Penulis: Erwin Lessy
Ruminews.id — Di Panem, negeri dalam film The Hunger Games, anak-anak miskin dipaksa saling membunuh di arena dan disiarkan sebagai tontonan wajib. Rakyat harus menyaksikan anak mereka mati, lalu bertepuk tangan.
Di arena itu, Katniss Everdeen berteman dengan Rue, gadis kecil dari Distrik 11. Ketika Rue tewas, Katniss menata bunga di sekeliling jasadnya dan mengangkat tiga jari di depan kamera yang menyiarkan semuanya ke seluruh negeri. Tidak ada pidato, tidak ada teriakan. Hanya duka yang menolak disembunyikan.
Distrik 11 membalas dengan gestur yang sama: satu tangan, sepuluh, lalu ratusan. Penguasa Panem membacanya sebagai alarm. Orang-orang yang selama ini dibuat saling asing mulai saling mengenali.
Teriakan mudah dihadapi, sebab bisa dicap provokasi lalu dilupakan. Ribuan orang yang diam dan saling menatap jauh lebih sulit dihadapi, karena mereka mulai sadar bahwa mereka tidak sendirian.
Dari Panem ke Bundaran HI
Kisah itu tidak berhenti di layar. Pada 28 Oktober 2026, Hari Sumpah Pemuda, ribuan mahasiswa dan warga memadati Bundaran HI. Panitia memperkirakan 2.500 orang, Komite Sadar mencatat sekitar 4.000.
Mereka membawa Lima Perintah Rakyat sebagai evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, dengan pesan yang terang: penuhi, atau mundur. Aksi berlangsung tertib. Sekitar pukul 19.45 WIB massa bubar, dan sebelum pulang mereka mengangkat tiga jari.
Gerakan #IndonesiaSadar digagas Komite Sadar (Selamatkan Daulat Rakyat) bersama BEM UI, BEM Undip, dan sejumlah organisasi mahasiswa lain. Keresahan mereka dirangkum dalam tiga frasa: Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan. Siapa pun yang pernah menghitung sisa uang di tanggal tua langsung paham maksudnya.
Tiga Luka yang Dirasakan Sehari-hari
Dipalak. Rakyat membayar pajak, menanggung harga yang terus naik, dan menutup berbagai iuran yang tak ada habisnya. Sementara itu, ke mana uang itu mengalir tidak pernah dijelaskan dengan terang.
Ketika anggaran dipakai untuk urusan yang jauh dari hidup orang banyak, setiap pungutan terasa seperti pemalakan berstempel hukum. Anak-anak muda ini menuntut keterbukaan atas uang yang sejak awal milik mereka.
Dibakar. Setiap tahun asap datang, dan setiap tahun janji yang sama diucapkan lagi. BEM UI menegaskan bahwa hutan terus terbakar dan asapnya mengepung permukiman. Yang menghirupnya adalah anak-anak, orang tua, dan pekerja yang tak punya pilihan selain tetap keluar rumah.
Para pengambil keputusan berada di ruang berpendingin udara, dan pihak yang diuntungkan dari lahan terbakar jarang sampai ke meja hijau. Menjamin udara bersih adalah tugas paling dasar negara, dan tak ada pidato yang bisa menutupi kegagalan di sana.
Dimiskinkan. Pendidikan semestinya menjadi tangga naik bagi anak dari keluarga biasa. Namun biaya kuliah terus melambung dan lapangan kerja makin sempit, sehingga tangga itu berubah jadi tembok.
Jutaan keluarga diminta percaya bahwa kerja keras sudah cukup, padahal aturan mainnya tak lagi berpihak pada mereka. Ini hasil pilihan kebijakan, dan setiap pilihan punya penanggung jawab.
Ketiga luka itu lahir dari kebijakan yang jarang menimbang rasanya bagi orang yang menanggungnya. Karena itu mahasiswa menyebut gerakan ini seruan kedaulatan rakyat: kekuasaan adalah pinjaman dari rakyat, dan pinjaman harus dipertanggungjawabkan.
