18 Januari 2025

Opini

Kebencian adalah bagian dari hakikat, Keindahan hanya imajinasi semata.

ruminews.id – Henry Charles Bukowski, Sepertinya kita akan sulit memahami pernyataan Charles Bukowsky. Tapi sebelumnya, lebih baik menempatkannya sebagai pernyataan atau perkataan satire. Lebih tepatnya sebagai pernyataan ironi atas refleksi suatu potret kehidupan. Kita akan mudah memahaminya jika keindahan sebagai hakikat dan kebencian sebagai imajinasi. Namun itu idealnya, seharusnya, dan semestinya. Sebab fitrah manusia memang demikian, cinta pada keindahan, keadilan, dan kebenaran. Tapi satu sisi kita mesti menyadari bahwa kita hidup di dunia. Kenyataan terkadang memberikan jawaban sebaliknya. Tapi bagaimana menggambarkan kebencian sebagai bagian dari hakikat? Saya ingin mengajak dan melihat bagaimana dunia sekitar kita yang sangat sulit “menerima” yang lain. Kita sulit menerima jika orang lain berbeda dengan diri kita. Kita akan lebih senang jika orang lain seperti diri kita. Mengikuti cara kita memandang dan memaknai kehidupan ini. Mengapa? karena kita selalu saja berpikir telah menemukan mata air kebenaran. Kita telah mereguknya dan merasakan kebagiaan mata air tersebut. Begitu bahagianya sehingga menganggap mereka yang tak merasakan mata air kebenaran yang kita reguk sebagai orang-orang yang tersesat dalam menjalani kehidupan ini. Dan hingga akhirnya serta secara perlahan-lahan menganggap cara pandang kita sebagai satu-satunya neraca kebenaran. Kita adalah kebenaran dan selain kita adalah kesesatan. Pada saat itulah, kita akan heran melihat orang lain. Heran mengapa mereka memililih jalan yang tak sesuai dengan cara pandang kita. Bahkan boleh jadi kita jijik saat melihat mereka melakukan ritual yang berbeda dengan ritual kita. Dan akhirnya kita tak mau lagi melihat mereka. Kita lebih asyik bersama dengan kelompok kita sendiri. Kita akan menutup pintu rumah kita rapat-rapat agar tak lagi terlihat ritual yang mereka lakukan. Saat kita membuka pintu itu kembali, perasaan kita kepada orang lain bukan hanya jijik, tapi kita mulai membenci mereka. Kita memilih memutuskan silaturrahim. Memutuskan pertemanan kita di FB. Meng-unfollow mereka di twitter dan instagram. Memblock Whatsapp mereka. Sekarang pertanyaannya, ada berapakah cara pandang orang di dunia ini? Mungkin kita akan menjawabnya, jumlahnya sebanding dengan aliran pemikiran yang ada di dunia ini. Namun jika ingin menjawabnya secara lebih detail, sebenarnya jumlahnya sebandingan dengan jumlah manusia. Sebab meskipun kita berada dalam satu aliran tapi kita punya penafsiran dan pemahaman sendiri. Nah sekarang bayangkan jika setiap orang melakukan hal yang sama, menganggap pandangannya sebagai satu-satunya neraca kebenaran dan membenci pandangan orang lain yang berbeda dengan kita. Tentu kita akan mulai saling memangsa. Benar kata Hobbes, saat itu manusia adalah serigala. Mungkin kita terlalu lama asyik dengan rumah kita sendiri. Tak punya kesempatan mendengarkan dan memahami orang lain. Tak mau tahu mengapa orang lain memiliki cara pandang yang berbeda dengan kita. Kita lupa bahwa setiap orang berproses menjadi diri mereka sendiri. Mereka juga punya nalar sendiri sebagaimana kita menggunakan nalar kita sendiri. Orang lain juga membangun neraca kehidupannya sendiri sebagaimana kita membangun neraca kehidupan kita sendiri. Sebab itu jangan sampai kita berubah menjadi Zombie. Manusia tanpa nalar yang hanya siap memangsa karena keinginannya hanya memangsa. Manusia Zombie adalah manusia yang berjalan dengan tanpa kesadaran dengan langkah yang tertatih-tatih dengan mulut penuh darah akibat memangsa. Karena jika kita berubah menjadi manusia Zombie akan menegaskan apa yang dikatakan oleh Charles Bukowsky, “kebencian adalah hakikat sedangkan keindahan hanya imajinasi” Muh Nur Jabir

