OPINI

Jangan Biarkan Rumah Mangrove Marunda Hilang

Penulis: Andi Muhammad Jufri – Penggiat Literasi

ruminews.id – Setiap tanggal 26 Juli, dunia memperingati International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem atau Hari Mangrove Sedunia. Peringatan yang ditetapkan UNESCO pada Konferensi Umum tahun 2015 ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia merupakan pengingat bahwa mangrove adalah salah satu benteng terdepan dalam menjaga keberlanjutan kehidupan pesisir dunia.

Mangrove melindungi pantai dari abrasi, meredam gelombang pasang, menyerap karbon, menjaga kualitas perairan, dan menjadi habitat berbagai jenis ikan, burung, kepiting, serta biota pesisir lainnya. Di banyak daerah, mangrove juga menjadi fondasi tumbuhnya ekonomi masyarakat melalui perikanan, budidaya kepiting, wisata alam, dan berbagai usaha berbasis keanekaragaman hayati.

Sebaliknya, ketika mangrove hilang, kerusakan lingkungan biasanya datang beriringan. Pantai terkikis, abrasi semakin meluas, keanekaragaman hayati berkurang, dan ruang hidup masyarakat pesisir semakin menyempit. Apa yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga perlindungan alam yang selama puluhan tahun menjaga kehidupan manusia. Karena itu, menjaga mangrove sesungguhnya berarti menjaga masa depan.

Di ujung Utara Jakarta, tepatnya di Rusun Marunda, semangat menjaga masa depan itu tumbuh dari tangan-tangan sederhana. Di sana berdiri Rumah Mangrove Marunda, sebuah pusat kegiatan konservasi yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pesisir.

Rumah Mangrove Marunda bukanlah lembaga besar dengan sumber daya melimpah. Namun dari tempat sederhana inilah lahir gerakan yang mampu menggerakkan banyak pihak untuk bersama-sama menjaga pesisir Jakarta.

Pada April 2026, Rumah Mangrove Marunda resmi berbadan hukum. Sebuah tonggak penting yang menandai kedewasaan gerakan masyarakat tersebut. Di balik organisasi ini terdapat sekitar 15 perempuan yang menjadi pengurus utama dan penggerak lapangan. Mereka adalah ibu rumah tangga, warga rusun, sekaligus penjaga harapan ekologi pesisir Jakarta.

Nama-nama seperti Siti Ghonimah, Rani, Meysha, dan para perempuan lainnya mungkin tidak banyak dikenal publik. Namun melalui kerja-kerja sunyi mereka, lebih dari 4.000 bibit mangrove telah ditanam dan dirawat bersama berbagai pihak. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, perguruan tinggi, perusahaan swasta, organisasi sosial, komunitas lingkungan, sekolah, dan masyarakat umum telah menjadi bagian dari kolaborasi besar yang tumbuh di Rumah Mangrove Marunda. Berbagai kegiatan edukasi, pembibitan, penanaman, hingga kunjungan eduwisata berlangsung secara rutin.

Rumah Mangrove Marunda telah berkembang menjadi ruang belajar bersama. Anak-anak sekolah datang mengenal ekosistem pesisir. Mahasiswa melakukan penelitian. Komunitas lingkungan berbagi pengetahuan. Warga belajar bahwa menjaga mangrove bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

Pada Minggu, 27 Juli 2025, tahun lalu, perhatian terhadap kawasan ini semakin menguat ketika Gubernur DKI Jakarta bersama Menteri dan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melakukan penanaman mangrove secara langsung di kawasan Marunda. Kehadiran para pemimpin tersebut menunjukkan bahwa pelestarian mangrove bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi juga bagian dari pembangunan sosial yang berkelanjutan.

Namun di tengah berbagai capaian tersebut, muncul tantangan baru. Pembangunan kembali Blok C Rusun Marunda yang bertujuan meningkatkan kualitas hunian masyarakat dilaporkan berdampak pada sebagian kawasan mangrove dan lingkungan sekitarnya. Beberapa pohon mangrove yang telah tumbuh selama hampir dua dekade ikut terdampak, sementara sebagian area danau mengalami penimbunan untuk kebutuhan pembangunan.

