7 September 2025

Daerah, Hukum, Kriminal, Pare-pare, Uncategorized

Alumni STIEM Bongaya Desak Hukuman Berat untuk Pelaku Pembunuhan Suriani Tahir

ruminews.id, Makassar – Sejumlah alumni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIEM) Bongaya mendesak agar pelaku pembunuhan terhadap Suriani Tahir, pegawai PT Hino Kumala Parepare, dijatuhi hukuman maksimal. Sigit Sugiarto, mewakili para alumni, menyebut peristiwa ini menimbulkan keprihatinan serius, terutama terkait keamanan pekerja perempuan di ruang kerja. Apalagi, insiden tragis itu terjadi di dalam kantor perusahaan tempat korban bekerja. “Kasus ini menjadi catatan kelam soal minimnya jaminan keselamatan karyawan, khususnya perempuan. PT Hino Kumala sebagai korporasi juga harus ikut bertanggung jawab,” ujar Sugiarto yang juga merupakan Ketua Sapma PP Kab Gowa. Ia menambahkan, pekerja seharusnya memperoleh rasa aman saat berada di kantor, bukan justru menjadi korban tindak kekerasan. “Kami berharap aparat kepolisian segera menuntaskan berkas perkara pelaku, sekaligus menekan perusahaan agar tidak lepas tangan,” tegasnya. Diketahui, Suriani Tahir, yang juga merupakan alumni STIEM Bongaya, ditemukan tewas pada Jumat (29/8/2025) dini hari di kantor PT Hino Kumala, Jalan HM Arsyad, Kelurahan Watan Soreang, Kecamatan Watan Soreang, Kota Parepare. Kasat Reskrim Polres Parepare, Muh Agus Purwanto, mengungkapkan bahwa pelaku berinisial KA sudah diamankan. Dari hasil pemeriksaan, korban tewas setelah ditikam karena melawan saat hendak diperkosa. Sementara itu, pihak PT Hino Kumala belum banyak memberikan komentar. General Manager PT Hino Kumala, Jhony Tanaka, hanya meminta agar konfirmasi langsung diarahkan ke Kepala Cabang Parepare. “Silakan ditanyakan ke kepala cabang di Parepare. Saya sendiri berkantor di Makassar,” kata Jhony singkat.

