Ruminews.id, Yogyakarta — Pada Sabtu, 11 April 2026 Beranda Migran bersama Mitra Wacana, Koordinasi Purna Pekerja Migran Indonesia (KOPPMI), Yasanti, serta International Migrants Alliance (IMA) menyelenggarakan kegiatan nonton bareng film dokumenter “Rumah Ketigaku”, diskusi publik, serta bazar UMKM purna-migran. Dimulai sejak pukul 10.00 WIB, kegiatan ini diselenggarakan di Aula Kechub PKBI, Yogyakarta dan dihadiri tidak kurang dari 50 peserta dari berbagai latar belakang.
Pemutaran film dokumenter “Rumah Ketigaku” yang dilanjutkan dengan diskusi publik ini mengungkap realitas kompleks yang dihadapi perempuan dan pekerja migran Indonesia, mulai dari pengalaman traumatik, kekerasan dan konflik perburuhan, ketidakpastian kerja, hingga lemahnya kehadiran negara dalam memberikan perlindungan. Kegiatan ini menghadirkan berbagai perspektif dari komunitas pekerja migran dan purna-migran, organisasi masyarakat sipil, hingga kelompok-kelompok perempuan pekerja informal lokal.
Film “Rumah Ketigaku” menghadirkan perspektif berbeda tentang kehidupan pekerja migran Indonesia di Hong Kong dengan menempatkan pengalaman perjuangan sebagai pusat cerita, sekaligus menyoroti pentingnya solidaritas antar pekerja. Alih-alih mengulang narasi dominan tentang “kesuksesan” pekerja migran Indonesia (PMI), film ini secara sadar mengangkat sisi rentan yang kerap luput dari perhatian publik, mulai dari tekanan kerja, kesendirian, perpisahan dengan keluarga, hingga trauma yang mereka alami.
Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Dalam sesi diskusi, sutradara film ini, Francis Catedral atau yang akrab disapa Carl, menjelaskan bahwa sudut pandang tersebut dipilih untuk menghadirkan gambaran yang lebih jujur dan dekat dengan realitas sehari-hari pekerja migran. Ia juga menekankan bahwa di tengah perbedaan bahasa dan latar belakang, solidaritas menjadi elemen penting yang menyatukan para pekerja migran, sebuah “bahasa bersama” yang lahir dari kesamaan tujuan hidup.
“Banyak orang membayangkan menjadi pekerja migran itu hidup enak, mewah dan kaya. Namun kenyataannya, situasi mereka sangat sulit. Mereka menghadapi upah rendah, jam kerja panjang, perlakuan tidak manusiawi, bahkan diperlakukan seperti barang atau komoditas,” ujarnya.
Ia menambahkan pula, “Penting untuk menyampaikan kenyataan ini agar tumbuh empati dan solidaritas. Migrasi bukan sekadar tentang menjadi kaya, tetapi tentang bertahan dalam perjuangan hidup.”
Secara naratif, film ini mengisahkan seorang pekerja rumah tangga migran asal Indonesia di Hong Kong yang harus menghadapi konflik kerja dan tekanan hidup akibat perpisahan dengan keluarga. Dalam situasi yang serba terbatas, ia justru menemukan kekuatan melalui solidaritas di tempat penampungan migran yang menunjukkan bahwa di tengah kerentanan, relasi antar pekerja menjadi ruang penting untuk bertahan.
Meski demikian, sejumlah peserta menyoroti absennya peran negara dalam film. Menanggapi hal tersebut, Karl menjelaskan bahwa fokus narasi memang diarahkan pada pengalaman individual pekerja migran, sementara aspek struktural akan lebih dieksplorasi dalam proyek film lanjutan yang direncanakan rilis akhir tahun ini.
Selain itu, diskusi juga menyoroti aspek hidden cost of migration yang jarang dibahas, seperti dampak psikologis akibat pemisahan keluarga, terutama antara ibu dan anak. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan di negara tujuan seperti Hong Kong yang mengharuskan pekerja domestik tinggal bersama majikan, sehingga menyulitkan mereka mencari perlindungan ketika mengalami kekerasan. Dalam konteks tersebut, keberadaan shelter seperti Bethune House serta organisasi dan komunitas pekerja migran menjadi sangat penting sebagai ruang aman bagi pekerja migran untuk mendapatkan perlindungan sekaligus memperjuangkan keadilan.
Menghubungkan Migrasi dengan Kerentanan Lokal

