OPINI

Psikologi Perempuan: Penguatan Psikologi Perempuan Sebagai Pilar Kaderisasi di Era Disrupsi

Penulis: Andi Nur Fitri Dewi

ruminews.id, Barru – Korps HMI-Wati Cabang Gowa Raya menegaskan komitmennya dalam merespons dinamika psikologi perempuan di era disrupsi yang semakin kompleks. Sebagai bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam, Korps HMI-Wati memiliki tanggung jawab besar dalam merespons dinamika psikologi perempuan di era sekarang. Terlebih di tingkat cabang seperti Gowa Raya, realitas yang dihadapi kader tidak hanya berkutat pada isu global, tetapi juga bersinggungan langsung dengan kondisi sosial-budaya lokal yang masih kuat memegang nilai-nilai tradisional.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan sosial, perempuan khususnya kader KOHATI dihadapkan pada tekanan yang tidak sederhana. Mereka dituntut untuk cerdas secara intelektual, tangguh secara emosional, aktif dalam organisasi, namun tetap harus berhadapan dengan ekspektasi sosial yang terkadang membatasi ruang geraknya. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini sering melahirkan konflik batin, kelelahan mental, hingga krisis kepercayaan diri. Maka, KOHATI Cabang Gowa Raya tidak boleh hanya menjadi ruang kaderisasi formal, tetapi harus hadir sebagai ruang aman yang mampu merawat kesehatan mental dan memperkuat konsep diri kadernya.

Sebagai pengurus cabang, sudah saatnya kita memandang bahwa kaderisasi bukan hanya soal peningkatan kapasitas intelektual dan ideologis, tetapi juga penguatan psikologis. KOHATI Cabang Gowa Raya harus berani menjadi pelopor dalam membangun kesadaran bahwa kesehatan mental perempuan bukanlah isu sekunder, melainkan fondasi utama dalam proses kaderisasi. Kader perempuan tidak hanya dibentuk untuk siap berbicara di forum, tetapi juga harus siap menghadapi realitas kehidupan dengan mental yang kuat dan sehat. Di tengah tekanan zaman yang semakin kompleks, kader KOHATI dituntut memiliki ketahanan psikologis yang matang serta kemampuan mengenali dan mengelola emosinya.

Sudah saatnya KOHATI keluar dari pola kaderisasi yang monoton dan mulai menghadirkan pendekatan yang lebih humanis serta relevan dengan kebutuhan psikologi perempuan masa kini. KOHATI Cabang Gowa Raya perlu menegaskan diri sebagai ruang tumbuh yang tidak menghakimi, tetapi justru merangkul setiap dinamika yang dialami kadernya. Dalam konteks lokal Gowa Raya, KOHATI memiliki peluang besar untuk menjadi jembatan antara nilai budaya dan kebutuhan perempuan modern, sekaligus menciptakan ruang dialog yang sehat dan progresif.

KOHATI juga perlu aktif dalam merespons isu keperempuanan yang berkembang di masyarakat sekitar. Tidak cukup hanya memahami, tetapi juga harus hadir sebagai solusi. KOHATI harus mampu menciptakan gerakan yang tidak hanya bersifat reaktif terhadap isu, tetapi juga preventif dan solutif melalui edukasi tentang self-worth, literasi digital yang sehat, hingga keberanian perempuan dalam menentukan arah hidupnya.

Ke depan, KOHATI Cabang Gowa Raya harus mampu menegaskan eksistensinya sebagai wadah pembinaan perempuan yang tidak hanya kuat secara wacana, tetapi juga kokoh secara mental dan emosional. Kekuatan KOHATI bukan hanya pada jumlah kader, tetapi pada kualitas kesadaran dan ketangguhan psikologis yang dimiliki setiap anggotanya. Jika KOHATI ingin tetap relevan, maka ia harus mampu membaca kegelisahan perempuan hari ini dan menjawabnya dengan gerakan yang nyata.

Pada akhirnya, perempuan yang sadar akan dirinya adalah perempuan yang mampu menentukan arah hidupnya. Dan dari sanalah, KOHATI Cabang Gowa Raya dapat melahirkan kader-kader perempuan yang tidak hanya siap menghadapi era disrupsi, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (1)
Dari Sebuah Sujud, Lahir Sebuah Peradaban Dakwah: Perjalanan
Muzakkir (1)
Demokrasi tanpa Wibawa RiButta Patturioloang
Muzakkir (2)
Catatan Sejarah MPM dan BEM: Kini Kampus Tanpa Oposisi, Demokrasi Tanpa Makna
anunya rumi
Ironi di Jam Ekstrakurikuler: Saat Ruang Kreativitas Menjelma Menjadi Ruang Amputasi Kemanusiaan
Muzakkir (1)
Pappasalama ri To Pole Malebbi: Warisan Luhur Adat Bugis Bone yang Sarat Makna
Muzakkir (2)
Generasi Muda Luwu Timur: Gelombang Baru Prestasi dan Pemberdayaan di Bumi Batara Guru
Muzakkir (1)
Sisi Lain Dari Sampah Dan Kandungan Energi Didalamnya
Muzakkir (1)
Guru di Era Kecerdasan Buatan: Kompetensi Meningkat, Kesejahteraan Harus Mengikuti
anunya rumi
A.Ihsan Dorong Disdikbud Kab. Bone Peduli Nasib Pendidikan dan Kebudayaan
Prabowo Subianto
Prabowo Subianto dan Soemitro Djojohadikusumo: “Buah Jatuh Jauh Dari Pohonnya”
Scroll to Top