Opini

DEVIL’S ADVOCATE’ ARIEF BUDIMANTA

ruminews.id – KAMI merawat kelompok kecil dalam grup WhatsApp bentukan Almarhum Ichan Loulembah, seorang sahabat yang berjasa besar menjalin pertemanan yang terus meluas, yang dimulai dari grup WA, Blackberry (dan yahoogroups di era sebelumnya). Arief Budimanta adalah anggota aktif di grup selusinan orang itu. Sering juga kami berkumpul, kebanyakan di rumah Tatat Rahmi Utami, sebuah simpul yang merekat kami semua. Tak jarang kami kedatangan “bintang tamu” yang menyegarkan acara dengan gosip-gosip politik mereka, atau penjelasan kenapa suatu kebijakan diambil, jika bintang tamu itu kebetulan menduduki jabatan tertentu. Pada acara meriung di rumah “Mami Tatat” di Jakarta Selatan itulah Arief hampir tak pernah absen. Diam-diam kami berkomitmen untuk menjadikan kelompok kecil ini persaudaraan yang hangat, melampaui sekadar perkawanan. Dan karena ini pula jika Arief atau anggota lain terpaksa absen, ia akan sungguh-sungguh memohon maaf atas ketidakhadirannya. Kehadiran Arief selalu kami tunggu. Sebab ia hampir tak pernah datang dengan tangan kosong — tidak seperti saya — tapi selalu beserta menu andalan dan favorit kami semua: jengkol balado istimewa, buatan Pradha Sony, isterinya yang terkadang ikut serta. (Tapi tanpa kehadirannya pun Arief tak jarang menenteng jengkol titipan Sony). Tentu saja bukan hanya jengkol balado itu yang kami tunggu dari kehadiran Arief, tapi terutama ide dan info-info ekonomi nasional dan politik. Ia adalah orang yang tepat untuk diharapkan tentang hal itu. Dalam seperempat abad terakhir ia selalu dekat dengan pusat kekuasaan. Mula-mula di lingkungan PDI Perjuangan — ia dekat dengan Ibu Megawati, Pak Taufiq Kiemas dan Puan Maharani. Lalu ia menduduki macam-macam jabatan di seputar penasihat kebijakan ekonomi. Ia pernah bekerja di tingkat teras Kementerian Keuangan, di Komite Ekonomi Nasional, staf khusus Presiden bidang ekonomi, dan entah apalagi. Ia alumnus IPB, kampus tempat ia juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) — dari pendapa besar inilah kami semua dijalin oleh Ichan, praktis para alumni dari semua kampus besar-kecil di seluruh Indonesia. HMI, dengan caranya sendiri, memang turut mengukuhkan keindonesiaan. *** Partisipasi Arief di grup WA sering tak menyenangkan. Untuk hampir semua diskusi, ia tampil sebagai “good guy”, selalu mementahkan kritik-kritik keras para anggota lain tentang kebijakan negara, tentang perilaku tak patut pejabat tinggi, dsb. Kami semua sering heran dan jengkel dengan tendensi moderasinya; pada gayanya yang sering “sok bijak” dalam melunakkan kritik politik peserta yang kadang memang terasa terlalu keras. Kadang kami bimbang untuk mengkualifikasi sikapnya: apakah opininya itu murni sesuai keyakinannya, atau ia sengaja berperan sebagai “devil’s advocate” untuk memancing argumen-argumen yang lebih baik (atau lebih “panas”). Ataukah itu caranya mengingatkan bahwa duduk perkaranya bukanlah seperti yang dipotret oleh peserta lain — dengan kata lain: itu cara dia menyatakan bahwa kami semua cuma “sok tahu” tentang apa yang sebenarnya terjadi di lingkungan pengambil keputusan. Hal yang menambah kejengkelan: ia tak pernah mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, melalui postingan WA. Hanya dalam “temu darat” ia ada kalanya mengisahkan cerita balik-layar yang melatari suatu kebijakan. Rupanya ia memegang teguh etika jabatan; tak gampang membocorkan sesuatu, bahkan kepada lingkaran sehabatnya sendiri. Mungkin