Opini

“Kuasai Pikiran, Ubah Emosi : Seni Mengelola Stres dan Tantangan”

BAGAIMANA MENGUBAH PENGALAMAN EMOSIONAL? Teori Konstruksi Emosional (Theory of Constructed Emotion) yang merupakan hasil penelitian ilmiah Lisa Feldman Barrett dengan menggunakan bukti dari neurosains, psikologi sosial, dan antropologi, menunjukkan bahwa emosi adalah hasil kerjasama kompleks antara otak, tubuh, dan lingkungan. Teori ini menantang pandangan tradisional dan membuka jalan baru dalam memahami dan mengelola emosi. Emosi adalah pengalaman subjektif yang dihasilkan oleh otak melalui proses interpretasi sinyal tubuh (interosepsi), prediksi berdasarkan pengalaman masa lalu, serta pengaruh sosial dan budaya. Dan karena emosi bukanlah respons otomatis bawaan, maka teori konstruksi emosional menawarkan kerangka yang lebih fleksibel dan relevan untuk memberdayakan diri kita dalam memahami dan mengelola emosi di dunia modern. Melalui pemahaman ini, kita harus sadar bahwa emosi adalah hasil konstruksi otak, dan dengan demikian kita juga mesti menyadari bahwa stres sebenarnya bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil dari bagaimana otak kita memahami dan menilai situasi. Jika kita memandang suatu keadaan sebagai tantangan yang bisa diatasi, otak akan membantu membangun perasaan yang lebih mendukung, seperti percaya diri atau antusiasme, daripada rasa kewalahan. Alihkan fokus dari pikiran negatif – seperti takut gagal – dengan membayangkan keberhasilan dan manfaat yang akan kita dapatkan dari pengalaman tersebut, juga nikmati proses yang dijalani saat ini. Dengan cara ini, kita mengubah stres menjadi dorongan positif. Jadi, kalau merasa cemas sebelum presentasi, coba lihat rasa cemas itu bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai tanda bahwa tubuh kita sedang mempersiapkan diri untuk tampil maksimal. Anggap cemas itu sebagai semangat untuk memberikan yang terbaik. Mengelola stres seperti ini adalah soal bagaimana kita memandang dan menilai pengalaman, sehingga emosi yang dihasilkan pun berubah menjadi lebih membantu. Kita juga bisa membangun ketahanan emosional dengan mengelola mindset (cara pandang). Ketahanan emosional bisa tumbuh jika kita memahami bahwa emosi bukan sesuatu yang tetap, melainkan dibentuk oleh cara kita memandang pengalaman hidup. Dengan mengubah cara berpikir kita tentang tantangan atau kesulitan, kita juga bisa mengubah emosi yang muncul, sehingga menjadi lebih positif dan memberdayakan. Ketika mengalami kegagalan, daripada merasa malu atau putus asa, coba lihat kegagalan itu sebagai peluang untuk belajar dan memperbaiki diri. Cara kita memahami pengalaman sangat menentukan bagaimana kita merasakan emosi. Mengelola pola pikir adalah kunci untuk menciptakan ketahanan emosional. Manfaat lainnya adalah membuat kita mampu mengubah pengalaman emosional dengan cara belajar memandang suatu hal secara berbeda, yang disebut pembingkaian ulang (reframing). Saat kita merasa marah, cemas, atau frustrasi, maka dengan mencoba melihat hal itu dari sudut pandang yang lebih positif dapat membantu meredakan emosi tersebut. Jika merasa frustrasi karena terjebak dalam kemacetan, daripada terus kesal, coba anggap itu sebagai waktu untuk bersantai, mendengarkan musik favorit, atau memikirkan hal-hal yang kita syukuri. Dengan mengubah cara kita memandang kemacetan, perasaan frustrasi bisa berubah menjadi lebih tenang dan menerima. Menurut Barrett, emosi kita dipengaruhi oleh apa yang kita pelajari sejak kecil melalui budaya dan bahasa di sekitar kita. Cara kita memahami dan menamai perasaan – seperti senang, marah, atau sedih – dibentuk oleh kata-kata dan konsep yang kita pelajari. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki lebih banyak kata untuk menggambarkan emosi (disebut emotional granularity) biasanya lebih pandai mengenali dan mengelola perasaan mereka. Dengan kata lain, semakin kaya kosakata emosional kita, semakin baik kita memahami apa yang kita rasakan dan bagaimana cara mengatasinya. Kosakata emosional yang kaya memungkinkan kita lebih tepat menggambarkan apa yang kita rasakan. Dengan begitu, kita tidak hanya lebih paham dengan emosi sendiri, tetapi juga lebih mudah menjelaskan perasaan kepada orang lain, sehingga risiko salah paham pun berkurang. Daripada hanya mengatakan “saya sedih”, coba cari kata yang lebih spesifik seperti “kecewa”, “frustrasi”, “kesepian”, atau “terluka”. Ini membantu kita memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Jika seseorang merasa “kecewa”, ia mungkin menyadari bahwa harapannya terhadap sesuatu tidak terpenuhi. Tapi jika seseorang merasa “kesepian”, artinya ia butuh koneksi dengan orang lain. Dengan kata-kata yang lebih tepat, kita bisa menemukan solusi yang sesuai untuk perasaan tersebut. Selain itu, orang lain juga akan lebih mudah memahami apa yang kita rasakan. Ini membantu membangun hubungan yang lebih hangat dan penuh pengertian. Jadi, semakin kaya kosakata emosional kita, maka semakin baik kualitas interaksi kita dengan orang lain. Emosi juga seringkali memengaruhi cara kita mengambil keputusan. Namun, dengan memahami bahwa emosi terbentuk dari cara kita berpikir dan menilai situasi, kita dapat belajar untuk membuat keputusan yang lebih objektif dan matang. Ketika menghadapi keputusan penting, ambil waktu untuk berhenti sejenak dan pikirkan kembali. Coba pisahkan perasaan langsung yang muncul, seperti takut atau cemas, dari analisis logis tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dengan cara ini, kita tidak akan terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan emosi, melainkan berdasarkan informasi yang lebih rasional dan pertimbangan yang matang. Mengelola emosi seperti ini membantu kita lebih tenang dan terarah, sehingga keputusan yang diambil lebih tepat dan bermanfaat. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik : https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Pendidikan Yang Membebaskan Dari Belenggu Dogmatis

