Penulis: Rahmatullah Usman (Buruh Tinta)
Kesadaran Dan Tuhan dalam Reaksi Sel-Sel Saraf Otak
Ruminews.id – Reaksi yang dilakukan holisme terhadap pemikiran reduksionisme akhirnya membuahkan hasil yang signifikan. Holisme berhasil mempertahankan paradigma reduksionisme secara implisit, guna menjelaskan kesadaran manusia melalui cara kerja sistem mekanis alam semesta. Hasilnya, secara tidak sadar, holisme mengembangkan paradigma reduksionis dengan gaya baru. Pada gilirannya, perkembangan tersebut dari mekanika kuantum menuju teori medan kuantum. Yang mengakibatkan holisme jatuh dipelukan holisme kuantum yang baru.
Holisme kuantum lebih dalam mengkaji materi, yang berhasil menerangkan fenomena benda-benda kecil; misalnya atom dan bagian-bagiannya yang lebih intim. Dari penemuannya, holisme kuantum yang diselimuti semangat pembaharuan sains modern memaparkan teologi dengan gayanya sendiri. Dengan dipengaruhi oleh temuan fisika teoritis, Capra. Yang mensintetiskan mistisisme timur tentang realitas dan fisika modern tentang fakta kuantum.
Hasil penemuan tersebut memang cukup mengagetkan dikalangan para ilmuan sains. Sebab, itu merupakan hal yang tabu bagi mereka. Walaupun itu merupakan bagian yang tabu bagi dunia saintisme modern, penemuan itu mendapatkan respons yang signifikan dan menghasilkan gerakan keagamaan zaman baru (New Age). Gerakan tersebut, memiliki tingkat subjektivitas yang tinggi dalam menghayati agama, tanpa mendasarakan kelembagaan agama atau merujuk kepada kitab-kitab suci.
Keberhasilan ini merupakan kenyataan baru dalam revolusi sains. Pergeseran paradigma yang dulunya hanya melibatkan teori-teori baru dalam fisika mengenai materi, dan sekaligus merombak sistem budaya dan sosial masyarakat. Kini betul-betul memasuki hal tabu dalam dunia Barat, sains memasuki ruang teologis.
“Pergesearan paradigmatik itu adalah pergeseran paradigma teologis. Sebuah pandangan konseptual manusia tentang Tuhan dan penciptaan. Perubahan pandagan ketuhanan ini mengikuti perubahan pandangan manusia tentang hakikat alam semesta dan hakikat kesadaran manusia yang dibawa oleh revolusi kuantum”, tutur Armahedi (52:2004).
Sebagai tonggak utama dari holisme kuantum, revolusi kuantum menjadi sangat populer ditangan ilmuan fisika yakni, Danah Zohar. Ia dididik oleh ilmuan besar fisika kuantum yang terkenal, David Bohm (m. 1992). Meski Capra membuka jalur pertama kali mengenai paradigmatik holisme dengan menghubungkan mistik Timur dan fisika modern, yang dikembangkan labih jauh oleh Zohar. Meski pada akhirnya, karakter pemikiran Zohar dan Capra terbilang berbeda.
Menurut Armahedi, Danah Zohar memiliki perbedaan peradigma seratus delapan puluh derajat dengan Fritjof Capra. Jika Capra menitiberatkan penjelasannya pada kesejajaran psikologi mistik Timur dengan fisika modern Barat. Danah Zohar justru lebih menohok langsung ke pengalaman manusia awam. Dengan demikian, ia lebih menerangkan fenomena kejiwaan dengan fisika kuantum secara kualitatif. Pendekatan ini tentu merombak keseluruhan pembahasan klasik mengenai jiwa manusia, yang dulunya didekati dengan pendekatan agama dan spritualitas trasenden.
Dengan adanya pendekatan ini, peristiwa pengalaman itu bukan lagi sekedar peristiwa ruhani dan spritualitas seperti yang digaungkan oleh kalangan romantisme Barat. Namun, munculnya holisme kuantum mereduksi total tentang kesadaran melalui peristiwa kuantum. Meski demikian, upaya zohar untuk mensintetiskan kuantum dengan agama-agama yang ada di Barat, tetap terbilang cukup baru.
Fisika kuantum membawa revolusi besar terhadap sains dan teknologi yang sangat memukau. Yang melahirkan komputer dan internet yang jantungnya pada “mikroprosesor” yang kumpulan jutaan transistor dalam satu chip. Namun, revolusi itu tidak membuat zohar lebih aktif dalam mengembangkannya, sebab ia lebih memilih untuk menerangkan kuantum dengan pengalaman spritual manusia dan memasuki ruang teologis.
“Inti bab teologis buku zohar ini adalah kenyataan bahwa menurut pandangan kuantum, vakum atau kehampaan bukanlah kosong sama sekali. Namun, ia penuh dengan energi murni, walaupun tak ada satu pun partikel ataupun medan fisik di dalamnya”, tutur Armahedi (53:2004).
