OPINI

Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-81

Refleksi Kemerdekaan Indonesia ke-81

Penulis: Eka

Indonesia, 17 Agustus 2026

Dalam momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, SIMPA sebagai bagian dari generasi muda Indonesia memandang bahwa kemerdekaan tidak semestinya dimaknai sebatas seremoni, pidato-pidato kebangsaan, atau pengibaran Sang Merah Putih.

Kemerdekaan seharusnya menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali sejauh mana cita-cita kemerdekaan benar-benar diwujudkan dalam kehidupan rakyat. Bagi SIMPA, menjadi pemuda di tengah usia Republik Indonesia yang ke-81 bukan hanya tentang merayakan sejarah, tetapi juga mengambil tanggung jawab atas masa depan bangsa.

Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan bangsa asing. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari berbagai bentuk penindasan yang tumbuh dari dalam negeri sendiri.

Penjajahan hari ini mungkin tidak lagi hadir dalam bentuk senjata dan pasukan. Ia dapat hadir melalui kemiskinan yang terus diwariskan, pendidikan yang tidak merata, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketimpangan sosial, eksploitasi sumber daya alam, hingga kebijakan yang menempatkan rakyat semata-mata sebagai objek pembangunan.

Lantas, apa arti kemerdekaan apabila rakyat masih terbelenggu oleh ketidakadilan? Apa arti kemerdekaan apabila sebagian masyarakat masih kesulitan memperoleh pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan yang layak? Dan apa arti kemerdekaan apabila kekuasaan justru digunakan untuk mengutamakan kepentingan segelintir pihak dengan mengorbankan kepentingan rakyat?

Bagi SIMPA, pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk pesimisme terhadap bangsa, melainkan bagian dari kecintaan terhadap Indonesia. Mencintai bangsa bukan berarti selalu membenarkan setiap keadaan. Sebaliknya, kecintaan terhadap bangsa juga menuntut keberanian untuk mengkritik, mengingatkan, dan memperjuangkan perubahan ketika cita-cita kemerdekaan semakin jauh dari kehidupan rakyat.

Pada usia Republik Indonesia yang ke-81, sudah saatnya kita kembali bertanya: apakah kita benar-benar telah merdeka, atau sekadar mengganti bentuk penjajahan lama dengan bentuk penindasan yang baru?

Mengibarkan Merah Putih adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu bangsa. Namun, menjaga dan mewujudkan nilai-nilai kemerdekaan merupakan tanggung jawab generasi hari ini.

Karena itu, SIMPA mengajak seluruh pemuda Indonesia menjadikan momentum kemerdekaan ke-81 sebagai kesempatan untuk memperkuat keberanian, integritas, solidaritas, dan kepedulian terhadap kehidupan rakyat.

Perjuangan hari ini memang bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Perjuangan itu hadir dalam upaya melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, serta berbagai bentuk penindasan yang merampas hak dan martabat manusia.

Sebab, kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika bangsa terbebas dari penjajahan bangsa lain, melainkan ketika setiap rakyat terbebas dari segala bentuk penindasan—baik yang datang dari luar maupun yang tumbuh dari dalam negeri sendiri.

Merdeka bukan sekadar kata.
Merdeka adalah keadaan yang harus terus diperjuangkan.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (3)
Mengapa Pejabat Publik Wajib Minimal Tamat SMA?
Salistio Erisa Putra
Ketika Kemiskinan Menghasilkan Lebih Banyak Sampah: Sachet Economy, Poverty Penalty, dan Ketidakadilan dalam Sustainability
Najamudin
Hilirisasi Berkeadilan untuk Perekonomian Sulselbartra
Muzakkir (4)
Filsuf di Lingkar Istana
Muzakkir (3)
Reduksionisme Dan Fisika Kuantum: Tentang Kesadaran Diri (Bagian III Akahir)
Muhammad Fauzan, S.H.
Dari Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tenggara: Menabur Visi Pengusaha Muda Menuju Indonesia Emas 2045
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20261003_144916_0000
Ketika Kampus Menjadi Ruang Impunitas: Menguji Komitmen Penegakan Hukum di UNDIPA Makassar
Muzakkir (3)
LK2 HMI: Kader Ditempa Jadi Problem Solver, Kawal Demokrasi Jaga Integritas Nasional
Andres Chandra
Pemimpin: Merangkul dengan Hati, Bekerja dengan Kasih
Muzakkir (5)
Ali Khamenei: Membaca Kolonialisme (Bagian V)
Scroll to Top