Penulis: Erwin Lessy — Penulis Buku Filsafat Ekonomi.
Ruminews.id — Ada alasan mengapa Avengers: Endgame terasa begitu dekat dengan kita hari ini, dan alasan itu tak ada hubungannya dengan palu atau tameng. Film ini berkisah tentang hari-hari sesudah kehancuran. Bangsa yang kelelahan, institusi yang retak, harapan yang tinggal serpihan, dan keputusan untuk tetap melangkah walau luka belum kering.
Memaksakan Thanos menjadi sosok tertentu di negeri ini hanya akan terasa dibuat-buat. Lebih jujur bila kita menyebut ancaman yang memang nyata yakni korupsi yang menggerogoti pelan-pelan, jurang ketimpangan yang kian lebar, kepercayaan publik yang retak, dan politik yang sering lebih giat saling menjatuhkan daripada melayani rakyat. Pertanyaan dari layar lebar itu pun sampai ke kita. Saat krisis datang dan kepercayaan runtuh, apa yang akan kita lakukan?
Kita Pernah Kehilangan Banyak Hal
Endgame dibuka dengan dunia yang belum pulih. Orang-orang kehilangan keluarga, pekerjaan, dan rasa aman. Lima tahun berlalu, lukanya masih terasa. Bukankah kita pun pernah merasakannya? Pandemi, tekanan ekonomi, korupsi yang seperti tak ada habisnya, dan lembaga-lembaga yang kerap sibuk berebut kuasa ketimbang bekerja untuk rakyat.
Kita memang tidak hidup di dunia fiksi, tetapi kita hafal rasanya berada dalam masa tunggu yang panjang. Menunggu keadilan. Menunggu janji ditepati. Menunggu negara benar-benar hadir. Seperti para tokoh di film itu, kita berdiri di persimpangan, tenggelam dalam sinisme, atau bangkit dengan langkah yang masuk akal.
Enam Batu Itu Berwujud Prinsip
Kekuatan para Avengers bertumpu pada enam Infinity Stones yang menjaga keseimbangan semesta. Di negeri ini, batu-batu itu adalah prinsip dasar yang menopang berdirinya sebuah bangsa. Bila satu saja hilang atau sengaja dilemahkan, keseimbangan ikut goyah. Penyebabnya bukan kutukan. Kita sendiri membiarkan kekosongan itu diisi oleh kepentingan segelintir orang.
Batu pertama, hukum yang adil. Hukum semestinya melindungi, bukan menakut-nakuti. Ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, rakyat kecil kehilangan rasa aman, dan keadilan berubah menjadi barang mewah.
Batu kedua, integritas antikorupsi. Soalnya jauh lebih luas daripada urusan lembaga antikorupsi. Anggaran yang terang, pengadaan yang bersih, dan keberanian menolak gratifikasi semuanya bagian dari batu ini. Tanpa itu, uang rakyat mengalir ke kantong segelintir orang, sementara layanan publik tetap jauh dari layak.
Batu ketiga, kebenaran yang terbuka. Pers yang bebas, data yang transparan, dan perlindungan bagi warga yang berani mengkritik menandai sehatnya sebuah negara. Ketika kebenaran dikunci rapat, publik berjalan dalam kabut. Yang tersisa hanya kebisingan, hoaks, dan saling curiga.
Batu keempat, nalar dan pendidikan. Bangsa besar tumbuh dari kemampuan berpikir jernih, bukan dari luapan emosi sesaat. Literasi, pendidikan politik, dan kebiasaan memeriksa fakta menjaga kita agar tak mudah diadu domba. Tanpa nalar, polarisasi akan selalu menang.
Batu kelima, solidaritas. Gotong royong lebih dari sekadar slogan di spanduk. Di dalamnya ada kepedulian pada yang lemah, pada kelompok rentan, pada daerah yang tertinggal. Kalau solidaritas pudar, kita mudah dipecah oleh kepentingan yang tak pernah peduli pada nasib kita.
Batu keenam, harapan yang berkeadilan. Janji saja tak cukup untuk menghidupkan harapan. Harapan butuh wujud dalam bentuk layanan dasar yang layak, ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, dan masa depan yang masuk akal bagi anak-anak muda. Saat batu ini hilang, orang-orang terbaik pun kehilangan alasan untuk bertahan.