Dok: Pribadi
Diskusi kemudian diperluas dengan menghadirkan narasumber dari sektor pekerja informal dan komunitas akar rumput, termasuk perwakilan perempuan petani anggota Solidaritas Perempuan (SP) Kinasih dan perempuan buruh gendong Pasar Beringharjo dampingan Yasanti.
Ibu Sutinah, perempuan buruh gendong asal Kulon Progo, mengungkapkan bahwa hingga kini terdapat sekitar 197 buruh gendong yang bekerja dengan sistem upah berbasis berat barang tanpa standar yang jelas. Pendapatan harian mereka berkisar Rp40.000 dengan risiko kerja tinggi, termasuk kecelakaan kerja seperti jatuh dari lantai atas pasar atau akibat membawa beban berat. Melalui meskipun sebagian telah terdaftar dalam BPJS Ketenagakerjaan, keberlanjutan iuran masih bergantung pada bantuan donatur melalui Yasanti.
Dalam konteks sektor petani perempuan, kelompok tani Tuwuh yang diwakili oleh Ibu Yohanna juga menghadapi ketidakpastian akibat perubahan iklim, keterbatasan akses pupuk subsidi, dan rendahnya minat generasi muda. Tidak adanya jaminan saat gagal panen memperparah kerentanan ekonomi petani, sementara program pemerintah dinilai belum menyentuh kebutuhan riil di tingkat lokal.
Pekerja Migran: Antara Tekanan, Trauma, dan Minimnya Pelindungan

Dok. Pribadi
Isu pekerja migran menjadi salah satu fokus utama diskusi. Sesi ini dibuka oleh Koordinator Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) Hong Kong, Sringatin yang menekankan bahwa banyak persoalan pekerja migran yang tidak terlihat di ruang publik, termasuk tekanan dari majikan dan perusahaan penyalur. Selama ini isu migrasi hanya dipandang oleh negara sebagai cara menghasilkan pendapat secara instan dan mengabaikan nasib ratusan ribu perempuan pekerja migran. Sringatin juga menyoroti masih banyaknya kasus-kasus kekerasan oleh majikan, beban kerja tidak manusiawi, pemberian pekerjaan tidak sesuai kontrak, penahanan dokumen, pemotongan gaji, hingga ketiadaan pemenuhan hak-hak dasar seperti makanan, pakaian, ruang tidur, dan hak beribadah yang layak dan memadai.
Kondisi ini disambut pula oleh Ibu Wulan, salah satu purna-migran Yogyakarta yang tergabung dalam Koordinasi Purna Pekerja Migran Indonesia (KOPPMI). Ia mengamini paparan Sringatin sebelumnya yang menegaskan betapa abainya pemerintah terhadap pelindungan PMI. Ia juga menyoroti bagaimana slogan-slogan seperti “pahlawan devisa” atau “pergi migran pulang juragan” tidak pernah menjadi realita. Hal ini dapat tercermin dari kondisi para purna-pekerja migran yang sering kali berada dalam situasi rentan.
Stigma sukses yang membebani, pada akhirnya mengakibatkan banyak purna-migran tereksklusi dari sistem jaminan dan bantuan sosial pemerintah. Purna-migran yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya di luar negeri juga kemudian kesulitan mengakses lapangan pekerjaan dan peningkatan kapasitas karena pembatasan usia. Pada akhirnya, minimnya dukungan struktural memaksa banyak dari mereka harus bertahan melalui usaha mandiri berbasis solidaritas komunitas.
Sementara itu, Muazin dari Mitra Wacana mengungkap maraknya praktik Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) serta menyoroti sulitnya pembuktian hukum akibat lemahnya dukungan anggaran dan sistem pelindungan. Ia menegaskan bahwa salah satu akar persoalan adalah tidak hadirnya negara secara optimal dalam melindungi pekerja migran. Ketiadaan “political will” dan berbagai dinamika ekonomi sosial-politik kemudian memperparah nasib inisiatif melawan TPPO yang dilakukan oleh masyarakat sipil.
Solidaritas sebagai Ruang Bertahan
Kegiatan ini menunjukkan bahwa kerentanan pekerja migran tidak dapat dipisahkan dari kondisi sosial-ekonomi yang lebih luas, termasuk kerentanan pekerja informal dan petani di daerah asal. Film Rumah Ketigaku menjadi medium penting untuk membuka ruang diskusi lintas sektor, mempertemukan pengalaman migrasi dengan realitas ketidakpastian kerja di tingkat lokal.

Dok. pribadi
Dalam penutup diskusi, Direktur Eksekutif Beranda Migran, Hanindha Kristy menegaskan pentingnya penguatan organisasi pekerja sebagai salah satu strategi bertahan di tengah minimnya perlindungan negara. Selain itu, ia juga menyoroti bahwa berbagai kebijakan subsidi dan program pemerintah masih belum tepat sasaran dan belum menjawab kebutuhan kelompok rentan secara menyeluruh. Sehingga penting bagi seluruh elemen rakyat untuk memperkuat solidaritas dan bahu-membahu mendorong kerja-kerja advokasi dan memperkuat soliditas di tingkat akar rumput.







