OPINI

Borjuis dan Kaum Elit : Mereka Takut Buruh Pelabuhan Sekolah dan Jadi Sarjana !

ruminews.id – Di pelabuhan, sebelum matahari terbit, ada tangan-tangan kasar yang sudah bekerja.
Di bawah panas, di tengah hujan, di antara debu dan risiko kecelakaan, buruh pelabuhan menjaga denyut ekonomi negeri ini.

Mereka memindahkan barang.
Mereka menjaga arus logistik.
Mereka memastikan kebutuhan rakyat sampai ke seluruh penjuru negeri.

Namun ada satu hal yang diam-diam lebih ditakuti oleh borjuis dan kaum elit:
Buruh pelabuhan yang sekolah dan menjadi sarjana.

Kenapa Pendidikan Buruh Ditakuti ?

Sejak lama, sebagaimana dikritik oleh , struktur ekonomi selalu berusaha mempertahankan hierarki:
pemilik modal di atas, pekerja di bawah.

Dalam struktur itu, buruh cukup kuat untuk bekerja —
tetapi jangan sampai terlalu kuat untuk berpikir.

Karena ketika buruh pelabuhan menjadi sarjana :
1. Mereka paham hak konstitusionalnya
2. Mereka mengerti hukum ketenagakerjaan
3. Mereka mampu membaca kontrak dan laporan keuangan
4. Mereka berani menuntut transparansi
5. Mereka bisa duduk sejajar dalam perundingan

Dan bagi sebagian elit yang nyaman dengan ketimpangan, itu dianggap ancaman.

*Realitas yang Menggugah Hati*

Coba bayangkan :

Seorang buruh pelabuhan bekerja 10–12 jam sehari.
Pulang dalam keadaan lelah.
Anaknya bertanya, “Ayah, aku bisa kuliah tidak ?”

Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi di baliknya ada harapan tentang masa depan.

Apakah anak buruh hanya ditakdirkan menjadi buruh lagi ?
Apakah lingkaran itu harus terus berputar tanpa kesempatan naik kelas ?

Inilah persoalan moral bangsa.

Jika negeri ini berbicara tentang keadilan sosial,
maka pendidikan anak buruh bukan belas kasihan —
itu hak.

*Kebangkitan dari Pelabuhan*

Pada Hari Kebangkitan Nasional, 21 Mei 2025, bertepatan dengan Milad SP TKBM Indonesia di Jakarta, Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia, , mencanangkan program bersejarah:

“Buruh Sekolah & Buruh Sarjana.”

Ini bukan sekadar program organisasi.
Ini adalah seruan moral.

Bahwa buruh pelabuhan berhak :

Sekolah
Kuliah
Menjadi sarjana
Menguasai teknologi
Memahami hukum
Mengelola sistem, bukan hanya menjalankan sistem

Momentum 21 Mei adalah simbol kebangkitan nasional.
Kini kebangkitan itu lahir dari pelabuhan — dari kelas pekerja.

*Gerakan Peradaban SP TKBM Indonesia*

Gerakan ini adalah Gerakan Peradaban.

Bukan sekadar menuntut kenaikan upah.
Bukan sekadar bantuan sesaat.
Tetapi membangun generasi buruh yang :

Berpendidikan tinggi
Berdaya saing
Melek hukum
Melek digital
Mampu memimpin

Karena bangsa yang besar tidak dibangun oleh elit saja.
Ia dibangun oleh rakyat yang tercerahkan.

*Menggerakkan Empati Bangsa*

Pertanyaannya sekarang bukan lagi :
“Takut atau tidak ?”

Pertanyaannya adalah :
Apakah kita rela buruh & anak buruh terus terhalang akses pendidikan ?

Jika pelabuhan adalah jantung ekonomi nasional,
maka buruh pelabuhan adalah darahnya.

Dan darah bangsa tidak boleh dibiarkan lemah.

Buruh cerdas bukan ancaman bagi negara.
Buruh cerdas adalah kekuatan bangsa.

Mari berdiri bersama.
Bukan untuk melawan siapa pun,
tetapi untuk memastikan bahwa keadilan sosial benar-benar hidup —
bukan hanya tertulis.

Karena ketika buruh bangkit melalui pendidikan,
yang terangkat bukan hanya satu keluarga,
tetapi martabat bangsa.

by : Subhan Hadil – Ketua Umum Pimpinan Pusat SP TKBM Indonesia – Koordinator Nasional Gerakan Peradaban Buruh Naik Kelas

Share Konten

Opini Lainnya

WhatsApp Image 2026-05-31 at 09.59
APBN dari Rakyat untuk Rakyat-Kurban Presiden Prabowo Disoal, Mari Uraikan
IMG-20260531-WA0001
Antara Urgensi, Esensi dan Eksistensi Manakah yang Lebih Prioritas
WhatsApp Image 2026-05-30 at 18.23
Membaca Aksi Demonstrasi Mahasiswa Bantaeng Melalui Perspektif  Public Sphere Jurgen Habermas
WhatsApp Image 2026-05-29 at 18.19
Idul Adha di Tengah Banjir: Sampai Kapan Malangke Terus Tenggelam?
7124b243-75b1-459d-9641-728082c655fd
Di Tengah Ambisi Biodisel, Petani Sawit di Mamuju Tengah Kia Tersudut
IMG-20260529-WA0023
Bagaimana Film Pesta Babi dapat Berpengaruh Terhadap Political Engagement Masyarakat
WhatsApp Image 2026-05-29 at 2.00
Kesbangpol Bantul dan Taruhan Hukum di Atas Meja Kompromi
Muzakkir
Deforestasi di Indonesia: Tragedi Lingkungan yang Lahir dari Krisis Moral
WhatsApp Image 2026-05-27 at 11.51
Negara, Massa, dan Doa yang Tertahan di Sewon
IMG-20260528-WA0028
Fomo atau Hanya Menjatuhkan Pihak Lain?
Scroll to Top