Keenam batu itu tidak tersimpan di planet yang jauh. Kita bisa menemukannya di ruang publik, di meja birokrasi, di ruang kelas, di ruang redaksi, dan di hati setiap warga yang masih peduli. Tugas kita bukan berburu dengan mesin waktu. Tugas kita menjaga agar batu-batu itu tak jatuh ke tangan mereka yang hanya mengincar kekuasaan.
Time Heist Itu Namanya Belajar dari Masa Lalu
Para Avengers menembus waktu tanpa niat bernostalgia. Mereka pergi untuk memungut pelajaran dan membetulkan keadaan. Di negeri ini, perjalanan semacam itu punya nama sendiri: reformasi, evaluasi, dan keberanian mengakui kesalahan.
Kita tak bisa terus mengulang pola lama: korupsi yang diberi ruang, kritik yang dipandang sebagai musuh, hukum yang pilih kasih, dan pendidikan politik yang menina-bobokan. Perubahan jarang datang lewat satu adegan heroik tapi tumbuh dari keputusan kecil yang dijalankan terus-menerus: anggaran yang terbuka, perlindungan bagi pelapor pelanggaran, hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu, dan ruang yang lapang bagi warga untuk bersuara.
Portal-Portal Itu Bernama Solidaritas
Momen yang paling menggetarkan di Endgame bukan ketika Thanos tumbang. Momen itu datang saat portal-portal terbuka dan semua yang pernah lenyap kembali berdiri berdampingan. Pesannya sangat manusiawi: tak seorang pun cukup kuat untuk menyelamatkan dunia sendirian.
Indonesia punya portal-portalnya sendiri. Ada guru yang mengajar sepenuh hati di pelosok. Ada tenaga kesehatan yang melayani jauh dari sorotan kamera. Ada jurnalis yang tetap menulis fakta meski ditekan. Ada warga yang berani melapor ketika melihat korupsi. Ada anak muda yang memilih membaca ketimbang ikut arus. Tak satu pun dari mereka mengenakan kostum, namun merekalah barisan yang membuat negeri ini tetap tegak.
Whatever It Takes, Sebuah Janji untuk Dijalani
“Whatever it takes” terdengar gagah di layar. Dalam hidup sehari-hari, artinya jauh lebih sederhana dan sering tak populer: jujur ketika tak ada yang melihat, berani bertanya saat orang lain memilih diam, dan tetap peduli di tengah lelah.
Kita tak perlu menanti seorang Avengers tunggal. Kedewasaan sebuah bangsa justru tampak ketika rakyatnya tak menumpukan seluruh harapan pada satu tokoh. Warga ikut merawat sistem: memilih dengan sadar, mengawasi kekuasaan, menghargai perbedaan, dan menolak dijauhkan dari fakta.
Akhir Tak Selalu Berarti Kalah
Tony Stark pernah berkata, “Part of the journey is the end.” Memang ada hal yang harus selesai: cara lama yang korup, politik yang dipenuhi kebencian, kebiasaan menutup mata. Berakhirnya semua itu tak menandai matinya harapan. Di sanalah ruang bagi Indonesia yang lebih sehat mulai terbuka.
Mungkin kita belum sampai pada adegan kemenangan. Kita masih di tengah film, dengan babak-babak sulit yang menunggu dan harga yang harus dibayar. Tapi selama masih ada orang yang menolak diam, menolak apatis, dan menolak menyerahkan negeri ini kepada mereka yang hanya haus kuasa, selama itu pula cerita ini punya harapan.
Maka berhentilah bertanya, “Kapan Avengers-nya Indonesia datang?”
Tanyakan ini kepada diri sendiri:
“Hari ini, batu mana yang bisa kujaga, dan satu hal benar apa yang bisa kulakukan untuk Indonesia?”
Sebab bangsa ini tak hanya membutuhkan pahlawan di layar. Bangsa ini membutuhkan warga yang berani berdiri, bersuara, dan berbuat benar, tanpa perlu kostum.