ruminews.id – Pendidikan yang membebaskan dari belenggu dogmatis adalah pendidikan yang diberikan kepada peserta didik sesuai dengan perkembangan dan potensi yang dimiliki oleh peserta didik agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang merdeka. Dalam pemikiran Paulo Freire pada posisi lain terletak pada pandangannya tentang manusia dan tentang dunianya yang kemudian ditransformasikan ke dalam dunia pendidikan yang menghasilkan model pendidikan alternatif sebagai tawaran yakni dari model pendidikan yang membelenggu ke model pendidikan yang membebaskan. Menurut Giroux dalam sistem pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire tidak bermaksud menawarkan resep yang radikal untuk menciptakan sistem pendidikan yang sekedar kritis. Akan tetapi, menawarkan serangkaian petunjuk arah yang bersifat teoretis dan berguna-praktis. (1) Melihat pendapat Giroux bahwa Paulo Freire tidak hanya pada teoretis semata. Tetapi, Paulo Freire juga memberikan kontribusi pada praktis-aksi. Dengan ini, melihat pemikiran Paulo Freire pendidikan yang ditawarkan bulan sekadar teoretis. Paulo Freire juga memberikan kontribusi terhadap masyarakat melalui aksi-praktis (mengaplikasikan teori yang ditawarkan dalam sistem pendidikan). Disisi lain, perlu juga diketahui bahwa Paulo Freire tidak hanya bersikap kritis dalam pendidikan. Paulo Freire juga mencari terobosan untuk mengunggah mereka yang terlibat dalam sistem pendidikan yang membelenggu agar bangkit untuk membebaskan dirinya. Karena itu, bagi Paulo Freire pendidikan sebagai salah satu instrumen pembebasan dan memanusiakan manusia. Dalam sistem pendidikan yang ditawarkan Paulo Freire bukan sekadar mengajar dan di ajar hingga terkesan dogmatis (menerima apa adanya yang disampaikan pengajar). Hal tersebut, Soekarno juga menolak sistem pendidikan yang cenderung dogmatis. Penolakan Soekarno terhadap sistem pendidikan yang dogmatis merupakan pemikiran yang perlu di hindari. Makna penting yang terkandung dalam pemikiran Soekarno adalah bahwa patuh dalam pengertian negatif berpeluang melahirkan murid-murid yang mempunyai mental membebek, apatis, dan tidak kreatif. (2) Dengan kata lain, model pendidikan yang ditawarkan Soekarno menolak model pendidikan yang membelenggu atau dogmatis semata. Tetapi, bagaimana sistem pendidikan itu membentuk dialog hingga terbentuk nalar kritis. Kalaupun demikian, bagaimana membentuk nalar kritis, agar menjadi murid atau mahasiswa yang tidak membebek, tidak apatis, dan  tetap kreatif.? Menurut Soekarno, penolakan terhadap model-model pendidikan yang dogmatis dilatarbelakangi oleh keyakinannya bahwa pola itu cenderung menempatkan murid hanya sebagai objek, bukan subjek hidup yang sepantasnya bisa berpendapat. Olehnya, dalam sistem pendidikan, Soekarno mengandaikan terjadinya hubungan ataupun interaksi timbal balik yang kreatif, kritis, mengedepankan dialog, serta murid, siswa, mahasiswa, santri, bisa menjauhkan dari kultur otoriter yang dapat membuat orang yang di didik menjadi takut dan tertekan. Pola-pola pendidikan yang otoriter menggunakan kekerasan dengan dalih menegakkan disiplin, monologis, dan semacamnya, dalam konteks sekarang sudah tidak