Pernyataan di atas sebagai dasar Zohar untuk menjelaskan kesadaran manusia dalam aspek sintetis teologis. Namun, sebelum itu, ia mengklasifikasi penemuan tersebut dengan kesadaran alam semesta. Zohar mencoba mengindikasikan vakum tersebut dengan sel-sel otak sebagai bentuk kesadaran manusia. Ia menemukan keseluruhan vakum yang membentuk big bang, dengan kemunculan dua jenis partikel elementer seperti fermion dan boson.
Kedunya masing-masingnya dijuluki sebagai batu bata materi dan batu bata kesadaran. Jadi, kesadaran alam semesta ternyata secara sistem kerjanya sama dengan kesadaran manusia. Dengan akar yang sama dibentuk oleh vakum tersebut. Oleh karena itu, proses alam semesta dan manusia dilihat dari prosedur evolusi kosmologis dan evolusi biologis; suatu fakta menyakitkan bagi para penganut teologis.
“Jika vakum merupakan kesadaran semesta dan kesadaran individul manusia sebagai peristiwa kuantum adalah puncak evolusi pancaran kesadaran vakum, maka tentunya esensi kehidupan biologis mahluk bukan manusia juga merupakan proses kuantum. Memang begitulah keyakinan Zohar”, tutur Armahedi, (54:2004).
Suatu pergeseran paradigmatik tentang evolusi biologis kesadaran manusia, yang ternyata dalam perkembangan fisika dalam holisme kuantum merupkan akar dari vakum tersebut. Sehingga proses kesadaran manusia terjadi dalam sejarah yang panjang. Ternyata dibentuk oleh proses kuantum. Dan yang lebih manarik lagi, dalam perkembangan penelitian Zohar, kesadaran itu diteliti untuk mengetahui intelektual manusia termaksud spritual dan Tuhan melalui prosedur kuantum dalam reaksi sel-sel saraf otak manusia.
Inilah bentuk adikuasa sains modern yang memberi otoritas pada dirinya untuk menjelaskan keseluruhan semesta dan bahkan Tuhan itu sendiri. Hasilnya, ongkos yang harus dibayar mahal. Bukan tidak mungkin, ternyata selama ini reaksi kuantum menjadi inti dari kesadaran manusia dan gerak dari sistem alam. Sehingga, peran manusia bukan lagi menjadi agen langsung dalam melakuan aktivitas kesadaranya, semua dikendalikan oleh holisme kuantum dan bahkan Tuhan ikut terbawa di dalamnya.
Pengalaman sains modern yang dimulai dari revolusi renaisans dan ufklarung sebagai bapak utama yang melahirkan anaknya dikemudian hari sebagai holisme kuantum. Pemikiran, kesadaran, dan nilai manusia dan kosmos semuanya diukur melalui Sains. Sains bekerja untuk semuanya, peran manusia tidak diperhitungkan lagi sebagai mahluk yang lebih utama dalam membangun peradaban. Alam dan seluruh isinya hanyalah sebagai reaksi kuantum.
“Renaisans secara efektif telah mempersiapkan jalan tersebut: yang pertama dengan memberikan penekanan pada sentralitas moral dari individu; dan yang kedua dengan merayakan humanisme heroik. Ongkosnya adalah pengusiran diri dari dunia. Sains menjadikan kita semua sebagai tempat-tempat persembunyian. Ia mengeluarkan jiwa-jiwa kita dari tubuh”, tegas, Bryan Appleyard (67:2010).
Jiwa tidak memiliki lagi nilai yang berarti sebagai kesadaran paling jeluk manusia. yang melaluinya manusia bisa merasa, sadar dan mengerti arti dari keseluruhan kosmos dan dirinya. Seperti pernyataan di atas, jiwa dikeluarkan dari tubuh oleh saintisme. Jiwa dipaksa untuk dipisahkan oleh tubuh yang diganti oleh peristiwa fisika. Alam tak memiliki lagi perlindungan dari manusia, alam hanya sebatas ruang hampa yang tidak memiliki arti. Kecuali meraup keungtuangan material, mengais isi perut bumi tanpa memikirkan dampak ekologi yang mengerikan.
Appleyard dengan tegas mengatakan, ”Paradoks kunci dunia modern pun dikukuhkan: sains adalah segala sesuatu yang bisa kita ketahui secara logis tentang dunia, tetapi tidak termaksud diri kita sendiri……..Semakin banyak kita tahu, semakin sedikit tampaknya kita berperan. Dunia bekerja tanpa kita”, (67:2010).
Tampaknya, sains memberikan kita pengetahuan tentang cara kerja dunia ini dan cara kerja tubuh kita. Dari sel-sel otak sampai kesluruhan gerak dan diamnya tubuh kita, dan memberi cara bagaimana sistem reaksi fisika dan kimia tentang alam semesta hingga partikel benda-benda terkecil. Namun, dampaknya begitu nyata, moralitas, kepekaan sosial, perhatian kepada ekologi dan kesadaran diri tampaknya teralihkan oleh sains yang tidak peduli.
Allahumma Bihawqqi Muhammad wa Ali Muhammad