Ruminews.id, Samarinda — Ratusan jamaah menghadiri peringatan Arbain Imam Husain AS yang digelar di Ballroom Tranz Mav Hotel, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (4/8). Mengusung tema “Syiar 40 Hari Kesyahidan Imam Husain AS, Suara yang Tak Pernah Bungkam: Arbain dalam Jejak Zainab”, kegiatan tersebut menjadi momentum mengenang perjuangan cucu Nabi Muhammad SAW sekaligus menguatkan nilai persatuan, keadilan, dan kepedulian sosial.
Ketua Panitia, Ihsan Abid Abdullah, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan, mulai dari para donatur, relawan, organisasi, hingga panitia pelaksana. Menurutnya, kolaborasi berbagai elemen menjadi faktor penting dalam menyukseskan peringatan Arbain tahun ini.
Ketua Yayasan Al Munthazar Dua Belas, Mukti Ali, menilai semangat kebersamaan menjadi fondasi utama dalam menghadirkan syiar Ahlulbait di tengah masyarakat. Ia mengajak seluruh elemen untuk terus menjaga ukhuwah, mempererat silaturahmi, serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Al Qoim, Rudiansyah. Menurutnya, Arbain tidak hanya menjadi momentum mengenang tragedi Karbala, tetapi juga menjadi wujud kecintaan kepada Imam Husain AS yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai perjuangan Imam Husain diwujudkan melalui akhlak yang baik, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen menjaga persatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Suasana khidmat semakin terasa ketika tim ma’tam membawakan lantunan ratapan yang mengenang tragedi Karbala. Lantunan tersebut mengajak jamaah merenungkan pengorbanan Imam Husain AS dalam mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Pada sesi tausiah, Habib Ridho Al Habsy mengajak jamaah memahami makna Karbala melalui empat pertanyaan mendasar. Pertama, siapa Imam Husain AS sebagai teladan yang menjaga kemurnian ajaran Islam. Kedua, apa yang diperjuangkan Imam Husain, yakni menegakkan kebenaran dan keadilan meski harus mengorbankan jiwa serta keluarganya. Ketiga, siapa musuh Imam Husain, yaitu segala bentuk kezaliman, penindasan, dan kebatilan yang terus hadir di setiap zaman. Keempat, apa tanggung jawab para pecintanya pada masa kini, yakni berani membela kebenaran, menebarkan kasih sayang, menjaga persatuan, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Puncak acara ditandai dengan pembacaan maqtal oleh Habib Ali Haidar Khairid yang mengisahkan perjalanan Sayyidah Zainab AS setelah tragedi Karbala. Dalam pembacaan tersebut, jamaah diajak mengenang keteguhan Sayyidah Zainab dalam menyampaikan pesan perjuangan Imam Husain meski menghadapi berbagai penderitaan pasca-peristiwa Karbala.
Di penghujung pembacaan maqtal, para jamaah memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dipercepat kemunculan Imam Al Mahdi AF sebagai harapan terwujudnya keadilan di muka bumi.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembacaan Doa Ziarah Arbain yang dipimpin Ustaz Jausan Mahdi. Seluruh jamaah mengikuti doa tersebut dengan khusyuk sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Husain AS sekaligus peneguhan komitmen untuk terus menghidupkan nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan pengabdian kepada agama, bangsa, serta kemanusiaan.
Peringatan Arbain di Samarinda tahun ini menjadi pengingat bahwa pesan perjuangan Imam Husain AS tidak berhenti pada tragedi Karbala semata. Nilai-nilai keberanian membela kebenaran, menolak kezaliman, menjaga persatuan, dan menebarkan kasih sayang dinilai tetap relevan untuk diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (Nugraha)



