OPINI

Melihat Perempuan dalam Islam sebagai Manusia Utuh yang Bermartabat dan Berdaya

Penulis : Nur Hikmah – kabid Internal HmI Cagora Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Ruminews.id — Ketika berbicara tentang perempuan dalam Islam, kita tidak boleh hanya melihat perempuan dari perannya dalam kehidupan. Kita sering mengenalnya sebagai anak, istri, atau ibu. Padahal, sebelum semua peran itu, perempuan adalah manusia yang memiliki martabat

Islam memberikan posisi yang penting kepada perempuan. Bukan karena perempuan harus selalu ditempatkan di atas laki-laki, tetapi karena Islam mengakui bahwa perempuan juga memiliki nilai dan tanggung jawab sebagai manusia. Laki-laki dan perempuan mungkin berbeda, tetapi perbedaan itu tidak seharusnya membuat salah satunya merasa lebih tinggi.

Saya juga melihat bahwa perempuan memiliki peran yang besar dalam sejarah Islam. Mereka hadir dalam keluarga, pendidikan, ekonomi, dan bahkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Artinya, perempuan tidak pernah benar-benar diposisikan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan. Keberadaan perempuan dalam sejarah Islam menunjukkan bahwa mereka memiliki ruang untuk berkontribusi dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.

Dalam konteks kehidupan hari ini, menurut saya, penting bagi kita untuk melihat kembali bagaimana perempuan diberikan ruang untuk berkembang. Perempuan tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan perannya dalam memenuhi kebutuhan orang lain, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, menyampaikan pemikiran, dan menentukan pilihan dalam kehidupannya. Hal ini bukan berarti menghilangkan peran perempuan dalam keluarga, tetapi memperluas cara pandang kita terhadap keberadaan dan kemampuan perempuan.

Bagi saya, persoalannya hari ini terkadang bukan pada bagaimana Islam memandang perempuan, tetapi pada bagaimana manusia memahami Islam. Kita sering mewarisi cara pandang tertentu dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mutlak, padahal mungkin saja sebagian dari cara pandang itu lahir dari budaya dan kebiasaan manusia. Karena itu, memahami posisi perempuan dalam Islam juga membutuhkan sikap kritis agar kita dapat membedakan antara nilai-nilai Islam dengan pemahaman manusia yang berkembang dalam konteks sosial dan budaya tertentu.

Pada akhirnya, persoalan perempuan bukan hanya persoalan perempuan itu sendiri, tetapi juga persoalan bagaimana masyarakat memandang manusia. Ketika perempuan diberikan ruang untuk tumbuh dan berkontribusi, maka yang berkembang bukan hanya perempuan, tetapi juga keluarga, masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, pembicaraan tentang perempuan seharusnya tidak berhenti pada peran dan kewajiban, tetapi juga berbicara tentang martabat, kesempatan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa Islam memuliakan perempuan dengan cara mengakui kemanusiaannya. Dan mungkin di situlah kita harus memulai: melihat perempuan bukan hanya dari apa yang ia lakukan untuk orang lain, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki pikiran, pilihan, kemampuan, dan perjalanan hidupnya sendiri.

Share Konten

Opini Lainnya

anunya rumi
HMI Cabang Gowa Raya Puji Keberanian Prof. Sufmi Dasco Hadapi Rakyat Tanpa Takut
anunya rumi
Lambannya Pemerintah dan Rusaknya Hutan Enrekang Jadi Akar Masalah Kebakaran Berulang
Kode 27
Kode 27 dan Pelajaran Bagi Negara
Aksi 27 Agustus
Kata 'Cukup' dari Pati untuk DPR
Wiji Thukul
Keluarga Menunggu Kepulangannya: Penantian Kepulangan Wiji Thukul di Akhir Hayat
sultan
RUU Perampasan Aset: Senjata Melawan Korupsi atau Instrumen Baru Penyalahgunaan Kekuasaan?
Melampaui Citra
Melampaui Citra, Menguji Kualitas: KDM di Antara Panggung dan Sistem
WhatsApp Image 2026-08-26 at 11.13
Di Balik Citra: Mengupas Sisi Manusia Seorang Pemimpin Perempuan "Refleksi atas Dinamika Kepemimpinan Bupati Gowa"
114e8339-6ca5-4471-8a9b-408669a9e4fd
Pentingnya Perspektif dan Keberpihakan
Muzakkir (3)
Ketika Kritik dibungkam, Apakah Demokrasi Masih Berjalan?
Scroll to Top