juga karena ia sendiri punya kritik terhadap suatu kebijakan, tapi tak mungkin ia ungkapkan demi menjaga esprit de corps. Sebab bagaimanapun ia adalah bagian dari lingkaran itu. Menyatakan hal sebaliknya akan terkesan ia “cuci tangan” terhadap kebijakan yang kami anggap buruk. Tapi kami semua tahu: di lubuk hatinya yang terdalam ia memendam keprihatinan besar tentang Indonesia dan masa depannya. Ia berusaha mematahkan prospek suram dengan menjaga spirit positifnya sebagai intelektual yang berada di lingkungan pengambil kebijakan ekonomi. Kami tahu hal ini dari percakapan-percakapan personal yang intensif, biasanya di larut malam. Terhadap perkembangan situasi Indonesia dalam beberapa bulan terakhir, misalnya, ia, menurut dokter jantungnya, tampak jelas “stres dan banyak pikiran” — terlihat dari kondisi pembuluh darahnya. *** Tampaknya ia sering merasa hanya menjadi sekrup kecil dalam proses pengambilan kebijakan negara, padahal ia ingin berperan lebih besar — dengan bekal grand theory “ekonomi konstitusi” yang ia coba kembangkan (untuk membedakannya dari “ekonomi Pancasila” yang gagal mekar, atau “ekonomi kerakyatan” yang hanya tersisa slogannya, atau “ekonomi gotong-royong”, yang tak pernah berhasil dibangun landasan teorinya yang kokoh). Ketika praktik-praktik ekonomi dilihatnya semakin jauh dari semangat “ekonomi konstitusi”, ia tampaknya kelelahan sebagai pemikir, dan mungkin merasa ia sebaiknya berjalan memutar, bukan lagi mengandalkan jalur negara untuk mewujudkan gagasan besarnya itu. Kepada sahabatnya ia menyatakan ingin fokus mengembangkan perekonomian di lingkungan Muhammadiyah (ia sejak beberapa tahun lalu menjabat Ketua Majelis Ekonomi persyarikatan itu). Belum sebulan silam ia menggelar simposium untuk mempromosikan konsep ekonomi “Al Maun”, sebuah surah pendek Quran yang dijadikan battle cry oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Ia berusaha membangun rumusan akademis tentang pokok-pokok pemikiran ekonomi Muhammadiyah berdasarkan prinsip itu, ide yang telah terbukti mampu membuat Muhammadiyah menjadi ormas raksasa yang kaya. Ia juga ingin mengabdikan diri untuk ikut membimbing Generasi-Z, mungkin dengan sejumlah metode baru yang sudah cukup ia pelajari; suatu isyarat bahwa ia merasa tak banyak yang bisa diharapkan dari generasinya dan generasi di bawahnya. Mungkin ia yakin kemajuan Indonesia hanya bisa disandarkan pada generasi terbaru itu, generasi ketiga anak laki-lakinya. Tekad mulia itu terhalang dengan cara yang sangat getir. Jumat lewat tengah malam, atau Sabtu dini hari sekali, ia terdiam dalam usia 57 di sebuah rumah sakit. Saya terkesiap mendengar kabarnya, tersesak dengan mata berkaca-kaca; sebab sampai dua hari sebelumnya ia normal belaka seperti biasa. Ia kadang memang mengeluhkan berat badannya, tapi dengan wajah yang selalu ceria dan segar, dengan kemeja lengan panjangnya yang selalu sangat putih, dan dengan saling ledek yang kocak setiap kami berjumpa, saya tak pernah menangkap sedikit pun indikasi negatif kesehatannya. Dan saya tidak sanggup mengantar ke rumahnya yang terakhir. Kematian sahabat adalah hal yang paling saya benci. Saya tidak bisa menyaksikannya masuk suatu liang yang tak memungkinkannya keluar lagi selama-lamanya. Arief Budimanta Sebayang, terima kasih atas pengabdianmu hingga detik terakhir hidupmu. Terima kasih atas persahabatan tiga dasawarsa yang hangat dan produktif. Saya hanya bisa menangisi kepergianmu yang terlalu cepat. *** *Selamat Jalan Kakanda Arief*

