Penulis: Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi
ruminews.id – Rocky Gerung tidak pernah sekadar kritikus. Ia adalah simbol kritik yang berdiri di luar pagar kekuasaan. Dari luar, ia bisa menembak ke mana saja. Sekarang ia masuk ke dalam. Jika benar ia duduk sebagai Wantimpres, yang berubah bukan cuma alamat. Yang berubah adalah relasi kuasa, akses, dan risiko.
Kalimat “saya cuma pindah dari luar ke dalam, sikap saya tetap” terdengar tegas. Tapi dalam filsafat politik, itu bukan argumen. Itu klaim. Dan klaim tidak cukup diucapkan, tapi harus dibuktikan.
Sebab kekuasaan punya gravitasi yang menarik, menyerap, dan perlahan mengubah bahasa. Bukan karena orangnya jahat, tapi karena posisi menciptakan kepentingan. Akses menciptakan rasa memiliki. Informasi menciptakan pembenaran.
Wantimpres memang bukan kursi eksekutif. Tidak memegang anggaran, tidak menandatangani kebijakan. Tapi di lingkar kekuasaan, akses adalah kekuasaan. Siapa yang bisa bicara sebelum keputusan dibuat, dia punya pengaruh. Dan pengaruh selalu menuntut pertanggungjawaban.
Maka ketika seorang kritikus masuk, pertanyaan publik bukan “apakah ia tulus?” tapi “apakah strukturnya membiarkan ia tetap kritis?”
Di luar Istana, Rocky bisa bertanya: mengapa pemerintah melakukan ini? Di dalam, pertanyaannya berubah: apa yang saya lakukan ketika saya tahu pemerintah akan melakukan ini? Dulu ia mengkritik keputusan sebagai pengamat. Sekarang, jika ia ikut menasihati Presiden, ia harus siap ditanya: apa nasihat Anda sebelum keputusan itu dibuat?
Itulah beda kritik dari luar dan tanggung jawab dari dalam.
Kritik dari luar itu murah. Tidak ada kursi yang dipertaruhkan. Tidak ada akses yang bisa dicabut. Kritik dari dalam baru mahal ketika kata “tidak” berpotensi membuat Anda tidak nyaman di meja sendiri. Di situlah ujian filsuf kritis. Bukan saat ia berpidato tentang kekuasaan, tetapi saat ia harus melawan kekuasaan yang ia nasihati, termasuk jika itu Presiden yang mengangkatnya.
Publik tidak perlu deklarasi “saya tetap kritis”. Publik butuh bukti. Sebab konsistensi tidak diukur dari seberapa sering seseorang mengatakan dirinya konsisten, tapi dari seberapa berani ia mengatakan “tidak” ketika kekuasaan menginginkan “ya”.
Ironinya pahit. Rocky selama ini mengajarkan publik agar mencurigai kekuasaan. Sekarang, setelah ia mendekati kekuasaan, pelajaran itu harus dikenakan kepadanya. Jangan terlalu percaya pada Rocky. Uji argumennya. Pertanyakan posisinya. Itu bukan penghinaan. Itu justru konsekuensi dari ajarannya sendiri.
Masuk Istana bukan dosa. Menjadi penasihat Presiden juga bukan pengkhianatan terhadap filsafat. Tetapi bagi seseorang yang membangun identitas dari kritik, ada konsekuensi yang tidak bisa ditawar, yakni standar kritik terhadap dirinya sendiri harus lebih tinggi daripada standar kritiknya terhadap orang lain.
Jika tidak, maka “sikap tetap” hanya menjadi bahasa filosofis untuk menjelaskan mengapa ia kini nyaman di dalam. Jika kritiknya mulai berhenti di kursi sendiri, maka ia bukan lagi filsuf kritis. Ia hanya dekorasi intelektual bagi kekuasaan.
Filsafat tidak diuji di depan mikrofon. Filsafat diuji ketika kepentingan pribadi bertemu kebenaran yang tidak nyaman. Dan jika Rocky tersinggung karena dikritik setelah masuk Istana, satu pertanyaan pantas diajukan:
Bukankah selama ini justru itu yang ia ajarkan kepada kita?