relevan, kadaluarsa, dan bertentangan dengan semangat zaman sekarang. (3) Penulis juga berani berpendapat bahwa seharusnya model pendidikan bukan sekadar mengajar dan di ajar. Tetapi, bagaimana pengajar mampu memantik nalar kritis yang di ajar melalui dialog antara pengajar dan di ajar. Oleh karena itu, Soekarno dapat menyadari hal tersebut sehingga menawarkan model pendidikan yang dialog hingga terbentuk nalar kritis dan mampu mencerdaskan manusia sesuai potensi yang dikembangkan. Dengan ini, Soekarno menyadari lembaga pendidikan ibarat pusat laboratorium pencerdasan masyarakat atau pabrik manusia-manusia yang bermutu yang berikutnya membawa kemajuan bagi umat dan bangsanya. (4) Maka seharusnya pendidikan menjadi kunci dalam memajukan umat dan bangsa dalam segala aspek kehidupan. Seperti dalam ungkapan Soekarno bahwa ketidakberhasilan sebuah bangsa dan negara di masa kini dan masa mendatang dalam mencapai kemajuan terutama karena bangsa dan negara itu gagal mengelola pendidikan dan mesti sampai pada usaha melacak permasalahannya secara epistemologis. Menurut Murtadha Muthahhari, jika kita amati bersama dan seksama secara epistemologis bahwa paradigma pendidikan tradisional pada umumnya masih terkesan mengesampingkan peran pengembangan potensi kemampuan nalar kritis dan berkreasi. Hal ini dapat dilihat secara fenomena, begitu banyak orang yang menimba ilmu pengetahuan. Namun, mereka ibarat alat perekam bagi ilmu-ilmu yang mereka pelajari, tidak lebih kurang. Kadangkala mereka mempelajari sebuah kitab dari guru mereka dengan tekun dan konsentrasi penuh, mereka berusaha memahami bacaan dan bahkan menghafalnya. Pada masa yang akan datang, mereka pun menjadi para guru. Lalu, mereka mengajar dan menerapkan metode pembelajaran persis seperti yang mereka temui ketika belajar dari guru-guru mereka sebelumnya. (5) Pada akhirnya, sistem pendidikan terkesan dogmatis dan hanya sebagai penganut pengetahuan nukilan. Dalam artian, apa yang disampaikan oleh para guru terdahulu kepada muridnya dan murid tersebut menjadi guru dimasa depan itu juga yang disampaikan kepada muridnya hingga seterusnya. Sederhananya model pendidikan seperti itu, tidak mengembangkan potensi-potensi kritis dan kreativitasnya dalam diri murid dan menjadi pengetahuan nukilan hingga terkesan dogmatis. Dengan demikian, penulis melihat model pendidikan yang ditawarkan oleh para pemikir yakni Paulo Freire, Soekarno dan Murtadha Muthahhari menolak sistem pendidikan yang dogmatis ataupun otoriter. Dengan hal ini, hanya membebek, apatis dan tidak kreatif. Maka dari itu, model pendidikan yang di tawarkan ketiga pemikir adalah Kritis, sistematis, kreatif, pendidikan sebagai laboratorium pencerdasan, hingga pendidikan mampu membebaskan dari belenggu dogmatis. Daftar Pustaka: (1). Paulo Freire dan kawan-kawan: Pemikiran-Pemikiran Revolusioner. Hal.159 (2). Syamsul Kurniawan: Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno. Hal.136 (3).  Syamsul Kurniawan: Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno. Hal.137 (4). Syamsul Kurniawan: Gagasan Pendidikan Kebangsaan Soekarno. Hal.137 (5). Murtadha Muthahhari: Dasar-Dasar Epistemologi Pendidikan Islam. Hal.9

