Preman Mabuk Aniaya Tuan Rumah Hajatan di Purwakarta hingga Tewas, Sempat Jarah Daging dan Minta Uang Berulang

Ruminews.id, Purwakarta – Kasus penganiayaan yang menewaskan Dadang (58) terjadi saat korban menggelar hajatan pernikahan anaknya di Desa Kertamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta. Peristiwa tragis ini berlangsung pada Sabtu (4/4/2026) sekitar pukul 15.00 WIB dan melibatkan sekelompok pria yang datang tanpa undangan dalam kondisi mabuk.

Polisi menetapkan Yogi Iskandar (36), alias Boneng, sebagai tersangka utama. Ia dikenal sebagai preman kampung dan merupakan residivis kasus pencurian dengan pemberatan yang pernah dipidana pada 2007 dengan hukuman tiga tahun penjara. Dalam kesehariannya, pelaku diketahui tidak memiliki pekerjaan tetap.

Berdasarkan hasil penyelidikan, Yogi diduga menjadi pelaku utama dalam aksi pemukulan yang menyebabkan korban meninggal dunia. Ia datang bersama sejumlah rekannya ke lokasi hajatan, lalu meminta uang kepada tuan rumah dengan alasan untuk membeli minuman keras.

Permintaan awal sebesar Rp. 500 ribu tidak dipenuhi. Keluarga korban hanya memberikan Rp100 ribu, namun jumlah tersebut ditolak oleh pelaku karena dianggap tidak mencukupi. Dalam kondisi dipengaruhi alkohol, mereka kemudian membuat keributan.Istri korban menjelaskan awal mula kejadian saat rombongan tersebut meminta uang.

“Mang Ucup yang minta ke saya, gak tahu ada yang minta ke Mang Ucup. Teh minta duit Rp 100 ribu untuk anak-anak,” kata istri Dadang.

Setelah menerima uang, para pelaku tidak langsung pergi. Mereka justru berada di belakang tenda hajatan dan mengambil daging yang seharusnya disajikan untuk tamu.

“Ngambil daging tiga piring, tiga kali balik. Dibawa ke belakang,” katanya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Dadang terlihat meladeni tiga orang dari kelompok tersebut. Anak korban menyaksikan langsung situasi itu.

“Waktu itu saya lagi ngurusin di dalam, ketika keluar ngelihat ada tiga orang itu. Dua orang duduk di sebelah kiri dan kanan, bapak di tengah-tengah, yang satu orang berdiri,” kata anak korban.

Ia kemudian bertanya kepada ayahnya terkait situasi tersebut.

“Aku tanya ‘ada apa pak’, katanya ini mau minta lagi jatah, cuma sama kita gak dikasih karena banyak tamu. Gak enak, sedang pemotretan juga,” tuturnya.

Tak lama kemudian, seorang pria bernama Kendi datang menghampiri korban. Ia mengaku hendak menarik ketiga rekannya, namun justru ikut meminta uang kepada pemain organ di panggung.

“Cuma si A Kendi ini sama yang satu orang masuk lewat tenda, dua orang lagi di belakang tenda. Terus berhenti di organ, di panggung, meminta uang ke pemain organ,” kata dia.

Ketegangan pun meningkat dan sempat terjadi perkelahian antara kru organ dan kelompok tersebut.

“Di situ ada baku hantam antara kru organ dengan mereka,” ujarnya.

Melihat situasi memanas, Dadang sebagai tuan rumah berusaha melerai dan mengingatkan bahwa para pelaku sudah diberi uang.

“Kemudian bapak lihat, ‘teh jangan dikasih lagi, karena kan udah’,” kata sang anak menirukan ucapan korban.

Ucapan itu justru memicu emosi pelaku. Dadang kemudian dikejar saat mencoba menghindar dari keributan.

“Dianya emosi ke bapak, bapak dikejar ke sini. Aku melukin bapak biar gak emosi juga. Biar jangan ada kerusuhan. Pas dipeluk di sini, diamanin di sini, ada yang lari ke bapak, dipukul pake bambu,” kata anak korban.

Saat itu korban masih sempat sadar. Ia kemudian dibawa ke depan pelaminan dalam kondisi sesak napas.

