yang turut serta dalam mendampingi dan memantau pelaksanaan pembagian sembako. Kegiatan sosial yang dilakukan Faisal mendapat sambutan hangat dari warga yang merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan tersebut.

Scroll to Top