Infotainment

Alasan Duta Sheila On 7 Pilih Jadi Ambasador MAKA Motors

ruminews.id – Akhdiyat Duta Modjo, vokalis band Sheila On 7, telah resmi menjadi Brand Ambassador untuk MAKA Motors, pabrikan sepeda motor listrik lokal yang baru saja meluncurkan produk pertamanya, MAKA Cavalry. Duta mengungkapkan bahwa sepeda motor telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya sejak masa sekolah. Ia menyatakan, “Sepeda motor sudah jadi bagian dari kehidupan saya. Sejak SMA, ke mana-mana pakai sepeda motor, termasuk ketika mengikuti festival musik pelajar.” Alasan utama Duta menerima tawaran sebagai Brand Ambassador MAKA Motors adalah kesamaan visi dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah global. Duta menyebut, “Di dalam berkarya, saya dan teman-teman memiliki misi untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah global lewat karya musik. Saya melihat misi serupa juga dibawa oleh MAKA Motors.” Selain itu, Duta juga tertarik dengan pendekatan yang dilakukan oleh MAKA Motors serta kualitas produk yang ditawarkan. Ia menyukai desain, logo, dan merek dari MAKA Motors, yang menurutnya mencerminkan semangat inovasi dan kualitas tinggi. Kolaborasi antara Duta dan MAKA Motors diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk merasakan sensasi berkendara dengan skuter listrik yang mengusung moto “Motor Paling Enak”

Nasional

Alwi Hamu Tutup Usia, Tokoh Pers dan Pendiri Fajar Group Alwi Hamu Meninggal di Jakarta

ruminews.id– Makassar, 18 Januari 2025 – Kabar duka datang dari dunia pers dan jurnalisme Indonesia. Alwi Hamu, seorang tokoh yang telah banyak berjasa dalam pengembangan media di tanah air, telah meninggal dunia. Beliau berpulang pada usia 81 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan kolega. Alwi Hamu dikenal sebagai sosok yang penuh dedikasi dan semangat dalam memajukan dunia jurnalistik. Beliau merupakan pendiri Grup Fajar yang menjadi salah satu jaringan media terbesar di Indonesia Timur. Perjuangan dan komitmennya terhadap kebebasan pers telah memberikan inspirasi bagi banyak insan media. “Bapak Alwi adalah panutan. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi kami semua,” ucap Naya selalu orang dekat almarhum. Di balik kesibukannya, Alwi Hamu juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati dan dermawan. Semasa hidupnya, ia aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan selalu berupaya memberi manfaat bagi masyarakat luas. Jenazah akan dimakamkan di Makassar, kota yang begitu ia cintai. Doa dan penghormatan mengalir dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Selamat jalan, Alwi Hamu. Karya dan dedikasimu akan selalu dikenang. Alwi diketahui meninggal di Rumah Sakit Puri, Jakarta hari ini. Sebelum diterbangkan ke Makassar, ia terlebih dahulu disemayamkan di Jakarta. “Sementara di Jakarta dulu, kan banyak temannya,” terang JK. “Insya Allah (akan JK antar jenazah),” tambah JK. Almarhum dikabarkan akan dikebumikan di Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu 19 Januari 2025. Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) akan mengantar jenazah Alwi Hamu ke Makassar. Pendiri Fajar Group itu akan diterbangkan ke Makassar pukul 16.00 WIB hari ini. “Dimakamkan di Makassar, berangkat jam 4 sore,” kata JK di Jakarta, Sabtu (18/1/2025). Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Al-Fatihah.

