Ruminews.id, Sorong — Puluhan warga dan pemuda Kompleks Ramayana (RJM), Kampung Baru, Kota Sorong, Papua Barat, mengalami teror saat menggelar kegiatan nonton bersama (nobar) dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi” pada Selasa malam (19/5/2026). Insiden tersebut terjadi ketika kegiatan memasuki pertengahan pemutaran film yang membahas persoalan perampasan tanah adat, militerisasi, dan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 19.00 WIT itu awalnya berjalan aman dan tertib. Warga dan pemuda terlihat antusias mengikuti pemutaran film yang dijadikan sebagai ruang diskusi dan pendidikan politik rakyat terkait situasi sosial-politik di Papua.
Film “Pesta Babi” sendiri mengangkat persoalan penghancuran ruang hidup masyarakat adat Papua akibat ekspansi investasi dan proyek pembangunan yang disebut melibatkan aparat keamanan serta kepentingan modal. Dalam narasi film tersebut, masyarakat Papua digambarkan terus ditempatkan sebagai objek pembangunan di atas tanahnya sendiri.
Namun situasi berubah sekitar pukul 19.57 WIT, ketika pemutaran film memasuki sekitar menit ke-30. Sejumlah orang tak dikenal (OTK) diduga melakukan aksi teror dengan melempar telur dari luar pagar lokasi kegiatan ke arah perangkat elektronik yang digunakan untuk pemutaran film, termasuk laptop dan infokus.

Akibat pelemparan tersebut, laptop yang digunakan mengalami gangguan teknis sehingga pemutaran film sempat terhenti. Sebelum insiden terjadi, peserta kegiatan mengaku telah melihat seorang pria berbaju putih mondar-mandir di sekitar lokasi dengan gerak-gerik mencurigakan.
Peserta menduga orang tersebut sengaja menyusup dan membaur dengan peserta kegiatan dengan berpura-pura sebagai aktivis. Kehadirannya disebut menimbulkan keresahan karena dianggap memperlihatkan pola pengawasan dan intimidasi terhadap ruang-ruang diskusi rakyat di Papua.
Penyelenggara kegiatan menilai insiden tersebut bukan sekadar tindakan iseng, melainkan bentuk intimidasi terhadap ruang sipil dan kebebasan berekspresi masyarakat. Mereka menyebut bahkan kegiatan menonton film dan berdiskusi secara damai masih dipandang sebagai ancaman.
“Situasi ini memperlihatkan bagaimana demokrasi di Papua terus dibungkam melalui pengawasan, intimidasi, dan rasa takut yang sengaja dipelihara,” tambah Ebis Marshal, salah satu penyelanggara kegiatan dalam rilis pers yang dibagikan pada Selasa, (19/05/2026).
Meski mendapat teror, warga dan pemuda RJM memilih tetap melanjutkan kegiatan. Hingga sekitar pukul 20.30 WIT, peserta terlihat membersihkan perangkat yang terkena lemparan telur sambil berupaya menyalin file film ke laptop lain agar pemutaran dapat kembali dilanjutkan.
Pemutaran film akhirnya kembali berlangsung pada pukul 20.50 WIT dan selesai sekitar pukul 22.35 WIT. Setelah pemutaran usai, kegiatan dilanjutkan dengan refleksi bersama serta penyampaian informasi terkait rencana aksi demonstrasi damai oleh kelompok “Front Rakyat Domberai Tolak PSN & Militerisme” yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (21/5/2026).
Aksi tersebut disebut akan mendesak pemerintah Provinsi Papua Barat Daya membatalkan kebijakan maupun program Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai berpotensi melibatkan militerisme, mengancam masyarakat adat Papua, serta memicu pelanggaran HAM di wilayah adat Domberai.
Warga dan pemuda RJM menegaskan intimidasi tidak akan menghentikan ruang-ruang belajar rakyat di Papua. Mereka menyatakan selama perampasan tanah adat, penghancuran hutan, dan pembungkaman suara kritis masih terjadi, ruang diskusi dan solidaritas rakyat akan terus hidup sebagai bagian dari perlawanan terhadap ketidakadilan di Papua.
Kegiatan nobar dan diskusi film tersebut akhirnya berakhir sekitar pukul 23.15 WIT dan seluruh peserta membubarkan diri secara aman dan tertib.