Gestur Kecil, Gema Besar
Tiga jari tidak meminta apa-apa. Tak ada formulir, kartu anggota, atau teori yang harus dihafal. Cukup mengangkat tangan, dan seseorang merasa jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Karena itu gestur ini menjalar. Mahasiswa Thailand memakainya melawan kudeta militer 2014, lalu muncul di Myanmar dan Hong Kong.
Dari fiksi ia turun ke jalan, lalu kembali ke layar. Di setiap tempat maknanya berganti. Di Indonesia, tiga jari berisi dompet yang menipis, napas yang sesak, dan masa depan yang terasa makin berat.
Ruang Bersuara Harus Tetap Terbuka
Bagian ini seharusnya membuat kita gelisah. Menurut Komite Sadar, peserta aksi dihadang aparat di sejumlah titik meski bergerak damai, dan sebagian penghadangan disertai kekerasan.
Pola serupa diklaim terjadi pada Juni lalu, ketika mahasiswa yang hendak ke Bundaran HI dihentikan di Semanggi dan digiring ke Gedung DPR. Mereka menolak, karena ingin bicara langsung kepada rakyat.
Negara yang yakin pada kinerjanya tak perlu barikade untuk menghadapi anak muda yang berjalan kaki sambil mengangkat tangan. Kritik menandakan warga masih peduli, dan demokrasi yang sehat membutuhkannya.
Kantor Staf Presiden menyatakan siap menampung aspirasi. Itu patut dicatat. Tetapi aspirasi yang berhenti di ruang tamu hanya jadi basa-basi. Keseriusan baru terlihat dari kebijakan yang bisa diperiksa publik.
Viral Saja Tidak Cukup
Para pengangkat jari juga perlu bercermin. Simbol yang ramai di media sosial belum tentu mengubah apa pun, dan banyak gerakan mati pelan-pelan di antara like dan repost.
Satu foto bisa menyatukan ribuan orang, tetapi foto itu tidak memuat tuntutan, tidak menyebut siapa yang mengawal, dan tidak menunjukkan langkah berikutnya. Solidaritas yang berhenti di layar hanya menghibur diri.
Seorang orator mengingatkan bahwa anggaran, tata kelola lahan, dan ruang sipil bergantung pada warga. Bundaran HI baru pembuka. Kerja sesungguhnya membosankan dan melelahkan: membaca dokumen anggaran, mengawasi izin lahan, menagih janji, menjaga ruang bersuara tetap terbuka. Tak ada yang bisa difoto dari pekerjaan itu, dan justru itulah yang menentukan.
Dua Jari dan Tiga Jari
Simbol tandingan pun muncul. Dua jari, yang sejak kampanye 2024 identik dengan nomor urut Prabowo-Gibran, kini dipakai sebagai tanda dukungan, dan ruang publik riuh oleh perang simbol. Taruhannya sebenarnya soal siapa yang berhak bicara atas nama rakyat.
Dua jari berkata: percayalah. Tiga jari menjawab: buktikan dulu. Wakil Presiden Gibran sendiri mengatakan kritik harus dijawab dengan kerja yang lebih baik. Tolok ukurnya sudah disepakati, maka ukurlah di tempat yang paling jujur: udara yang kita hirup, biaya kuliah yang kita bayar, dan anggaran yang kita biayai dengan pajak sendiri.
Cerita di Balik Jari yang Terangkat
Tiga jari terasa mengancam bagi penguasa karena membawa cerita: Rue yang gugur terlalu muda, Katniss yang berduka di depan kamera, jutaan orang yang tiba-tiba sadar bahwa duka mereka layak diakui.
Di negeri ini, cerita itu punya wajah yang lebih dekat: mahasiswa yang cemas memikirkan biaya, ibu yang menutup jendela karena asap, pekerja yang harus berhitung cermat agar gajinya cukup sampai bulan berikutnya.
Lain kali Anda melihat tiga jari terangkat di depan gedung pemerintahan, coba dengarkan apa yang sedang mereka tagih. Lalu tanyakan pada diri sendiri apa yang akan Anda lakukan setelah mendengarnya.
Tiga jari hanyalah pembuka. Ceritanya baru dimulai, dan kita semua sudah berada di dalamnya. [Erwin]