Daerah, Makassar

Pejuang Heroik, Dosen STIEM Bongaya Selamatkan Anak Tenggelam di Kanal Banta-Bantaeng

ruminews.id – Aksi heroik kembali terjadi di Makassar. Seorang dosen bernama Sigit Sugiarto, yang mengajar di STIEM Bongaya, menjadi pahlawan lokal setelah menyelamatkan seorang anak kecil yang tenggelam di kanal Banta-Bantaeng, Jumat Pukul 18.15 wita Kejadian bermula saat seorang anak berusia 7 tahun, yang sedang bermain di sekitar kanal, terpeleset dan jatuh ke dalam air yang cukup deras. Warga sekitar sempat panik dan berusaha memberikan pertolongan, namun arus yang kuat menyulitkan upaya mereka. Sigit, yang kebetulan melintas di lokasi, tanpa ragu langsung melompat ke dalam kanal. Dengan keterampilan berenang yang mumpuni dan keberanian luar biasa, ia berhasil mencapai anak tersebut meskipun arus terus berusaha menyeret mereka. “Saya tidak sempat berpikir panjang. Saat melihat anak itu berjuang untuk tetap di permukaan, saya langsung bergerak,” ujar Sigit kepada wartawan. Setelah sekitar lima menit berjuang melawan arus, Sigit berhasil membawa anak tersebut ke tepi kanal dengan selamat. Anak itu segera mendapat pertolongan medis dan kini dalam kondisi stabil. Aksi heroik Sigit mendapat apresiasi dari warga setempat. Kepala lingkungan Banta-Bantaeng, Muhammad Arif, menyatakan rasa terima kasih yang mendalam kepada Sigit atas keberanian dan tindakannya yang cepat. “Sigit adalah contoh nyata dari kepahlawanan di tengah masyarakat. Tanpa tindakannya, mungkin nyawa anak tersebut tidak dapat diselamatkan,” ujar Arif. Sebagai dosen di STIEM Bongaya, Sigit dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan peduli terhadap sesama. Rekan-rekannya menyatakan bahwa tindakan ini mencerminkan kepribadiannya yang tidak hanya mengajar ilmu, tetapi juga menjadi teladan hidup. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa aksi kepedulian, sekecil apa pun, dapat membawa perubahan besar bagi orang lain.

Nasional, Pendidikan

Libur Sekolah Selama Ramadan, Pemerhati Pendidikan: Jangan Korbankan Tujuan Utama Pendidikan

ruminews.id- Pemerhati pendidikan sekaligus akademisi Universitas Hasanuddin (Unhas), Adi Suryadi Culla, menanggapi wacana libur sekolah sebulan penuh selama Ramadan 2025. Ia menilai, proses belajar mengajar tetap harus berjalan meskipun disesuaikan dengan kebutuhan beribadah. “Menurut saya, kegiatan sekolah itu harus tetap ada, tetapi pada saat yang sama harus diseimbangkan dengan kegiatan ibadah,” ujar Adi Suryadi Culla, Kamis (16/1/2025). Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu menyebutkan bahwa pandangannya sejalan dengan opsi kedua yang ditawarkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti. Seperti diketahui, terdapat tiga opsi terkait wacana libur sekolah selama Ramadan: 1. Libur sekolah selama Ramadan sebulan penuh. 2. Libur sekolah di awal dan menjelang akhir Ramadan. 3. Proses belajar mengajar tetap berlangsung penuh seperti saat ini. Adi Suryadi Culla mendukung opsi kedua, yakni libur sekolah di awal dan akhir Ramadan. Ia menilai opsi ini lebih bijak karena mampu menyeimbangkan aspek pendidikan dan ibadah, serta mengakomodasi keberagaman di Indonesia. “Ini bisa menjadi dasar untuk perencanaan pemerintah agar libur sekolah tetap memperhatikan kepentingan agama lain,” katanya. Menurut mantan Ketua Dewan Pendidikan Sulawesi Selatan itu, pemerintah harus merumuskan kebijakan dengan matang agar tidak mengorbankan tujuan utama pendidikan, yakni membangun generasi berkualitas. Ia berharap kebijakan yang diambil pemerintah dapat menjadi jalan tengah bagi semua pihak, terutama dalam menciptakan pendidikan yang inklusif dan tetap mendukung pelaksanaan ibadah selama Ramadan.

Scroll to Top