Opini

HMI dan Stigma “Ancaman” di Kampus

ruminews.id – Di banyak kampus, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) seolah menjelma monster. Bukan monster nyata, tapi monster imajiner yang hidup di kepala sebagian petinggi kampus. Setiap kali mahasiswa baru masuk, selalu ada narasi yang diperdengarkan dengan nada serius: “Hati-hati, jangan ikut HMI. Mereka itu suka mendoktrin, suka bikin ribut, bahaya untuk masa depanmu.” Lucu sekali melihat bagaimana sebagian kampus memperlakukan HMI. Seolah-olah organisasi mahasiswa ini adalah hantu gentayangan yang siap meneror ruang akademik. Setiap kali mahasiswa baru masuk, selalu ada “bisikan suci” dari petinggi kampus: “Jangan ikut HMI, nanti kamu didoktrin, nanti kamu jadi rusuh, nanti kamu tersesat.” Ironisnya, kalimat semacam ini justru lebih mirip doktrin daripada apa yang dituduhkan kepada HMI. Ironinya, kalimat itu sendiri adalah sebuah doktrin. Jadi, siapa sebenarnya yang suka mendoktrin? Kampus seharusnya menjadi tempat pikiran bebas berkecambah, tapi justru terjebak dalam paranoia. Mereka ingin mahasiswa yang cerdas—asal tidak terlalu kritis. Mereka ingin mahasiswa yang aktif—asal tidak melawan arus. Mereka ingin mahasiswa mengenal organisasi—asal bukan organisasi yang berani bicara. Singkatnya, mereka ingin mencetak generasi yes man yang sopan, lugu, dan siap diatur tanpa banyak tanya. Mengapa kampus begitu panik? Apakah gedung-gedung tinggi itu akan roboh hanya karena beberapa mahasiswa belajar berpikir kritis bersama HMI? Ataukah para petinggi kampus khawatir kursi empuk mereka goyang jika terlalu banyak mahasiswa berani bertanya “kenapa” dan “untuk siapa” kebijakan diambil? Padahal, sejarah HMI tidak bisa dihapus begitu saja dengan stigma murahan. HMI lahir di masa pergulatan identitas bangsa, tumbuh bersama semangat melawan ketidakadilan, dan banyak melahirkan tokoh nasional, melahirkan intelektual, politisi, dan tokoh bangsa. Tapi apa yang diingat kampus? Bukan intelektualitas atau kontribusinya, melainkan label: ribut, keras kepala, pengganggu stabilitas. Stabilitas kata itu terdengar indah. Tapi stabilitas seperti apa yang mereka maksud? Stabilitas kampus yang tenang, steril, tanpa kritik, di mana mahasiswa hanya jadi penghuni kelas yang mengejar IPK lalu pulang dengan selamat? Jika itu yang dimaksud, maka kampus tidak lebih dari pabrik ijazah, bukan ruang intelektual. kampus yang seharusnya jadi ruang paling bebas untuk berpikir, justru alergi terhadap kebebasan itu sendiri. Mereka ingin mahasiswa kritis di atas kertas, tapi jinak di lapangan. Mereka mengajarkan demokrasi di kelas, lalu mengebiri praktik demokrasi di halaman kampus. Bayangkan betapa rapuhnya otoritas kampus jika hanya dengan sekelompok mahasiswa ber-HMI, mereka sudah merasa terancam. Apakah kursi jabatan itu selemah itu, sehingga kritik mahasiswa bisa membuatnya oleng? Ataukah sebenarnya bukan HMI yang berbahaya, melainkan nurani mahasiswa yang bisa hidup kembali ketika bertemu ruang kaderisasi? kampus sering menuduh HMI suka mendoktrin, padahal mereka sendiri mendoktrin mahasiswa baru dengan larangan sepihak. Kampus menuduh HMI berbahaya, padahal yang berbahaya justru sikap kampus yang anti-pikiran bebas. Kampus menuduh HMI mencuci otak, padahal mereka sendiri yang berusaha membatasi akal sehat dengan ketakutan. Kampus bicara demokrasi di kelas, tapi mencekik demokrasi di halaman. Mereka mengajarkan mahasiswa untuk kritis, tapi menutup pintu ketika kritik diarahkan pada kebijakan kampus. Mereka menuntut mahasiswa jadi agen perubahan, tapi panik ketika mahasiswa benar-benar bergerak. Bukankah ini ironi terbesar pendidikan tinggi kita? Stigma terhadap HMI di kampus biasanya berakar dari dua hal. Pertama, ketakutan struktural: bahwa HMI bisa melahirkan mahasiswa yang berani bersuara, mengkritik, dan tidak tunduk sepenuhnya pada narasi resmi kampus. Kedua, trauma historis: gesekan antara aktivis HMI dengan birokrasi kampus atau pemerintah di masa lalu, yang akhirnya diwariskan dalam bentuk larangan halus kepada generasi berikutnya. Sebenarnya yang ditakuti bukanlah HMI sebagai organisasi, melainkan ide yang hidup di dalamnya: keberanian untuk bertanya, keberanian untuk bersuara, keberanian untuk melawan kemapanan yang tidak adil. Itulah yang dianggap ancaman—bukan untuk mahasiswa, tapi untuk kenyamanan birokrasi kampus. Jika kampus benar-benar percaya pada intelektualitas, mereka seharusnya memberi ruang bagi mahasiswa untuk mencoba, menilai, dan menentukan sendiri apakah HMI cocok bagi mereka. Melarang HMI hanya menunjukkan satu hal: kampus tidak percaya pada mahasiswa. Mereka menganggap mahasiswa terlalu naif, terlalu bodoh untuk memilih jalannya sendiri. Dan di sinilah letak tragedinya: kampus yang seharusnya melahirkan pemikir bebas justru melahirkan paranoia. Paranoia yang diwariskan dari generasi birokrat lama ke birokrat baru, sampai akhirnya menjadi semacam takhayul institusional. Bahwa HMI itu hantu. Bahwa organisasi mahasiswa itu penyakit. Bahwa kebebasan berpikir itu ancaman. Padahal, jika kita jujur, HMI tidak pernah menjadi hantu. Yang berhantu itu adalah rasa takut kampus pada suara kritis. Rasa takut yang terlalu lama dipelihara, hingga kampus lupa bahwa mengekang mahasiswa justru lebih berbahaya: melahirkan generasi yang tidak percaya diri, tidak berani bersuara, dan hanya jadi penonton di tengah perubahan bangsa. Maka, ketika petinggi kampus berkata: “Jangan ikut HMI, nanti kamu didoktrin,” mahasiswa seharusnya tersenyum. Sebab pada saat itu, mereka sedang menyaksikan ironi telanjang: bahwa kampus yang mengaku rumah intelektual, ternyata bisa lebih dogmatis daripada organisasi yang mereka tuduh.

Scroll to Top