Penulis : A Fahrul Ar – Demisioner Ketua bidang keilmuan HMJ Matematika FMIPA UNM Periode 2025-2026
Ruminews.id – Di negeri yang semakin bising oleh pencitraan politik, masyarakat perlahan kehilangan ruang untuk membedakan mana kenyataan dan mana sandiwara kekuasaan. Politik dipertontonkan setiap hari melalui pidato, baliho, debat televisi, hingga media sosial, tetapi semakin sering ditampilkan, semakin terasa jauh dari kehidupan rakyat biasa. Dalam situasi seperti ini, film justru kadang lebih jujur daripada pidato pejabat. Pesta Babi menjadi salah satu contoh bagaimana karya sinema mampu membuka wajah politik yang selama ini disembunyikan di balik bahasa formal demokrasi.
Film tidak hanya bekerja sebagai hiburan. Ia adalah alat pembentuk kesadaran. Ketika layar menampilkan kekuasaan yang rakus, manipulatif, dan penuh kepentingan, penonton sebenarnya sedang diajak melihat potret sosial yang akrab dengan kehidupan sehari-hari. Politik yang biasanya terasa abstrak tiba-tiba menjadi dekat: hadir dalam ketakutan, kemiskinan, ketidakadilan, dan kebungkaman masyarakat sendiri.
Di titik inilah film memiliki pengaruh besar terhadap political engagement masyarakat. Keterlibatan politik tidak lahir begitu saja dari ruang kelas atau janji kampanye. Ia sering muncul dari rasa marah, kecewa, dan kesadaran bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam kehidupan bernegara. Film mampu memproduksi emosi itu secara kuat karena ia tidak hanya memberi informasi, tetapi juga pengalaman batin.
Masalahnya, masyarakat hari ini hidup dalam budaya politik yang semakin dangkal. Politik direduksi menjadi konten hiburan, perang tagar, dan pencitraan digital. Banyak orang akhirnya lebih mengenal slogan daripada substansi. Dalam keadaan seperti itu, film seperti Pesta Babi berpotensi menjadi gangguan terhadap kenyamanan publik yang terlalu lama dibuai narasi kekuasaan. Film memaksa penonton melihat bahwa demokrasi tidak selalu berjalan bersih sebagaimana dipromosikan di layar televisi.
Namun di sisi lain, kritik sosial melalui film juga memperlihatkan kenyataan yang pahit: betapa mudah masyarakat jatuh pada sikap sinis. Ketika korupsi, manipulasi, dan ketidakadilan terus dipertontonkan, publik bisa sampai pada kesimpulan bahwa politik hanyalah permainan elite yang mustahil diubah. Akibatnya, partisipasi politik berubah menjadi apatisme massal. Orang memilih diam karena merasa suara mereka tidak berarti.
Ini yang paling berbahaya dalam demokrasi: bukan sekadar lahirnya penguasa yang buruk, tetapi matinya keberanian masyarakat untuk peduli. Kekuasaan tidak pernah benar-benar takut pada kritik sesaat. Yang ditakuti adalah masyarakat yang sadar, kritis, dan terus mempertanyakan keadaan.
Karena itu, film politik tidak seharusnya hanya dinikmati sebagai tontonan gelap penuh simbol dan metafora. Film harus dibaca sebagai alarm sosial. Ketika sebuah karya berani memperlihatkan busuknya relasi kuasa, sebenarnya yang sedang diuji bukan hanya keberanian pembuat film, tetapi juga keberanian masyarakat untuk mengakui kenyataan.
Di era media sosial, pengaruh film menjadi jauh lebih luas. Satu adegan dapat berubah menjadi diskusi publik, satu dialog dapat menjadi kritik sosial, dan satu simbol dapat memancing kemarahan kolektif. Artinya, budaya populer kini telah menjadi arena politik baru. Kesadaran masyarakat tidak lagi dibentuk sepenuhnya oleh institusi negara atau media arus utama, tetapi juga oleh karya-karya budaya yang berani melawan narasi dominan.
Pada akhirnya, Pesta Babi memperlihatkan bahwa film mampu menjadi senjata kesadaran politik. Ia dapat membangunkan publik yang terlalu lama diam, memancing pertanyaan yang selama ini dihindari, sekaligus mengingatkan bahwa demokrasi tanpa masyarakat kritis hanyalah panggung kosong yang dimainkan elite kekuasaan.
Sebab kebenaran tidak selalu lahir dari podium kekuasaan. Kadang ia muncul dari layar gelap bioskop, dari suara-suara kecil yang dianggap mengganggu, atau dari keberanian untuk mengatakan bahwa ada yang salah dalam cara negara dijalankan.
“Sampaikanlah kebenaran itu kepada sang penguasa, atau teriakkan sekeras-kerasnya sebuah kebenaran. Karena sejatinya, kebenaran akan selalu mencari jalannya untuk muncul ke atas permukaan.” A Fahrul Ar