“Bapak masih sadar, aku amanin ke depan pelaminan, pas lihat ke kiri mamang (adik korban) lagi dikeyorok,” ujarnya.

Menurut keterangan saksi, adik korban dikeroyok oleh sekitar delapan orang. Seorang hansip sempat berusaha melerai, namun tidak mampu menghadapi jumlah pelaku yang lebih banyak.

Kondisi korban semakin memburuk dan diduga meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan penanganan medis.

“Di depan pelaminan bapak udah sesak napas, ketika dipindah ke sini udah gak ada. Pas aku bawa ke RS udah gak ada, dicek EKG juga. Karena aku membelakangi, aku gak lihat pelakunya,” katanya.
“Setelah bapak meninggal mereka langsung kabur. Kayaknya takut,” tambahnya.

Kasat Reskrim Polres Purwakarta, AKP Uyun Saepul Uyun, menyebut para pelaku meminta uang karena tidak memiliki pekerjaan dan dengan dalih untuk keamanan serta membeli minuman keras.

“Terduga pelaku meminta uang karena dia tidak bekerja, kemudian meminta uang dengan dalih untuk keamanan dan membeli minum minuman beralkohol,” tuturnya.

Polisi juga mengungkapkan bahwa pelaku dan korban berasal dari lingkungan yang sama di sekitar desa tersebut.

Kapolres Purwakarta I Dewa Putu Gede Anom Danujaya menyatakan bahwa Yogi Iskandar merupakan pelaku utama dalam kasus ini.

“Pelaku utama yang melakukan pemukulan terhadap korban hingga meninggal dunia,” katanya.

Yogi ditangkap di tempat persembunyiannya di Jalan Alternatif Sagalaherang, Kabupaten Subang, pada Senin (6/4/2026). Polisi turut mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain pakaian, bambu yang digunakan untuk memukul, rekaman video, serta botol sisa minuman keras.

Kasus ini masih terus dikembangkan untuk memburu pelaku lain yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut.

Share

PENCARIAN
BERITA LAINNYA
  • All Posts
  • Bantaeng
  • Berau
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hulu Sungai Selatan
  • Infotainment
  • Internasional
  • Jakarta
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Kualanamu
  • Luwu Timur
  • Mandalika
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pali
  • Palu
  • Papua
  • Pemerintahan
  • Pemuda
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Politik
  • Soppeng
  • Tekhnologi
    •   Back
    • Makassar
    • Gowa
    • Maros
    • Takalar
    • Palopo
    • Jeneponto
    • Pangkep
    • Pare-pare
    • IKN
    • Bone
    • Bulukumba
    • Towuti
    • Sidrap
    • Purwakarta
    • Pekanbaru
    • Berau
    • Kolaka Timur
    • Enrekang
    • Serang
    • Tangerang Selatan
    • Bima
    • Nusa Tenggara Timur
    • Kolaka Utara
    • Barru
    • Cibubur
    • Jakarta
    • Luwu Timur
    • Luwu Utara
    • Padang
    • Pinrang
    • Polewali Mandar
    • Toraja
    • Selayar
    • Mamuju
    • Donggala
    • Soppeng
    • Parigi Moutong
    • Yogyakarta
    • Jawa Timur
    • Labuan Bajo
    • Mamasa
    • Kualanamu
    • Bantaeng
    • Ambon
    • Sinjai
    • Bombana
    • Jambi
    • Samarinda
    • Sorong
    • Tegal
    • Kendal
    • Kulon Progo
    • Morowali
    • Blora
    • Tual
    • Gunungkidul
    • Banten
    • Cilacap
    • Jayapura
    • Batam
    • Bantul
    • Sleman
    • Halmahera
    • Banjarnegara
    • Toraja Utara
    • Nabire
    • Bangkalan
    • Solo
    • Lamongan
    • Tangerang
    • Papua
    • Luwu
    •   Back
    • Badan Gizi Nasional
    •   Back
    • Dinas Koperasi Makassar
    •   Back
    • DPRD Kota Makassar
    • Prov Sulawesi Selatan
    • Pemerintah Kota Makassar
    • Pemerintah kabupaten Gowa
    • Dinas Koperasi Makassar
Scroll to Top