Ruminews.id, Yogyakarta – Nama Abdullah Idrus mungkin tidak seterkenal Chairil Anwar atau Pramoedya Ananta Toer dalam khazanah sastra Indonesia. Namun, di balik karya-karyanya, Idrus banyak merekam realitas kehidupan masyarakat Indonesia pada masa peralihan pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan.
Dalam rangka menyambut Pekan Kata 2026, Warung Sastra bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Malam Buku bertajuk “Membaca Kembali Idrus sebagai Sastra di Masa Peralihan Pendudukan Jepang”, Rabu (23/9/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pekan Kata 2026 yang berlangsung pada 19–26 September 2026. Selain Malam Buku, rangkaian kegiatan tersebut meliputi Jembatan Literasi, Beasiswa Sastra, Jalan-Jalan Sastra, dan Petang Syair.
Acara dibuka dengan permainan biola oleh Kukuh Basuki, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan oleh moderator. Marsha selaku moderator diskusi mempersilakan dua pemantik untuk bergabung di depan, yakni Novita Dewi, dosen Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma, dan Eko Triono, penulis sekaligus dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Mengawali diskusi, Marsha memperkenalkan sejumlah karya Idrus, di antaranya Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948), Aki (1949), dan Hikayat Putri Penelope (1973). Ia kemudian mengajukan pertanyaan mengenai posisi karya Idrus dalam merekam sejarah Indonesia pada masa revolusi dan pendudukan Jepang dibandingkan dengan catatan sejarah resmi.
Menurut Novita, karya-karya Idrus memberikan tambahan perspektif terhadap sejarah dengan menghadirkan pengalaman masyarakat kecil yang tidak selalu tercatat dalam narasi sejarah resmi.
“Yang dipotret Idrus adalah orang-orang kecil yang tidak menikmati keemasan sejarah tersebut,” ujar Novita.
Ia menjelaskan, pengalaman pribadi Idrus turut memengaruhi karya-karyanya. Pada masa pendudukan Jepang, Idrus tidak dapat melanjutkan pendidikan. Namun, situasi tersebut juga memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia melalui karya-karya yang dihasilkannya.
Eko kemudian menyoroti istilah “orang-orang kecil” yang digunakan dalam pembahasan karya Idrus. Menurutnya, keberpihakan Idrus terhadap masyarakat kecil menjadi salah satu karakter penting dalam karya-karyanya. Ia menyebut Idrus memiliki kesamaan dengan sastrawan seperti Mochtar Lubis yang juga banyak mengangkat kehidupan masyarakat kecil.
Eko kemudian mengaitkan karya Idrus dengan buku Pendudukan Jepang di Indonesia karya Aiko Kurosawa. Menurutnya, berbagai persoalan yang dicatat melalui data sejarah, termasuk kelaparan dan krisis pangan, juga tergambar secara realistis dalam karya-karya Idrus.
“Jawa mengalami krisis beras, padahal merupakan salah satu daerah penghasil beras. Kondisi itu digambarkan secara realistis dalam cerpen Idrus,” kata Eko.
Ia menilai karya-karya Idrus menunjukkan bagaimana sastra dapat merekam pengalaman masyarakat secara langsung dari realitas penindasan yang terjadi selama masa pendudukan Jepang.
Novita juga menyoroti penggambaran persoalan distribusi beras dalam karya Idrus. Ia menyebut adanya cerita mengenai masyarakat Indonesia yang hanya memperoleh sekitar 1,5 liter beras, sementara Jepang memperoleh beras hingga lima liter yang berasal dari Indonesia.
Dalam salah satu cerita, terdapat perempuan yang menyelundupkan beras dan kemudian diketahui oleh Keibodan. Beras tersebut sempat hendak diamankan oleh seorang oknum, tetapi pada akhirnya justru dirampas dan dikonsumsi sendiri.
Menurut Novita, peristiwa semacam itu tidak selalu ditemukan dalam catatan sejarah resmi. Namun, Idrus merekamnya melalui karya sastra sehingga pembaca dapat melihat pengalaman masyarakat dari perspektif yang berbeda.
Diskusi kemudian berlanjut pada pertanyaan mengapa nama Idrus saat ini tidak sepopuler Chairil Anwar dalam pembelajaran dan pengenalan sastra Indonesia.
Eko menjelaskan hal tersebut salah satunya berkaitan dengan proses kanonisasi atau bagaimana seorang sastrawan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Pertama, menurut Eko, pengenalan terhadap karya sastra sangat dipengaruhi oleh buku pelajaran. Puisi-puisi Chairil Anwar, misalnya, kerap dikutip secara utuh dalam buku pelajaran Bahasa Indonesia sehingga generasi muda lebih mudah mengenal dan mengingat karyanya. Sementara itu, karya Idrus relatif jarang dikutip secara utuh.
Kedua, popularitas Chairil turut diperkuat oleh tradisi lomba baca puisi yang memungkinkan generasi muda membaca dan membawakan kembali karya-karyanya. Hal tersebut berbeda dengan karya prosa Idrus yang lebih sulit direproduksi dalam bentuk perlombaan serupa.
“Kalau lomba menulis cerpen, tidak mungkin menulis ulang cerpen Idrus. Dengan demikian, Idrus menjadi kurang akrab bagi generasi muda,” ujar Eko.
Selain membahas karya dan posisi Idrus dalam sejarah sastra Indonesia, diskusi juga mengupas berbagai unsur budaya dan sistem sosial Jepang yang direkam dalam karya-karyanya. Beberapa di antaranya adalah sistem penanaman padi serta sistem RT/RW yang disebut memiliki keterkaitan dengan kebijakan pada masa pendudukan Jepang dan hingga kini masih digunakan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Melalui pembacaan kembali karya-karya Idrus, diskusi tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kembali Idrus kepada generasi muda sebagai sastrawan yang banyak mengangkat kehidupan masyarakat kecil serta menggunakan satire untuk menggambarkan penindasan dan pengalaman penjajahan.
Keberpihakan Idrus terhadap masyarakat kecil, sekaligus kontribusinya dalam perkembangan sastra dan bahasa Indonesia, diharapkan dapat terus dibaca dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama peserta. Acara ditutup dengan foto bersama pada pukul 21.30 WIB.
***
Kontributor: Angga Riyon Nugroho, S.Pd.
Editor: Iman Amirullah, S.Sos.