Tidak ada yang meragukan pentingnya pembangunan rumah susun yang lebih layak bagi warga. Namun pembangunan yang baik tidak boleh mengorbankan ekosistem yang selama ini telah dijaga dengan susah payah oleh masyarakat.

Kita tidak sedang mempertentangkan pembangunan dengan lingkungan. Keduanya sama-sama penting. Warga membutuhkan hunian yang aman dan nyaman. Pada saat yang sama, warga juga membutuhkan lingkungan yang sehat, ruang edukasi, serta ekosistem pesisir yang lestari.

Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa pembangunan berjalan beriringan dengan keberlanjutan sosial dan ekologis. Karena itu, jika keberadaan Rumah Mangrove Marunda terdampak pembangunan, maka langkah paling bijak adalah memastikan keberlanjutan pusat aktivitas tersebut melalui relokasi yang layak dan terencana. Rumah Mangrove tidak boleh hilang. Ia harus hadir kembali dalam bentuk yang lebih kuat, lebih representatif, dan lebih berkelanjutan.

Pemerintah DKI Jakarta, pengelola rusun, pemerintah kota, perguruan tinggi, sektor swasta, organisasi masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan perlu duduk bersama mencari solusi terbaik. Bila tergusurnya Rumah Mangrove merupakan konsekuensi dari pembangunan rusun, maka proses mediasi perlu dilakukan agar pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan dapat membantu memastikan Rumah Mangrove dibangun kembali. Ini bukan sekadar soal bangunan fisik. Ini adalah soal menjaga sebuah gerakan sosial yang telah tumbuh dari bawah.

Jakarta membutuhkan lebih banyak ruang seperti Rumah Mangrove Marunda. Ruang yang mempertemukan masyarakat, lingkungan, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Ruang yang mengajarkan bahwa pembangunan tidak hanya soal membangun gedung, tetapi juga membangun kesadaran.

Di tengah ancaman perubahan iklim, kenaikan muka air laut, dan semakin tingginya tekanan terhadap kawasan pesisir, keberadaan Rumah Mangrove Marunda justru semakin relevan. Ia dapat berkembang menjadi pusat konservasi mangrove, laboratorium pembelajaran lingkungan, pusat pemberdayaan perempuan pesisir, hingga destinasi eduwisata ekologis bagi Jakarta.

Momentum Hari Mangrove Sedunia mengingatkan kita bahwa menjaga mangrove bukan hanya menanam pohon. Menjaga mangrove berarti menjaga manusia, menjaga ekonomi masyarakat pesisir, menjaga keanekaragaman hayati, dan menjaga masa depan kota.

Karena itu, ketika Jakarta membangun kembali Marunda, jangan biarkan Rumah Mangrove Marunda hilang. Sebab yang sedang dijaga oleh perempuan-perempuan Marunda bukan hanya bibit mangrove. Mereka sedang menjaga benteng terakhir pesisir Jakarta dan mewariskan harapan bagi generasi yang akan datang.

Share Konten

Opini Lainnya

Yudi Latif Speech
Demokrasi Tanpa Kemakmuran Bersama
Muzakkir (3)
Mengoptimalkan Multiplier Effect Fiskal untuk Kesejahteraan Rakyat: DPP IKA ISMEI Sampaikan Analisis Atas Kinerja APBN per Agustus 2026
WhatsApp Image 2026-09-21 at 11.48
Anatomi Ketimpangan di Balik Jubah Statistik
Muzakkir (5)
Mahasiswa di Persimpangan Jalan Perjuangan: September yang Kembali Hanya untuk Diingat
Muzakkir (4)
M. Arsyi Jailolo: Hijau Hitam, Jalan Pengabdian yang Tak Berhenti.
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260919_151934_0000
HIMASKEP dan Jalan Panjang Membangun Generasi Kesehatan yang Berdampak
Sampul Rumi (8)
Skandal ATR/BPN: Ujian Kepemimpinan Nusron Wahid dan Kredibilitas Pemerintahan Prabowo
Asia Liberty Forum 2026
Cerita dari Sri Lanka: Menemukan Kembali Kebebasan di Asia
Muzakkir (4)
Menteri Keuangan Diganti, Publik Diminta Diam?
Muzakkir (3)
Merawat Api Perjuangan: HMI, Kaderisasi, dan Ikhtiar Menegakkan Keadilan di Tengah Zaman.
Scroll to Top